Suddenly A Couple

Suddenly A Couple
Episode 33 : Hasrat


__ADS_3

Sebelas bulan lalu,


Rian baru keluar dari flatnya, ia berjalan menuruni tangga. Sementara di depannya ada Sindy yang sedang menaiki tangga dengan susah payah, karena barang yang dibawanya hampir menutupi pandangan. Menyadari kehadiran orang lain, Sindy berhenti, ia mengatur napas dan mencoba berbicara.


“Bisakah kau membantuku? Mengambil beberapa atau satu dari box-box yang aku bawa, ini benar-benar berat.” Meski sebelumnya pernah mendapat penolakan Sindy tetap meminta bantuan.


Rian diam memperhatikan wanita di hadapannya tanpa bisa ia lihat wajahnya yang terhalang box. Pandangannya begitu datar dan terkesan tak mau peduli dengan masalah orang lain. Ia melanjutkan langkahnya, menyingkir dari jalan Sindy.


Tanpa tahu akan menyenggol sedikit pundak Sindy, Rian lewat begitu saja. Membuat pertahanan keseimbangan Sindy goyah. Sehingga box-box yang Sindy bawa terjatuh, barang-barang di dalamnya pun berhamburan, menggelinding ke lantai bawah.


“Tidak!” teriak Sindy melihat barang-barangnya berantakkan, seketika ia berbalik, ia menginjak jam waker yang terjatuh dari salah satu box. Alhasil, Sindy kehilangan keseimbangan lagi.


Sindy berpikir tubuhnya akan berguling-guling di sepanjang tangga dan jatuh membentur lantai dengan keras. Itu pasti sangat menyakitkan dan bisa saja darah keluar akibat benturan. Tapi ia merasakan ada seseorang yang menopang tubuhnya, ia mulai membuka kelopak mata dan mendapati seorang laki-laki di hadapannya tengah memeluk agar dirinya tidak terjatuh. Segera senyum bersyukur Sindy mengembang, ia merasa lega karena pemikiran buruknya tidak terjadi.


Kini Rian dapat melihat dengan jelas wajah wanita yang tadi meminta bantuannya. Menyadari posisi yang begitu dekat, Rian segera mendorong Sindy agar menjauh.


Masih dengan senyumannya, Sindy berterima kasih. “Terima kasih banyak, kau telah menyelamatkan nyawaku,” ujar Sindy sambil membungkukkan setengah badan berulang kali.


Tak mendengar ada respon dari lawan bicaranya, Sindy meluruskan badan dan dilihatnya punggung Rian menjauh. Sindy merasa senang karena Rian telah menolongnya agar tidak terjatuh, tapi di sisi lain ia kesal karena Rian pula yang membuat barang-barang dari box berantakan.


Sindy mengambil boneka keroro berukuran sedang yang ada di dekatnya, lalu ia lemparkan ke arah Rian tepat mengenai punggungnya. Rian berbalik tak lepas dari ekspresi datarnya.


“HEI Tuan! Kau harus bertanggung jawab, kumpulkan semua barang-barangku lagi!” seru Sindy dibalas diamnya Rian. Dan laki-laki itu malah kembali berbalik hendak melangkah. “Ya! Ya! Dasar kau menyebalkan! Hiks, kenapa hidupku sangat menyedihkan!” Suara Sindy yang tadi terdengar biasa saja kini mulai bergetar karena ia menangis.


Ketika Rian menoleh ke belakang, ia lihat Sindy sedang memunguti barang-barangnya sambil terisak sebal. Rian tetap melanjutkan niatnya untuk turun, tapi kini tujuannya berbeda. Sepanjang menuruni tangga Rian memunguti barang-barang Sindy dan memasukkannya ke dalam box, sampai lantai dasar Rian masih melakukan hal tersebut.


Rian terus mengambil barang-barang Sindy, hingga ia menemukan figura yang di dalamnya terdapat potret Sindy, seorang lelaki mengenakan seragam sekolah dan orang tuanya. Kaca figura itu pecah, melihatnya Rian merasa bersalah. Setelah selesai Rian kembali menghampiri Sindy yang masih duduk di tangga sambil membereskan barang-barangnya.

__ADS_1


Ketika Sindy akan mengambil boneka kesayangannya yang berbentuk keroro, Rian pun berniat mengambilnya. Kini mata mereka bertemu, mata sendu Sindy terlihat masih menyimpan kekesalan pada Rian.


“Berikan!” kata Sindy mengambil bonekanya, lalu ia masukan ke dalam box. Sindy berdiri dan mengambil satu dari dua box. “Ini, kau yang bawa!” perintah Sindy sambil menaruh box di atas box yang Rian bawa.


Tanpa aba-aba Rian mengikuti Sindy. Suasana sangat canggung, benar-benar membuat Sindy jengah. Gadis itu berhenti di hadapan Rian, membuat langkah Rian terhenti juga.


Rian maju selangkah lebih dekat. “Ya! Di mana rumahmu?” tanya Rian.


Sindy mendesah bahkan ini sudah hampir satu bulan ia tinggal di seberang flat lelaki yang ia ketahui namanya dari penjaga gedung.


“Di seberang rumah mu.” Rian sedikit terkejut karena flatnya dan flat Sindy berseberangan.


Dengan cepat Rian menyimpan boxnya di hadapan pintu flat Sindy. Setelah itu ia meninggalkan Sindy yang tertohok oleh sikap Rian, helaan napas tak percayanya terdengar ringan. Tidak apalah, sekali ini saja Sindy sudah memaafkan Rian karena telah membantunya.


“Namaku Sindy Karlita, panggil aku Sindy, oke!” teriak Sindy yang pasti dapat didengar oleh laki-laki yang berada sepuluh langkah di depannya. “Menarik sekali,” gumam Sindy.


♫♫♫


“Tentu, malah kau sangat-sangat menyebalkan! Karena itu aku berniat untuk mengganggumu terus!” ujar Sindy yang selalu merecoki tetangganya dalam segala hal.


Mulai dari meminta makanan, menyuruh membenarkan keran bocor, mengganti lampu bohlam, menangkap serangga dan masih banyak lagi.


“Kau berhasil menggangguku,” kata Rian semakin mendekatkan tubuh miringnya pada Sindy. “Sekarang kau harus menerima akibatnya.” Ia melanjutkan seraya menggelitiki pinggang Sindy.


Mereka tertawa saling merasa geli, karena Sindy balas menggelitiki Rian. Selimut bergerak-gerak kemudian tersibak ketika tubuh Rian berpindah cepat ke atas tubuh Sindy, sambil menahan kedua tangan gadisnya, ia tersenyum tipis.


“Kau mencintaiku?” kata Rian.

__ADS_1


“Tentu saja, aku mencintaimu,” balas Sindy segera menambahkan, “Saaaangat.”


Rian yang mengaku lelah ternyata masih memiliki semangat, dengan agresifnya ia mencium bibir ranum Sindy, membuat istrinya itu menggeliat. Sindy mencoba melepaskan tangan dari cengkraman Rian, namun gagal. Apa suaminya ini ingin bermain kasar.


Rian tak membiarkan tubuh di bawahnya bergerak bebas, ia hanya ingin Sindy balas menciumnya, menyesap bibirnya, mengulumnya berulang kali dan membiarkannya menjelajahi sekitar leher dengan bibir tebalnya disertai desahan yang menggoda.


♫♫♫


Di tempat lain namun dengan suasana romansa yang berbeda. Anna melepas selt belt setelah bercerita panjang dan merasa lega, namun ia tak cukup yakin akan apa yang menimpanya di kemudian hari. Sejak tadi mobil sudah menepi tepat di depan rumah Anna, bukannya keluar lalu masuk ke rumah, ia malah mengajak Dimas mengobrol lagi.


“Aku harap Sindy tidak harus kehilangan suaminya.”


Mengapa gadis itu masih mengkhawatirkan kehidupan orang lain, pikir Dimas terburu-buru melepas selt belt, memposisikan tubuhnya pada Anna. Dalam hitungan detik bibir mereka bertemu.


Tidak ada perlawanan dari Anna yang masih mencerna perbuatan teman kencannya. Bukan hanya Agung, ia juga bisa melakukannya jika ingin. Jangan menahan diri lagi Anna … batin Anna hendak membalas ciuman tersebut.


“Ah maaf!” spontan Dimas yang menyadari ciuman sepihaknya.


Rintik hujan mulai terdengar deras bersamaan dengan tangan Anna yang menarik leher Dimas sehingga dapat menautkan bibir mereka kembali. Lelaki macam Dimas tidak akan menyia-nyiakan kesempatan keduanya, untuk dapat melakukan kontak fisik bersama wanita yang kini berstatus sebagai kekasih satu bulannya. Terlebih hanya tinggal menghitung hari di mana mereka harus mengakhiri hubungan singkatnya.


Jok yang diduduki Anna telah dibuat semakin rendah, posisinya sekarang menjadi setengah berbaring dengan Dimas yang berada di atasnya.


“Sudah lama aku tidak merasakan debaran seperti ini,” kata Anna ringan lalu memulai ciuman yang menuntut.


Begitulah akhirnya Dimas tersenyum manis mengetahui tingkah Anna.


Aku tidak ingin putus dengan gadis ini. Dimas membatin selagi Anna menuntunnya untuk menuju bibir mungilnya dan mulai saling mengulum lembut.

__ADS_1


♫♫♫


__ADS_2