Suddenly A Couple

Suddenly A Couple
Episode 13 : Kepikiran Terus


__ADS_3

Saking cepatnya Eko berlari, ia sampai tidak menyadari bahwa orang yang dikejarnya telah menghilang dari pandangan. “Ke mana dia pergi?” kata Eko terheran, perlahan ia menghentikan gerak kaki.


Rian sedikit menyembulkan kepala untuk melihat keadaan sekitar. Ia bergerak ke samping agar Eko tidak melihat persembunyiannya, begitu juga dengan Sindy yang semakin terpojok. Mereka tengah bersembunyi di sebuah tembok antara rumah padat yang menjorok, membuat ruang aman seukuran satu kali satu setengah meter dengan semak belukar tumbuh di bagian luarnya.


Bahu Sindy sudah menyentuh tembok. Sementara Rian terus bergerak ke arahnya. Tak lama langkah terburu Eko terdengar menjauh, rupanya ia memilih untuk kembali ke parkiran setelah mendapat telepon dari Agung yang menanyakan keberadaannya.


“Sepertinya dia sudah pergi,” kata Rian menoleh pada Sindy. Gadis itu tampak canggung, berada di tempat sepi dan gelap bersama seorang lelaki membuat jantungnya berdegup tak karuan.


Begitu pula dengan Rian yang baru menyadari posisi mereka yang berada di sudut ruang. Satu-satunya yang terpikirkan olehnya adalah segera keluar, namun ia lupa bahwa tangannya tengah menggenggam erat tangan Sindy sedari menarik gadis itu untuk bersembunyi, alhasil jarak mereka bertambah dekat ketika dengan mudahnya tubuh Sindy ditarik dalam sekali hentakan.


Mata mereka bertemu. Perasaan itu muncul lagi dan sialnya Rian tidak bisa mengendalikannya. Sindy mengerjap selagi Rian mendekatkan wajahnya dan seperkian detik kemudian mengulum lembut bibir bawahnya. Detak jantung tak karuan itu semakin menjadi saat Sindy merasakan pegangan tangan Rian melonggor beralih memeluknya, mempersempit jarak.


Sindy membuka mulutnya ketika dengan lembut Rian mengulum bibirnya sembari tangan yang lain meraih tengkuk. Sebelum sempat membalas ciuman tersebut, Sindy tersentak, tersadar akan apa yang terjadi, ia pun mendorong Rian membuat suara decapan dari tautan bibir yang terlepas.


~PLAKK


Tamparan kuat yang didapat Rian mengejutkan keduanya. Sindy menurunkan tangan yang juga merasakan perih. Berbicara terbata, “K… kau itu seorang maniak ya!”


Betapa terkejutnya Rian ketika mendapatkan perlakuan tersebut, dia bahkan tidak tahu apa kesalahannya. “Aku hanyaᅳ“


“Mau bilang karena suasananya! Apa tidak ada alasan lain, aku memang berterima kasih karena kau membantuku tapi ini sudah keterlaluan!” Sindy keluar dari tempat persembunyian, menahan malu luar biasa karena telah berpikir yang macam-macam.


“Sindy bisa-bisanya kau berpikir mesum dan berakhir dengan menamparnya, apa yang sudah kau lakukan!” Sindy merutuki perbuatannya.


Sedangkan Rian sibuk menggerutu, menyalahkan Rangga yang memintanya untuk datang ke sebuah kafé demi melihat wanita yang telah membuat Dimas mampu memutuskan kedua kekasihnya. Walau kemungkinan ia akan telat ke tempat kerja berikutnya dan malah bertemu dengan Sindy.


“Aku hanya mengambil daun yang tersangkut di rambutnya! Memangnya harus sampai ditampar begini.” Rian memandang kesal selembar daun menguning di tangannya, ia meneruskan sembari melihat tempatnya berada. “Sepertinya aku harus menghindari tempat sepi terutama yang gelap. Jika bisa aku harus menjaga jarak minimal satu meter darinya!” lanjutnya sembari memegangi pipi yang berdenyut sakit.


“Apa yang dia pikirkan sampai menyebutku maniak … mungkinkah, dia berpikir aku akan menciumnya?” kata Rian melihat Sindy yang menghentak-hentakkan kaki, berjalan menjauh sembari menggerakkan kepala tampak menyesali apa yang telah terjadi.

__ADS_1


♫♫♫


Semua kursi dalam kelas hampir terisi penuh, banyak di antara mereka yang memang sangat ingin mengikuti pelajaran dari dosen tercantik di kampus. Tidak hanya itu dia merupakan pengajar kompeten, lulusan Harvard dan juga begitu tegas. Rian sampai mengakui bahwa ia menghormati dosen tersebut.


Di tengah-tengah pelajaran sebuah suara dari ketukan jari jemari pada meja terdengar jelas di telinga, membuat Rian tak bisa konsentrasi, merasa terganggu namun tak bisa menegurnya.


“Ada apa dengannya?” Akhirnya Rian bertanya pada Rangga.


Temannya itu mencondongkan tubuh ke depan sembari menoleh ke arah Dimas. Sementara Rian menghela merasa menyesal karena harus duduk di tengah, di antara kedua temannya yang tidak baik dalam mengikuti pelajaran.


“Oh, aku rasa dia sedang berpikir keras,” balas Rangga setelah menelaah ekspresi wajah Dimas yang nampak serius sekaligus fokus. Ia meneruskan dengan suara pelan, “Memutuskan tindakan apa yang akan dilakukannya nanti pada Anna.”


Rian berdecak selagi menggeleng prihatin, ia cukup mengetahui sifat Dimas yang tidak pantang menyerah terhadap wanita incarannya. Tapi mungkinkah kali ini berbeda? Sudah lama Dimas tidak terlihat segugup itu dan lagi terlalu larut dalam pemikirannya. Bukankah biasanya Dimas lebih santai dengan rasa percaya diri tinggi dalam mendapatkan wanita.


Mendadak suara ketukan terhenti. Otomatis kepala Rian bergerak, mendapati raut wajah tak biasa dari seorang Dimas Aditya. Sahabatnya itu tersenyum penuh keyakinan, mata berbinar ditambah mengangguk pelan. Baguslah kalau Dimas sudah mengambil keputusan.


~BRAKK


“Yaaa, kau mengagetkan saja!” pekik Rangga tertahan sambil memegang dada saking terkejutnya.


Bella tak bisa melanjutkan perkataannya mengenai bisnis global, ia malah mendelik tak suka karena satu mahasiswa telah menyela. “Mahasiswa yang berdiri dari duduknya tidak saya izinkan untuk duduk kembali!”


Terpaksa Dimas menuruti sang dosen. Ia cukup tahu diri dengan mengakui kesalahannya dan membungkuk ke sekitar sambil mengucapkan permintaan maaf.


♫♫♫


“Dimas berdiri sepanjang kelas Bu Bella! Haha!”


Yuri tak bisa menahan tawa, tangannya memukul-mukul meja sepanjang satu meter yang memisahkan dua bangku berukuran sama yang menjadi tempat duduk mereka.

__ADS_1


Di sebelahnya Rangga menyahut, “Selama itu juga wajahnya terus menyunggingkan senyum bodoh, dia benar-benar gila!”


“Memangnya keputusan apa yang kau ambil, aku khawatir itu adalah hal gila juga,” imbuh Rian.


“Pokoknya kalian harus mendukungku, kemari.” Dimas menyuruh ketiga temannya mendekat, kemudian membisiki sesuatu.


“DASAR GILA!” seru Rian, Rangga dan Yuri serempak.


“Kau akan tetap mendekati Anna meski tahu dia sudah bertunangan,” kata Yuri.


Dimas berucap ringan, “Toh pernikahan mereka satu bulan lagi, aku masih memiliki kesempatan.”


“Kau yakin?” Rangga menyangsikan.


“Ckck, lalu Jessica bagaimana?” tambah Rian.


Benar, gadis itu masih bersikukuh meski Dimas telah memutuskannya. “Gampang saja … aku bisa mengencani dua orang sekaligus, setelah akhir bulan nanti akan aku putuskan kembali,” ujar Dimas.


“Dimas, kau benar-benar tidak terselamatkan!” ucap Yuri tak terima. “Kau boleh mempermainkan wanita lain, tapi jika itu Anna aku tidak akan membiarkannya!”


“Apa kau tidak bisa hanya memilih satu wanita saja!” sembur Rangga bangkit dari duduknya, diikuti Yuri. Kemudian mereka beranjak pergi setelah melayangkan tatapan kesal pada Dimas.


Saat itu pandangan Dimas beralih, memelas meminta dukungan Rian.


“Tidak, ini tidak benar,” tolak Rian. “Sebaiknya kau buat keputusan ulang, pernikahan seseorang dipertaruhkan, jangan gegabah!” Rian hendak pergi. Namun Dimas menghalanginya.


“Aku sudah membuat keputusan ulang!”


“Secepat itu?” Dimas mengangguk cepat.

__ADS_1


♫♫♫


__ADS_2