
Pagi-pagi sekali mobil yang dikendarai Rangga sudah terparkir di depan gedung flat. Ia ditemani Yuri bertugas untuk mengawasi pergerakkan Aldi. Sementara tiga orang lain sedang membicarakan satu cara dalam mengutarakan kebenaran tanpa harus menyakiti kedua belah pihak.
“Ini memang bukan salah Sindy, tapi karena dia sesuatu yang buruk menimpa orang tua Rian … astaga miris sekali.” Anna berbicara sendiri seraya membalik kata ‘Close’ menjadi ‘Open’ yang tertempel di pintu kaca kafenya.
Dua hari terakhir ini Anna berada di kafé lebih lama. Tempat usahanya itu serasa telah menjadi ruang pertemuannya bersama teman-teman yang sangat peduli pada masalah teman lainnya.
Eko menurunkan kursi terakhir dari atas meja. “Yang paling aku takutkan adalah perasaan Sindy, dia pasti akan merasa bersalah,” kata Eko berpikir sejenak lalu meneruskan dengan suara meragu, “Rian tidak mungkin terus berada di sisi Sindy setelah mengetahuinya, kan?”
“Jangan berpikir terlalu jauh dulu!” seru Dimas. “Anna, hari ini bisakah kau tidak pergi ke butik, kita jalan-jalan saja,” lanjutnya sambil mengelap meja malas.
“TIDAK BISA! Nanti aku akan dapat masalah!” sewot Eko.
“Kak Eko bilang tidak bisa.” Geleng Anna sebagai jawaban atas pertanyaan Dimas.
“Kenapa kau menurutinya dan kenapa memanggilnya kakak sedang aku tidak dipanggil kakak?!” protes Dimas berdesis.
Eko hanya mencibir sedikit bangga akan hal tersebut. Ternyata selama ini dia salah menilai Dimas, lelaki itu memang kaya tapi tidak memandang status dalam menjalin pertemanan. Sungguh malu kalau Eko mengingat kejadian di saat ia menghindari pertemuan dengan Dimas.
Anna memilih mengabaikan sikap kekanakkan Dimas. “Biar aku yang memberitahu Sindy pada saat kita mencoba gaun nanti,” usul Anna tak begitu yakin.
“Berarti Dimas akan menemui Rian,” sambung Eko.
“Tidak, tidak berani! Dia pasti akan sangat marah padaku, kesatu mengenai perjodohan, kedua membohonginya tentang identitas Sindy dan ketiga soal orang tuanya yang meninggal. Aku tidak bisa membayangkan betapa marah, kecewa dan sedihnya dia.”
“Kak Dimas, ayolah … pasti kau bisa menanganinya,” bujuk Anna agak merajuk.
“Barusan kau memanggilku apa?” kejut Dimas.
“Kakak, Kak Dimas.” Pipi Dimas bersemu merah.
“Isshhh,” desis Eko.
♫♫♫
Pagi yang berbeda dialami Rian dan Sindy. Di mana Rian yang bangun lebih dulu tengah memandangi wajah damai Sindy, mata terpejamnya terlihat tenang, begitu pulas. Jemari lentik Rian menyusuri setiap lekuk wajah Sindy, berhenti di bibir ranum gadisnya. Memberi kecupan ringan di permukaan merah muda itu tanpa harus mengganggu aktivitas tidur Sindy.
“Dia benar-benar tertidur pulas,” ucap Rian pelan lalu kembali mengecup bibir istrinya yang sama sekali tak melakukan pergerakkan sekecil apa pun. “Terima kasih sayang dan juga maafkan aku. Aku tidak bisa menepati janjiku untuk selalu di sisimu.
__ADS_1
Setelah mengatakannya Rian bangkit, berdiri dan melangkah keluar dari kamar. Pergi meninggalkan rumah penginapan tanpa berpamitan.
Tak lama Sindy terbangun, ia mengerjapkan mata beberapa kali dan tidak mendapati Rian di mana pun. Ia bertanya pada pemilik penginapan akan keberadaan suaminya.
“Dia baru saja pergi!”
“Dia pergi … tanpaku?” kata Sindy. “Terima kasih bu, aku juga pergi sekarang,” tambahnya bergegas keluar halaman, berlari menuju halte dengan bus yang baru saja melaju.
“Tunggu sebentar, Pak! Tolong hentikan busnya!” seru Sindy mengejar laju kendaraan.
Di dalam bus, Rian menoleh ke belakang, dapat dilihatnya Sindy yang berusaha keras berlari. Ia hendak berteriak pada supir untuk menghentikan bus namun hal itu tidak bisa dilakukannya. Dengan menyesal menunduk membiarkan mobil melaju jauh meninggalkan sosok wanita yang telah menyerah dalam usaha mengejar bus.
Sindy merogoh saku, mencari-cari ponsel genggamnya. “Ya ampun, ponselku tertinggal di penginapan!”
Sesampainya di penginapan, Sindy segera memasuki kamar dan mendapati ponsel di atas kasur yang masih belum dirapihkan. Ada satu pesan masuk. Sindy mendesah melihat tulisan ‘suamiku’ tertera, kemudian membacanya.
Maaf karena pergi lebih dulu, pihak perusahaan menghubungiku dan kau tidur pulas hingga aku tak tega membangunkanmu. Aku tahu kau pasti bisa pulang sendiri, jadi sampai bertemu di rumah.
Tangan Sindy terkulai lurus ke bawah dengan ponsel yang digenggamnya. Entah kenapa ia tidak suka dengan pesan yang baru dibacanya. “Seharusnya bangunkan saja aku, kenapa beralasan tidak tega segala! Justru lebih tega membiarkanku pulang sendiri!” keluh Sindy.
Satu nama terlintas begitu saja di pikirannya. Sindy mengangkat kembali ponsel sejajar dengan pandangannya. Melakukan panggilan cepat di nomor dua yang langsung menghubungkannya dengan sang sahabat.
Anna bergantian melihat Dimas lalu Eko. “Memangnya kau di mana?” tanya balik Anna. “Apa!? Baiklah aku akan segera ke sana. Lagi pula kita perlu pergi ke suatu tempat.”
♫♫♫
“Yuri berhenti membaca webtoon dan lihatlah, bukankah itu Rian,” kata Rangga mengalihkan perhatian Yuri dari ponsel yang sejak tadi dimainkan gadis itu.
“Sepertinya dia baru pulang,” imbuh Yuri.
Dari dalam gedung, Aldi berjalan keluar, berpapasan dengan Rian. Mereka terlibat beberapa percakapan yang tidak mampu didengar oleh Rangga maupun Yuri.
“Apa yang mereka bicarakan?” kata Rangga penasaran.
Awalnya Aldi hanya menyapa Rian. Menebak bahwa lelaki itu tidur di luar rumah. Sampai satu pertanyaan mengusik pikiran Rian yang sebenarnya sedang kalut setelah mengetahui adik dari atasannya yang akan dijodohkan dengan putra dari pemilik Amsung Group adalah Sindy Karlita, istrinya.
“Benar seharusnya kau segera meninggalkannya. Dia tidak pantas untukmu dan telah membodohimu dalam permainan menggelikan, menikah denganmu hanya untuk menghindari perjodohan dan lebih parahnya lagi, lelaki itu sahabatmu.”
__ADS_1
“Omong kosong apa yang sedang kau bicarakan?” kata Rian penuh penekanan.
“Jangan menyangkalnya lagi, kau sudah mengetahui semuanya. Gadis itu mempermainkanmu, dia membohongimu ….”
Rian meninju wajah Aldi. Dua orang yang memperhatikan di dalam mobil berseru kaget, kontan terburu keluar dari persembunyian mereka.
“Aladin! Aku mengingatmu,” seru Rian dengan wajah yang mengeras, ia meremas kerah pakaian Aldi. “Kenapa tidak memberitahuku lebih awal, apa bagimu menyenangkan melihatku hidup susah sendirian. Mempermainkanku dengan membayarkan uang sewa, mengawasi setiap gerak-gerikku ditambah membohongiku akan identitasmu, kau sama saja dengan Sindy!” lanjutnya menghempaskan sekaligus melepas cengkraman pada Aldi.
“Syukurlah kalau kau sudah mengingatku. Hanya saja aku terlalu malu untuk mengatakan bahwa kita saudara sepupu, tetapi aku berbeda dengan Sindy,” balas Aldi begitu tenang berbeda dengan lawan bicaranya yang mulai mengeram mengepalkan tangan hingga kuku-kuku menancap ke telapak tangan.
“Lebih sakit mana dengan Sindy yang membohongimu?”
~DUKK
Untuk kedua kalinya kepalan tangan itu menghantam wajah Aldi. Kemarahan yang tertahan tak mampu Rian bendung lagi, ia kecewa kenapa orang-orang terdekatnya yang telah membohonginya. Dimas … kau bahkan ikut andil dalam skenario tersebut. Bagus sekali! Sekarang ini Rian sedang membutuhkan seseorang untuk melampiaskan amarahnya.
Memukuli Aldi sampai tersungkur. Emosi Rian tak terkendali, mengingat wanita yang dicintainya telah mempermainkannya.
“Rian hentikan! Apa yang kau lakukan!”
Mungkinkah Rangga juga telah mengetahuinya. Lelaki itu mengunci pergerakkan Rian, cukup kesulitan untuk menghentikan aksi sahabatnya yang semakin menjadi. Satu tendangan terakhir mengenai perut Aldi.
Yuri membantu Aldi untuk berdiri. Dengan sedikit terhuyung Aldi mampu menopang, menyeimbangkan tubuhnya.
“Benar seharusnya kau jangan menahannya,” kata Aldi.
“Ada apa sebenarnya?” tanya Yuri hati-hati.
Rian memandang bergantian pasangan yang entah mengapa muncul di depan gedung flat sepagi ini. Ia menyingkirkan rangkulan tangan Rangga dari sekitar tubuhnya sembari berdesis.
“Kalian berdua sudah tahu bahwa Sindy adalah adik dari Pak Agung, kan?” tanpa menunggu jawaban Rian meneruskan dengan yakin, “Sepertinya kalian memang sudah mengetahuinya.”
Rian mendorong Rangga yang baru melangkah mendekatinya, kemudian berlalu memasuki pintu utama gedung flat.
“Bagaimana ini?” Rangga dan Yuri saling bertukar pandang. Secara berbarengan mendelik ke arah Aldi yang otomatis membela diri.
“Aku tidak memberitahu apa pun padanya.”
__ADS_1
“Memangnya apa yang harus kau beritahu pada Rian?” tukas Yuri menyelidik.
♫♫♫