
Malam berikutnya Rian belum juga pulang hingga jam satu dini hari. Panggilan yang Sindy lakukan pun tak kunjung mendapat respon. Kegelisahan menyergap, menghasilkan suara kuku-kuku yang saling beradu. Tiba-tiba saja air mata meleleh, jatuh ke pipi chubby Sindy. Apa pada akhirnya Rian memilih meninggalkannya lagi.
Harapan untuk melihat Rian di pagi harinya sirna begitu saja, ketika ia tidak mendapati sosok Rian di mana pun. “Rian, kau di mana?”
Suara bel menyahut, Sindy terburu-buru membukakan pintu.
“Ternyata bukan dia,” hela Sindy baru menyadari bel yang tak seharusnya ditekan oleh pemilik rumah.
“Nona, ikutlah dengan kami,” kata Zhoumi yang diapit oleh Dewo dan Hendri.
“Kak Eko, di mana?” Sindy mengedarkan pandangannya.
“Dia ditemani Aryo melakukan tugas lain,” jawab Hendri ramah.
“Mereka pergi ke Bali,” imbuh Dewo.
Besok adalah hari di mana Sindy akan melakukan pemberontakkan. Tidak peduli entah itu merugikan perusahaan atau tidak. Ia tetap pada pendiriannya untuk menentang keputusan sepihak Agung, memberitahu media tentang pernikahan diam-diam sang kakak begitu pula dirinya yang telah memiliki suami.
Saham menurun? Risiko bangkrutnya perusahaan? Tidak masalah, asalkan ia tetap bersama Rian.
“Ayo kita pergi,” tegas Sindy telah mempersiapkan diri. Rian tunggu aku. Ia membatin sembari berjalan mantap dengan diikuti ketiga pengawalnya.
♫♫♫
“Jadi apa rencana kalian?” tanya serempak Rangga dan Yuri.
Sulit sekali mengambil keputusan yang menurut mereka tak berdampak banyak pada pihak terkait. Pesan yang Anna terima dari Sindy beberapa saat lalu juga telah menjadi pertimbangan.
“Hanya ada satu rencana.” Kelihatannya Dimas sudah memutuskan. “Lihat ini, Rian membalas pesanku.”
“Yakin tidak ingin aku temani?” tawar Rangga.
“Tidak usah.” Geleng Dimas.
Yuri mengingatkan agar Dimas jangan dulu mengungkit masalah kecelakaan orang tua Rian. Bisa-bisa rencana mereka gagal … melarikan diri dari kehidupan nyata yang menurut Yuri memuakkan. Yuri bersyukur keluarganya tidak menentang hubungannya dengan Rangga.
“Semangat!” kata Anna mengepalkan kedua tangan sejajar dengan bahu.
Dimas sudah berdiri dari duduknya, mengangguk dengan pasti, kemudian pamit pergi.
“Rian pasti akan marah besar,” ucap Rangga tak luput dari bayangan kemarahan yang jarang Rian perlihatkan.
“Tapi tidak sampai memukul, ‘kan?” Anna menambahkan dengan cemas.
♫♫♫
__ADS_1
Begitu Dimas tiba, ia langsung diterjang bahkan sebelum sapaan terlontar, sampai tersungkur keras menghantam lantai. Rian mengembuskan napas kasar. Sementara lalu lalang orang di sekitar melihat ngeri sambil berlalu. Sepertinya mereka enggan merelai perkelahian atau bahkan terlibat.
“Sampai akhir kau mencoba menutupinya, aku kira kita adalah teman. Nyatanya hanya aku yang menganggapmu begitu!” Rian menjeda perkataannya selagi Dimas berdiri sembari menyentuh sudut bibirnya yang berdarah. “Kau pasti telah lama mentertawakanku.”
“Dengar, aku mengaku bersalah telah berbohong padamu. Tapi itu semua demiᅳ“
“Demi apa?! Kebaikanku, aku merasa tidak baik. Jadi mulai sekarang anggap saja kita tak pernah saling mengenal,” sela Rian.
“Bagaimana dengan Sindy?” tanya Dimas.
“Kau bisa menikahinya!” ucap Rian datar dengan tatapan yang tak dapat dimengerti.
“YA! Dasar gila!” Dimas berjengit marah. “Aku memang salah, kau berhak marah padaku. Sungguh aku tidak bermaksud melakukannya, maafkan aku.”
“Namun Sindy, dia … dia sangat mencintaimu. Lagi pula aku memiliki rencana lain untuk menjalani hidupku,” tutur Dimas segera menambahkan, “Aku dan Anna tidak akan menghadari acara pertunangan, kau dan Sindy juga bisa ikut bersama kami.”
Kabur? Haruskah Rian melakukannya. Ia tetap berekspresi sama, diam dengan segala pemikirannya.
“Pergilah bersama kami,” bujuk Dimas.
“Ini tidak semudah yang kau pikirkan, aku baru saja mendapatkan pekerjaan yang bagus. Upacara kelulusan juga akan segera diadakan … tidak ada alasan untukku menyerah pada mimpiku. Aku hanya orang biasa berbeda denganmu yang memilki latar belakang keluarga kaya,” jelas Rian tersenyum miris.
Selama ini Dimas tidak tahu bahwa Rian terganggu dengan perbedaan tingkat sosial mereka. Ia hanya melihat dari pandangannya. Berteman tanpa terpengaruh omongan orang lain yang terkadang bergunjing tentang mereka. Rian si benalu, memiliki dua dompet berjalan di sisinya dan untaian kata tak mengenakkan lainnya yang kerap kali terdengar.
“Kaya, aku mulai tak menyukai kata itu. Ayolah Rian kau bukan orang yang seperti ini … kau akan menyerah terhadap Sindy? Bukankah kau mencintainya?”
“Haruskah aku mencintainya padahal dia sendiri yang telah menipuku, dan ingat mulai sekarang bersikaplah seperti kita tidak saling mengenal,” tegas Rian pergi lebih dulu disusul suara Dimas yang memanggil, menyuruh Rian agar berhenti karena pembicaraan mereka belum selesai.
“RIAN!” seru Dimas urung mengejar laki-laki keras kepala yang dirasa percuma.
Dimas hanya bisa menghela napas berat. Memandang punggung sahabatnya yang semakin menjauh.
♫♫♫
Drttt … satu pesan dari Anna tertera di layar ponsel. Dengan cepat Sindy membukanya, ia sudah begitu cantik menggunakan gaun berwarna putih tanpa lengan yang memperlihatkan bahu mulus dan putihnya. Seakan tak ingin percaya akan apa yang ia baca, Sindy terhuyung hampir jatuh jika saja Eko tidak menahannya.
Dimas tidak berhasil membujuknya, dia sangat marah. Maaf Sindy, kami harus pergi tanpa kalian.
Kalimat itu mampu membuat pertahanan Sindy melemah. Apa benar Rian telah menyerah terhadapnya. Eko menjadi lebih perhatian, ia mengetahui semua yang menimpa Sindy. Merasa tak rela juga karena harus mengurung Sindy di kamar sebelum acara pertunangan dilaksanakan.
“Bisakah, Kak Eko membawaku untuk menemui Rian,” pinta Sindy.
“Tentu saja, tunggu sebentar.”
Sekarang ini Sindy hanya bisa mengandalkan Eko yang nampak serius. Sementara itu di depan pintu ada Hendri dan Aryo yang sedang berjaga. Mereka menoleh bersamaan pada Eko yang baru saja keluar.
__ADS_1
“Kak Eko, Dewo terlalu lama menghabiskan waktu sarapannya. Kami juga butuh makan,” keluh Hendri mengelus perutnya, disetujui Aryo yang juga merajuk.
Eko merasa waktu berpihak padanya. “Kalau begitu pergilah, biar aku yang berjaga menggantikan kalian,” kata Eko sembari mendorong kedua rekan kerjanya.
Tanpa berpikir panjang, baik Hendri mau pun Aryo bergegas pergi. Mereka berlari seolah sedang mengikuti lomba lari jarak pendek 100 meter, bedanya saling dorong dan itu benar-benar lucu.
“Dasar kekanakkan!” dercak Eko.
Setelah merasa aman. Eko mengajak Sindy keluar dari kamar tentunya secara diam-diam. Acara masih belum dimulai, namun kediaman keluarga Sindy sudah ramai dipenuhi tamu dan wartawan yang siap menuliskan artikel tentang hari bersejarah.
♫♫♫
Sindy mengedarkan pandangannya di antara banyak orang, mencari Rian yang dipastikan datang dalam acara besar perusahaan. Melangkah terburu melewati para tamu, beberapa ada yang menatap tak suka saat Sindy tak sengaja menyenggol bahu mereka. Penglihatan Sindy terhenti pada pria yang mengenakan jas hitam lengkap dengan dasi kupu-kupunya tengah berbincang bersama para petinggi perusahaan. Baru satu langkah Sindy urung menghampiri Rian, ternyata di sana ada kakaknya.
Bukankah ini kesempatan bagi Sindy untuk mengatakan yang sejujurnya. Detik berikutnya, Sindy sudah melangkah mantap. Agung menjadi orang pertama yang menyadari kehadiran Sindy, ia tersenyum lebar hingga memperlihatkan lesung pipi, selintas tampak begitu akrab dan ramah.
“Adikku, kau cantik sekali,” Agung menyambut Sindy dengan melontarkan pujian. “Kenalkan dia pegawai baru di tim perencanaan,” ia melanjutkan seraya menepuk pundak Rian yang saat itu terlihat kaku.
Semua yang didengar Rian ialah nyata. Ia melihat sendiri gadis itu, adik dari atasannya adalah Sindy Karlita. Seperti tak pernah bertemu sebelumnya Rian menyapa, ia juga memberi pujian yang sama seperti Agung.
“Benar, adikmu sangat cantik,” kata Rian menatap lekat gadis di hadapannya.
“Kak Agung lebih baik kau membatalkan acara ini. Tidak ada pengantin wanita yang akan datang dan aku juga tidak mungkin bertunangan.” Sindy mengatakannya dengan balas menatap Rian sedih.
Agung menarik Sindy, waspada pada sekelilingnya. “Apa yang kau bicarakan, jangan bertingkah gegabah,” bisik Agung terus mempertahankan senyumannya.
Masih dengan pandangan mata tertuju pada Rian, Sindy menjawab, “Seperti kau yang telah menikah, aku pun sama. Aku sudah menikah dan orang ini adalah suamiku.” Sindy menunjuk Rian.
“Hentikan omong kosongmu, sebaiknya sekarang kau pergi saja,” geram Agung menganggap perkataan Sindy sebagai guyonan.
“Dia memang suamiku, Rian Efendi,” ulang Sindy maju satu langkah.
“Nona jangan bercanda, aku ini belum menikah,” tukas Rian tersenyum simpul, jelas saja Agung terkekeh sambil mengacak-acak rambut Sindy.
“Jadi kau bukan suaminya, kan?” Kali ini Agung merangkul bahu Sindy.
“Tentu saja bukan,” balas Rian.
Raut wajah Sindy semakin sedih, matanya sudah berkaca-kaca, satu kedipan saja maka air bening itu mengalir melewati pipinya.
“Adikku ini memang suka bercanda. Kami pergi dulu.” Agung membawa Sindy bersamanya, meninggalkan Rian yang masih bergeming.
“Kau pikir dia akan mengakuimu sebagai istri setelah apa yang kau lakukan padanya,” tambah Agung berbisik pelan di telinga Sindy.
Gerak kaki Sindy terhenti bersamaan dengan menoleh perlahan pada sang kakak yang terlihat sangat menjengkelkan. “Kak, aku membencimu,” kata Sindy dengan marah melepas rangkulan tangan Agung.
__ADS_1
♫♫♫