
Dua jarum jam dinding menunjukkan angka sepuluh. Belum cukup larut untuk mereka beranjak ke tempat tidur, yang ada semalaman suntuk membicarakan permasalahan antara ke empat insan dalam satu ruangan. Mau dibawa kemana hubungan rumit yang terjalin sejauh ini.
Suara gelas yang ditaruh di atas lantai menyadarkan suasana serius. Ini sudah gelas ke limanya Anna menghabiskan air putih, mencoba terbangun dari kenyataan bahwa lelaki yang akan dinikahinya ternyata sudah menikah tanpa ada keluarganya yang mengetahui.
“Dia sudah menikah dan istrinya sedang hamil!”
Begitulah Sindy menanggapi cerita panjang lebar dimulai dari pertemuan Anna dan Eko di dalam lift.
“Siapa itu Eko?” Dimas malah penasaran dengan nama yang tak asing baginya.
“Tidak penting, kau tidak perlu mengenalnya,” tukas Anna beralih pada Rian yang duduk sila dengan tenang. “Jadi, Dimas mengalami nasib sama sepertiku!” Sebelum pertanyaan akan siapa yang dijodohkan terlontar, Anna segera memberi jawaban.
Rian mengeryit. Meminta penjelasan lebih. Anna dan Sindy menyikut Dimas, menyuruh agar lelaki itu meneruskan ceritanya.
“Apa …,”
“Dia sangat lamban,” ucap Anna pelan dengan cepat meneruskan, “Katakan bahwa kau juga dijodohkan.”
Dimas terbatuk, tak jauh berbeda dengan reaksi Sindy yang urung menegak minumannya. Kenapa juga Anna bisa mengusulkan cerita yang benar adanya, seolah wanita itu mengetahui sesuatu.
“Dimas, kau dijodohkan,” ucap Rian. “Pantas saja akhir-akhir ini kau hanya berkencan dengan satu wanita,” lanjutnya melirik Anna.
“Benar, memang benar aku dijodohkan. Tapi mengenai berkencan dengan Anna itu sungguh-sungguh. Meski akhirnya kami tidak dapat bersatu.” Dimas mendapat tepukan ringan di punggungnya dari Anna yang menanggapi,
“Siapa yang tahu kalau akhirnya kita bisa bersatu.” Tatapan menyelidik terpatri di wajah Anna, ia lebih ingin tahu akan keberadaan Rian dan benarkah lelaki itu bertukar tempat tinggal dengan Sindy. “Kalian … katakan yang sebenarnya,” tuntut Anna.
Sindy menegak minumnya dengan susah payah. Rupanya Dimas juga penasaran dengan apa yang terjadi.
“Kami bermaksud tinggal bersama,” kata Rian. “Aku akan melindungi Sindy dari para rentenir itu dan membantu melunasi hutangnya,” jelasnya yang memang tidak tahu tentang identitas asli Sindy.
Dimas dan Anna merespon dengan canggung, mereka mengetahui yang sebenarnya dan dengan merasa bersalah Sindy menambahkan, “Hari ini kami resmi menikah.”
“APA!” seru Dimas dan Anna serempak.
“Jadi aku mengganggu malam pertama kalian,” kata Anna menekap mulutnya.
__ADS_1
♫♫♫
Esok paginya. Pasangan yang telah bertunangan tak kalah terkejut. Mereka pikir teman-temannya akan marah karena tidak diundang ke acara pertukaran cincin, namun nyatanya berita yang lebih tak terduga membuat Rangga dan Yuri ternganga.
“Bagaimana bisa kalian menikah begitu cepat?” kata Rangga.
“Padahal akulah yang sangat menginginkannya. Irinya,” imbuh Yuri ada rasa kecewa teramat besar. “Tapi aku harus tetap memberi ucapan selamat. Selamat atas pernikahan kalian,” kata Yuri berakhir dengan memeluk Sindy, ia pun terisak.
“Yuri, kenapa kau menangis,” ujar Anna melepaskan pelukan Yuri pada Sindy.
“Setidaknya pernikahan mereka harus dirayakan, aku akan mempersiapkannya karena kalian tidak cukup memiliki uang untuk melakukannya, kan?”
Alasan Yuri menangis adalah tentang acara pernikahan sepasang kekasih yang tak bisa dirayakan karena masalah materi. Dan itu berhasil membuat Dimas terkekeh pelan, hampir saja memberitahu bahwa Sindy cukup atau lebih mampu merayakan pesta di gedung mewah milik keluarganya.
“Maksudmu di gedung flat!” celetuk Rangga.
“Dasar kalian ini! Jangan repot-repot merayakan kalau bersikap sok kaya seperti itu,” sewot Rian yang sedari tadi mendengarkan, jujur, ia merasa tersindir.
Yuri berdesis sambil mencubit lengan Rangga. Paling tidak kekasihnya itu harus tahu perkataan seperti apa yang harus dilontarkan, terutama pada seseorang macam Rian.
“Aku harus pergi bekerja, Yuri-ya,” sahut Rangga yang ditarik untuk segera pergi.
“Izin saja!” balas Yuri enteng. Kemudian ia berbalik meneruskan, “Dimas dan Anna siapkan tempat dan beri hiasan, nanti hubungi aku kalau sudah selesai. Untuk kedua mempelai pengantin hanya duduk manis dan tunggu intruksi selanjutnya.”
“Seriusan?” Anna menyangsikan.
“Itulah Yuri, kau seperti tidak tahu dia saja,” kata Dimas. “Sebenarnya aku malas menurutinya, tapi ayo …,” ajaknya pada Anna yang mengikuti dengan riang, sepertinya gadis itu sudah melupakan apa yang ia lihat kemarin perihal Agung dan Tiffany.
“Kita harus menunggu di mana?”
Rian sedikit berpikir sebelum menjawab dengan tak yakin. “Di rumah kita.”
Kata ‘kita’ menyita perhatian Sindy. Ia segera saja teringat kejadian semalam. Iya, mereka hampir saja melakukannya kalau saat itu Anna tak datang. Memalukan, rutuk Sindy.
♫♫♫
__ADS_1
Di antara lalu lalang pengunjung mall, Anna terlihat paling mencolok. Ia menarik Dimas ikut bersamanya, mengunjungi berbagai toko pernak-pernik pernikahan hingga mampir di sebuah gerai elektronik untuk membeli kamera.
“Kita perlu memotret untuk dijadikan kenangan.”
“Aku punya banyak di rumah jadi jangan membelinya.”
Tentu saja, Dimas yang merupakan penerus dari perusahaan teknologi memiliki banyak alat elektronik terkini. Ia bahkan memiliki robot pembersih di rumahnya dan beberapa perlengkapan game juga terpajang di ruang khusus.
“Kalau begitu kita pakai punyamu saja!” Anna menaruh kembali kamera.
Mereka sudah memegang lima hingga tujuh bingkisan untuk acara pernikahan. Namun tak cukup yakin dengan apa yang telah dibeli. Sekiranya apa lagi yang dibutuhkan.
“Terserahlah, yang penting kita sudah membeli sesuatu.” Geleng Anna begitu menggemaskan untuk dilihat.
Dari arah berlawanan, seorang wanita berpakaian elegan berjalan cepat ke arah Dimas dan Anna. Mata sendu sekaligus tajam memberitahukan bahwa ia tengah memandang mereka dengan marah dan merasa terkhianati.
“Dimas!”
“Jessica.” Dimas tidak menduga akan bertemu dengan Jessica di mall sebesar ini.
Tas tangan mengayun, menghantam wajah Dimas. Orang-orang yang lewat berseru, mereka menghentikan langkah untuk melihat apa yang terjadi.
“Aku akan pergi ke Amerika,” kata Jessica setelah menghela napas lega, ia menambahkan sembari melirik Anna. “Dia … jika aku kembali dan kau masih bersamanya, maka aku akan benar-benar merelakanmu.”
Dimas tertohok. Perasaan untuk gadis bernama Jessica itu sudah lama terkikis, ia tipe orang yang tak bisa bertahan lama dengan satu wanita. Bisakah perasaannya kali ini semakin tumbuh dan membesar pada Anna seorang dan jawabannya, ia juga tidak tahu. Tapi yang jelas semuanya terasa berbeda saat bersama dengan Anna.
“Dan sebaiknya kau bersiap-siap, jika suatu saat harus kehilangan seseorang yang kau cintai.” Jessica memperingati. “Aku pergi, selamat tinggal.” Ia menambahkan tanpa membiarkan sepatah kata pun keluar dari mulut Dimas.
Dimas pun berseru, “Jessica aku mendukungmu, semoga kau berhasil! Hati-hati, jaga dirimu di sana!” ia menambahkan dengan suara lebih palan, “Benar, dia ingin menjadi seorang desainer dan akan melanjutkan kuliah di sana.”
“Sepertinya dia sangat menyukaimu,” tukas Anna. “Membuat iri saja,” tambahnya melangkah ketika orang-orang beranjak pergi.
"Kau tidak apa-apa?" kata Anna melihat bekas memerah akibat hantaman tas Jessica.
"Tidak, ayo kita pergi," ajak Dimas agak lesu.
__ADS_1
♫♫♫