Suddenly A Couple

Suddenly A Couple
Episode 28 : Begitu Dekat


__ADS_3

Punggung Rian membungkuk. Tak lama Sindy merasakan angin menerpa pahanya. Ternyata Rian sedang meniupi lukanya akibat terkena coklat panas. Sentuhan itu membuat hati Sindy berdesir hebat. Selama ini tidak ada seorang pun yang peduli pada rasa sakitnya, sempat berpikir apa gunanya memiliki keluarga, jika ia merasa sendiri. Namun sekarang terasa berbeda … Sindy beruntung memiliki seseorang yang disebutnya suami.


“Aku benar-benar minta maaf.” Penyesalan itu jelas kentara dari wajah Rian. “Aku janji akan lebih berhati-hati.” Mungkin menurut beberapa orang ini adalah hal sepele tapi tidak untuk Rian yang tahu bagaimana rasa menyakiti seseorang hingga merenggut nyawanya.


Ingatan akan kesakitan itu berkelebat dalam otaknya. Sungguh Rian tidak ingin melihat dirinya lagi yang sedang dalam titik terendah. Saat itu hujan juga turun menghantar kepergian orang tuanya sementara sang kakak terduduk lemah di atas kursi roda. Kakaknya baru saja menjalani operasi tiga hari lalu.


Kak, aku tidak bisa mengurusmu sendirian, gumam dalam hati Rian yang masih berusia enam belas tahun mendorong kursi roda dengan susah payah. Petir menggelegar bersamaan dengan pegangan tangan meragu, terlepas sudah … kursi roda meluncur bebas dan ….


“Rian, Rian!” seru Sindy menarik tubuh bungkuk itu agar kembali tegak setelah ia merasakan setetes air mata jatuh ke pahanya. “Sungguh aku baik-baik saja, jangan berlebihan seperti itu, hmm.”


Rian membawa Sindy ke dalam dekapannya. “Benar, kau harus baik-baik saja.” Tanpa mereka sadari rasa sayang itu semakin tumbuh dan mungkin akan ada ketergantungan hidup satu sama lain.


Bolehkan Sindy berharap kalau suaminya dapat menjadi satu-satunya keluarga yang bisa diandalkan. Sindy balas memeluk erat Rian sembari mengusap pelan punggung hangatnya.


♫♫♫


Rambut hitam panjang Sindy dibelai sayang oleh jari-jari Rian. Mereka sama-sama tersenyum tipis. Berbaring saling berhadapan dan menatap lekat. Rian mencium kening Sindy lalu berucap dalam hati,


Sekarang aku memiliki seseorang untuk dilindungi, jadi izinkan aku untuk melindunginya dan menjadikannya alasan untukku bertahan hidup. Rian melanjutkan kali ini bersuara tepat di telinga Sindy. “Sekarang kita keluarga, kan?”


“Tentu saja, aku istrimu dan kau suamiku. Kita saling memiliki satu sama lain.”


“Berarti kita juga harus berbagi rasa sakit, senang bahkan rahasia sekali pun,” kata Rian.


Masihkah kau bersamaku saat rahasia itu terungkap? Batin Sindy. Setidaknya nikmati saja kebersamaan hari ini dan rasakan debaran yang memaksa mereka melakukan sesuatu untuk meredamnya.


Aku sudah menyerahkan diriku seutuhnya pada seorang lelaki, meski tak begitu yakin akan keputusan ini. Aku tetap berharap kami bisa bahagia. Sindy berucap dalam hati bersamaan dengan Rian yang berbaring semakin dekat di sebelahnya.

__ADS_1


“Bisakah kita memiliki sepuluh anak?” tanya Rian dengan nada biasa selagi menjadikan lengannya sebagai bantal Sindy.


“Tidak, itu terlalu banyak!” geleng Sindy.


“Begitukah? Hmm, padahal aku ingin rumah kita nanti ramai oleh mereka.” Rian mengunci tubuh Sindy di antara kakinya.


“Rumahnya harus besar dulu, biar anak-anak bisa main.”


“Jadi kau mau?”


“Bisa kita usahakan,” balas Sindy segera mendapat ciuman dalam posisi saling hadap.


Suara decapan memenuhi ruangan, dan kekehan manis disertai guyonan tentang menjadikan anak-anak mereka anggota dari sebuah boy grup atau pun girl grup terlontar. Mereka berpelukan erat, merasakan kenyamanan di malam yang semakin dingin. Menikmati kedekatan dengan saling berbagi kehangatan.


♫♫♫


Setelah lama berkendara mengitari jalanan, mereka memutuskan untuk bersenang-senang. Anna–lah yang mengusulkan, ia bilang mulai sekarang akan hidup bebas meninggalkan sikap penurutnya dan perlahan mencari jati dirinya.


Berdansa di antara banyak orang, Anna bertekad akan menjadi pembangkang. Meliukkan tubuh dan meletakkan lengan di bahu Dimas, dengan berani mencium bibir lelaki yang tentu saja tidak akan menyia-nyiakan kesempatan. Dimas butuh waktu sekitar dua minggu untuk dapat menjamah bibir mungil Anna, tidak seperti wanita lainnya yang dengan mudah menyentuh bibirnya. Belum pernah Dimas merasakan debaran semenarik ini.


“Ada apa dengan Anna!” bentak Agung melempar lembaran foto dengan marah. “Siapkan mobil sekarang juga!” Entah perasaan seperti apa yang dirasakan Agung, yang jelas ia tak menyukainya.


“Baik Pak,” ujar Zumi.


Hanya dalam dua puluh menit Agung sudah menerobos masuk ke lantai dansa, menyingkirkan beberapa orang yang sedang asyik bergoyang. Merasa terganggu dengan perbuatan Agung namun tak bisa berbuat apa-apa karena ada empat pengawal bersamanya.


Tangan Anna ditarik paksa. “Ayo pulang!” titah Agung tak menerima penolakan.

__ADS_1


“Tidak mau, memangnya kau siapa!” jelas Anna memberontak.


“Sebenarnya kau ini kenapa?!” bentak Agung mengeratkan pegangannya di pergelangan tangan Anna.


Dimas melayangkan tinju pada wajah Agung. Pengawal berjas hitam langsung saja menyerangnya, namun satu di antara mereka nampak ragu memukuli Dimas.


“Aryo apa yang kau lakukan!” seru Hendri seraya menendang kaki Dimas.


Mata Aryo membulat. Benar, ia mengenal lelaki itu. Dimas merupakan teman yang sering diceritakan Eko, yang membuat rekan kerjanya itu merasa rendah diri. Sudah beberapa hari ini Eko tak masuk kerja dengan alasan tak enak badan dan Aryo meyakini bahwa itu karena Dimas.


Anna yang tak bisa mengalahkan kekuatan Agung diseret semakin jauh, keluar dari ruangan bising, meninggalkan sosok Dimas yang sudah babak belur.


♫♫♫


Lorong remang-remang sama sekali tidak memberitahukan keberadaan orang yang tinggal di balik pintu flat yang berjejer. Tujuan Eko adalah memastikan bahwa Sindy baik-baik saja, ia sudah mengintai gedung tersebut selama dua hari ini. Setelah berpisah dengan Sindy yang meloncat dari mobil, Eko tidak bisa berhenti mengkhawatirkan Sindy.


Aldi datang dengan membawa bingkisan. Ia baru kembali dari pulang kampungnya yang entah di mana. Seperti patut dicurigai oleh Eko yang tengah bersandar di dinding.


“Bukankah dia rentenir itu.” Aldi memandang Eko risih, tentu ia mengenalinya. “Aku harus pura-pura tak melihat.” Ia bersiul sembari sibuk menekankan sandi dan pintu pun terbuka.


Dikiranya Eko mudah dikelabui, tapi ternyata tidak. Dia bergerak cepat menghalangi pintu agar tidak tertutup, selanjutnya masuk dengan mudah, mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan sampai terhenti pada lembaran foto tertempel dan saling terhubung oleh benang merah. Bola matanya bergulir secepat dugaan yang terlintas dalam benaknya.


“Siapa kau sebenarnya?” tanya Eko mendapati beberapa orang yang dikenalnya dalam foto. Selain ada foto atasannya, ada juga foto Sindy dan Rian.


Bingkisan di tangan Aldi terjatuh menyentuh lantai, pandangannya mendadak berubah menjadi penuh rasa dengki dan mengintimidasi. Eko menjadi goyah … Nona Sindy di mana kau? Ia membatin selagi Aldi mendekatinya.


♫♫♫

__ADS_1


__ADS_2