
AGUNG menghempaskan tangan yang sedari tadi digenggamnya kuat, hingga menyisakan warna merah di pergelangan tangannya. Kemarahan lelaki itu terpatri jelas di wajah rupawannya, alis yang bertautan semakin mempertegas, memaksa penyebab munculnya emosi berlebih itu untuk berbicara membela diri. Tapi kemarahan Anna juga sama besarnya.
Siapa yang tidak kesal diperlakukan kasar oleh tunangannya, Anna sangat muak dengan hubungan antar perusahaan keluarga ini. Ia sudah lama kenal Agung sebagai kakak dari sahabatnya. Sehingga keberanian untuk melawan muncul ditambah dorongan dari perbuatan keterlaluan Agung.
“Aku ingin pernikahan kita dibatalkan!” kata Anna memutar pergelangan tangannya yang nyeri.
“Pasti ini karena kau menyukai lelaki itu, tapi bagaimana … aku bukan orang yang memutuskannya,” balas Agung terdengar sangat menyebalkan bagi Anna.
“Kenapa? Apa aku tidak boleh menyukai orang lain, sedangkan kau boleh, begitu?”
Agung menutup pintu dengan keras, membuat empat lelaki di depannya tersentak, kecuali Aryo yang hanya berjengit kecil.
“Tidak boleh,” sahut Agung berjalan semakin mendekati Anna yang otomatis mundur.
“WAH! Kau hebat sekali!” desah Anna tak percaya dengan besarnya keegoisan Agung. “Katakan pada orang tuaku bahwa kau menolak pernikahan ini. Maka aku akan menjaga rahasiamu.”
Anna semakin terpojok, punggungnya membentur tembok ketika mendapat dorongan kecil dari Agung. “Rahasia apa yang kau maksud?” ia bertanya sembari menyelipkan helaian rambut Anna ke belakang telinga.
Senyum miring menghiasi paras cantik Anna, tatapannya terlihat mengancam. Kemudian mencondongkan tubuhnya demi berbisik pelan. “Pernikahanmu yang tak diketahui dan soal kehamilan istrimu.” Anna kembali berdiri tegak ketika kedua bahunya dicengkram.
“Jangan kau pikir dengan melakukan itu, kau dapat terbebas dari perjodohan. Perusahaan ayahmu akan benar-benar hancur jika merger dibatalkan, lebih parahnya lagi dia akan dipenjara atas manipulasi saham.” Agung menghentakkan cengkramannya. “Tetap diam dan ikuti permainanku, maka keluargamu akan aman.”
“AISHH!” Anna mendengkus kasar. “Karena pernikahan kita hanya sebatas kebohongan belaka mengatasnamakan perusahaan, jadi kau jangan pernah ikut campur lagi pada apa yang aku lakukan. Maka aku pun akan melakukan hal yang sama.”
Benar juga, kenapa Agung harus semarah ini ketika mengetahui Anna sedang bersama pria lain. Maka ia mengangguk sembari mengangkat kedua tangannya sejajar dengan kepala, membiarkan Anna bergeser.
“Dan lagi berhati-hatilah pada wartawan, jangan sampai mereka mengetahuinya. Maka aku juga akan berhati-hati … aku pergi!” ujar Anna hendak menekan knop pintu sebelum akhirnya mengingat satu hal dan kembali berbalik.
“Ah, aku dengar kau menjodohkan Sindy. Cobalah pikirkan perasaan orang lain, jangan hanya memikirkan perusahaan yang tak memiliki emosi,” keluh Anna membuat Agung mengerutkan dahi, ia melanjutkan dengan hati-hati, “Kali ini putra dari perusahaan mana, jangan bilang seorang duda tua bangka yang memiliki anak.”
“Tenang saja usianya tidak jauh berbeda denganmu dan juga dia sangat … tampan.” Agung menekankan kata terakhir.
__ADS_1
“Katakan padaku siapa lelaki itu?”
♫♫♫
Suara ribut di lorong gedung mengalihkan perhatian salah satu penghuni flat. Sejak kemarin Aldi sudah menunggu kedatangan dua tetangganya dan sekarang indra pendengarnya menjadi lebih sensitif. Segera saja ia menuju pintu, membukanya dengan cepat. Benar saja Rian dan Sindy terlihat hendak memasuki satu rumah yang sama.
“Kalian dari mana saja?”
Pertanyaan itu berhasil membuat keduanya gugup. “Kita kebetulan bertemu di depan!” jawab Sindy spontan sembari berjalan ke sisi lain. “Aku akan masuk dan beristirahat,” tambahnya menekan sandi kemudian menghilang di balik pintu.
“Aku juga masuk,” tukas Rian sedikit kecewa karena harus memasuki rumahnya sendirian.
Setelah pintu tertutup kembali, Rian bergumam pelan, “Kenapa tidak bilang saja kalau kita sudah menikah.”
Sementara itu Aldi memandang penuh selidik, ada yang tidak beres, pikirnya. Pertemuannya dengan pengawal bernama Eko semakin meyakinkan keputusannya untuk segera memberitahukan kebenaran pada Rian sebelum terlambat.
“Mereka tidak boleh bersama,” kata Aldi.
♫♫♫
“Kemarin kami memukuli Dimas, dia kepergok sedang bersama dengan Nona Anna.”
“Kau bilang siapa?” Eko langsung saja tertarik untuk mendengar kelanjutannya.
Hendri menyahut, “Dimas Aditya, putra bungsu dari Grup Amsung.” Ia juga menambahkan, “Benar kau mengenalnya? Aryo bilang kalian satu kelas saat sekolah menengah.”
“Apa dia terluka parah?” tanya Eko.
Kali ini Dewo yang menjawab, “Berterima kasihlah padaku, wajah tampannya penuh luka memar. Aryo bilang kau selalu iri dengan wajahnya dan sering dibandingkan sewaktu sekolah.”
“Karena itu persahabatan kalian juga mulai renggang!” imbuh Zumi.
__ADS_1
Eko memukul kepala belakang Aryo sambil menggeram tak terima. “Aryo beraninya kau!”
“Kenapa memukulku, kau yang mengatakannya sendiri padaku!” protes Aryo bersiap menghindari pukulan lain dengan berlarian di sekeliling ruangan.
Syukurlah seseorang memasuki ruangan, memanggil keras nama atasannya. “KAK EKO!” dia adalah Anna Amelia yang datang dengan tatapan sedih.
Segera saja yang lain keluar dari ruangan setelah diberi isyarat tangan oleh Eko. Mereka tidak cukup berani untuk berada di ruangan yang sama dengan Anna. Mungkin kalau menguping sedikit ke empat pengawal itu memiliki sedikit keberanian.
“Sungguh sial!” pekik Anna sudah mengkonfirmasi kebenaran. “Jadi demi memperlebar perusahaan di bidang teknologi, Mas Agung rela menjual adiknya.”
“Aku mengantarnya untuk bertemu di kencan pertama, pantas saja mereka terlihat akrab. Lalu soal kau yang berpacaran dengan Dimas itu benar ya?” kata Eko menghela seraya bersandar di sofa kesukaannya.
Anna hanya menekuk wajahnya lesu, mengetahui bahwa Dimas sebenarnya sudah tahu identitas Sindy. “Kenapa mereka tidak memberitahuku.” Anna cukup kecewa karena Dimas dan Sindy berbohong padanya. Meski begitu ia tetap mengangguk demi menanggapi pertanyaan Eko.
“Kita sepakat untuk berkencan selama satu bulan.” Anna menghela, ucapannya cukup dimengerti oleh Eko. Selain tahu perangai Anna yang sesukanya dan juga Dimas yang terkenal playboy. “Setelah itu aku akan menghadapi kenyataan.”
Pada akhirnya Anna harus menikah dengan Agung, lagi-lagi Eko hanya bersikap biasa. “Apa kau mengetahui tetangga lelaki Sindy?” mendadak ia ingat sesuatu untuk ditanyakan.
“Rian!” jawab Anna yakin.
“Bukan, tapi Aldi … aku menangkap sesuatu yang misterius darinya. Tidak mungkinkan dia seorang detektif yang sedang menyelidiki kecurangan yang terjadi di perusahaan.”
“Bisa saja, Perusahaan Karlite itu memiliki banyak rekan sekaligus musuh di dunia bisnis. Salah satunya ingin menjatuhkan perusahaan tersebut, contohnya seperti aku!” tukas Anna.
Eko mendesis, membayangkan tempat kerjanya bangkrut dan ia tidak bisa bekerja lagi. Tunggu… lagi pula ia sudah pernah memutuskan untuk berhenti. Tapi tidak sekarang, karena rasa ingin tahunya tentang lelaki bernama Aldi itu terus mengusik pikirannya.
“Dia tidak terlihat seperti detektif.” Geleng Eko menyangsikan alasan Aldi mengenai lembaran foto yang tertempel di dinding rumahnya.
“Kalau bukan detektif, lalu siapa?” tanya Anna sambil mengeryit memikirkan beberapa kemungkinan akan identitas Aldi yang sebenarnya.
♫♫♫
__ADS_1