Suddenly A Couple

Suddenly A Couple
Episode 18 : Pernyataan Cinta


__ADS_3

“Sepertinya kita tidak butuh ini,” ucap Rangga dengan suara lemah, setengah jam kemudian di depan gedung ala Disney Land seraya menunjukkan selembar kertas.


Sementara pandangannya terarah pada Sindy dan Rian yang menjauh, tampak akrab.


“Percuma dong kita membuatnya,” kata Yuri.


“Memangnya kertas apa?” Anna bertanya sembari mencondongkan tubuh demi melihat tulisan di kertas. “Rencana memanahkan cinta pada Rian dan Sindy …?” bacanya terkekeh.


“Benar, hubungan mereka sudah berkembang. Waktu pepero game juga terlihat tak terlalu canggung …,” kata Rangga melirik Dimas bermaksud menyindir lalu ia meneruskan, “Mereka seperti sudah pernah berciuman saja.”


“Memang sudah!” sahut Anna.


“APA!” Dimas, Rangga dan Yuri serempak menoleh pada Anna yang mengangguk, meyakinkan.


Di lain tempat Rian dan Sindy sedang memeriksa hadiah mereka. Saking senangnya mendapat hadiah dari sebuah perlombaan pertamanya, Sindy tak sadar terperosok pada lubang jalan.


“Selalu ceroboh!” kata Rian yang sontak melingkarkan tangan ke lengan Sindy.


“Terima kasih,” kata Sindy merutuki kecerobohannya.


Hening beberapa detik. Sindy mencoba melepaskan tangan Rian namun tak bisa, ia malah ditarik menghadap lurus hingga bersitatap.


“Sindy, berpacaranlah denganku.” Pengakuan Rian memberi dampak luar biasa, Sindy tak sanggup lebih lama menatap lelaki itu, jantungnya bisa saja melompat keluar sekarang.


***


Aldi menatap heran pemandangan di depannya. Mengapa bisa kedua tetangganya terlihat dekat, seperti … sepasang kekasih? Pikirnya menyangsikan dengan kepala bergerak miring secara pelan. Rian tengah memegang tangan Sindy dengan ekspresi serius, entah apa yang tengah mereka bicarakan, sampai Aldi berpikir untuk memisahkannya.


"Kalian baru pulang juga!" seru Aldi sembari berjalan menghampiri dua orang yang dikenalnya.


Permintaan tak masuk akal akan ajakkan berpacaran secara tiba-tiba segera terlupakan. Sindy terburu melepas tangan Rian dengan gugup. Saat itu juga ada perasaan lega sekaligus menyesal.


"Oh, A... Aku lupa mematikan keran! Aku masuk duluan!" kata Sindy merutuki gelagat bodohnya. "Kenapa aku harus memberikan alasan konyol," tambahnya pelan sambil berjalan cepat.

__ADS_1


"Gawat! Rumahmu bisa kebanjiran!" sahut Aldi mengekor.


Wajah Rian mengeras, menahan kesal terhadap kehadiran Aldi yang menggagalkan rencana pengakuan cintanya. "Dia tidak tahu betapa sulitnya menyatakan perasaan. Auh!" geram Rian sambil memandang nanar punggung Aldi yang menjauh.


***


Hari-hari berlanjut seolah tak terjadi apa-apa, namun sayangnya terasa berbeda. Di saat perhatian yang Rian berikan pada Sindy terlihat begitu kentara, dan munculnya sikap baru dalam diri pria itu. Ketika Sindy hendak menaiki tangga seorang lelaki tua di bilik ruang kerjanya memanggil dan memberikan kardus berupa paket pada Sindy.


“Ini untukku?” herannya tak merasa memesan barang apa pun.


Satpam itu menjawab, “Tentu saja, maka dari itu aku berikan padamu,” ia berlalu kembali ke posnya.


“Siapa yang mengirim ini dan apa isinya, berat sekali,” kata Sindy memandang lelah anak tangga di depannya.


Dari arah belakang Rian datang mengambil alih kardus dari tangan Sindy.


“Kau membuat kaget saja!” seru Sindy melihat Rian menaiki tangga sambil membawakan barangnya. “Padahal dulu diminta pun dia tidak menoleh sama sekali!”


Saat itu di hari pindahnya Sindy ke gedung flat dengan membawa banyak barang, dan tanpa menggunakan jasa layanan pindahan. Sehingga ia harus mengangkat satu per satu barang, mencoba meminta bantuan pada penghuni flat lain yang kebetulan lewat.


Rian malah melengos dengan pandangan lurus, menuruni tangga tanpa menunjukkan minat.


“Benar dulu dia seperti itu!” ujar Sindy menggigit bibir bawahnya. “Tapi sekarang lihatlah, dia sok peduli!” tambahnya ikut menaiki tangga sambil meneruskan, “Apa perkataannya yang waktu itu sungguhan.” Ingatan akan ajakan berpacaran berkelabat, telah mengusik pikirannya selama tiga hari terakhir ini.


Sesampainya di depan pintu flat suasana mendadak canggung. Rian membuka mulutnya bahkan belum mengeluarkan sepatah kata pun lantaran Sindy buru-buru menyela seraya menyambar kardus dari lelaki itu.


“Terima kasih!” ujar Sindy singkat dengan sedikit menundukkan kepala demi sopan santun.


Pintu sudah ditutup dan lagi Rian gagal memberi tanggapan, ini benar-benar diluar dugaan, pikirnya jelas kecewa. “Seharusnya bukan begini,” kata Rian yang tak tahu harus bagaimana lagi selain muncul pikiran untuk berkonsultasi pada sahabatnya. “Aku harus menelepon Dimas.”


Bergegas memasuki rumah sembari merogoh ponsel genggam dari saku celananya. Rian menyentuh angka satu yang menghubungkan langsung dengan si pemilik nomor. Tak butuh waktu lama panggilan pun tersambung, anehnya suara lelaki di seberang sana terdengar pelan hampir seperti bisikkan.


“Kau pergi menonton sepagi ini!” komentar Rian tak yakin ketika diberitahu bahwa sekarang Dimas sedang berada di bioskop.

__ADS_1


“Anna bilang sangat menginginkannya, jadi aku menemani dan setelah ini kami akan piknik di taman,” jelas Dimas tak lepas dari memperhatikan gadis di sebelahnya yang tengah tersedu menyaksikan adegan sedih dari film yang diputar. “Dia menangis,” lanjutnya mengambil tisu kemudian ia berikan pada Anna. Gadis itu segera menghapus air mata dengan masih terisak.


“Memangnya kau harus kasih tahu aku kalau dia menangis!” sungut Rian sebal.


“Aku tidak bermaksud memberitahumu.” Suara pelan Dimas begitu mengganggu pendengarnya.


“Pasti tidak ada penonton lain, kan … jadi berbicaralah lebih nyaman.”


“Ada kok, lima penonton lain juga sedang menangis,” jawab Dimas melirik orang-orang di sekitar ruangan.


Rian berdesis menahan kesal. Padahal ia ingin berbicara panjang lebar mengenai hubungannya dengan Sindy.


“Rian, seharian ini aku akan fokus terhadap Anna, jadi nanti aku telepon balik kalau sudah selesai. Oke … bye.”


Panggilan terputus. Kekesalan Rian sudah tidak bisa ditahan, ia hampir melempar benda persegi yang tak lama kemudian berdering menandakan ada yang menelepon. Nama Rangga tertera, benar, bukankah ia masih memiliki seseorang yang bisa dimintai saran.


“Dengar aku baik-baik, menjadi anak magang itu melelahkan. Sebaiknya kau tidak mudah terintimidasi!” Rangga sudah sering mengeluh semenjak mulai bekerja di perusahaan milik ayahnya. “Tunggu sampai kalian tahu siapa aku sebenarnya.”


“Memangnya apa yang akan kau lakukan kalau mereka tahu siapa itu kau?” tanya Rian tak benar-benar ingin mengetahui jawabannya. “Lupakan!” ia menambahkan dengan cepat. “Pernyataan cintaku terkesan seperti angin lalu, aku harus bagaimana?”


Kali ini Rian sungguh membutuhkan jawaban. Rangga mengangguk mengerti, ia membuka bilik toilet berjalan menuju wastafel, memandangi pantulan diri di depan cermin demi merapihkan penampilan sebelum keluar untuk kembali bekerja.


“Kau bahkan membawakan barangnya, membuangkan sampah dan memberikan makanan. Sepertinya kau melupakan satu hal yang paling penting,” tutur Rangga.


“Ohhh kenapa aku tidak menanyakan jawaban akan pertanyaanku,” kata Rian menyadari selama ini ia hanya mendekati Sindy tanpa mengungkit perihal pengakuan cintanya. “Tunggu … seharusnya dia paham dan memberikan jawaban saat melihatku.”


“Pantas saja Sindy menghindarimu,” tukas Rangga berdecak, seperkian detik kemudian tercekat mendapati wajah lain dalam cermin. “Pak Manajer!”


“Pantas saja kau begitu lama meninggalkan pekerjaanmu.”


“RANGGA KAU MENDENGARKU!” seru Rian mendapati tak ada respon dari lawan bicaranya. Samar-samar dapat ia dengar suara minta maaf Rangga pada atasannya. “SIAL! Dia kena marah?”


“Aku rasa benar Sindy menghindariku, tapi kenapa?” tanya Rangga pada dirinya sendiri, ia masih kebingungan setelah bercerita pada Rangga.

__ADS_1


***


__ADS_2