Suddenly A Couple

Suddenly A Couple
Episode 27 : Perhatian


__ADS_3

Pagi hari yang berbeda telah dimulai sejak Rian dan Sindy bangun dari tidur nyenyak mereka. Sinar matahari masuk menyeruak ke dalam ruangan dari kaca jendela di ruang makan dan dapur tanpa sekat. Sebagai seorang istri sudah seharusnya Sindy menyiapkan sarapan untuk suaminya.


Setelah gagal dengan potongan sayur yang terlalu besar. Sindy mencoba membuat nasi omelet, ia sudah masak nasi, mengaduk telur dan sekarang memotong daun bawang untuk campuran adonan telur dadarnya.


“Yakin bisa masak?” ucap Rian meremehkan, ia baru selesai mandi.


“Aku tidak yakin,” tukas Sindy sama sekali tidak merasa tersindir. “Sayang, tolong ambilkan daun bawang,” lanjutnya sambil terus terfokus pada pekerjaannya.


“Lagi?” Rian menggerakkan kepala ragu namun tetap beranjak menuju kulkas yang terisi berbagai bahan makanan. “Yuri benar-benar membantu, pulang dari sini aku harus berterima kasih padanya.” Ia menambahkan seraya mengambil seikat daun bawang.


“Telurnya dicampur terigu tidak ya.” Bingung Sindy menimbang-nimbang antara memasukkan terigu atau tidak.


Ketika itu Rian menyodorkan daun bawang dan tak sengaja menyenggol tangan Sindy hingga terigu terjatuh pada adonan telurnya.


“YA! Kau membuat terigunya terjatuh!” seru Sindy ada sedikit nada marah.


“Tidak apa-apa, aku akan makan masakkan yang kau buat kok.”


“Benar ya, kau harus memakannya.”


Rian hanya menjawab hmm~ setelah itu bergerak maju, memeluk Sindy dari belakang. Menghirup wangi tubuhnya dan semakin mendekatkan wajah ke leher Sindy yang terbebas dari helaian rambut yang diikat.


“Jangan ganggu aku.” Sindy menggerakkan kepala karena merasa geli kemudian tertawa saat mendapat kecupan bertubi-tubi di sekitar lehernya. “Kau ini!” ia berseru seraya berbalik, tiba-tiba saja bibirnya dikecup.


“Kau cantik!” kata Rian mengangkat tubuh Sindy agar duduk di meja, menguncinya dengan tangan yang diletakkan di sisi.


“Aku tahu, jadi cepat lepaskan aku. Memangnya kau tidak lapar?”


Rian menggeleng. Dibalas hembusan napas merajuk. Detik berikutnya Sindy menangkupkan tangan di kedua belah pipi Rian, mencondongkan tubuh demi meraup bibir suaminya itu.


“Sudah, sekarang aku harus masak.”


“Sekali lagi,” pinta Rian.

__ADS_1


“Setelah kita sarapan,” tawar Sindy mengalihkan pandangan salah tingkahnya.


Segera saja Rian mengangguk-angguk antusias menyuruh agar Sindy cepat-cepat menyelesaikan masakannya. Seperti anak kecil, Sindy mencibir.


♫♫♫


Sementara itu acara sarapan di sebuah keluarga kecil berakhir heboh. Suara ponsel berdering nyaring di suasana pagi yang hening layaknya sebuah kesalahan yang tak termaafkan. Dimas bergegas mengangkat ponsel tersebut, tidak menduga bahwa wanita yang sedari bangun tidur tadi berkirim pesan dengannya akan menghubungi.


“Kakak sudah memperingatimu untuk menghargai waktu makan,” kata Dira Aditya tak mau disalahkan atas kebisingan yang terjadi. “Sungguh Pah, Mah … aku selalu mengingatkan peraturan hidup bersama di rumah!” ia sampai sibuk membela diri sebelum kedua orang yang dihormati serta diseganinya membuka mulut.


“Aku harus mengangkat telepon, ini mendesak!”


Gerak-gerik Dimas tak luput dari pandangan terganggu tiga pasang mata di sekitarnya. Suara sendok yang diletakkan di piring semakin menyulut kemarahan sang kepala keluarga. Dira sang putri sulung menggeleng melihat tingkah Dimas yang tetap saja tidak ada perubahan.


“Tidak ada sarapan satu minggu ke depan untukmu!” seru sang ayah diberi sahutan mantap dari Dimas yang mengiyakan.


“Dasar tak tahu sopan santun,” imbuh si nyonya besar sambil menepuk pelan pundak suami yang menatap jengkel kepergian Dimas.


Tanpa membersihkan dirinya lagi, Dimas langsung saja menuju mobil yang terparkir di bagasi. Menjadi sangat bersemangat karena akan bertemu dengan Anna, iya … gadis itulah yang menjadi alasan akan keonaran yang dilakukannya. Lagi pula bukan suatu masalah melewati sarapan membosankan, tak ada obrolan, tak ada suara sekecil apa pun dari alat makan.


Mobil menepi saat dilihatnya Anna berdiri nampak gelisah. Tak lama pandangannya teralihkan dan tanpa disuruh memasuki mobil dengan letih. Ini pertama kalinya seorang Dimas dibuat penasaran akan sesuatu yang mengusik pikiran. Jika saja tak memikirkan perasaan Anna, maka ia akan mengajukan pertanyaan beruntun.


“Kita sudah berkendara lebih dari lima jam dan sekarang sudah hampir sore,” kata Dimas mendapati gadis di sebelahnya menghela.


“Sebentar lagi saja,” bujuk Anna. “Aku benar-benar tidak ingin pulang,” ia kembali menghela napas berat.


“Kau masih menyimpannya?” tanya Anna menoleh ke jok belakang di mana ada dua kresek.


“Apa?” tukas Dimas masih menahan rasa ingin tahunya sebisa mungkin. Tidak, sampai gadis itu menceritakan masalahnya sendiri.


“Wine yang kita beli untuk acara pernikahan Rian dan Sindy.”


Dimas menepikan mobil di bahu jalan antara taman. Benar juga kemarin mereka membeli dua botol wine beserta satu set gelasnya yang jelas saja diomeli oleh Yuri. Buat apa kalian membeli ini … gerutunya berdecak.

__ADS_1


“Tentu saja untuk diminum!” kesal Anna akhirnya dapat menjawab perkataan Yuri. “Dia selalu berpikir semua yang dilakukannya adalah benar, tapi selalu mengkritikku,” tambahnya memberikan satu gelas pada Dimas, menuangkan air merah pekat itu setelah berhasil membuka penutupnya.


“Aku harus menyetir,” tolak Dimas.


“Kalau begitu aku juga tidak minum.” Anna meletakkan kembali gelas. “Orang tuaku bersikeras menjodohkanku, mereka tidak percaya bahwa sebenarnya Mas Agung sudah menikah, biarpun itu benar mereka akan tetap melanjutkan perjodohan demi perusahaan.”


Pada akhirnya Dimas tidak perlu menanyakan apa yang membuat Anna menghela napas seharian. Dimas hanya mengangguk mendengarkan keluh kesahnya sembari memperhatikan betapa mempesonanya kekasih tiga bulannya itu.


♫♫♫


Keseharian sebagai suami istri berjalan begitu saja, malah kebingungan tengah melanda pasangan baru yang terjebak di villa bertingkat dua. Di luar sana hujan turun begitu deras, suara petir juga sesekali mengagetkan Sindy yang tengah duduk di sofa tak bisa fokus akan acara televisi di depannya.


Diam-diam dari arah belakang Rian berniat mengagetkan, ia baru saja membuat satu cangkir coklat panas yang sekarang tengah dibawanya. DUAR~ geledeg itu benar-benar muncul berhasil mengejutkan Sindy, mengakibatkan cangkir di tangan Rian tersenggol.


“Ah, panas, panas!” pekik Sindy mengusap celana pendeknya yang baru saja terkena coklat panas.


Buru-buru Rian menghampirinya dengan panik, merasa bersalah akan apa yang menimpa istrinya. “Maafkan aku.”


Pintu kamar mandi terbuka … Sindy keluar dengan hanya memakai kaos putih sebatas paha. Dia melepaskan celana pendek dan tak mendapati penggantinya di mana pun.


Warna merah melepuh di paha kanannya menarik perhatian Rian. Ia sangat ceroboh, sesalnya berulang kali meminta maaf.


“Aku baik-baik saja,” ucap Sindy menenangkan.


Suara petir kembali menggelegar membuat Sindy berteriak sontak memeluk Rian. Seperkian detik kemudian tubuhnya terangkat, Rian mempobongnya, membaringkannya di sofa.


“Tunggu di sini,” kata Rian beranjak menuju pantry.


Sindy ingin tahu apa yang akan Rian lakukan sampai pandangannya tertuju pada baskom kecil di tangan Rian. Rian juga duduk di sofa mengangkat kedua kaki jenjang Sindy ke pangkuannya dan mulai memeras handuk kecil lalu meletakkannya di paha yang tadi terkena coklat panas.


“Kau tidak perlu melakukannya, aku sudah tidak apa-apa,” ujar Sindy meringis kesakitan saat handuk ditekan. “Ternyata masih sedikit sakit,” lanjutnya memberi sebuah kecupan ringan di pipi Rian sebagai tanda terima kasih.


“Aku selalu merepotkanmu ya.” Sindy merasa tidak enak.

__ADS_1


Rian tak menunjukkan reaksi apa pun, ia hanya fokus dengan apa yang sedang dilakukannya. “Lebih baik begitu, daripada kau merepotkan orang lain. Aku ini kan suamimu.”


♫♫♫


__ADS_2