Suddenly A Couple

Suddenly A Couple
Episode 38 : Bersikap Aneh


__ADS_3

Dua hari lalu,


Acara makan malam tim perencanaan yang dipimpin Hafid berjalan lancar. Mereka memasuki ronde kedua di tempat karaoke dan tanpa pemberitahuan Agung ikut hadir di sana. Agung yang tak pernah ingin bergabung dengan acara semacam itu, tiba-tiba datang mengucapkan banyak rasa terima kasihnya.


Agung menawarkan minuman pada Rian sebagai tanda bahwa ia menyukai kinerja pegawai barunya itu.


“Aku berjanji untuk tidak terlalu banyak minum,” tolak Rian sopan.


“Pada siapa?” Agung menautkan alis hitam tebalnya.


Dengan malu Rian menjawab, “Istriku.”


“Ternyata kau sudah menikah, kalau begitu aku bisa apa.” Menyerah Agung menegak minumannya. “Sebentar lagi aku juga akan menikah … oh iya, kau harus datang ke acara pernikahanku.”


“Bukan masalah. Bolehkan aku mengajak istriku?” tanya Rian penuh harap, pasti Sindy akan senang dapat menghadiri acara mewah dengan banyak makanan terhidang.


“Tentu saja.” Agung kembali menuangkan minuman. “Dan di hari yang sama adikku akan melaksanakan pertunangannya,” lanjutnya pada saat Hafid terbatuk karena tidak bisa mencapai nada tinggi dalam lagu yang dinyanyikannya.


Rian agak berteriak untuk menanggapi obrolan atasannya karena rupanya Hafid tak menyerah dengan lagunya. “Bersama putra dari Amsung Group!”


Agung mengangguk seraya merogoh saku jasnya. “Kau mau lihat fotonya, mereka sangat serasi.” Antusias Agung menyentuh layar ponsel mencari satu foto yang dikirimkan oleh Eko padanya saat pertemuan pertama Sindy bersama Dimas.


“Sindy …,” nama itu seakan tertelan, Rian mendadak terdiam. Keramaian di sekeliling terasa menjadi hening.


“Kau mengetahui namanya, pasti dari membaca berita. Aku yakin Sindy akan bahagia bersama Dimas.” Perkataan Agung mampu menghentikan kerja otak Rian, ia menyambar gelas dan meminumnya dengan cepat.


Sementara Agung terus menggerutu mengenai Anna yang sangat menentang keputusannya menjodohkan Sindy. Semakin diingat semakin membuat Agung berdecak.


“Dia pasti jatuh cinta pada Dimas,” kata Agung menoleh ke arah Rian yang sudah menghabiskan satu botol minuman. “Bukankah dia bilang tidak ingin minum.” Selanjutnya ia malah dengan senang hati menuangkan minuman ke gelas Rian.


♫♫♫


“Benar kau tidak akan mencoba gaunnya?”


Sindy mendelik mendengar pertanyaan Anna. Bisa-bisanya gadis itu berkata tanpa berpikir dulu, memangnya dia tidak tahu kalau Sindy sudah menikah. Lalu bagaimana bisa sekarang mengadakan acara pertunangan terlebih dengan Dimas, sahabat suaminya.


“Anna apa kau benar-benar akan menikah dengan Kak Agung?!” kata Sindy dijawab anggukkan lemah, kemudian meneruskan, “Aku tak mengerti, kenapa orang tua harus menjodohkan anaknya demi bisnis dan lagi apa kita sebagai anak tidak bisa menolak.”

__ADS_1


Satu orang yang sedari tadi hanya menyimak percakapan kedua wanita di hadapannya ikut menunjukkan wajah ingin tahunya. Benar, dia juga menjadi seorang anak yang dijodohkan demi pelebaran bisnis keluarga. Dimas tak habis pikir dengan keputusan kolot semacam itu masih terjadi di zaman sekarang.


Di sini Anna menghela tatkala mengingat percakapannya bersama sang ayah. Bisa dikatakan bahwa perjodohan ini sebagai sebuah jaminan, meski sebenarnya ia tak ingin putri kesayangannya itu menderita.


“Ayah bilang kalau Mas Agung tidak bisa dipercaya, dia harus memiliki alasan untuk mengikatnya dan caranya dengan menikahkan kami.” Lagi pula Anna mulai memahami posisi sang ayah yang memikirkan ribuan karyawannya. “Aku tidak masalah dengan pernikahan ini.”


“Yang benar saja!” sungut Sindy.


Sementara Dimas menyahut dengan kesal, “Tapi menurutku itu masalah besar, aku tidak mau kau menikah dengan orang yang tidak kau cintai. Dan jangan lupakan kalau calon suamimu itu sudah memiliki istri!”


“Bagaimana kalau kalian melarikan diri.” Sindy mengusulkan dengan wajah polosnya, mengundang pikiran liar Dimas dan Anna yang saling pandang penuh arti.


“Tidak, tidak, tidak!” ralat Sindy menyangsikan. Bingung akan apa yang harus dilakukannya nanti, kemarin dia gagal untuk berbicara jujur pada Rian.


Tak lama suara Anna mengalihkan perhatiannya, gadis itu terlihat ragu melanjutkan perkataan sehingga meminta bantuan melalui gerak isyarat. Dimas malah berpura mengamati gaun pengantin yang terpajang di manekin.


“Sindy,” panggil Anna lagi memulai dengan suara biasa. “Begini, ada … ada yang ingin aku beritahu padamu mengenai Rian.” Ia menggerakkan setiap jari-jemari tangannya selagi Sindy menatap heran.


“Ada apa dengan ekspresimu, mendadak serius begitu. Katakanlah apa yang ingin kau beritahu padaku.”


Perasaan tidak enak menelusup dari dalam perut hingga Anna bergidik, mengembuskan napas. Memberi arahan agar Sindy juga menghela napas sekaligus menyuruhnya untuk jangan terlalu terkejut. Walau ia yakin itu tak akan berhasil, setidaknya ia sudah memperingati.


“J, ja, jadi orang yang menolongku waktu itu adalah orang tua Rian, mereka mengalami kecelakaan karena aku.” Sindy tergagap, air bening yang semenjak tadi tertahan di pelupuk mata mengalir saat ingatan menyakitkan itu datang menyergap otaknya.


Segerombolan penculik itu terus mengejar Sindy, ujung terowongan mulai terlihat. Sebuah mobil hampir menabrak tubuh kecil ringkihnya di tengah salju yang cukup lebat. Iya … waktu itu Sindy mengalami hipoternia. Sepasang suami istri keluar dari dalam mobil, mereka yang berprofesi sebagai dokter segera membantu Sindy. Terjadilah kejar-kejaran antar mobil. Sindy berhasil selamat namun tidak dengan kedua orang yang telah menolongnya.


Tangis Sindy pecah. Dalam dadanya seperti ada gemuruh besar, kontan ia memukulinya dengan tangan terkepal.


“Tidak, tidak mungkin. Anna kau pasti salah, jangan mengada-ada.”


“Sindy,” panggil Anna lembut dan ikut terisak.


Dimas menunduk menggigit bibir bawahnya, tak mampu melihat kedua wanita tersebut. Tiba-tiba terpikir untuk tidak memberitahu Rian soal kecelakaan yang menimpa orang tuanya yang juga melibatkan Sindy. Dimas takut akan kenyataan, melukai perasaan mereka begitu dalam.


♫♫♫


Malam datang terasa lebih cepat seiring dengan suara detik jarum jam di tengah kemelut kegelisahan. Sindy tidak hanya menunggu, ia telah menelepon suaminya berulang kali namun hasilnya nihil. Tak satu pun panggilannya ditanggapi, pesan juga diabaikan atau mungkin tak sengaja mengabaikannya. Sibuk? Pikir Sindy mencoba tenang.

__ADS_1


Dia duduk di sofa, menonton televisi tanpa minat. “Benarkah Rian sudah mengetahuinya dari Aldi.” Pertanyaan yang sama sudah dilontarkan setidaknya lima kali.


Begitu Rangga dan Yuri melaporkan pertengkaran antara Rian dan Aldi. Semua orang menyimpulkan satu kalimat berbeda dengan inti yang sama, bahwa lelaki itu telah mengetahui siapa Sindy sebenarnya.


“Pasti begitu, karena sampai sekarang dia belum pulang,” lirih Sindy memandang jam dinding yang kedua jarum jamnya tepat menunjuk angka dua belas. Ia mengucek mata yang terasa berat sambil bergumam pelan, “Aku mengantuk.”


Sindy memutuskan untuk berbaring tentu dengan menahan rasa kantuk. Sampai setengah jam kemudian ia tertidur. Tak lama setelah itu pintu terbuka, sosok lelaki tinggi berpenampilan berantakkan memasuki rumah. Matanya segera saja tertuju pada Sindy yang tidur meringkuk di atas sofa.


Langkah gontai Rian semakin mendekat. Dia tahu Sindy tengah menunggu, bermaksud mengatakan sesuatu yang telah diketahuinya. Tangan Rian terhenti untuk meraih surai panjang Sindy, ada perasaan ingin memberontak dalam hatinya.


“Bisakah kau menghentikan perjodohanmu dengan pernikahan kita?” Rian tak pernah menyangka akan menanyakan hal semacam itu. Dia mengangkat tubuh Sindy, membuat wanita itu terbangun dari tidurnya.


“Rian kau sudah pulang,” kata Sindy dengan suara parau.


“Kenapa kau tidur di sofa?” kata Rian seperti bukan pertanyaan, dia melangkah menuju kamar, meletakkan tubuh Sindy di ranjang.


Suasananya benar-benar canggung, Sindy sama sekali tidak bisa membuka mulutnya. Dia hanya memperhatikan gerak-gerik Rian yang membuka jas, melepas dasi dan kemeja, menggantinya dengan kaos berlengan pendek. Setelahnya berbaring di sebelah Sindy yang masih terdiam.


“Kemarilah,” ucap Rian pelan menyuruh Sindy untuk mendekat. “Cepat,” lanjutnya bergegas menyambut tubuh yang pas di pelukannya.


“Apa sesuatu terjadi padamu, aku dengar kau bertengkar dengan Aldi.”


Buat senatural mungkin, batin Sindy balas mendekap Rian sembari sedikit mendongakkan kepala demi melihat wajah sang suami.


“Percaya tidak kalau dia saudara sepupuku.”


“Benarkah! Woah…” Sindy merasa salah dalam memberi respon.


“Aku tidak suka saja caranya memberitahuku dan seolah meremehkanku dengan segala bantuannya terhadap usahaku,” tutur Rian yang kini mampu membelai surai Sindy. Gadis itu mengangguk kecil kemudian ia menambahkan, “Kau pasti marah karena aku pulang lebih dulu, maaf karena telah meninggalkanmu.”


“Tidak apa ....“


Rian menguap sembari membenarkan posisi tidurnya, mendekap tubuh tinggi semampai Sindy semakin dalam. “Tidurlah kau pasti lelah.” Lagi-lagi Rian menyela seperti malam sebelumnya di penginapan.


“Selamat malam,” kata Rian lagi memberi kecupan ringan di kening Sindy.


Jadi benar, Rian tidak ingin mendengar pengakuan Sindy dan apa itu artinya Rian sudah memaafkan Sindy dengan berpura-pura tidak ada yang terjadi. Justru pemikiran tersebut makin membuat Sindy takut, takut akan kehilangan Rian.

__ADS_1


♫♫♫


__ADS_2