Suddenly A Couple

Suddenly A Couple
Episode 26 : Malam Ini


__ADS_3

Gereja tak cukup besar dengan hanya ada tujuh orang di dalamnya, terlihat begitu indah, ada banyak bunga-bunga terpajang di setiap sudut ruangan. Anna juga memegang sebuket bunga yang segera saja dipotret oleh Dimas. Lelaki itu menjadi suka mengambil gambar menggunakan kamera yang langsung mencetak hasil foto.


“Imut sekali.” Puji Dimas tersenyum seperti orang bodoh sambil memperhatikan selembar foto yang baru keluar dari kameranya.


Rangga mengambil foto tersebut, bermaksud menggoda Dimas yang nampaknya benar-benar menyukai Anna.


“Seseorang yang ditakdirkan untukmu akan selalu cantik, seperti aku melihat Yuri,” kata Rangga tersenyum lebar memandang Yuri yang datang bersama mempelai wanita di sampingnya. “Tentunya pengantinku lebih cantik.”


“Isssh, kembalikan!” desis Dimas merebut selembar foto di tangan Rangga lalu mengusapnya. “Jadi lecek kan.”


“Dimas, cepat potret pengantinnya!” seru Anna.


Dimas bergegas memotret dengan berjalan mundur di hadapan mempelai pengantin wanita. Rian sudah memakai setelan jas rapih, mengenakan dasi kupu-kupu dan tersemat hiasan bunga putih di saku jasnya tampak gagah, menunggu di podium. Seketika ia terpesona dengan penampilan Sindy.


Gaun pengantin yang melekat di tubuhnya membuat gadis yang tengah melangkah di altar begitu cantik, terkesan polos namun sexy. Rambut bergelombang dengan setengahnya terikat ditambah bando bunga mempercantik parasnya. Sungguh Rian tak bisa mengalihkan pandangannya. Kini Rian mengulurkan tangan pada Sindy yang kemudian meraih tangan tersebut, mereka berdiri beriringan di depan pendeta. Janji suci telah diucapkan dan disetujui keduanya.


“Sekarang kalian adalah sepasang suami istri,” ucap pendeta pada pasangan pengantin yang terlihat sangat bahagia.


Di kursinya Yuri bersorak disela isak tangis, tak percaya menyaksikan pernikahan beda kasta yang sangat menyentuh. Rangga pikir tunangannya itu merasa sedih karena mendapati pernikahannya keduluan oleh Rian dan Sindy.


Sementara itu kedua mempelai saling berhadapan dan memancarkan kebahagiaan yang tak dapat disembunyikan, mata mereka berkilat-kilat cerah seraya bibir terus melengkungkan senyuman. Ini hari terindah di mana mereka menguatkan hubungan dalam status pernikahan, mungkin sebagian berpikir keputusan mereka terlalu cepat namun sebagian lain berpikir itu lebih baik. Kilatan dan suara kamera terdengar saling susul, Anna sudah memegang beberapa lembar foto. Ia juga mengomel tentang hasil foto yang buram.


“Potret yang benar!” tegur Anna.


“Kiss! Kiss!” seru para tamu yang hadir, siapa lagi kalau bukan Yuri didukung Rangga yang mengikuti.


Awalnya mereka terlihat malu-malu, bahkan pipi Sindy merah padam tetapi Rian tersenyum menyeringai. Ia tahu lelaki itu tidak akan menyia-nyiakan kesempatan seperti ini, dan dengan gerak cepat tangan Rian meraih tengkuknya untuk lebih dekat.


“Waaa, Rian, kau yang terbaik!” pekik Yuri histeris, sontak mengalihkan perhatian Rangga yang berkomentar bahwa dia lebih ahli melakukannya.

__ADS_1


Jeritan terpukau dan rasa iri melihat pasangan baru itu terdengar bagai gumaman yang tak perlu mereka hiraukan. Tangan Rian mendekap tubuh pengantinnya yang terbalut gaun putih panjang berhias rajutan bunga melingkari bahu memperlihatkan leher mulusnya dan rasanya ia ingin meninggalkan jejak merah di sana.


♫♫♫


Rangga merasa telapak tangannya sakit dan nyaris copot akibat bertepuk tangan tadi. Ia juga harus merelakan mobilnya dipinjam oleh Rian. Yuri bilang tidak ada salahnya beramal sedikit saja.


“Yuri, mereka bukan ladang untuk memberi amal,” ucap Anna tak setuju.


“Ahh.. maaf, maaf,” kata Yuri menghantar kepergian mobil yang melaju semakin jauh.


Dimas berhenti memotret. “Bagaimana kalau Rian mengetahui identitas asli Sindy … Pasti dia merasa terkhianati karena telah dibohongi. Atau mungkin merasa senang,” pikir Dimas.


“Senang? Aku tidak yakin dengan itu.” Beda pendapat Anna yang dimengerti Dimas, pasti sahabatnya itu tidak terima karena sebenarnya Sindy menikah demi menghentikan perjodohan mereka.


“Aku tak percaya Sindy senekat itu,” ujar Dimas.


“Apa maksud dari pembicaraan kalian?” tanya Yuri dibarengi anggukkan penasaran dari Rangga.


Anna ikut berbicara, “Mana coba aku lihat!”


♫♫♫


Mobil berhias bunga-bunga cantik dan pita merah jambu tengah melaju di antara mobil lain, jalan raya yang tak terlalu ramai seakan mempersilahkan pengendara mobil berwarna hitam tersebut lewat tanpa gangguan. Rian tak henti-hentinya bersenandung, satu tangannya menggenggam tangan Sindy dan tangan lainnya menghendel laju mobil.


“Kau terlihat sangat senang,” kata Sindy menatap lekat-lekat wajah lelaki di sebelahnya.


“Apa kau tidak merasakannya juga?” tanya Rian dibuat polos sembari sesekali melirik istrinya.


“Rasa senangku melebihimu ... tunggu, aku curiga kau senang karena akhirnya bisa menciumku di depan banyak orang, kau terlihat tak mau menghentikannya tadi.” Sindy agak malu ketika mengatakannya.

__ADS_1


Lagi-lagi senyum menyeringai menghiasi wajah datar Rian. “Bukankah kau yang tak ingin menghentikannya dengan berekspresi kecewa,” balasnya meraih kemenangan karena berhasil membuat Sindy salah tingkah, ia terkekeh dan meneruskan, “Tidak mungkinkan melakukan hal lebih di antara banyak pasang mata tertuju pada kita, sebenarnya aku memang kecewa sih,” ia berbisik namun jelas.


Serasa seluruh tubuhnya tersengat lebah, beribu kebahagian datang meyergapnya ketika Sindy mendengar bisikan lembut, berdesir menggoda hati.


♫ ♫♫


Mereka sampai di depan villa bertingkat dua yang sebagian dindingnya terbuat dari kayu, terletak tak jauh dari danau berair tenang, cukup terpencil dan jauh dari hiruk pikuk kendaraan. Yuri telah mengusulkan agar Rian dan Sindy berbulan madu di villa milik keluarganya.


“Kau semakin berat dari terakhir kali aku menggendongmu,” gerutu Rian selagi menjejakkan kaki menaiki anak tangga.


“Aku tidak seberat itu! Kau saja yang tidak kuat!” Marah Sindy mengeratkan kalungan tangannya di sekitar leher Rian yang susah payah berjalan menuju sebuah pintu.


“Sebentar ...,” katanya menurunkan Sindy dari gendongannya, mengambil napas dalam-dalam dan mulai menyuruh gadis itu datang padanya. “Ayo akan aku angkat lagi kau,” Rian mengulurkan tangan hendak membopong Sindy, namun gadis itu meloncat melingkarkan kaki pada tubuh bagian pinggangnya bersamaan dengan mengalungkan tangan dan menatap nakal.


Pintu berhasil dibuka saat Sindy mencoba mengambil napas dan berkata, “Apa pun yang terjadi kau akan tetap di sisiku, kan?”


“Kalau kau mau begitu, akan aku lakukan,” balas Rian.


Terdapat kelopak bunga mawar merah yang berhambur di kasur. Mereka sangat berterima kasih pada Yuri yang telah mempersiapkan segalanya. Rian menatap lekat mata Sindy sembari merapihkan anak rambut Sindy.


“Benar kau tidak akan menyesal.” Sindy mengangguk kecil. “Baiklah kalau begitu,” kata Rian menaiki ranjang seraya tangan melempar jas hitamnya, lalu membuka kancing kemejanya secepat mungkin.


“Aku mencintaimu.” Pengakuan Rian sama sekali tidak membuat Sindy terkejut.


“Aku tahu, karena aku juga mencintaimu,” balas Sindy.


Mereka berpelukan dengan tangan Rian yang dijadikan bantal oleh Sindy, saling menatap manik mata satu sama lain. Sindy tersenyum malu-malu namun terlihat sangat bahagia, begitu Rian memberikan ciuman singkat di bibirnya, ia segera menutupi wajahnya yang memerah.


“Mari kita lakukan, making a love,” ucap Rian membelai rambut sang istri. Sindy mengangguk dengan wajah polosnya.

__ADS_1


♫♫♫


__ADS_2