
SORE HARI setelah sebelumnya makan siang bersama Tania, Dimas ada janji bertemu dengan Jessica. Namun Dimas dibuat penasaran dan terlihat begitu tertarik pada wanita di sebelahnya, yang sejak keluar dari kafé, dia masih tetap berdiri di depan bangunan bernuansa hangat layaknya rumah. Wanita itu sepertinya sama dengan Dimas yang sedang menunggu seseorang yang tak kunjung datang.
“Apa cuacanya sangat dingin? Atau aku yang terlalu lama menunggu?” ucap wanita itu sambil mencoba menghangatkan tangannya.
Dimas yang biasanya mudah berkomunikasi dengan wanita yang tak ia kenal sekali pun, kini mendadak menjadi pendiam. Ia hanya mampu mengerling, sesekali memalingkan wajah ke arah lain saat wanita yang diperhatikannya menoleh padanya. Dimas juga tak lupa memainkan bunga yang ia bawa untuk nanti diberikan kepada Jessica.
Dering ponsel memecah keheningan di antara mereka, wanita itu melihat ke arah Dimas, membungkukkan sedikit badannya sebagai tanda minta maaf karena suara ponsel yang mungkin mengganggu Dimas.
“Apa? Kau tidak bisa datang?” tanya wanita yang masih jadi pusat perhatian Dimas. “Padahal aku sudah menunggumu selama tiga jam, kau keterlaluan … seharusnya kau bilang lebih awal.” Nada bicaranya sama sekali tak terdengar marah.
Malahan Dimas yang merasa kesal. Tiga jam itu waktu yang sangat lama, ia bahkan tidak bisa menunggu barang setengah jam pun.
“Hmm, ya karena aku baik… aku selalu memaafkanmu sekali pun kau mengulanginya lagi… Baiklah… aku mengerti kekasihku ini sangat sibuk.” Entah kenapa mendengar wanita itu sudah memiliki kekasih membuat Dimas sedikit kecewa.
Bukannya Dimas tidak sopan menguping pembicaraan orang lain, tapi posisinya berdiri dekat dengan wanita yang memakai baju berwarna biru tua dengan bando tipis yang bertengger di sela rambutnya membuat ia dapat dengan jelas mendengar pembicaraan wanita tersebut melalui telepon.
“Lebih baik aku segera pulang saja, di luar semakin dingin,” ucap wanita itu tak lama setelah mengakhiri sambungan telepon, dia hendak melangkah, namun pandangannya tertuju pada Dimas yang terus melihat ke arahnya membuat dia urung pergi.
Dia melihat ke sekelilingnya, tak ada orang lain selain dirinya dan laki-laki dengan wajah polosnya tengah memegang bunga mawar merah di tangannya itu masih melihat ke arahnya.
“Kau juga sedang menunggu seseorang ya?” tanya penasaran sang wanita. Dimas segera tersadar, ia salah tingkah ditanya seperti itu oleh wanita yang sejak tadi diperhatikannya.
__ADS_1
Belum juga Dimas menjawab. Dua wanita yang dari tadi mengawasi Dimas datang, dan langsung melabraknya.
“Yak! Dimas, siapa dia?!” tanya Jessica ketus. Ada kilatan kemarahan di matanya.
Lain halnya dengan Krysti yang terlihat santai namun pandangan mata tajam tertuju pada wanita yang diduga kekasih lainnya Dimas.
♫♫♫
Setelah kencan buta yang gagal total, ditinggal kedua sahabatnya dan bekerja hingga matahari hampir tergelincir. Rian bergegas pulang, istirahat sebentar dan malamnya kembali melakukan pekerjaan paruh waktu di sebuah restoran lalu berlanjut menjaga mini market. Sesampainya di rumah, Rian tak langsung masuk. Ia malah kembali mundur, berdiri tepat di depan pintu rumah Sindy.
Ia ragu untuk mengetuk pintu. Namun suara pintu dibuka dari dalam membuat Rian terlonjak kaget dan segera bersikap wajar. Penghuni flat keluar dengan diikuti pria polos yang tengah tersenyum seperti orang bodoh.
“Owh, Rian… Kau pulang lebih awal dari biasanya!” Sindy berseru ketika menyadari kehadiran Rian satu langkah di depannya.
Melihat Sindy dan Aldi sangat akrab, ada rasa yang tak biasa di hati Rian. Perasaan tak suka muncul begitu saja.
“Sepertinya yang kau bawa berat, sini biar aku saja yang mengurusnya,” ujar Aldi mengambil alih kardus yang berisi barang-barang bekas dari tangan Sindy, yang nantinya akan dibuang.
Selepas kepergian Aldi. Suasana menjadi hening untuk beberapa saat, sebelum kemudian Sindy berkata, “Apa kau kemari untuk membantu, kalau begitu tolong gantikan bohlam lampu di kamarku.” Sindy bahkan tak mengizinkan Rian untuk menjawab dan berlalu kembali memasuki rumahnya.
Secara konstan Rian juga melangkah melewati pintu, ia mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan yang memang terlihat rapih dan bersih. Sudah sekitar tiga bulan lamanya sejak ia terakhir kali berada di rumah Sindy untuk membenarkan pipa keran yang bocor, dan menggeser beberapa perabot.
__ADS_1
Rian berdiri menunggu dengan tak sabar. Suara dari gesekkan tangga dengan lantai terdengar tak mengenakan di telinganya. Tak tahan lagi mendengar suara geretan tersebut, Rian mengambil alih, mengangkat tangga yang tengah didorong Sindy menuju kamar.
“Issh, seharusnya dia lakukan itu dari tadi,” kata Sindy disusul dengan penuturan yang menyuruhnya agar cepat dan segera memegangi tangganya. “Iya, iya,” sahut Sindy ketika mendapati Rian sudah menginjakkan kaki di salah satu sisi tangga menyisakan dua anak tangga teratas.
Seperti apa yang disuruh Rian, gadis itu menempatkan kedua tangannya memegangi tangga yang berada tepat di bawah lampu, berdiri di dekat ranjang dengan posisi Sindy membelakangi tempat tidurnya. Bohlam lama sudah berhasil diambil, tanpa berbicara apa pun Rian menyerahkannya pada Sindy yang langsung tanggap. Tak lama lampu bersinar terang, sama sekali tidak berkedip-kedip atau bahkan mati seperti sebelumnya. Sindy terlihat puas akan hal itu, ia mendongak untuk memastikannya bersamaan dengan Rian yang menyingkirkan sarang laba-laba.
“Aduh mataku!” seru Sindy cepat-cepat mengucek matanya.
Tentu saja Rian mengalihkan perhatiannya ke bawah, ia buru-buru turun saat lampu tiba-tiba mati hingga kakinya terpeleset. Mereka memekik pelan dan terdengar suara tangga bergeser, detik berikutnya lampu kembali menyala. Betapa terkejutnya Sindy melihat wajah Rian begitu dekat dengan wajahnya, sebaliknya lelaki itu hanya terdiam menahan rasa tegang yang melanda. Ketegangan yang berbeda dari kencan butanya siang tadi.
Berada di atas tubuh Sindy yang terbaring di kasur, membuat jantungnya berdetak tak beraturan. Kedua tangan Rian yang bertumpu terlihat meremas seprai. Ia baru tahu bahwa gadis yang telah cukup lama dikenalnya begitu manis dengan mata bulat, alis hitam tebal, hidung yang tegas dan bibir merah muda yang mungil seakan mengundang ciuman.
Mendadak ia menginginkannya, sentuhan di mana dua orang saling mempertemukan bibir mereka dan saling ******* penuh gairah seperti yang selalu Dimas dan Rangga bicarakan.
“Rian bisakah kau menyingkir,” kata Sindy.
Bukannya menyingkir Rian malah semakin memperpendek jarak di antara mereka, ia pun mendaratkan bibirnya pada bibir Sindy dengan lembut. Gadis itu terkejut bukan main hingga menjatuhkan bohlam yang sempat dipegangnya erat, berganti mengepal kuat ketika mendapat tautan yang semakin dalam. Anehnya kenapa Sindy merasa tidak bisa menggerakkan tubuhnya, namun ia bisa membalas setiap ******* berirama dari Rian.
Tersadar akan apa yang dilakukannya, Rian sontak berdiri, ia jelas salah tingkah. Kedua kakinya bergerak cepat menuju pintu, keluar dari rumah Sindy sebelum hal yang lebih buruk terjadi. Perlahan Sindy terduduk, ia menyentuh bibirnya dan merasa mendapat perlakuan tak senonoh karena ditinggal begitu saja.
“Tadi itu apa yang sudah aku lakukan.” Sindy bahkan tak percaya kenapa bisa ia membalas sentuhan bibir tersebut. “Ada apa dengan laki-laki itu!” pekik Sindy lebih menyesalkan perbuatannya dalam menyambut perlakuan macam tadi, terlebih di atas ranjang. Apa karena sudah lama tidak melakukan skinship (sentuhan fisik), hingga secara naluriah ia menerimanya.
__ADS_1
♫♫♫