Suddenly A Couple

Suddenly A Couple
Episode 16 : Double Date


__ADS_3

Nilai saham Karlite Corp terus menurun. Agung keluar dari ruangan dengan wajah mengeras, berlanjut hingga uring-uringan sendiri menyalahkan kinerja karyawannya dan juga para pemegang saham yang terus mendesaknya. Belum lagi dihentikannya pembangunan resort.


Pintu terbuka. Eko masuk untuk melaporkan bahwa benar Sindy tinggal di rumah susun, ia menemukan bukti setelah masuk tanpa izin dengan merusak pintu.


“Lalu di mana Sindy?” kata Agung.


“Aku tidak menemukannya.” Sebenarnya yang terjadi adalah Eko memilih untuk pulang setelah menunggu selama dua jam.


“Untuk sekarang kau hanya perlu mengawasinya, bawa dia ke hadapanku saat aku telah menemukan pasangan yang cocok buatnya. Laki-laki itu harus dari kalangan atas agar dapat membantu krisis perusahaan,” tutur Agung bertekad kuat, ia tidak ingin terus disalahkan atas kemerosotan bisnis akibat pelebaran usaha dalam bidang teknologi.


Tepat di depan pintu, Aryo, Hendri, Dewo dan Zumi menguping. Berkomentar bahwa menjadi kaya itu harus memiliki koneksi luas dibanding keahlian dan kepiyawaian.


“Dia bahkan berniat menjodohkan adiknya dengan siapa saja yang kaya,” decak Zumi.


“Ehem,” seseorang baru saja berdehem. “Pasti kalian juga membicarakanku dari belakang.”


“Pak Hapid!” seru ke empat laki-laki yang sontak menjauhkan diri dari pintu ruangan sang direktur.


“Apa yang kalian dengar?” ujar wakil direktur yang memiliki nama panjang Hapid Saputra, laki-laki berwajah ramah ini merupakan rekan kepercayaan Agung.


“Bapak bisa tanyakan sendiri pada Pak Agung, silahkan masuk,” kata Hendri sambil memperlihatkan senyum terlebarnya dengan tangan terulur membukakan pintu untuk atasannya itu.


***


Matahari hampir tergelincir ketika Anna mendengarkan penuturan sahabatnya sembari menopang dagu. Ia memasang berbagai ekspresi di setiap kalimat yang menurutnya menarik. Sementara hari-harinya selalu begitu saja, kuliah dan menghabiskan waktu di kafé. Maka dari itu Anna menawarkan kencan selama tiga minggu pada Dimas, berharap akan ada kejutan dalam hidupnya yang membosankan.


“Kalau kau jadi aku apa yang akan kau perbuat?” tanya Sindy mengakhiri cerita terkait pembobolan flatnya kemarin malam, sehingga terpaksa menginap di flat Rian.


“Tentu saja mengucapkan terima kasih,” jawab Anna tak yakin karena sarannya terdengar biasa. “Memangnya apalagi selain berterima kasih.”


Tadi pagi Sindy terbangun dari tidurnya karena kebisingan yang terjadi di dapur. Siapa lagi pelakunya kalau bukan si pemilik rumah, Rian, tampaknya tengah menyiapkan sarapan. Mereka menghabiskan makan bersama dalam diam, benar-benar canggung. Sindy tidak tahu kenapa mendadak suasana menjadi kaku dan hatinya dibuat gelisah ketika berada di hadapan Rian.


Tiba-tiba terlintas ide gila di pikiran Anna. “Ayo kita berkencan!”

__ADS_1


“Aku denganmu? TIDAK!” tolak Sindy salah mengerti ajakkan Anna.


“Maksudku double date (kencan ganda), kita makan malam bersama. Aku akan menyuruh Dimas mengajak Rian, bagaimana?”


“Memangnya dia akan setuju.” Sindy menyangsikan namun ia tidak menunjukkan penolakan.


Anna bergegas menghubungi Dimas. Kalau sudah seperti ini Sindy tidak bisa apa-apa selain mengikuti ide Anna yang bisa dibilang cukup menarik perhatiannya.


***


Kafé sengaja ditutup lebih awal. Anna dan Sindy keluar bertepatan dengan sebuah mobil yang baru menepi. Kaca jendela di kursi dekat pengemudi bergerak turun memperlihatkan sosok Yuri, ia memicingkan mata pada Anna tampak tak suka. Mungkin karena keputusan kencan tiga minggu bersama Dimas yang terbilang konyol.


“Dari dulu kau memang suka bercanda, tapi candaanmu kali ini tidak lucu!” kata Yuri setelah Anna masuk dan duduk di sebelah Dimas.


Gadis manis itu menutup pintu tak membiarkan Sindy masuk lewat pintu yang sama, terpaksa Sindy berjalan ke sisi lain mobil lalu menghempaskan pantat dengan canggung di dekat Rian.


“Kau tahu kali ini aku tidak sedang bercanda,” sahut Anna kemudian.


“Auh! Aku benar-benar tak habis pikir!” Yuri dengan ketidakrelaannya memekik.


Rangga sang pengendara mobil menengahi, “Kita mau pergi ke mana?” tanya Rangga melirik kaca spion di depannya, mengerutkan dahi melihat dua orang kaku yang dipaksa menjadi pasangan sehari.


♫♫♫


Sesampainya di Taman Hiburan Karlite. Ketiga pasangan tersebut berlarian ke sana ke mari. Terlebih Rangga dan Yuri yang langsung saja berfoto ria. Tak mau kalah Dimas mengeluarkan ponsel genggam dari saku celananya berniat mengambil foto bersama Anna dengan malu-malu.


“Dimas, ambilkan gambarku di sini!” pinta Anna.


Semuanya terasa baru bagi Dimas yang sering berkencan, “Ah iya iya!” kata Dimas menyimpan kembali ponsel ke sakunya.


Suasana berbeda terjadi pada pasangan canggung, tak ada keriangan sama sekali dan masing-masing hanya terdiam sembari melihat yang lain mengambil foto. Bahkan pada akhirnya Dimas diajak melakukan Selca (Self Camera) oleh Anna, begitu natural hingga tanpa sadar satu kata lolos dari mulut Sindy mengatakan,


“Serasi,” katanya dibuat senang dengan pemandangan di mana Anna tertawa lepas ketika melihat hasil potret dirinya dan Dimas yang tersenyum bodoh.

__ADS_1


“Kau ingin berfoto juga?” Rian bertanya selagi Rangga berteriak agar mereka bergerak lebih cepat, alhasil suaranya tak terdengar oleh Sindy.


Yuri mengajukan tempat bermain di bagian dalam, melihat berbagai pertunjukan laser, film, parade, bahkan ice rink. Semua bersorak sepanjang acara, jelas yang terheboh adalah Yuri sendiri ditambah kekasih berkepala besarnya. Sedang Anna membawa mereka untuk ke bagian luar, ia hampir mencoba semua permainan di puri ajaib yang memacu adrenalin dan juga berlayar mengarungi danau.


Akibatnya Rian dibuat mual. Sindy memberikan minuman botol dan mengusulkan untuk istirahat dulu.


“Dasar payah …,” kata Dimas berdecak melihat kondisi Rian. Padahal dia sendiri ketakutan saat naik wahana koura-koura besar yang berayun tinggi sampai-sampai memegangi lengan Anna.


Mendengar cibiran tersebut, Anna hanya tertawa kecil. Seperti yang Sindy minta, mereka sedang beristirahat, memakan es krim, duduk di antara keramaian pengunjung taman hiburan terbesar di Jakarta. Sesekali Rian mencuri pandang ke arah Sindy, melihat wanita itu memakan es krim seperti anak kecil. Ketika sedang asyik memperhatikan Sindy, tiba-tiba wanita itu berhenti memakan es krim dan menoleh padanya. Mereka saling bersitatap, membuat Rian salah tingkah hingga menelan ludah.


“Apa di wajahku ada noda es krim?” ujar Sindy meraba sekitar mulut. Lagi-lagi bibir itu terlihat menggoda, mengganggu perhatian Rian.


“Tidak ada,” balas Rian menunduk cepat, menjilat es krim sambil bola mata bergulir ke atas mencuri pandang gadis di depannya.


“Ada kerumunan apa di sana!” seru Yuri melihat banyak orang berbondong-bondong menuju satu titik pusat acara.


“Palingan bagi-bagi barang gratis setelah melakukan apa yang mereka suruh.”


Entah kenapa Yuri tak menyukai perkataan Dimas, mungkin kekesalannya pada laki-laki itu masih berlanjut.


“Ayo kita ke sana!” kata Anna sudah berdiri dari duduknya.


Dimas membulatkan mata. “Anna kau yakin!” Gelengnya seraya menyusul gadis itu. “Aku tidak mau bersusah payah!” seru Dimas merasa mampu membeli barang apa pun dan tidak usah berlomba untuk mendapatkannya.


“Apa pun itu, kita harus menang!” Rangga sudah bertekad dibarengi dengan kepalan kedua tangan Yuri yang menyemangati.


“Cepat, kalian juga harus ikut,” imbuh Yuri.


“Memangnya harus ya,” ucap Rian malas.


Mereka baru tahu setelah melihat di atas panggung, bahwa lomba itu dikhususkan untuk para pasangan.


***

__ADS_1


__ADS_2