Suddenly A Couple

Suddenly A Couple
Episode 15 : Dia Bisa Gugup


__ADS_3

Beberapa detik hening. Anna tersenyum samar, begitu juga dengan Dimas. Sampai senyuman itu berubah menjadi tawa. Sindy menautkan alis sudah jarang sekali ia melihat Anna tertawa lepas begitu. Perjodohan Anna dengan Agung bisa dibilang telah merenggut kebahagiaan Anna yang terpaksa putus dari pacarnya dan menerima keinginan sang ayah.


“Kau benar-benar seorang playboy! Aku hampir tertipu!” kata Anna disela-sela tawanya.


Sindy mendekati mereka, ingin tahu sebenarnya apa yang membuat Anna tertawa. “Memangnya apa yang dia katakan?”


“Paling juga Dimas bilang menyukainya,” sahut Rian sudah berada di antara ketiganya. “Anna kau harus hati-hati.” Ia duduk di sebelah Dimas dan langsung mendapat tatapan terkhianati.


“Kau ini,” geram Dimas.


“Aku wanita yang sudah bertunangan, apa tidak masalah bagimu?” Lagi-lagi timbul perasaan bersalah dalam diri Sindy. Sedang Dimas dan Rian saling tatap menelisik arah pembicaraan.


Dimas terpikir sesuatu lalu segera mengutarakannya. “Tentu saja tidak masalah, aku tidak keberatan selama kau menginginkannya!” ia menambahkan dengan semangat, “Kapan kita mulai berkencan?”


“Besok!” jawab Anna cepat.


“Kalian gila, mana bisa seperti itu,” tukas Rian tak bisa langsung mempercayai apa yang didengarnya.


“Kau yakin?” imbuh Sindy tak menyangka sarannya yang ditujukan sebagai candaan malah dianggap serius. “Anna, ikut denganku!” ajaknya menarik Anna.


♫♫♫


Seturunnya dari bus Sindy berlari kecil menuju halte, bermaksud menghindari hujan gerimis yang lambat laun menjadi deras. Ia terlalu lelah untuk menerobos hujan, terlebih hari sudah malam, benar-benar dingin bahkan hanya untuk berdiri menunggu hujan reda pun membuatnya menggigil.


Sepuluh menit berlalu. Sindy merengkuh tubuhnya sendiri demi mendapat kehangatan, mengusap kedua lengan atas secara silang sambil memikirkan perkataan Anna yang mengaku ingin merasakan kasih sayang yang mungkin tidak akan didapatnya setelah menikah nanti. Ia akan bersenang-senang sebelum melepas masa lajang dan hidup bebas. Sindy menghela dan kembali menyalahkan dirinya.


Sebuah Bus kembali berhenti di halte. Beberapa orang ada yang ikut berteduh seperti Sindy, dan ada pula yang membuka payung mereka.


“Rian!”


Sindy baru saja memanggil salah satu dari mereka. Pertemuannya dengan Rian siang tadi sudah tak dipedulikan lagi, malu? Sekali ini saja ia akan menelan rasa malu tersebut demi mendapat tumpangan dalam naungan payung dan segera pulang untuk meminum coklat panas.

__ADS_1


“Kau ingin pulang bersama?” tawar Rian mengetahui gadis di depannya itu tidak membawa payung. “Kalau tidak mau, ya sudah,” tambahnya melengos cepat tanpa memberi kesempatan Sindy untuk menjawab.


“Apa-apaan, itu tadi.” Sindy mendengkus bergegas mengejar Rian yang belum jauh. Masuk begitu saja di bawah payungnya dan menambahkan, “Aku tidak bilang, tidak mau.”


Seketika suasana canggung tercipta. Berjalan beriringan dengan jarak dekat, memandang lurus ke depan. Sungguh Sindy ingin segera pergi, jika saja hujan sudah berhenti. Sementara Rian melirik bahunya yang kebasahan ….


“Mendekatlah,” titahnya ditanggapi cengo oleh Sindy yang tak mengerti. “Ini payungku, kenapa juga harus aku yang terkena air hujan,” lanjut Rian yang memang lebih mencondongkan payung ke arah Sindy.


Tak juga mengerti Rian merengkuh bahu gadis itu untuk mendekat. Betapa malunya Sindy saat menyadari si pemilik payung kebasahan, lagi-lagi ia selalu membuat dirinya terlihat memalukan. Sekarang ini otaknya terasa membeku, merasa bodoh karena gugup ditambah sebuah tangan tengah menyentuh bahunya.


♫♫♫


“Terima kasih,” kata Sindy sesampainya di depan flat.


“Masuklah dan segera ganti pakaianmu,” balas Rian melihat baju Sindy yang memang sedikit basah akibat berlari menyusulnya tadi.


Jarang sekali lelaki itu memperhatikan sekitarnya, apalagi berkata dengan nada peduli atau mungkin sok peduli. Sindy pikir ada yang aneh dengan Rian … meski begitu ia tetap senang.


Tak berapa lama setelah pintu dua flat yang berseberangan itu terbuka, Sindy memekik, “Apa yang terjadi dengan rumahku!” Rian urung masuk dan lebih memilih menghampiri tetangganya.


“Ini pasti perampokkan,” kata Sindy menoleh pada Rian yang baru saja berdiri di sebelahnya.


“Kau bahkan tidak memiliki uang maupun benda berharga,” kata Rian dengan heran.


Saat itu juga Sindy berdesis, mengangkat tinjunya selagi Rian berjalan memeriksa keadaan rumah yang sangat berantakan. Rian menebak seorang stalker (penguntit) yang telah melakukannya dan selama penyelidikan dadakan itu, Sindy terus saja mengekori Rian. Hampir semua ruangan diobrak-abrik, yang paling parah adalah kamar dengan bantal berserakkan di lantai memperlihatkan kapas di dalamnya.


Sindy memandang takut-takut. Tersentak melihat tulisan ‘kembali’ di cermin menggunakan lipstick merahnya. Singkat namun terasa menyeramkan … sampai ia tak sengaja menubruk Rian.


Baru saja Sindy mengumpulkan keberanian untuk membuka suara ketika di waktu hampir bersamaan Rian berbicara, “Kau tidak bisa tidur di sini, jadi aku tidak keberatan kalau memang kau mau menginap di rumahku.” Setelah mengatakannya Rian berlalu tanpa menunggu jawaban.


Lagi-lagi perasaan lega itu muncul, sama seperti saat melihat Rian turun dari bus seraya membuka payung. Sindy mengulum senyum sembari memandangi punggung Rian. Tak menunggu lama ia pun segera keluar lalu memasuki pintu lain yang sejajar dengan pintu rumahnya.

__ADS_1


♫♫♫


“Pakai ini!” suruh Rian melempar kaos lengan pendek berwarna putih.


Dengan cepat Sindy menangkapnya. “Ah iya.” Sindy butuh pakaian untuk berganti, tapi seseorang yang entah siapa, telah mengacak-acak isi lemarinya. “Aku ke toilet dulu,” kata Sindy bangkit dari sofa, Rian mengangguk asal kemudian duduk di sisi lain sofa.


Setelah menimbang-nimbang harus keluar apa tidak dengan menggunakan pakaian kebesaran milik seorang pria. Sindy akhirnya membuka pintu, mengalihkan penglihatan Rian yang sedang menonton acara reality show.


Sambil terkekeh pelan Rian mengomentari, “Kau cocok sekali mengenakannya.” Rian buru-buru melihat layar televisi saat pandangannya mendapati paha Sindy. Kaosnya yang hanya sebatas paha itu memberi kesan seksi, sementara bagian lengan menutupi sampai siku.


“Kau bisa tidur di sofa!” ucap Rian agak gugup, tergesa berdiri dari duduknya selagi Sindy berjalan mendekat. “Jangan lupa matikan televisinya.” Rian berjalan dengan menundukkan kepala menuju kamarnya.


“Baiklah,” tukas Sindy yang mungkin tak didengar. “Issh, aku kira dia akan membiarkanku tidur di kamarnya,” gumamnya tatkala pintu kamar ditutup oleh yang empunya.


Tengah malam sekitar pukul satu pagi, pintu kamar kembali dibuka. Rian keluar dengan selimut di tangannya. Jalan berjinjit dan begitu pelan, takut membangunkan Sindy yang tidur pulas di atas sofa sembari meringkuk nampak kedinginan dengan hanya menggunakan kaos tipis darinya.


Rian membungkukkan tubuhnya membentangkan selimut sebelum pergerakkan dari Sindy mengagetkannya, sontak ia berjongkok. Gadis itu merubah posisi tidur dari telentang menjadi miring ke tepian sofa yang berarti berhadapan muka langsung dengan Rian yang segera menahan napas. Tak lama ia mulai memandangi wajah polos Sindy, meraih anak rambut yang menghalangi mata terpejam gadis itu.


“Cantik,” ucap Rian sangat pelan. Ia lalu menyentuh alis mata hitam Sindy mengikuti satu garis seraya tersenyum tipis, jari telunjuknya turun ke hidung dan berhenti pada bibir merah yang mengingatkannya akan ciuman pertama mereka.


Apa yang sedang kau pikirkan. Rian menggeleng menarik jauh tangannya, kembali ingat pada tujuan ia keluar dari kamarn. Bola matanya bergulir ke bagian bawah tubuh Sindy, sial sekali kenapa ia malah tertarik pada paha putih nan mulus itu. Secara naluriah ia bergerak maju dengan satu tangan hendak meraihnya ….


“Apa yang sedang kau lakukan?” tanya suara sengau otomatis menggerakkan tubuh Rian untuk setengah membungkuk, memegang kedua sisi selimut dan terburu meletakkannya pada kaki jenjang Sindy.


Secepat mungkin Rian menjawab, “Menyelimutimu.” Jantungnya hampir copot saking terkejutnya, ia pun bergegas kembali ke kamarnya tanpa menoleh.


Tak tahu menahu akan apa yang tengah dirasakan laki-laki itu, Sindy hanya tersipu, menarik selimut hingga dagunya lalu tertawa pelan. Sindy baru saja menangkap ekspresi gugup dalam diri Rian yang tak pernah dilihatnya.


“Ternyata dia bisa gugup juga.”


♫♫♫

__ADS_1


__ADS_2