Suddenly A Couple

Suddenly A Couple
Episode 23 : Hari Kita


__ADS_3

“Sayang aku tanya apa kau menyukaiku?” ulang Sindy.


Rian tak langsung menjawab, ia tampak berpikir keras. Kini Sindy menatap ke arah Rian yang sedang menjilat es krimnya. Hubungan mereka memang berubah drastis dan terjalin begitu saja. Namun berjalan apa adanya dengan menyenangkan dan mendebarkan.


Rian sendiri merasa yakin akan pilihan yang dibuat tanpa harus berpikir lama. Asalkan dapat melindungi gadis di hadapannya, ia berani melangkah lebih jauh lagi. Setelah memperhatikan Sindy beberapa detik lamanya, Rian lalu mengecup pipi istrinya itu. Sindy terdiam.


“Bohong jika aku bilang tidak kesepian, hidup sendirian membuatku menjadi pribadi yang tertutup. Lalu kau datang meramaikan keseharianku yang monoton, satu tahun terakhir berkatmu hati ini terasa menghangat,” terang Rian dengan suara lembut, ia mencubit hidung Sindy gemas. “Karena itu aku ingin tidur bersamamu setiap malam.”


Detak jantung Sindy berpacu lebih cepat. Pipinya merona mengeluarkan semburat warna merah. “Dasar mesum!” pekik Sindy.


Sementara Rian terus memandangi wajahnya dan kembali memberikan kecupan namun sekarang di bibir. Mata Sindy membulat sempurna, ia masih tidak terbiasa dengan perbuatan mendadak yang dilakukan Rian. Seperti menyuruhnya harus bersiap setiap saat bersama lelaki itu.


“Inikan di tempat umum, kalau ada yang lihat gimana.” Kekhawatiran Sindy rupanya tidak berarti karena sekarang di sekitar mereka hanya ada satu pejalan kaki yang baru saja menaiki taksi.


Rian terlihat biasa saja malah terlampau biasa, tak menyadari perasaan wanita di depannya yang tak keruan. Kemudian ia melirik dua es krim yang dipegang Sindy meleleh dan lagi mulai memandang penuh seringai yang tak di mengerti.


Haruskah Sindy bersikap waspada? Secara otomatis Sindy menarik satu es krim yang dipegangnya sejajar dengan mulut, ia juga menegakkan tubuh ketika dengan cepat Rian mencondongkan tubuh ke arahnya. Sindy melihat kedua sudut bibir Rian terangkat, membentuk lengkungan senyum tipis lalu menjilat es krim miliknya yang tepat berada di depan wajahnya dan kemudian berkata,


“Es krimnya meleleh, kau harus segera menghabiskannya.” Rian kembali berdiri normal, mengelus pucuk rambut Sindy yang masih tertegun.


“Sekarang kau yang harus mengikutiku,” kata Rian menarik lengan Sindy untuk ikut dengannya.


♫♫♫


Sudah puluhan kali bahkan ratusan kali Anna memasuki salah satu perusahaan terbesar yang nantinya akan mengikat hubungan antar perusahaan lain. Misalnya perusahaan ayahnya yang memang berkembang pesat dalam retail dan kontruksi. Manusia memang tidak ada puasnya … pekik Anna dalam hati seraya mengayunkan bungkusan makanan dalam beberapa kotak yang ditumpuk.


“Jika bukan karena ibu, aku tidak mau mengantarkannya!” Lagi-lagi ia menggerutu. “Oh, Kak Eko!” Anna menambahkan saat dilihatnya lelaki berpakaian jas rapih berada di dalam lift.


Buru-buru Eko menekan tombol agar pintu lift tertutup, sayangnya Hafid yang juga berada di lift tidak berpikir sama.


“Terima kasih,” ujar Anna setelah berhasil masuk, berdiri di antara dua pegawai setianya Agung.


Meski mendapat tatapan mengancam dari Eko, Hafid hanya mengangkat bahu tak ingin tahu. Lelaki dengan raut wajah yang selalu ramah itu lebih tertarik pada Anna, ia menyapa dengan riang.


“Kau membawakan bekal makanan untuk Pak Agung?”


“Seperti yang kau lihat,” jawab Anna mengangkat bawaannya.

__ADS_1


“Pasti Pak Agung akan senang sekali,” kata Hafid tak lama lift terbuka, “Aku akan keluar lebih dulu,” lanjutnya melayangkan senyum manis lalu menghilang di balik pintu lift yang tertutup kembali.


Anna berdehem. Menyikut Eko beberapa kali, karena terus diabaikan. “Kau ingin aku pecat!”


“Justru itu aku sedang memikirkan untuk berhenti bekerja,” balas Eko, akhirnya membuka mulut. “Pasti kau tahu apa yang telah terjadi pada Sindy?”


“Kau menculiknya … apa yang kau lakukan sampai harus melakukannya! Ahhh iya, dia belum menghubungiku lagi,” kata Anna terlihat jelas mengkhawatirkan Sindy yang entah bagaimana keadaannya, ia bergumam akan mengunjungi sahabatnya nanti.


“Memangnya kau tahu tempat tinggalnya?” tanya Eko bersamaan dengan pintu lift yang terbuka.


Seharusnya Anna lebih berhati-hati, apa yang akan terjadi padanya dan Sindy jika ketahuan bahwa selama ini mereka saling bertemu, saling membantu juga. “Aku turun di lantai ini!” ia bergegas keluar, melambaikan tangan pada Eko yang tengah menghela napas berat.


“Sampai ketemu lagi!” seru Anna.


“Kalau bisa aku tidak ingin bertemu denganmu lagi,” kata Eko sambil mendengkus, ia meneruskan setelah lift kembali bergerak ke atas. “Apa itu artinya dia belum tahu kalau Sindy dijodohkan?”


♫♫♫


Rian dan Sindy kini berada di dalam kereta gantung, duduk beristirahat setelah lelah berjalan-jalan mengelilingi Taman Mini Indonesia Indah. Keduanya dapat melihat deretan pulau-pulau mini Indonesia dari Sabang hingga Merauke. Tidak hanya itu, mereka juga dibuat kagum karena seluruh taman wisata dari empat stasiun yang berbeda terlihat jelas.


“Kau benar,” sahut Rian sambil bergeser lebih dekat pada Sindy yang menoleh ke arahnya.


“Ada apa?” tanya Sindy.


Rian malah meraih tangan Sindy, menautkan jari-jemari sambil mengulas senyum. Sekarang mereka sudah semakin dekat satu sama lain bahkan berpegangan tangan pun terasa tak canggung lagi, membuat keduanya merasa nyaman. Dunia luas yang seperti hanya milik berdua.


Sindy mengajak berfoto seperti yang dilakukan kebanyakan pasangan, mengabadikan momen bersama. Tak sempat menghindar lagi dari kecupan tiba-tiba Rian, Sindy hanya mencoba mengontrol detak jantungnya. Hasil gambar memperlihatkan pose Rian tengah mengecup pipi Sindy.


“Di sini tidak ada orang yang melihat.” Rian membuka suara sebelum memberikan sentuhan di bibir Sindy.


Pasangan suami istri itu tengah dimabuk cinta selagi kereta gantung melaju perlahan menghabiskan setengah jalan tersisa.


♫♫♫


“Kau mau ke mana?”


“Cari makan!” seru Sindy dibuat jengkel karena selalu saja perasaannya yang dipermainkan. “Awas saja … aku akan membalasmu.”

__ADS_1


“Membalas apa?” kata Rian dengan polos.


“Bukan apa-apa?!” sahut Sindy sambil melangkah lebih cepat menjauh dari kereta gantung yang baru saja menepi.


Menghabiskan waktu untuk makan di restoran, mungkin ini sering dilakukan Sindy. Tetapi tidak dengan Rian, berhemat adalah caranya untuk bertahan hiudp. Hanya perlu memilih makanan termurah dan Sindy tidak merasa keberatan. Rian berjanji setelah mendapat gaji dari menjaga mini market ia akan mentraktir Sindy makan enak. Jelas sekarang Rian tak punya banyak uang.


“Tidak apa-apa, kan?”


“Apanya?”


“Makanannya,” ucap Rian dengan suara pelan.


“Enak kok,” balas Sindy sambil menyodorkan sesendok makanan. “Aaa ….”


Rian tampak ragu membuka mulutnya, namun kemudian secara canggung ia melakukannya.


♫♫♫


Suara aneh dalam kantor yang hendak dimasuki Anna mengalihkan perhatian, ia urung membuka pintu lebih lebar. Hanya melihat dari sela pintu dengan hati-hati. Betapa terkejutnya ia ketika mendapati calon suaminya tengah bercumbu bersama seseorang yang ia ketahui sebagai kekasih Agung. Jadi mereka masih berhubungan ....


Tiffany berada di atas meja kerja, memainkan dasi Agung seraya menariknya agar lebih dekat. “Ternyata aku tidak bisa merelakanmu menikah lagi, hanya aku satu-satunya istri yang kau punya. Ingat itu!”


“Istri … mereka sudah menikah.” Anna hampir saja menjatuhkan bekal makanannya.


“Benar, hanya kau seorang. Aku janji setelah perusahaan stabil dan mendapatkan nama dalam bidang perbelanjaan, kita akan hidup bersama dengan bayi mungil kita,” kata Agung mengelus perut Tiffany yang masih datar, mengecupnya penuh kasih.


Sungguh tak dapat dipercaya, apa yang baru didengarnya ini benar-benar sudah keterlaluan. Hanya demi memanfaatkan perusahaan Imfact, seorang Agung rela meninggalkan istrinya yang sedang mengandung, sebuah berita besar. Saat ini Anna ingin sekali berteriak mengumumkan kebenaran yang baru diketahuinya.


“Bagaimana dengan Sindy?” kata Tiffany dengan suara yang dibuat manja.


“Aku telah menjodohkannya dengan keluarga kaya yang tentunya dapat memperluas bisnis kelak,” terang Agung segera mendapat pekikan senang dari wanita yang mengaku sedang mengandung anaknya.


Dasi melonggar yang melingkar di leher Agung kembali di tarik, sehingga wajah lelaki itu mendekat pada wajah Tiffany.


“Sialan,” umpat Anna setelah berbalik, berjalan menjauh dari pintu.


♫♫♫

__ADS_1


__ADS_2