
Tikar sudah digelar tepat di bawah pohon rindang, jam menunjukkan bahwa sekarang waktunya makan siang. Anna mengeluarkan satu per satu kotak makanan dari keranjang yang dibawanya. Disambut bahagia Dimas yang langsung saja membuka penutupnya dan terlihatlah masakan menggugah selera.
“Kau yakin, kau yang membuatnya.”
Anna mengangguk seraya mengambil buah cherry merah. “Coba ini,” ujarnya segera saja Dimas turuti. “Manis dan menyegarkan, bukan?”
“Iya sama sepertimu!” sahut Dimas terlalu bersemangat. “Suapi aku lagi!”
Entah mengapa Anna merasa tersipu malu luar biasa, pipinya juga merona, mungkin karena ini pujian pertama baginya yang terdengar nyata. “Baiklah, makan juga nasi gulungnya.”
“Kau juga makan.” Dimas menyodorkan kimbap pada Anna.
Mereka tak lupa meminum jus jeruk dengan gaya menyilangkan tangan satu sama lain. Saling tertawa karena merasa konyol melakukan hal tersebut di acara piknik. Sampai bermain game dengan hukuman menghabiskan makanan tersisa bagi yang kalah. Mulut Anna penuh dengan makanan, rupanya ia tidak baik dalam memainkan kertas-gunting-batu, sehingga kalah tiga kali berturut-turut.
“Pipimu menggelembung,” kata Dimas menyentuh kedua belah pipi Anna. Gadis itu terbatuk, alhasil memuncratkan makanan ke wajah Dimas yang berada di depannya. “ANNA!”
“Aduh maaf, maaf.” Anna menegak habis minumannya, tak hanya itu ia juga menerima segelas lagi milik Dimas.
Selesai makan keduanya beralih pada tumpukkan komik. Kencan hari ini memang telah direncanakan oleh Anna, semua dalam daftar adalah hal yang ingin dilakukannya bersama pasangan. Saling bersandar di hari cerah dalam naungan pohon sambil membaca.
Dimas membuka lembar berikutnya dan berikutnya lagi. Ia terlihat tidak suka dengan bacaannya, terlalu serius dan penuh teka-teki, bukan tipenya membaca macam kisah detektif yang menurutnya memusingkan. Sebaliknya Anna begitu menikmati kegiatannya, ia tertawa sehingga bahunya berguncang. Tentu saja Dimas dapat merasakannya.
“Sepertinya punyamu seru sekali.” Dimas menoleh ke belakang melewati bahu. “Ayo kita baca bersama saja,” ajaknya tak digubris saking asyiknya Anna membaca.
Tanpa aba-aba, Dimas bergerak ke samping. Jelas Anna yang tengah sepenuhnya bersandar pada punggungnya terjengkang, dengan tanggap Dimas menarik kaki bersilanya agar dapat menahan kepala Anna dari hantaman kerasnya tanah sehingga tepat terjatuh pada paha atasnya. Seketika itu mata mereka bersitatap disusul suara cegukan Anna.
“Kau bisa melanjutkannya, aku akan baca yang ini saja.” Gugup Dimas memberikan komik yang sempat terlepas dari tangan Anna.
Baru saja Anna menselonjorkan kaki, mencari posisi nyaman. Suara dering ponselnya menyahut meminta diangkat.
“Kau bisa menjawabnya sambil tiduran.” Dimas memberi usul tanpa diminta, mengurungkan niat Anna yang sudah mengangkat bagian atas tubuhnya. “Dari siapa?”
“Sindy,” jawab Anna singkat sebelum menyapa si penelepon.
__ADS_1
***
Semua barang dalam kardus telah dikeluarkan, berserakkan di lantai dan itu membuat Sindy mengerutkan dahi. “Maksudmu apa mengirimkan begitu banyak produk kecantikkan?”
“Kau harus menjaga penampilanmu, terlebih ada seseorang yang kamu sukai sekarang,” sahut Anna mulai merasa nyaman berbaring dengan menjadikan kaki Dimas sebagai bantal. “… kau tak pernah ke salon dan pipimu terlihat tembem, jadi aku belikan kau rol untuk merampingkan pipi.”
Pandangan Sindy tertuju pada timbangan persegi. “Bahkan menurutmu, aku harus menurunkan berat badan,” kata Sindy dengan nada tersinggung.
Anna nyengir selagi telapak tangan Dimas terbuka lebar untuk melindunginya dari sinar matahari yang menyerobot masuk melalui celah dedaunan. “Jangan berpikir negatif karena maksudku baik, sudah dulu ya,” ujar Anna mengecilkan suara. “Sekarang aku sedang kencan bersama Dimas.” Tanpa menunggu jawaban Anna sudah memutus sambungan telepon.
“ANNA!” panggil Sindy setengah berteriak. “Seenaknya saja mematikan sambungan, dia pasti senang sekali bisa pergi berkencan.”
Hingga hari berganti malam, Sindy tetap merasa terusik dan tidak bisa fokus pada apa pun yang dilakukannya.
Berpacaranlah denganku … Berpacaranlah denganku ….
Pakaian yang telah terlipat rapih, ia lemparkan dengan frustrasi.
“Lebih baik aku pergi ke supermarket, belanja kebutuhan bulanan! Iya, mari kita berjalan-jalan.”
***
Tanpa disangka seseorang yang sedang mengusik pikirannya walau telah menyibukkan diri, tiba-tiba datang menyapa dengan senyum manis yang jarang sekali Sindy lihat. Iya … laki-laki tinggi itu juga tengah mendorong troli berisi barang-barang kebutuhan, berjalan beriringan dengannya yang sedang memilih sebungkus tomat segar.
“Bukankah ini kebetulan yang menandakan bahwa kita ditakdirkan bertemu.” Detik berikutnya Rian menyesali ucapannya, menyalahkan Rangga dan Yuri yang sering sekali mengatakannya.
Sindy menanggapi dengan kikuk. “Hmm … aku butuh membeli pengharum ruangan.” Ia bergegas menggeret troli.
“Kebetulan, aku juga akan membelinya!”
Pada akhirnya Rian terus mengikuti Sindy, belanja barang yang bahkan tak dibutuhkannya. Sampai gadis itu menyambar sebungkus pembalut dan tangan Rian bergerak otomatis meraihnya. Tanpa tahu apa yang diambilnya Rian mendapat pandangan tajam dari Sindy.
“Dasar mesum!” kata Sindy berlalu lebih dulu.
__ADS_1
“OUH!” kaget Rian melihat apa yang dipegangnya, ia segera menyimpannya kembali.
Tentu saja hal itu mampu mengundang kekehan Sindy. “Aku sudah selesai belanja, bagaimana denganmu?”
“Kalau begitu ayo kita ke kasir.” Rian berjalan mendahului, tampak salah tingkah.
Mereka keluar dengan membawa dua kantung plastik. Pertama kali berbelanja di supermarket ditemani seseorang. Sindy sedikitnya bersyukur bahwa orang itu adalah Rian, ia semakin yakin akan keputusannya. Bertekad untuk menjawab ajakkan berpacaran malam ini juga.
“Biar aku bawakan,” kata Rian mengambil alih satu plastik di tangan Sindy. “Kenapa belanjaanmu banyak sekali dan … kenapa kau menghindariku beberapa hari ini?”
“Benar kau tidak tahu kenapa?” tanya balik Sindy menghentikan langkah tepat di depan penyeberangan jalan.
Traffic light berubah warna menjadi hijau untuk para pejalan kaki saat Rian berujar dengan santainya berjalan bersama penyeberang yang lain. “Berpacaranlah denganku… aku bersungguh-sungguh dengan ucapanku sekarang maupun sebelumnya. Aku memintamu untuk menjadi kekasihku.”
“Kau tahu ehmm, sebenarnya ciuman waktu itu .…” Rian menjeda selagi langkah kaki lebarnya semakin dekat dengan trotoar di seberang sana. “Bukan kesalahan! Aku melakukannya karena ingin, mungkin saja aku sudah tertarik padamu. Namun tak tahu jelasnya kapan perasaan itu muncul, yang aku tahu sekarang ini kau terus berada di pikiranku.”
Seakan merasa lega akan pengakuan yang telah terlontar, Rian mengembuskan napas memberanikan diri untuk berbalik demi melihat Sindy. Entah reaksi macam apa yang nanti didapatnya, tapi lagi-lagi kenyataan tak sama seperti dalam bayangannya.
“APA YANG KAU LAKUKAN DI SANA!” seru Rian malah dibuat kesal, padahal ia sudah susah payah menahan rasa gugup dan yang ia dapat hanya pandangan jauh di seberang jalan dari Sindy yang mematung. “Yang benar saja, dia itu kenapa sih.”
Beberapa kendaraan beroda empat mulai melaju, Rian benar-benar dibuat tak mengerti. Ia juga tidak berpikir akan mengungkapkan perasaan untuk ketiga kalinya. Sekarang ini ia sudah cukup malu, menunduk dan memalingkan wajah dari pandangan beberapa pejalan kaki di sekitarnya.
Sementara Sindy tersenyum simpul, kini ia yakin akan jawabannya. Tentang mengapa lelaki yang selalu bersikap abai itu memintanya agar menjalin hubungan lebih dari sekedar tetangga.
“Mulai hari ini kita berpacaran!” kata Sindy sungguh tak bisa menahan debaran di hatinya.
“APA?! Aku tidak dengar!”
Siapa pun tolong jelaskan perasaan apa ini, mengapa Sindy ingin sekali berlari dan menghampiri Rian. “AKU MAU JADI KEKASIHMU!” ia berteriak sehingga dapat merubah raut wajah dan gesture tubuh lelaki di seberang sana.
“YES!” Satu kata kesenangan terucap. “Kenapa aku merasa senang begini.” Rian tak lagi memperdulikan pandangan orang lain.
***
__ADS_1