
“AKU YAKIN Nona Anna datang kemari untuk menemui Nona Sindy.”
Sudah sering sekali ucapan Dewo tak pernah terbukti. Lagi-lagi Eko mengomel, ia bilang pernah memeriksa gedung ini dan tidak menemukan apa pun. Kecuali pernah sekali mengejar Sindy di sekitar lingkungan tersebut, ia saja gagal.
“Dan pasti kali ini kau juga salah lihat!” Eko mengibaskan tangan di depan wajahnya.
Di antara mereka ada Aryo yang mengintai sekitar, dibantu kaca pembesar pemberian Hendri. Dua anggota termuda berkeliling mendekati flat Aldi, tak jauh si pemilik rumah menatap ngeri ke empat pria asing di depan tempat tinggalnya.
Berdiri satu langkah tepat di depan Aryo dan Hendri, ia memberanikan diri bertanya, “Siapa kalian? Kenapa melakukan hal seperti itu di depan rumahku?” Kaca pembesar terarah pada Aldi. “Menjauh atau aku panggil pihak keamanan.” Gugupnya setengah takut.
Dari tempat berdirinya, Dewo menakuti dengan menengadahkan kepala tinggi-tinggi memperlihatkan lubang hidung yang entah apa maksudnya. Eko menyeringai semakin membuat Aldi menciut.
“Aaaakh! Sakit!” teriak Aldi ketika mendapat satu pukulan di wajah, membuat Aryo dan Hendri tertawa puas dan memuji kegunaan kaca pembesar yang dapat digunakan juga untuk alat pemukul.
Eko mencibir cara kerja anak buahnya. “Dasar payah!”
“Aku akan mengurusnya,” sahut Dewo.
♫♫♫
Sindy dan Anna saling bertukar pandang, mereka juga kompak menatap Rian yang tengah duduk di sofa. Lelaki itu merosot dari sofa dan ikut duduk di lantai. Kondisi ini benar-benar tidak nyaman, jauh dibandingkan dengan Dimas yang selalu tersudut oleh teman kencannya.
Membayangkan bagaimana biasanya Dimas menangani Jessica dan Krysti. Ia juga pasti dapat melewatinya dengan baik, kan.
“Untung di luar ada Aldi yang menangani mereka.” Kenapa juga Rian repot-repot berbicara, mending ia pulang saja. Buktinya tak ada yang berminat menanggapi dan malah terasa canggung.
Anna berdehem seraya menyikut Sindy. “Kalian berpacaran?”
“TIDAK!” serempak Rian dan Sindy.
“Sebaiknya kau segera pulang,” imbuh Sindy.
“Aku memang akan pulang,” tukas Rian.
__ADS_1
“Kau juga.” Anna menggeleng enggan, beralasan mungkin Eko masih mengintai di luar sana.
“Rian, tetaplah di sini!” Sekarang ganti Sindy yang menyikut Anna. “Mereka bisa saja mencurigaimu,” lanjut Anna suaranya memelan di akhir kalimat.
Bila seperti itu suasana akan semakin canggung. Sindy tidak bisa membiarkannya begitu saja. Ia bangkit dari duduknya dan menarik Rian menuju pintu, baru dua langkah ia sudah mengeluh. Benar kakinya masih belum sembuh akibat terkilir, tanpa diduga Rian berjongkok memeriksa pergelangan kakinya.
Semakin membuat Anna yakin kalau ada yang terjadi di antara keduanya, bukan hanya berciuman tapi, “Kalian tidur bersama?” serunya sembari menekap mulut.
Pandangan tajam Sindy membuatnya diam tak berkutik, sungguh ia tidak tahu temannya ini banyak bicara sekali tanpa menyaringnya terlebih dahulu.
“Kakimu bengkak, kenapa tak langsung diobati.” Rian memilih berpura tak mendengar. “Suruh teman anehmu itu mengobatinya. Aku pergi.”
Pintu tertutup. Hening sejenak sebelum Anna berbicara.
“Sindy katakan kalau itu tidak benar?”
“Kemari kau! Akan aku sumpal mulutmu itu!” Sindy berjalan cepat mengabaikan rasa sakit di kakinya.
♫♫♫
Rangga berjalan mendekati Yuri yang sedang berdiri di hadapan sebuah butik yang khusus menjual gaun-gaun pengantin. Memandangi satu gaun pengantin berjuntai, dengan lengan panjang dan hiasan bunga kecil di sekeliling leher. Memberikan kesan sederhana namun cantik.
Mereka memang tengah berjalan-jalan di Mall. Ketika Rangga tidak menemukan Yuri di sampingnya, ia sangat khawatir. Tak lama ia mendapati kekasihnya itu berhenti untuk mengagumi satu pakaian yang digunakan pengantin di hari bahagianya.
“Cantiknya,” gumam Yuri. “Rangga kautahu temanku Anna, satu bulan lagi ia akan menikah.” Menyadari Rangga yang sudah ada di sampingnya, ia mengatakan hal yang sudah Rangga ketahui.
“Tentu saja aku tahu, kau sudah mengatakannya kemarin,” ucap Rangga.
Kini pandangan Yuri beralih pada Rangga. “Lalu? Cih, ternyata kau tidak peka terhadap perasaanku,” tukas Yuri berjalan melewati Rangga.
Dengan segera Rangga mengejar Yuri. Ia tahu bahwa kekasihnya itu tengah marajuk. Ia juga mengerti apa maksud Yuri, hanya saja belum siap untuk melangkah ke jenjang yang lebih serius. Mudah bagi Rangga untuk mensejajarkan langkahnya dengan Yuri.
“Lalu kau ingin kita segera menikah juga? Ayolah Yuri, aku belum siap, mengertilah.” Rangga masih terus berusaha agar langkahnya sejajar dengan Yuri yang jalannya semakin cepat.
__ADS_1
“Kau selalu mengatakan kalimat yang sama, dan selalu minta dimengerti olehku, sekali-kali kau juga perlu mengerti aku … Kita sudah cukup lama berpacaran.”
“Baru juga tiga tahun,” ujar Rangga santai.
“Lalu harus berapa tahun lagi agar kau siap melamarku!” teriak Yuri berlari menjauhi Rangga yang kini tidak tahu harus berbuat apa.
Berjalan sendirian membuatnya semakin bingung dengan pemikirannya. Haruskah dirinya segera melamar Yuri. Tapi usianya yang baru menginjak angka 24 tahun itu belum bisa dipercaya oleh ayahnya untuk melanjutkan perusahaan retail yang diwariskan secara turun temurun.
Mendadak Rangga ingat sesuatu. “Barusan dia bilang Anna, benar … Yuri punya teman bernama Anna! Kenapa aku tidak ingat!” seru Rangga sumringah, ia bergegas mengejar Yuri yang menggerutu berusaha mempercepat gerak kaki ketika Rangga berhasil mensejajarkan langkahnya. “Sayang, sayang! Apa mungkin temanmu Anna sama dengan Anna yang Dimas sukai itu?”
“Sekarang ini bukan waktu yang tepat untuk membicarakan orang lain!” sewot Yuri berjalan menghentakkan kaki.
“Aku akan melamarmu, tapi nanti setelah selesai magang di perusahaan ayah!” Putus Rangga yakin, ia ingin bisa menghidupi rumah tangganya sendiri kelak.
Memulai karir dari bawah, Rangga bertekad akan mulai bekerja. Sebentar lagi ia lulus dari kuliahnya dan setelah itu ia berjanji akan menikahi Yuri.
Perlahan senyum Yuri merekah, digandengnya lengan Rangga sambil berbicara dengan nada riang. “Ayo kita pergi menemui Anna dan cari tahu apa dia takdirnya Dimas?”
“Baiklah!” ucap Rangga dengan semangat, membelai lembut pucuk rambut Yuri yang berlagak manja.
♫♫♫
Sementara di rumahnya Sindy sedang menimbang-nimbang apa ia harus keluar sekarang atau nanti. Mengingat kerja sambilan yang dilakukannya bertepatan dengan waktu di mana Rian sering pergi. Ia sudah rapih, bersiap membuka pintu setelah mendengar ada suara pintu yang ditutup. Pastilah itu Rian yang baru saja keluar, jadi tunggu beberapa saat dan Sindy akan pergi juga.
Inilah saatnya Sindy berangkat setelah menunggu langkah menjauh. Handle pintu pun ditekan kemudian ditarik. Ternyata hal sama juga dilakukan oleh lelaki di depan pintu rumahnya. Gerak tangan Sindy sempat terhenti, pandangannya baru saja bertemu dengan Rian yang tengah berdiri di ambang pintu.
“Hai, selamat pagi,” sapa Rian lebih dulu. Apa sebelumnya Sindy salah mengira kalau yang keluar dari flat adalah Aldi, bukan Rian.
“Pagi,” balas Sindy pendek. Sebisa mungkin bersikap biasa setelah apa yang Anna lontarkan. Tidur bersama… kenapa bisa Anna bicara seperti itu di depan Rian.
“Kaumenghindariku ya?” tanya Rian.
♫♫♫
__ADS_1