
Ruangan dengan beberapa rak penuh buku maupun berkas, terlihat begitu mewah dengan lampu hias menggantung. Satu set meja kerja dilengkapi sebuah komputer dan terdapat pula printer yang tengah memproses keluarnya kertas putih bersih tertoreh tinta hitam. Agung segera mengambil kertas tersebut, diliriknya Eko selintas sebelum membaca apa yang tertulis dari sebuah data mahasiswa.
“Jadi selama ini Sindy kuliah di Lya Cyber University dan dia mengambil jurusan Tourism Management. Dia benar-benar tidak ingin terlibat dalam perusahaan,” kata Agung mengerutkan dahi, ia pun meneruskan, “Bukankah Anna juga berkuliah di sana?”
“Lya Cyber bersifat virtual jadi tidak perlu tatap muka secara langsung untuk menghadiri kelas. Karena itulah kami tidak bisa menemukan Sindy di kampus dan alamat yang tertulis juga palsu.” Eko menerangkan dengan fasih.
“Tanyakan pada pemilik gedung, siapa yang tinggal di flat kecil ini jika bukan Sindy! Memangnya dari mana dia bisa belajar menutupi identitas, kau pikir dia bisa melakukannya sendiri!” kata Agung menaikkan suaranya sembari melempar kertas ke atas meja. “Kalau perlu coba masuk ke dalam dan pastikan apa benar Sindy tidak tinggal di sana,” lanjutnya lebih tenang.
“Baik direktur,” kata Eko sedikit membungkuk.
Agung memberi isyarat gerakan tangan menyuruh Eko keluar. Ia terlalu malas hanya untuk melihat pegawainya itu. Ia pasti akan membawa Sindy kembali ke rumah sebelum acara pernikahannya dilaksanakan. Mengapa, karena ia membutuhkan setidaknya satu orang yang dapat dipercaya untuk membantu menjalankan perusahaan.
Setelah sang ayah pensiun atau tepatnya dilengserkan dari jabatan CEO (Chief Executive Officer), ia bekerja keras mengambil alih saat para petinggi perusahaan memandang lemah lelaki muda sepertinya. Bertunangan bahkan menikah dengan wanita yang sama sekali tidak dicintainya demi mengamankan posisinya sekarang, tidaklah sulit bagi Agung yang sudah mendedikasikan sebagian hidupnya untuk perusahaan.
“Haruskah aku menelepon Anna?” Perhatian Agung tertuju pada ponsel, ia meraih benda persegi lalu melakukan sebuah panggilan.
♫♫♫
“Kencan ganda?” Dimas menanggapi usulan Yuri sembari mata tertuju pada Anna yang baru saja mengakhiri panggilan teleponnya.
“Ide bagus! Toh mereka sudah saling kenal!” ujar Rangga disambut anggukan cerah dari Yuri yang lalu keduanya sepakat untuk membuat rencana.
“APA! GAWAT! GAWAT!”
Suara memekik dari Sindy mengalihkan banyak pasang mata ke arahnya. Yuri dan Rangga mencoret tulisan rencana yang baru satu kata dengan garis panjang. Sementara Dimas baru menyelamatkan dagu dari benturan setelah topangan tangan pada kepalanya goyah karena tersentak.
“Dia bilang akan kemari, aduh bagaimana ini! Aku harus sembunyi.” Sindy meneruskan sambil mondar-mandir tak jelas.
“Tumben sekali Mas Agung kemari, untuk apa pula dia datang,” kata Anna rasa paniknya mulai memuncak.
__ADS_1
♫♫♫
Hanya untuk malam ini saja. Pikir Agung menatap keluar kaca mobil, memperhatikan kafé yang baru pertama kali dikunjunginya. Ia rela meninggalkan pekerjaan lebih awal dan pergi mengunjungi wanita yang sebentar lagi menyandang status sebagai istrinya. Eko bergegas turun dari kursi kemudi, membukakan pintu untuk atasannya.
“Silahkan direktur,” ucap Eko dengan gesture meyakinkan. “Mungkin Nona Anna akan sangat senang kau datang,” tambahnya tersenyum lebar sembari mengekor di belakang Agung.
“Karena ada rapat waktu itu, aku tidak dapat menghadari acara pembukaan kafé,” kata Agung.
Tiba-tiba langkah kaki Eko terhenti, matanya membulat ketika mendapati salah satu pengunjung di dalam sana. “Dimas?” gumamnya sontak menundukkan kepala, bahkan menutupi sebagian wajah menggunakan tangannya. “Direktur, aku akan menunggumu di mobil.” Ia bergegas kembali berbalik arah.
Sementara bosnya itu terus berjalan memasuki ruangan bernuansa cantik, karena dipenuhi dengan tanaman hias yang indah. Dari balik konter kasir Anna mengembuskan napas dan segera menyambut kedatangan Agung. Menyiapkan senyum termanisnya … namun tanpa disangka ia mendapatkan pelukan.
“Maaf, aku selalu membatalkan janji bertemu denganmu.” Ini pertama kalinya Agung bersikap lembut.
Dari tempat duduknya, Dimas menegakkan tubuh tatkala melihat wanita yang sedang diperhatikannya tengah dipeluk seseorang. Ingin rasanya ia memisahkan mereka lalu menyeret Anna pergi. Tapi tentu saja, itu tidak bisa dilakukannya.
Rangga menyuruh Dimas agar mendekat, ia berbicara pelan, “Pria itu tunangannya.”
Sejauh ini ekspresi Dimas masih bisa diterima. Baru tunangan, belum menikah … mungkin seperti itulah yang di pikirkan Dimas.
“Satu bulan lagi mereka akan menikah,” imbuh Yuri.
Seketika senyum licik Dimas menghilang, semakin tak terlihat kemudian wajahnya berubah murung. Ia bangkit dari duduknya, melangkah menuju pintu dengan gontai.
“Dimas, kau mau pergi sekarang?”
“Dimas tunggu kami!”
Perkataan Rangga dan Yuri, diabaikan. Buru-buru Yuri meraih tas tangannya, sedang Rangga menyeruput minuman yang masih tersisa sebelum pergi menyusul Dimas. “Tadi dia sangat bersemangat … tapi sekarang dia terlihat hampir menangis,” komentar Rangga sebelum benar-benar keluar dari kafe.
__ADS_1
♫♫♫
Merasa butuh peregangan Eko memutuskan keluar dari mobil. Ia panik sendiri melihat siapa yang baru saja keluar dari kafé. Berjalan cepat menjauhi mobil menuju jalanan sepi, sebisa mungkin menghindari teman satu SMA–nya.
“Kenapa Dimas ada di sini sih, bisa gawat kalau dia tahu aku bekerja sebagai pengawal apalagi supir,” ujar Eko panik sendiri.
Padahal orang yang diwaspadainya itu sama sekali tidak tertarik pada sekelilingnya. Dimas terus berjalan menunduk dengan diikuti Yuri dan Rangga. Sesaat Eko merasa lega, menghela napas sampai matanya menangkap sosok wanita yang tengah dicarinya berjalan berbelok di persimpangan jalan.
“Nona Sindy.” Eko menajamkan penglihatan. “Benar itu dia!” ia menambahkan sembari berjalan lebih cepat.
Seakan peka terhadap suara kecil sekali pun, Sindy menjadi waspada. Tempatnya berjalan sekarang cukup gelap dan sepi. Bisa dibilang pas untuk melakukan kejahatan. Suara langkah terdengar cepat, lama-lama bergema membuatnya takut bahkan untuk menoleh ke belakang pun tidak berani.
Pantulan dari sebuah cermin cembung di jalan memperlihatkan siapa orang yang tengah mengikuti di belakangnya. “Kak Eko!” kaget Sindy tentu mengenali laki-laki bertubuh kurus itu.
Setelah menghindari Agung, Sindy kembali harus menjauh dari Eko yang akhir-akhir ini gencar mencarinya. Jika saja jumlah orang yang mengejarnya banyak seperti waktu itu, Sindy akan kewalahan karena trauma yang dimilikinya, berbeda dengan sekarang hanya ada satu orang untuk dihadapi.
“Aku harus lari.” Sindy memicu langkahnya semakin cepat.
“Larinya cepat sekali!” keluh Eko hampir kehabisan napas. “Kali ini aku tidak akan kehilangannya lagi!” ia bertekad sembari menambah kecepatan, berlari bak atlet nasional.
Sindy sudah sangat lelah, baginya sangat tidak mungkin mengalahkan Eko yang pernah memenangkan medali sebagai pemenang pertama lomba lari jarak jauh. Ia berpikir akan menyerah saja, sebelum sebuah tangan menariknya untuk bersembunyi. Sontak Sindy memberontak lalu segera terdiam ketika mengenali siapa yang baru saja menyuruhnya diam.
“Rian?” kaget Sindy, kenapa bisa tetangganya itu selalu muncul di saat ia butuh bantuan.
“Diamlah,” kata Rian.
Langsung saja Sindy menutup rapat mulutnya membiarkan tangannya digenggam erat oleh Rian. Laki-laki di hadapannya ini tampak dapat diandalkan.
♫♫♫
__ADS_1