Suddenly A Couple

Suddenly A Couple
Episode 34 : Saudara


__ADS_3

Belum sampai satu jam perintah diberikan pada salah satu karyawan perusahaan yang dikenal sebagai wartawan telaten kepercayaan Yuri. Ia sudah mendapatkan laporan berupa berkas-berkas, foto kelulusan dan fakta mengejutkan lainnya tentang siapa sebenarnya Aldi. Tidak ada yang spesial selain, Aldi adalah seorang anak yang diadopsi oleh sepasang suami istri dari Korea Selatan, setelah walinya menghilang dan tak pernah mengunjunginya lagi.


Setelah menyelesaikan kuliahnya, Aldi memutuskan untuk kembali ke Korea dengan rencana balas dendam pada paman dan bibinya yang telah menelantarkannya di Pulau Jeju, Korea Selatan. Hingga harus mengalami kesulitan beradaptasi di Negara asing, bahkan menerima perlakuan tak adil. Lama mencari keberadaan paman dan bibinya, Aldi malah diberitahu bahwa mereka sudah meninggal tepat di hari terakhir mereka bertemu.


Selanjutnya Aldi menjadi merasa bersalah dan syukurlah orang tua angkatnya sangat menyayanginya.


“Yuri apa aku tidak salah membaca?” kata Rangga.


“Memang benar dia bukan detektif.” Yuri masih sibuk dengan berkasnya.


Rangga menunjukkan tulisan nama wali. “Lihat ini!” ia meneruskan selagi Yuri masih mencoba memahami. “Bagas Efendi dan Lidya Kusnia, mereka orang tua Rian.”


“Jadi Aldi adalah sepupunya Rian, begitu?”


“Sepertinya begitu, tapi kenapa Rian tidak mengatakan apa pun.”


“Aku rasa dia tidak mengetahuinya, atau mungkin sama-sama tidak tahu bahwa mereka saudara,” tebak Yuri.


Saat itu pandangan mereka berdua beralih pada sebuah artikel kecelakaan yang menimpa sepasang suami istri ketika menghadiri seminar di Pulau Jeju. Mereka adalah orang tua Rian yang berprofesi sebagai dokter ternama namun memilih untuk hidup sederhana dengan membuka klinik. Karena suatu alasan Aldi meminta ikut dengan mereka, meninggalkan Rian yang sedang ujian sekolah.


“Lalu apa hubungannya dengan Perusahaan Karlite?” tanya Yuri mengeryit. Ia dan Rangga langsung saja mengacak-acak berkas lain.


♫♫♫


Sinar matahari pagi terasa begitu hangat, terlebih bagi pasangan manis yang baru keluar dari gedung tempat mereka tinggal. Mereka adalah Rian dan Sindy, saling mengumbar senyum sembari membicarakan waktu sarapan beberapa saat lalu, di mana Sindy berhasil menyiapkan makanan.


“Enak, sangat enak. Aku sudah bilang berulang kali, masa kau tidak percaya,” kata Rian melirik Sindy yang sedang menggoyang-goyangkan lengannya manja.

__ADS_1


“Benarkah, kau tidak bohong kan, kalau begitu aku percaya. Lihat saja nanti aku akan masakan yang lebih enak lagi. Aku harap kau tidak pernah bosan memakan masakanku.”


“Yang ada aku akan sangat senang bisa makan masakanmu setiap hari.” Rian memutar tubuh Sindy agar menghadap padanya. “Beri semangat untukku sebelum pergi kerja.”


Sindy agak memiringkan kepala kemudian berujar, “Maksudmu ini.” Sindy mengecup bibir Rian.


Tiba-tiba seseorang menarik Sindy menjauh dari Rian. Dengan pandangan tajam lelaki itu berkata, “Berani sekali kau menciumnya!”


“Kak Eko,” ucap Sindy pelan. “Gunakan penglihatanmu dengan benar, yang menciumnya itu aku.” Ia menambahkan selagi Rian mengingat siapa lelaki bersetelan jas rapih di depannya.


Seperkian detik berikutnya, Rian segera menarik Sindy agar berada di dekatnya. Ia menatap tegas Eko yang berjengit mengerutkan dahi, tidak rela melihat nonanya dekat-dekat dengan Rian. Sementara tangan Rian mulai sibuk merogoh tas kerjanya.


“Untukmu.” Rian menyodorkan beberapa lembar uang. Eko semakin mengerutkan dahi, tak mengerti. “Kita akan mulai mencicil hutangnya, jadi terimalah ini.”


“Hutang?” Bola mata Eko bergulir pada Sindy yang mengangguk-angguk kecil, berharap lelaki itu mengiyakan saja.


“Sialan! Kau ini kenapa sih!” sebal Eko.


“Asal kau tahu, sekarang wanita ini adalah istriku. Jadi jangan pernah mengganggunya lagi karena aku akan melunasi hutangnya padamu,” tegur Rian beralih menatap lembut Sindy melanjutkan dengan tenang, “Masuklah dan kunci pintunya. Telepon aku jika terjadi sesuatu.”


Mau tak mau Sindy menurut, ia memandang hati-hati Eko yang merasa terhina. Apa tampangnya terlihat seperti rentenir jahat? Eko hendak melangkah mengejar Sindy. Jelas saja Rian menghadang sembari menajamkan tatapannya.


“Ambil uangnya setelah itu jangan pernah muncul di sekitar sini, aku janji akan membayarmu tepat waktu tiap bulannya.” Kali ini suara Rian terdengar lebih ramah.


Eko hanya bisa menghela napas, terpaksa memunguti lembar uang yang berserakan dibantu Rian. “Aku tidak akan mengganggunya dan kau juga tidak usah memberiku uang, cukup berjanji untuk menjaganya saja,” kata Eko menyerahkan uang pada Rian yang termenung.


“Ada apa dengan pria itu?” pikir Rian, pandangannya tertuju pada punggung Eko yang menjauh. “Mungkinkah dia menyukai Sindy. Tidak boleh!”

__ADS_1


♫♫♫


“Kenapa Kak Eko ke mari?”


Sindy menyembulkan kepala dari sela pintu, mengedarkan penglihatan siapa tahu Rian masih mengawasinya namun ternyata itu hanya kekhawatirannya saja. Ia pun menarik Eko untuk masuk, jangan sampai ada yang melihat kedekatan mereka.


“Jadi benar, kau sudah menikah dengannya,” kata Eko mendekati satu figura cukup besar yang terpasang di dinding.


Mungkin keputusannya ini memang tak dapat diterima, Sindy tahu akan risiko dari semua yang dilakukannya dan berharap ada satu orang atau lebih berada di pihaknya.


“Katakan sesuatu Sindy!”


Sindy mengangkat kepala yang sejak tadi tertunduk, menatap Eko sembari tersenyum mengatakan bahwa ia memang sudah menikah dengan lelaki yang mencintainya. “Dia berjanji akan selalu di sisiku.”


Sayangnya Eko tak yakin akan hal itu. “Bahkan setelah mengetahui kebohonganmu? Aku bukan rentenir seperti yang dia ketahui dan lagi kau akan segera bertunangan dengan Dimas.”


“Biar aku yang mengurusnya, aku yakin dia dapat memahamiku. Jadi Kakak tidak perlu ikut campur.” Sekelumit bayangan sebuah perpisahan terlintas, sejujurnya Sindy takut Rian meninggalkannya. “Bisakah aku memutuskan hubungan dengan keluargaku.”


“Jangan ngawur!” bentak Eko. “Kau boleh mempertahankan cintamu tapi jangan berpikir untuk memutus hubungan dengan keluarga. Sindy, sebaiknya kau segera memberitahu lelaki bernama Rian itu tentang siapa kau sebenarnya. Karena cepat atau lambat dia akan tahu.” Ia memberi saran dengan tulus menepuk bahu Sindy.


“Aldi diam-diam memperhatikanmu, dia mengetahui semua tentangmu,” ujar Eko lagi dibalas ekspresi kebingungan Sindy. “Dan satu lagi yang tidak kau ketahui … Aldi adalah saudara sepupu Rian. Dia terus mengawasi hubungan kalian.”


“Kak Eko bilang apa?” kata Sindy, dari semua kenyataan Sindy paling tidak ingin mendengar kata perpisahan. “Aldi yang tinggal di sebelah flatku adalah sepupu Rian?” ia ingin memastikan lagi dan Eko segera menjawab ‘ya’ dengan pandangan gusar karena ada satu hal lain terkait Sindy dan orang tua Rian yang belum diberitahukannya.


“Mereka tidak saling bertemu untuk waktu lama, Rian mungkin sudah lupa tentangnya sedangkan Aldi mengingatnya. Bisa saja dia membocorkan rahasiamu, jadi sebelum itu terjadi kau harus lebih dulu mengatakannya.” Perkataan Eko kali ini terdengar begitu dewasa, bijak sekaligus menenangkan.


Ketakutan akan kebenaran yang selama ini dijaganya semakin menyesakkan. Rian pasti akan memaafkanku, kan?

__ADS_1


♫♫♫


__ADS_2