
Pintu dibuka dari luar, Sindy bergegas pergi untuk menyambutnya. Rian tengah melepas sepatu, matanya berubah ceria ketika melihat seseorang di hadapannya menawarkan bantuan untuk melepaskan jas.
“Kau lelah?”
“Iya.” Rian mengangguk manja.
“Aku sudah masak untuk makan malam, ayo kita makan bersama,” ajak Sindy menarik lengan Rian kemudian menyampirkan jas pada sandaran kursi.
Beberapa hari ini mereka melakukan semuanya bersama. Makan, menonton, membaca, mendengarkan musik hingga bernyanyi sebelum tidur. Menyenangkan rasanya memiliki seseorang dalam kehidupan monoton. Rian menjadi lebih hangat dan juga penilaian terhadap wanita telah berubah sepenuhnya, ia dapat menemukan kehangatan dalam sebuah hubungan.
“Bagaimana lebih enak dari kemarin, kan?” kata Sindy.
Rian mengunyah lalu menelan makanannya. “Lumayan, rasanya ada yang kurang. Tapi apa ya?” kata Riam masih mengecap sambil menyendok satu suap sup. “Ahh kau pasti lupa menambahkan merica pada sopnya agar terasa pedas dan menghangatkan tubuh.”
“Bagaimana bisa kau mengetahuinya, asal kau tahu aku tidak lupa tapi aku tidak bisa mendapatkannya di mana pun. Mereka bilang stoknya habis dan itu sangat menyebalkan!” keluh Sindy.
“Tidak masalah, ini tetap enak kok. Aku suka!” Rian menikmati makan malamnya. “Kau juga makanlah,” lanjutnya sembari menyodorkan makanan pada Sindy yang dengan senangnya membuka mulut, memakan masakannya dari tangan Rian.
♫♫♫
Di satu meja berbentuk persegi tersaji empat gelas minuman berbeda dan empat burger berbeda pula. Salah satunya mengambil cheese burger membuka bungkus tak sabar, memakan satu gigitan penuh sambil berbicara,
“Jadi maksud pertemuan ini apa?” tanya Rangga tak sabar.
“Cepat katakan!” tuntut Yuri.
“Enaknya,” tukas Eko merasakan keju meleleh di lidah. “Aryo punyamu rasa apa?”
“Beef double cheese burger,” balas Aryo hampir menghabiskan burger-nya.
“Punyamu lebih besar dariku!” seru Eko.
Pasangan yang diminta datang menggerutu kesal, harusnya mereka tidak menuruti ajakkan Eko.
__ADS_1
“Kita pergi!” Rangga berdiri dari duduknya.
Eko langsung menghentikan niatan Rangga dengan ikut berdiri, menaruh kedua tangan di kedua belah bahunya lalu menekannya agar kembali duduk. Yuri menepuk-nepuk lembut punggung Rangga berusaha membuatnya lebih sabar.
“Aku ingin meminta bantuan kalian,” kata Eko meletakkan burger yang masih tersisa. “Carikan identitas seseorang untukku, apa namanya benar-benar Aldi Nugraha, tempat tanggal lahir, pekerjaan dan semua yang berkaitan dengannya,” tuturnya dibarengi anggukkan Aryo.
“Kenapa kita harus melakukannya?” ucap Rangga enggan.
“Kau menyukai pria bernama Aldi ini?” imbuh Yuri.
“Yang benar saja!” elak Eko.
Jika diperhatikan pasangan di hadapannya ini sangat cocok, saling melengkapi dan sama-sama banyak bicara. Mudah mengomel, tak sabaran pula … rasanya Eko ingin berhenti meminta bantuan kalau saja tak mengingat perusahaan surat kabar yang dimiliki keluarga Yuri.
Anna selalu mengatakan betapa hebatnya surat kabar Daily Post, mereka menggali berita apa pun kecuali tentang Karlite. Rencana menjatuhkan perusahaan calon suaminya itu sirna ketika dengan mudahnya Agung menghilangkan pemberitaan buruk tentang bisnisnya.
“Dia itu lelaki, mana mungkin menyukainya!” bantah Eko yang lagi-lagi disusul anggukkan Aryo.
“Benar, benar, namanya sama persis,” kata Yuri yang juga mengingatnya.
Aryo tak tahan lagi. “Memang benar dia orangnya! Kami meminta bantuan kalian untuk menyelidiki Aldi yang memiliki potret Pak Agung dan Nona Sindy beserta foto lainnya tertempel di dinding saling terhubung oleh benang merah, dia mengaku sebagai detektif, namun Kak Eko tidak percaya,” jelas Aryo panjang lebar dengan mulut penuh makanan.
“Imut sekali,” singkat Yuri.
Siapa yang tidak cemburu saat tunangannya mengatakan imut pada lelaki lain. Rangga sudah mendelik saja seraya meraih burger yang belum tersentuh.
“Tenang saja sayang, kau lebih imut,” kata Yuri kemudian.
Eko dan Aryo tersedak. Mereka benar-benar ingin segera pergi setelah permintaannya disetujui.
“Aryo kenapa kau memanggil Sindy dengan sebutan nona?” tanya Yuri selagi Rangga masih tersipu.
“Dia memang nona,” ucap Aryo ambigu.
__ADS_1
“Memangnya kau tidak tahu kalau Sindy itu adik dari Pak Agung, tentu dia jarang diberitakan karena sedang belajar di luar negeri. Tapi nyatanya dia sudah lama kabur dari rumah dan kami bertugas untuk mengawasinya.” Eko mengucapkannya dengan santai, tak apalah, dia percaya bahwa Yuri tidak akan menjadikannya bahan berita. “Anna tidak memberitahu kalian?”
“AMAZING!” serempak Rangga dan Yuri saling pandang tak percaya.
“Anna merahasiakan hal sebesar ini dariku!?” tambah Yuri, pantas ia merada ada yang aneh dari cara Anna dan Sindy mengobrol yang tampak akrab. Mengira hubungan keduanya terjalin hanya karena atasan dan pegawai kafe.
Ini akan menjadi berita besar, ditambah mereka mengetahui Sindy baru saja menikah dengan lelaki yatim piatu yang tak memiliki apa-apa. Rangga bahkan memukuli mulutnya, ia sudah sering sekali merendahkan dengan memberi bantuan beranggapan bahwa Rian dan Sindy adalah pasangan miskin. Siapa yang menyangka kalau Sindy putri dari pemilik perusahaan terbesar ke lima di Indonesia.
“Lalu bagaimana nanti kita menghadapi Sindy?” tanya Rangga ditujukan pada Yuri.
“Untuk sementara kita pura-pura tidak tahu apa-apa, OK!” usul Yuri.
“Jadi kau mau membantu carikan identitas Aldi tidak?” Eko hampir dibuat sebal dengan pasangan di depannya.
“Ayo cepat jawab!” desak Aryo sambil mengunyah satu gigitan terakhir burger-nya.
“Kalian berani bayar berapa?” Yuri malah membuat Eko dan Aryo berdecak jengkel. “Aku bercanda, tentu saja aku akan membantu kalian yang payah ini.”
♫♫♫
Selesai makan malam Rian dan Sindy memilih langsung ke kamar, itu karena Rian bilang lelah dan ingin tiduran. Mereka saling menceritakan tentang berbagai pekerjaan yang telah mereka lakoni. Rian mengaku pernah kerja di pom bensin, bahkan bengkel. Sedang Sindy di berbagai restoran, dan pernah menjadi pelayan di toko bunga.
“Pertama kali aku bertemu Aldi di toko bunga, dia membeli bunga lily saat itu, lalu kami jadi saling mengenal.” Sindy menutup mulutnya, kenapa juga ia membicarakan Aldi. Dilihatnya hati-hati reaksi Rian yang terlihat tak masalah dengan masih memandangnya. “Ketika tempat kerjaku diketahui oleh para rentenir, aku pergi mencari pekerjaan lain dan tempat tinggal baru,” lanjut Sindy mengalihkan pembicaraan tetapi bodohnya malah mengungkit soal rentenir.
“Di tempat tinggalku yang baru, aku bertemu dengan pria dingin yang menyebalkan, anehnya aku tertarik padanya sejak meminta bantuan untuk mengangkat barang-barangku.” Sindy mengingatnya sambil melayangkan tatapan tajamnya, ia pastikan bahwa laki-laki di sampingnya itu juga ingat.
“Aku?” tanya Rian. Sindy hanya mengangguk pelan.
“Iya dulu kau sangat menyebalkan, aku sampai ingin memukulmu yang begitu sombong,” komentar Sindy, tangannya bersidekap seolah tengah menunjukkan kemarahannya.
Sementara Rian mencoba mengingat. “Apa aku pernah seperti itu,” katanya meyangsikan.
♫♫♫
__ADS_1