
Malam begitu gelap, tak ada bintang maupun bulan yang terlihat di atas langit sana. Rasa gelisah bercampur dengan khawatir masih menyelimuti hati Rian. Semua terasa baru dirasakannya, setelah sepuluh tahun kepergian seluruh anggota keluarganya. Di mana ia harus tinggal di panti asuhan menerima semua penyiksaan dari kepala pengasuh.
Hidup seorang lelaki berusia enam belas tahun menjadi berantakan, sungguh Rian berusaha keras untuk kabur dari tempat tersebut dan suatu hari seseorang menolongnya. Ia bekerja siang dan malam, tak lupa mengikuti kelas secara diam-diam di sebuah sekolah. Langkah terburu Rian terhenti tepat di depan Anna yang sedang berada di konter kasir. Nampak menghitung beberapa lembar uang, sepertinya baru saja menutup kafe dan bersiap pulang.
“Hai Rian, ada apa kemari selarut ini?” tanya Anna cukup terkejut akan kehadiran tamu yang tak diundang.
“Sindy menghilang, dia telah diculik,” jawab Rian selagi mengatur napas. “Aku melihatnya sendiri!” ia menegaskan sebelum ucapan tak percaya terlontar.
“Ya ampun! Sekarang apa lagi … ah, maksudku, kau bisa duduk dan tenangkanlah dirimu dulu. Biar aku mencoba menghubunginya,”
“Tenang, kau menyuruhku tenang saat temanmu diculik,” ucap Rian tak sabar, kehilangan seseorang untuk ke sekian kalinya, ia tidak ingin membiarkannya. “Sindy mengangkat teleponmu?”
Anna mengangguk. Namun sebenarnya bukan Sindy yang dihubunginya, melainkan si pelaku penculikan.
Dia berbicara sepelan mungkin. “Apa kau sedang bersama Sindy?”
Di dalam sebuah mobil yang sedang melaju, Eko berbicara melalui earphone portable yang terpasang di telinga. “Pak Agung menyuruhku untuk membawanya ke sebuah pertemuan, sekarang kami sedang di perjalanan pulang.”
Dari jok belakang Sindy mencuri dengar. “Anna!” panggilnya ada nada meminta bantuan, karena ia tahu setelah ini Eko pasti tidak akan membiarkannya pergi lagi.
“Sindy kau baik-baik saja?!” Anna tak lagi memedulikan suara kerasnya, menarik perhatian Rian yang telah mengambil spekulasi bahwa benar para rentenir yang waktu itu tengah bersama Sindy sekarang. “Berikan teleponnya pada Sindy!” ia memerintah dan tentu saja Eko menuruti.
“Sepertinya Kak Agung berniat untuk mengurungku di kamar, apa yang harus aku lakukan,” cerocos Sindy setelah benda persegi itu ia dekatkan di telinganya. “APA?” ia memelankan suara ketika dilihatnya Eko memicingkan mata, sebagai rasa penasaran. “Rian ke kafemu, jangan … jangan berikan ponsel padanya. Nanti aku akan menghubungimu lagi!”
Sambungan segera diputus. Sontak Rian mengerutkan dahinya. “Kenapa?”
“Dia bilang akan menghubungi lagi, sebaiknya kau pulang saja dan jangan terlalu mengkhawatirkannya.”
“Sebenarnya apa yang terjadi padanya? Dia tidak sedang berada di diskotik atau tempat semacamnya, kan? Rentenir itu tidak melakukan sesuatu yang buruk, kan?” Rian tidak merasa lebih lega sebelum memastikan keberadaan gadis itu, mungkin sampai ia bisa melihat keadaan Sindy yang baik-baik saja.
“Rentenir, ah … iya iya,” balas Anna kikuk. Disusul suara rintik hujan deras, menyeruak dari luar sana. “Kau butuh ini.” Ia meneruskan sembari menyodorkan sebuah payung yang baru diambilnya.
__ADS_1
“Terima kasih,” kata Rian.
“Hati-hati di jalan, Sindy pasti akan segera pulang kok.” Sekali lagi Anna meyakinkan.
♫♫♫
Mobil yang dikemudikan Eko oleng, akibat perbuatan Sindy yang terus mengganggunya. Permintaan untuk menepi sebentar saja diabaikan sepenuhnya oleh Eko, laki-laki itu yakin bahwa Sindy pasti akan mencoba kabur lagi. Menjadi anak pembangkang untuk sekian lama tak pernah membuat Sindy merasa bebas, ditambah sekarang ia harus melaksanakan pertunangan bersamaan di hari pernikahan Agung dan Anna.
Setidaknya Sindy pernah bahagia menjalani hidup sendiri tanpa harus mengikuti aturan. Ia hanya harus membangkang sekali lagi.
“Nona kita bisa mengalami kecelakaan! Baiklah, baiklah … aku hanya akan membuka kunci pintunya!” kata Eko susah payah melepaskan tangan yang menjambak rambutnya. “Aduh kepalaku!”
“Sekarang hentikan mobilnya!” kata Sindy lagi.
“Tidak, aku bisa dimarahi habis-habisan oleh kakakmu, aku mohon kerja samanya.” Suara Eko terdengar putus asa.
“Maka dari itu, sudah lama aku menyuruhmu berhenti bekerja padanya. Kak … Kak Eko,” rajuk Sindy.
“TIDAK!” tegas Eko.
“Nona Sindy!” seru Eko selagi Sindy berguling di atas aspal, kemudian berdiri dengan masih terhuyung menghentikan taksi. “Dia berani sekali, ini pasti karena bergaul begitu lama dengan Anna. Apa yang akan terjadi padaku … astaga. Haruskah aku berhenti saja dari pekerjaan ini.”
Eko tersadar saat klakson menyuruhnya untuk segera melaju. Saat itu pula keputusan untuk mengikuti taksi yang dinaiki Sindy terlintas, ia harus bergegas sebelum kehilangan jejak. Sayangnya usaha Eko gagal. Ia harus mematuhi rambu lalu lintas yang mengharuskannya berhenti tepat di depan lampu merah, sesaat setelah taksi berlalu lebih dulu.
“Sial!” umpat Eko memandang taksi yang melaju semakin jauh dan menghilang dari pandangannya.
***
“Untung aku menyimpan sisa uang belanja dari supermarket,” ujar Sindy berjalan di bawah guyuran hujan. “Tapi aku tidak bisa membawa kembali barang belanjaanku,” sesalnya kemudian memasuki gedung kusam, sesekali melihat sekeliling.
Orang yang ditakutkan mengikutinya, ternyata memilih untuk beristirahat. Eko tak sempat mengisi perutnya dan sekarang tengah menikmati satu cup mie instan di dalam mini market. Rupanya ia tengah mempertimbangkan perkataan Sindy untuk berhenti kerja.
__ADS_1
“Aku merasa bersalah pada Kak Eko,” hela Sindy menaiki tangga, bergidik saat hembusan angin dari celah pintu utama yang hendak tertutup itu menerpa tubuhnya.
Usulan Dimas agar dirinya kabur dari pengawasan Agung terngiang. Perbuatan nekatnya keluar dari dalam mobil yang tengah berjalan membuat rasa ngeri tersendiri. Sindy bersyukur tak mendapat luka parah. Setelah kepergian ibunya, hanya seorang pembantulah yang selalu mengkhawatirkan keadaannya.
Bahkan Agung yang dulu sangat lembut dan penyayang hanya berlalu menyuruh agar Sindy mengurus lukanya sendiri. Lebih parahnya lagi, Agung menganggap adiknya berpura-pura sakit dan terus mengabaikan ajakan bermain. Setelah diculik pun baik ayah dan kakaknya tak pernah mengunjungi Sindy saat dirawat di rumah sakit. Hingga berlanjut sampai sekarang, egois. Pikir Sindy selagi pandangannya mendapati Rian yang mondar-mandir di depan pintu flatnya. Seperkian detik kemudian lelaki itu menyadari kedatangannya.
“Hei, kau baik-baik saja?”
Pertanyaan bernada khawatir itu sangat ingin didengarnya, selain dari Anna, sahabatnya yang telah banyak membantu. Satu langkah, dua langkah dan langkah-langkah selanjutnya semakin cepat. Sindy berlari, berhambur memeluk Rian yang otomatis tersentak.
“Biarkan seperti ini selama satu menit saja.” Sindy mengeratkan pelukannya di sekeliling pinggang Rian. “Dan namaku Sindy, Sindy Karlita. Jadi jangan panggil aku hei lagi.”
“Kau membuat bajuku basah.” Gugup, Rian berbicara sedikit melantur, di saat seperti ini siapa yang akan peduli dengan kondisi pakaian mereka.
“Maaf.” Sindy masih membenamkan wajah di dada bidang Rian yang terasa begitu hangat. “Dan terima kasih sudah mencemaskanku.”
“Satu menitmu sudah habis,” kata Rian.
Sindy berdesis. Menarik tubuhnya sambil melonggarkan tangan, ia mencibir, “Pelit sekali.” Tangannya yang belum sempat menjauh diraih kembali oleh Rian.
“Katakan apa yang harus aku lakukan untuk membantumu?”
Pikiran Sindy tak sejalan dengan maksud dari pertanyaan yang Rian ajukan. Wajahnya berubah serius dan tubuhnya menegang, haruskah ia mengutarakan apa yang ada dipikirannya itu.
“Menikah, menikahlah denganku.” Sindy pun mengatakannya, sesuatu yang mungkin dapat membantu menggagalkan perjodohannya dengan Dimas.
“Menikah?” ulang Rian tanpa sadar melepaskan pegangannya pada tangan Sindy. “Kau ingin kita menikah, padahal kurang dari lima jam kita baru memutuskan untuk berpacaran. Kau tidak asal bicara, kan?”
Sindy mengangguk. “Kau mau tidak?” tanyanya malah seperti penawaran.
“Benar … dengan begitu hutangmu menjadi hutangku juga.”
__ADS_1
“Hutang, oh iya, tentu saja, bukankah kau ingin membantuku,” tukas Sindy lalu menunduk merutuki perkataannya, bodoh, kenapa juga ia harus mengajak menikah lelaki yang belum sampai sehari menjadi kekasihnya.
***