Suddenly A Couple

Suddenly A Couple
Episode 22 : Mengecup Manis


__ADS_3

“Masuklah dulu, kau harus segera mengganti pakaianmu. Kalau kau sakit, nanti aku yang repot.” Tanpa berkata apa-apa lagi Rian memasuki rumahnya diikuti Sindy yang terus menyesali perkataannya.


“Memalukan, kenapa aku malah melamarnya duluan,” rutuk Sindy pelan.


Jam dinding menunjukkan bahwa sekarang sudah tengah malam, jarum panjang baru saja melewati angka dua belas. Ruang tamu yang merangkap sebagai ruang bersantai masih dihuni oleh dua orang dalam diam, hanya suara televisi yang memenuhi ruangan. Rian dan Sindy sibuk dengan pikirannya masing-masing.


Rambut Sindy sudah hampir kering. Ia juga telah mengenakan pakaian berupa kaos kebesaran milik Rian dengan lengan menutupi sampai siku. Sebelumnya Sindy juga sudah pernah memakai kaos tersebut, namun kali ini terasa berbeda. Tapi kenapa? Apa karena ajakan menikah yang tadi sempat dilontarkannya. Pokoknya malam ini terasa begitu panjang ….


“Benar kau ingin menikah denganku?”


Suara itu terdengar sehabis Sindy keluar dari kamar mandi yang lalu hanya mematung untuk beberapa saat, berjalan pelan menuju sofa yang tengah diduduki Rian.


“Iya,” jawab Sindy, dengan begitu ia bisa menggagalkan perjodohannya. “Kau bilang menyukaiku, jadi apa kau tidak ingin menikah denganku?”


Rian bangkit dari duduknya, berbalik menghampiri Sindy yang mendadak diam. Bukankah lebih baik jika menikah dengan seseorang yang kita sukai dan balik menyukai. Saling mencintai satu sama lain, namun Sindy melangkah mundur ketika Rian semakin dekat, hingga punggungnya membentur tembok, entah kenapa kelopak matanya mencoba memejam.


Detik berikutnya Sindy merasakan bibirnya dikecup lembut. Rian baru saja memperpendek jarak di antara mereka, meletakkan tangannya pada tengkuk Sindy dan mulai memperdalam ciuman dengan mengulum bibir bawah Sindy yang sontak membulatkan matanya. Merasa tak sanggup mengatur debaran dalam hatinya, gadis itu hanya membiarkan Rian menguasai bibirnya selagi tubuhnya terasa kaku.


Tahu tak ada gerakan balik dari lawannya, Rian melepaskan tautan. “Aku tak yakin kita bisa menikah.”


“A, apa?” Sindy benar-benar dibuat gugup.


“Kau tidak balas menciumku,” kata Rian menurunkan tangan beralih ke pundak Sindy, gadis itu mendadak berdiri lebih tegak. “Pikirkan lagi saja, apa benar kau ingin menikah denganku. Kau tahu aku tidak memiliki cukup banyak uang untuk melunasi hutangmu, tapi … aku akan berusaha membantumu.”


Rian berbalik menuju sofa. “Kemarilah, tanganmu harus diobati.” Segera saja Sindy memeriksa kedua lengannya dan mendapati luka gores di siku tangan kanannya. Mungkin luka yang Sindy dapat sewaktu melompat dari mobil yang tengah berjalan.


Dengan telaten Rian mengoleskan salep, sesekali ia juga meniup luka tersebut dan terakhir menempelkan plester. “Kalau rentenir itu datang lagi kau harus berlari sekencang mungkin. Saat itu juga segeralah hubungi aku, mengerti,” ujar Rian seperti sebuah omelan.

__ADS_1


“Iya,” jawab Sindy menatap penuh haru.


“Aku izinkan kau tidur di kamarku. Cepat pergilah sebelum aku berubah pikiran,” lanjut Rian mengedikkan kepala ke arah pintu kamar.


“Kita tidur bersama,” kata Sindy.


Tiga kata itu mampu menyihir Rian yang tertegun. Tak hanya itu Sindy juga menyentuhkan bibirnya pada bibir Rian yang terkatup, mengulumnya lembut sampai ia rasakan tubuhnya terdorong perlahan kemudian menempel ke sofa. Lelaki itu kini berada di atas tubuhnya, menatap lekat-lekat demi mencari ketulusan dalam diri Sindy. Mata itu mengerjap, berkedip dan tak lama Rian memangut bibir ranum Sindy, menyalurkan perasaannya.


Mereka saling balas mengecap dengan tangan bergerak konstan demi membantu memperdalam ciuman. Satu kaki jenjang Sindy pun terlipat, menyentuh sisi bagian tubuh Rian. Hal seperti ini baru pertama kali dilakukannya, berciuman di rumah seorang pria dengan mengenakan pakaian pria tersebut. Mendapat perlakuan lembut penuh kasih sayang.


Aku hanya akan menikah dengannya. Batin Sindy menerima sentuhan tangan yang menggelitik di leher jenjangnya.


Sementara Rian yang kini mengulum bibir atas Sindy turut membatin. Akan aku pastikan kau baik-baik saja bersamaku. Rian mengecup lama bibir gadisnya, sekedar menempelkannya sembari merasakan debaran menggebu dalam dada, sama halnya dengan apa yang sedang dirasakan oleh Sindy. Mereka pikir sesuatu yang bergemuruh itu harus segera dihentikan, selanjutnya tautan bibir terlepas. Baik Rian mau pun Sindy tersenyum, tersipu malu menyadari apa yang baru saja terjadi.


“Ayo kita menikah.” Ajakan kali ini keluar dari mulut Rian.


***


Sedangkan di sebelahnya Sindy mengulum senyum manis sembari memperhatikan gelagat tak nyaman Rian. Ia mengamit lengan pria yang baru menjadi suaminya beberapa saat lalu setelah selesai mendaftarkan pernikahan mereka di catatan sipil, dibantu pendeta dan wali yang merupakan pamannya Sindy. Mereka pun resmi menjadi pasangan suami istri.


“Jangan bilang kau menyesal karena tidak tidur bersamaku semalam?”


“Kau tahu aku bukan lelaki seperti itu, beraninya kau menggodaku dan meminta … ah lupakan!” kata Rian memasukkan tangan yang terbebas dari pegangan Sindy ke dalam saku celananya dan meneruskan, “Jangan bilang kau pernah meminta lelaki lain untuk tidur bersamamu.”


“Aku hanya memintanya padamu, itu pun karena pikiranku sedang tak … waras,” bela Sindy. “Lagi pula aku hanya meminta kita tidur bersama tidak lebih, jujur saja saat itu kau mengharapkannya, bukan?”


Langkah kaki Rian terhenti mengharuskan Sindy mengikutinya juga. “Sekarang kau istriku,” jawabnya berwajah datar yang lalu melangkah lebih dulu.

__ADS_1


“Benar aku sudah memiliki suami, suamiku!” seru Sindy meraih tangan Rian, menyamakan langkahnya dengan Rian. “Aneh sekali aku memanggilmu seperti itu, aku ingin tahu, kenapa kau menerima ajakanku?”


“Aku yang mengajakmu menikah!” sanggah Rian.


“Bukan, aku lebih dulu mengatakannya!” elak Sindy.


Mereka baru saja melewati sebuah kedai es krim di pinggir jalan. Pandangan Sindy bergulir otomatis menarik Rian untuk berjalan mundur. “Kami pesan satu es krim cone rasa Vanilla dan stroberi.”


“Siapa yang bilang aku ingin vanilla?” sahut Rian.


“Vanilla memang buatku, kau yang rasa stroberi,” kata Sindy selagi menerima es krim berwarna merah muda yang kemudian diberikannya pada Rian.


Penjaga kedai yang berusia sekitar pertengahan tiga puluh tahun itu terkekeh pelan. “Kalian pasangan yang manis,” komentarnya mengalihkan penglihatan pada Rian dan Sindy.


“Kita baru saja menikah,” sahut Sindy kembali menerima es krim dari penjual ramah itu.


“Selamat atas pernikahan kalian! Sebagai hadiah aku akan memberikan satu es krim gratis, rasa coklat!”


Dengan senang hati Sindy menerimanya. Sementara Rian berdecak, ia lebih merasa tak percaya pada wanita yang memperlihatkan sisi lain dari sikap misteriusnya. Setahunya Sindy memang tak tahu malu, mengingat pernah mengendap masuk ke rumahnya untuk mencuri makanan.


“Terima kasih semoga banyak yang membeli es krimmu!” pamit Sindy. “Ri … tidak, sayang kau belum menjawab pertanyaanku.”


“Apa lagi?” tanya Rian seperti baru mengenal sosok wanita cerewet di sebelahnya.


“Kenapa setuju menikah denganku? Apa bukan karena kau menyukaiku?” Benar Sindy sangat ingin mengetahui alasan lelaki itu menerimanya.


***

__ADS_1


__ADS_2