Suddenly A Couple

Suddenly A Couple
Episode 9 : Hampir Saja


__ADS_3

Seseorang baru saja mengetuk pintu rumahnya, Sindy bertingkah waspada dengan mengambil panci, yang selalu ia pakai untuk membuat mie. Ia juga tidak langsung membuka pintu, melainkan melihat keluar sana melalui lubang kecil yang ada di tengah-tengah pintu.


Wanita anggun yang sebenarnya agak tomboy itu tak berhenti mengetuk, ia juga melihat sekeliling. “Ini aku,” ucapnya pelan.


Tak menunggu lama, pintu segera dibuka. Wanita itu pun bergegas masuk dan menutup kembali pintunya.


“Anna, kenapa kau kemari. Bagaimana kalau orang-orangnya Kak Agung melihat,” tegur Sindy menurunkan panci yang sebelumnya ia angkat tinggi-tinggi.


“Aku mengkhawatirkanmu, kau tidak mengangkat teleponku,” kata Anna menurutnya wajar saja jika dirinya datang. “Memangnya kau tidak rindu padaku?”


“Sama sekali, tidak,” sahut Sindy, ia buru-buru menambahkan ketika dilihatnya ekspresi kecewa Anna. “Kita hampir bertemu setiap hari di tempat kerja.”


“Oh, aku lupa kalau kau bekerja di kafeku,” kata Anna yang baru saja membuka usahanya sendiri ditengah-tengah kesibukannya kuliah, empat bulan lalu.


Ia sudah lama tahu perihal kaburnya Sindy dari pesawat yang akan membawanya ke Korea Selatan. Secara diam-diam membantu dan mencarikan pekerjaan sampai berakhir menjadi karyawan di kafénya. Tentu tanpa sepengetahuan tunangannya, Agung, yang selalu sibuk dengan perusahaannya.


“Ceritakan padaku apa yang terjadi padamu malam kemarin,” pinta Anna sudah duduk santai di sofa menghadap televisi, mereka yang cuma berbeda satu tahun begitu akrab semenjak saling kenal di tempat kursus piano.


Hingga keduanya bertemu di acara keluarga, di mana Anna akan dijodohkan dengan Agung. Terhitung sudah lima tahun mereka berteman dan Sindy sangat menyayangkan perjodohan tersebut. Sindy tahu betul bahwa kakaknya hanya menerima pertunangan demi kemajuan perusahaan, bahkan saat itu ia rela memutuskan kekasihnya.


♫♫♫


Café Wind Flower. Dimas menatap tempat di hadapannya dengan yakin, ia meminta bertemu dan disuruh datang ke kafé tersebut. Menit berikutnya, Dimas seperti sedang diinterogasi oleh dua wanita. Siapa lagi kalau bukan Jessica dan Krysti. Mereka menyuruh Dimas untuk memilih salah satu di antara mereka. Satu yang membuat bingung Jessica maupun Krysti, yaitu perihal Dimas yang menarik wanita yang bernama Anna untuk berlari dengannya.


“Jangan bilang kalau kau berkencan dengannya?” tanya Jessica berharap jawabannya tidak.


“Dia hanya pengunjung kafé, kalian salah paham. Membuatku malu saja!” tak ada rasa menyesal dari diri Dimas.


Krysti menghela napas. “Begitu rupanya, tapi kau tetap harus memilih antara aku atau Kak Jessica,” tuntut Krysti ringan.


“Bagaimana kalau aku tidak memilih, lebih baik kalian cari saja pria yang lebih baik dariku.” Duduk di antara keduanya membuat Dimas tidak nyaman, sehingga ia tergesa berdiri, lalu menghadap Jessica dan Krysti.

__ADS_1


“Apa kau bercanda? Apa itu berarti Anna adalah kekasihmu yang baru,” sesal Jessica tak menginginkan hal itu terjadi.


“Kalau memang benar Anna kekasih Kak Dimas, mana mungkin mereka terlihat canggung!” timpal Krysti berdiri menghampiri Dimas. “Aku harap kau segera bertemu takdirmu. Dan ingat, jangan lupakan aku!” Krysti tersenyum manis, membuatnya terkesan seperti pasangan takdir, Rangga dan Yuri.


Setelah berbicara seperti itu Krysti mengecup pipi Dimas, lalu ia pergi dengan ekspresi bahagia. Sambil berlari pelan sesekali Krysti menoleh ke arah Dimas dan melambaikan tangannya. Dimas ikut melambaikan tangannya, dan mengumbar senyuman pada Krysti.


“Gadis yang manis,” gumam Dimas.


“Lalu kau benar-benar ingin kita putus?” tanya Jessica terdengar sedih. Dimas mengangguk. “Aku tidak mau putus denganmu, aku mencintaimu Dimas.”


Sulit sekali untuk Dimas menjawab pertanyaan Jessica. Ia lebih suka jika Jessica berprilaku seperti Krysti dan melepaskannya. Semua ini salahnya yang selalu menerima ajakkan kencan dari setiap wanita. Alhasil Jessica susah untuk mengerti dirinya.


“Aku tidak benar-benar mencintaimu, kau tahu itu,” jelas Dimas seraya memegang kedua belah bahu Jessica.


“Tapi aku mencintaimu … berkencanlah lagi denganku. Jika aku tidak bisa membuatmu jatuh cinta padaku, maka aku akan menyerah.” Tatapan sedih dan perkataan yang terdengar tulus membuat Dimas menghela.


♫♫♫


“Dia tetanggamu?” tanya Anna setelah Sindy selesai mengecek siapa yang mengetuk pintu rumahnya.


“Iya,” singkat Sindy dengan cepat menyuruh Anna untuk bersembunyi.


“Kenapa aku harus sembunyi?” tanya Anna keheranan, meski begitu ia melangkah ragu antara menuju kamar atau ke kolong meja saja.


Selesai dengan Anna yang memilih masuk ke kamar, menutup pintu rapat-rapat. Sindy merapihkan diri dan bersiap menyapa orang yang mungkin tengah kesal menunggu dibukakan pintu.


“Buka pintu saja kau lama!” sembur Rian, mengurungkan niat Sindy untuk menyapa dengan senyum ramah. “Ini untukmu,” ia mengulurkan kresek hitam.


“Apa itu?” kata Sindy tak langsung mengambilnya.


“Cepat ambil tanganku pegal,” pekik Rian.

__ADS_1


Anna yang mendengarkan dari balik pintu kamar mulai geram, berkomentar bahwa Rian memang menyebalkan. Sedangkan Sindy menerimanya dengan tatapan biasa, ia penasaran dengan isinya, dan hendak melihatnya.


“Mie ayam, siapa tahu kau sedang kelaparan.” Rian memberitahu sebelum gadis itu sempat mengintip ke dalam kresek. “Tadinya aku mau memberikannya pada Aldi tapi sepertinya dia belum pulang.”


“Ehh, suaranya saja bergetar begitu, sudah pasti bohong,” komentar Anna masih menempelkan telinga ke pintu.


Tak biasanya Rian memberikan makanan, kecuali Sindy minta itu pun harus sedikit berusaha. Namun ia tetap mengatakan terima kasih. “Aku akan menghabiskannya.” Sindy sudah menunduk berniat menghantarkan kepergian lelaki itu, tapi tidak ada pergerakkan sama sekali. “Kau tidak pulang?”


“Soal lampu, ahh… maksudku yang terjadi pada kita di kamarmu. Tidak, tidak,-” kata Rian tergagap.


Anna semakin mempertajam pendengarannya, ia sudah mengira ada yang tidak beres saat Sindy bercerita tadi.


“Ciuman itu!”


Anna menekap mulutnya, kontan Sindy melirik ke arah pintu kamar.


“Kecilkan suaramu, sudah aku bilang lupakan saja. Kenapa kau membahasnya lagi,” ucap Sindy berusaha agar tidak terdengar oleh Anna.


“Aku melakukannya karena ….“


“Suasananya!” desis Anna berdiri di ambang pintu kamar. “Jadi tadi itu cerita tentangmu,” Sindy menelan ludah menatap ragu Anna yang kini pandangannya tertuju pada Rian. “Beraninya kau!”


Seharusnya bukan ini yang terjadi, Rian mundur mendekati pintu. Indra pendengarannya menangkap suara langkah kaki saling susul, menandakan ada dua sampai tiga lebih orang yang mendekat. Sontak ditutupnya pintu, mengalihkan pandangan menyeringai Anna, tak percaya dengan apa yang dilihatnya.


“Kau menutup pintunya!” sentaknya disuruh diam oleh Rian.


“Sungguh aku melihat Nona Anna, dia masuk ke gedung ini!” Suara di luar sana terdengar, Sindy menoleh pada Anna sedikit menyalahkan kecerobohannya.


“Oh ya ampun, maaf,” kata Anna sambil nyengir kuda.


♫♫♫

__ADS_1


__ADS_2