
Rumah bertingkat tak terlalu besar namun memiliki desain unik, terletak di pedesaan pesisir pantai menjadi tujuan terakhir Dimas dan Anna. Sempat merasa bahwa mereka tersesat, tapi tepat saat itu juga pintu dibuka dari dalam oleh pemiliknya yang berhasil membuat Dimas membulatkan mata.
“D, dia ….”
“Kiki, rumahmu sulit juga ditemukan,” kata Anna.
“Kenapa tidak bilang kalau kita akan pergi ke rumahnya,” ucap Dimas pelan di telinga Anna.
“Apa aku belum memberitahumu.” Anna menggelengkan kepala seolah mencoba mengingat.
Kiki membukakan pintu semakin lebar hampir sama lebarnya dengan senyum yang tersungging sambil berkata, “Silahkan masuk, pasti kalian lelah.”
Terpaksa Dimas menurut. Salahnya mempercayakan semua pada Anna tanpa bertanya lagi.
“Aku sudah dengar soal kalian, bagus sekali kalian datang kemari. Tempat ini dijamin aman kok!” ucap Kiki selagi mengambil dua gelas untuk menjamu tamunya. “Kalian bisa tinggal sepuasnya di sini.”
“Sepuasnya?” Dimas mengeryitkan dahi meminta penjelasan lebih.
Kiki keluar dari dapur yang tanpa sekat menuju sofa sembari membawa nampan berisi dua cangkir teh serta camilan. “Iya, aku dipindah tugaskan ke cabang yang ada di Newyork,” kata Kiki sudah menaruh jamuannya di atas meja. “Ayo diminum, pasti kalian haus. Makan juga camilannya, nanti baru aku pesankan makanan untuk kalian.”
Rasanya Dimas ingin bersorak senang. Jadi maksudnya Kiki akan pergi meninggalkan rumah, yang artinya hanya ada ia dan Anna, hanya berdua. Kiki kembali menjelaskan bahwa pesawatnya akan lepas landas sore nanti.
“Aku salut pada keberanian kalian, aku harap semuanya berjalan lancar.” Kiki memberi dukungan dan disambut anggukkan antusias Dimas.
“Terima kasih kawan, semoga perjalananmu juga lancar,” sahut Dimas.
♫♫♫
“Kau baik-baik saja?”
Pertanyaan itu menandakan bahwa dirinya dalam keadaan tidak baik. Rangga dan Yuri bisa melihat semuanya, mereka tahu Sindy juga terluka. Maka mereka mencoba untuk menghibur meski tak yakin bisa melakukannya.
Rangga menelan ludah. Di antara banyak kata mengapa ia memilih untuk mengatakan hal yang sudah jelas jawabannya. Rian terus saja berjalan ke arah pintu keluar, tidak mungkin berada terlalu lama di dalam pesta perayaan yang menyesakkan.
“Ingin kami temani?” kata Yuri terselip bujukkan lembut menenangkan seperti seorang kakak perempuan yang memahami situasi adiknya. “Tidak, ya … kalau begitu jangan berpikir terlalu rumit. Tenangkan dirimu dan kembalilah dengan keputusan yang menurutmu baik untuk hubungan kalian.”
__ADS_1
Langkah kaki Rangga dan Yuri melambat, tak lagi mencoba mengimbanginya dengan Rian yang terus menjauh. Tanpa tahu arah tujuan Rian terus berjalan menyeberangi jalanan padat kendaraan, mengabaikan makian dan bunyi klakson. Hingga satu mobil tak sempat menginjak rem, menabrak tubuhnya yang kemudian terjatuh membentur aspal.
Air mata Rian memberontak keluar, tak bisa ditahan lagi. Ia menangis tanpa suara selagi pengendara mobil menghampirinya dengan khawatir.
“Kau baik-baik saja?”
Pertanyaan itu lagi … pikir Rian sebelum semuanya berubah menjadi gelap. Tentu saja sekarang ini ia tidak sedang baik setelah merelakan Sindy.
♫♫♫
Hari terberat menurut Rian, ketika mengakui bahwa istrinya adalah anak dari pendiri perusahaan yang menerimanya sebagai karyawan magang. Ia dijanjikan akan menjadi karyawan tetap dalam dua bulan masa kerjanya, dilihat dari seberapa baiknya memberi kemajuan pada perusahaan.
Dan itu semakin terbukti ketika project gamefix–nya disambut baik oleh para pemegang saham. Ingin berpura tak tahu pun percuma, Rian sudah terlibat hubungan cukup jauh bersama Sindy.
“Tidurlah pasti kau lelah.” Lagi-lagi malam itu Rian menghentikan niatan Sindy untuk mengatakannya.
Benar, ia sudah mengetahui apa yang akan Sindy akui, setelahnya pasti gadis itu akan meminta maaf karena sudah membohonginya. “Good night.” Ucapan selamat malam menghantarkan Rian ke alam bawah sadarnya.
Keberanian muncul begitu saja dan di sinilah ia berada, di kantor Agung. Pria itu menyambutnya dengan ramah, sapaan yang tak biasa terlontar dengan angkuh. Bodoh sekali kalau Rian berpikir atasannya tidak mengetahui apa-apa.
“Adik iparku datang, tapi bagaimana ini aku tidak bisa membatalkan pertunangannya,” kata Agung memainkan pena dengan jari-jarinya.
Agung meletakkan pena di atas meja. “Rian, jangan berpikir aku akan merestui hubungan kalian hanya karena aku menyukai kinerjamu. Pihak kami bisa dengan mudah mengambil hak cipta atas gamefix dan setelahnya kau dipecat,” jelas Agung menambahkan dengan keras, “Aku pastikan tidak ada perusahaan mana pun yang akan mempekerjakanmu. Jadi apa kau masih ingin mempertahankan Sindy?”
“Ya!” tegas Rian.
“Membuatnya hidup susah dengan kau yang seorang pengangguran, aku tidak akan membiarkan siapa pun menghalangi jalanku. Lebih baik kau menyerah terhadap Sindy dan lanjutkan saja hidupmu tanpanya,” ujar Agung menggoyahkan pertahanan yang lama dibangun Rian.
“Raih saja mimpimu dan cari wanita lain yang lebih pantas untukmu. Sindy menikahimu hanya untuk menghindari perjodohan, dia sudah membodohimu, berbohong sampai berani mempermainkan ikrar cinta. Kekanakkan sekali, dasar gadis bodoh!”
Memuakkan sekali mendengar penuturan Agung yang menjelek-jelekkan sang istri. Tangan Rian mengepal kuat, kuku-kukunya menancap dalam ke telapak tangannya. Gemetar menahan marah.
“Jauhi dia kecuali kau ingin menghancurkan hidupnya. Kau bisa melakukannya, ‘kan?” tawar Agung sungguh menjengkelkan.
Hingga Rian dipertemukan kembali dengan Sindy diacara pertunangan yang mungkin menjadi hari terakhir mereka saling melihat. Aku merindukannya … Rian melihat wanita bergaun putih itu melangkah menghampirinya.
__ADS_1
♫♫♫
“Dia sadar! Dia sadar!”
Seruan itu semakin menyadarkan Rian akan tempat yang sedang disinggahinya. Rumah sakit bernuansa serba putih ditambah bau obat-obatan menyengat hidung. Ia mencoba duduk dari posisi berbaringnya, kontan merasa pusing, akibat luka jaitan di kepala belakang.
“Kau sudah merasa lebih baik?” tanya wanita mungil yang samar-samar Rian ingat sebagai orang pertama yang menanyakan keadaannya setelah tubuhnya terhempas. “Bagaimana ini, dia tidak bisa mendengarku.” Ia melirik lelaki berlesung pipi di sebelahnya dengan cemas.
“Hei, hello…”
“Aku mendengarmu,” tukas Rian menyingkirkan kibasan tangan lelaki tersebut.
Pasangan itu mengucap syukur bersamaan. “Kami sudah membayar pengobatannya, bila kau merasa ada yang sakit bilang saja. Sungguh aku tidak sengaja menabrakmu, kau tiba-tiba menyeberang.”
“Juan sayang, berarti kau tidak sepenuhnya salah,” ucap wanita berambut pirang bergelombang seraya melirik Rian penasaran kemudian mengingat pertemuan singkat mereka. “Ouh, bukankah kau temannya Dimas!” ia berseru mengagetkan Juan yang mendapat dorongan kecil.
Dimas. Apa semua akan lebih baik kalau saja aku menerima ajakkannya waktu itu? Rian menghela napas berat.
“Pasti kau terburu-buru menghadari acara pertunangannya,” tebak Juan salah besar. “Dan sekarang malah dia yang melarikan diri!” pekiknya yang lebih dulu melakukan hal tersebut bersama Tania.
“Aku harap dia dapat bersama wanita yang dicintainya,” kata Tania meneruskan dengan marah, “Sungguh aku tak menyangka Kak Agung sejahat itu! Dia sudah memiliki istri dan berniat melangsungkan pernikahan, telah membohongi publik begitu lama. Hebat juga!”
“Sebenarnya kau ini memaki atau memuji,” keluh Juan berdecak melihat Tania yang menurutnya menggemaskan.
“Memangnya apa yang terjadi?” Rian menengahi.
“Acaranya kacau sekali, Sindy membocorkan rahasia Agung yang ternyata sudah menikah dengan Tiffany, mantan model yang sekarang tengah hamil,” jawab Tania.
“Lucunya media tidak tahu kalau mempelai wanita dan juga calon tunangan pria melarikan diri.” Juan tak mampu menahan tawa sampai Tania menyikutnya agar diam, bisa-bisa lelaki itu membocorkan rahasia lain dari Keluarga Karlite.
Lalu bagaimana keadaan Sindy? Ini saatnya Rian membatin berharap dapat menemukan jawaban dari pasangan di depannya.
“Aku dengar bahwa Agung marah besar, dia mengurung Sindy di kamar,” ucap Tania.
Juan menggerutu soal gagalnya mereka ke acara tersebut, sehingga tidak bisa melihat secara langsung.
__ADS_1
“Sindy, aku harus menemuinya!” kata Rian.
♫♫♫