
Anna berhasil menjadi yang pertama menerobos kerumunan seraya menarik lengan Dimas untuk ikut dengannya. Rupanya posisi mereka terbalik, namun dalam diamnya pria itu tak repor-repot mempermasalahkan. Dimas lebih merepotkan debaran jantung tak terkontrol akibat tangan Anna yang menyentuhnya.
Sementara Rangga dan Yuri kompak menyerobot masuk. Lain halnya dengan Rian yang mendorong lembut pundak Sindy, membantunya untuk maju ke depan, sengaja menyenggol lelaki berbadan gempal yang tak kunjung memberikan jalan. Hati Sindy kian gelisah ketika dapat melihat acara yang tengah berlangsung di depannya.
Di panggung sudah ada lima pasangan. Mereka tengah berlomba memperebutkan handphone couple, hadiah utama persembahan event bulanan dari sebuah toko elektronik sebagai strategi promosi.
“Ya, ya, aakh!” seruan para penonton menyesali dua pasangan terakhir yang gagal dalam lomba putaran ke tiga. Rata-rata si pria kesulitan bertahan mengangkat wanitanya dengan harus menekuk lutut lalu berdiri kembali sesuai intruksi.
Pembawa acara kembali menyuruh penantang berikutnya untuk naik ke panggung. Sudah ada satu pasangan diikuti Anna yang dengan semangatnya menarik Dimas. Pandangan penuh keyakinan terpeta di wajah Rangga dan Yuri sebelum menyusul dua pasangan lain. Dan terakhir Rian dan Sindy saling lirik .…
“Jika kita menang, handphone–nya bisa kau jual untuk melunasi hutangmu,” ucap Rian selagi menghalangi pasangan yang lain supaya berhenti menaiki panggung menggunakan satu tangan yang terentang. “Tunggu apa lagi, ayo,” lanjutnya menyadarkan pikiran melantur Sindy.
Bagaimana tidak, mereka harus melakukan beberapa lomba secara berpasangan dan itu harus berdekatan. Tantangan pertama adalah memecahkan balon yang digempit, mengharuskan masing-masing pasangan berpelukan erat. Rangga dan Yuri menjadi peserta tercepat yang berhasil meletuskan tiga balon dalam kurun waktu kurang dari 25 detik.
Dimas menjadi lelaki terpayah, ia hanya bergeming mendapatkan rangkulan di sekeliling tubuhnya, menahan napas saat tangan itu menekan demi mempersempit jarak hingga balon meletus. Anna tak dapat menahan rasa senang, bergegas meletakkan balon berikutnya di antara tubuhnya dan juga tubuh kaku Dimas, kembali berusaha sekuat tenaga selagi Dimas mulai membantu dengan balas memeluk erat. Ingat, Dimas itu seorang playboy ternama di kampus.
“Kita menyerah saja,” kata Sindy di sela perlombaan.
Sudah satu menit berlalu sedang mereka belum juga berhasil. Rian melihat pesaing lain kemudian menggeleng bermaksud menolak usulan rekannya. “Aku tidak menerima kekalahan sebelum mencoba sebaik mungkin,” kata Rian mendekap sekaligus menarik Sindy lebih dekat.
Dapat ia cium aroma tubuh gadis itu yang memalingkan wajah ke samping, terlihat sedang menimbang-nimbang seraya tangan bergerak ke bagian atas punggung Rian. Mereka memaju mundurkan tubuh menekan balon yang semakin mengempis kemudian meledak. Keberhasilan memang selalu membuat bahagia … Sindy mulai menikmati perlombaan, terlihat dari caranya mengembangkan senyum ceria.
“Kita harus menang!” Semangat Rian namun berwajah datar setelah mengontrol kepuasannya dalam menaklukan tantangan.
Otomatis tubuh Rian maju tanpa ragu, tidak seperti sebelumnya yang sempat mundur beberapa kali hingga balon meletus. Semakin mendekat bersamaan dengan kedua tangan aktif membawa Sindy dalam pelukan mendalam. Seperkian detik kemudian balon kembali meletus. Rian dan Sindy merasakan getaran aneh ketika tubuh mereka bertubrukan, menempel satu sama lain.
__ADS_1
Riak penonton terdengar samar. Pluit nyaring menjadi angin lalu, menandakan waktu dua menit mereka sudah selesai. Satu pasangan tersingkir karena gagal menyelesaikan misi dengan menyisakan satu balon saja dari lima yang harus mereka pecahkan.
Seakan tak percaya akan keberhasilan Rian dan Sindy, ke empat pandang mata dengan mulut terbuka tertuju pada mereka. Hingga suara pembawa acara memberitahukan lomba selanjutnya, pepero game. Di mana setiap pasangan harus memakan satu pepero di ujung berbeda hingga menyisakan sedikit bagian saja, sekitar 1cm.
Pipi Dimas sudah memerah saja, ia hanya mengangguk-angguk mendengarkan penjelasan strategi Anna dibarengi dengan praktek memiringkan kepala. Dimas mengipas wajah menggunakan tangan. Terasa panas. Ia membatin dikagetkan oleh suara pluit, pertanda dimulainya lomba.
“Boleh aku menyentuh lehermu?” kata Rian.
Perasaan menggelitik segera menyergap, setelah sebuah tangan menarik Sindy lembut. Rian menggigit sisi lain stick banana sepanjang 15 cm. Teriakan histeris penonton di bawah sana bergemuruh dan semakin menjadi saat Yuri dan Rangga berlaku agresif, dan berhasil menyisakan satu centi pepero yang diminta MC. Lagi-lagi menjadi pasangan yang pertama lolos.
“YES!” kompak keduanya sambil melakukan tos.
Wajah tenang terkesan santai itu semakin mendekat, Sindy terdiam membiarkan Rian yang bergerak maju menghabiskan pepero. Secara otomatis memejamkan mata ketika jarak dipersempit dan perlahan namun pasti Rian memiringkan kepala, tangannya masih berada di leher belakang Sindy.
Semua pasangan maju ke babak final, yaitu menggendong pasangan selama mungkin, siapa yang mengaku lelah dapat mengundurkan diri.
“Kau benar akan melakukannya?!” seru MC ditujukan pada Yuri yang mengangkat Rangga.
“IYA!” sahut Yuri disambut tepuk tangan riuh.
Perlombaan berlangsung ketat. Setelah sekitar lima menit diberi intruksi jongkok lalu berdiri selang 45 detik berikutnya.
“Berdiri!” titah MC.
Dimas tak tahan lagi. “Ini terlalu melelahkan,” katanya tak bisa berdiri dan malah terhuyung ke depan dalam posisi berlutut, kontan Anna menjauh dari punggung Dimas.
__ADS_1
“Gagal!” pekik MC.
Meski begitu Anna tetap puas dengan hasilnya, ia segera membantu Dimas untuk berdiri.
“Aduh kakiku kesemutan!” ujar Dimas.
Anna dengan tanggap memukul-mukul kaki Dimas, berharap menghilangkan kesemutan Dimas, sambil tertawa kecil mengetahui tingkah kekanakkan si pria playboy yang kini menyandang sebagai pacar tiga minggunya.
Sesuatu yang luar biasa Rian dan Sindy dapat maju ke final. Mereka pasangan tercanggung malah terlihat santai, apa karena sebelumnya Sindy pernah digendong oleh Rian? Atau berada di punggung Rian telah membuat Sindy merasa nyaman? Hati Sindy pun sudah tidak segelisah sebelumnya, justru berdesir hebat bersamaan dengan jantung berdegup kencang.
Sindy harap pria yang tengah menggendongnya ini tidak mampu mendengar degupan jantungnya. “Kau tidak lelah?” tanya Sindy menggelitik telinga memerah milik Rian.
“Tidak sama sekali.” Siapa yang menyangka kalau Rian senang bukan main mengetahui jantung Sindy berdetak cepat.
Tak lama satu pasangan menyerah meninggalkan dua pasang lain yang tengah mengangkat satu kaki. Rangga khawatir kekasihnya lelah, maka ia meloncat turun bergegas mengusap peluh Yuri. Beberapa orang menyesalkan keputusan mereka membiarkan pasangan bertahan menang.
“Berikan saja hadiahnya pada mereka yang lebih membutuhkan,” ujar Rangga salut pada kemajuan bersosialisasinya Rian.
“Kau memang baik,” tambah Yuri.
Rian menurunkan Sindy dari gendongannya, menghela napas lega. “Yeah!” singkatnya merayakan kemenangan.
Diam-diam Sindy tersipu malu, ikut bertepuk tangan saat yang lain memberi selamat padanya yang berhasil memenangkan perlombaan. Tiba-tiba saja muncul di pikiran Sindy bahwa ia menginginkan Rian, berharap bisa lebih dekat dengan Rian. Layaknya sepasang kekasih.
***
__ADS_1