Suddenly A Couple

Suddenly A Couple
Episode 11 : Saling Mengenal


__ADS_3

“Mengindarimu, nggak tuh!”


Rian sedikitnya merasa lega mendengar jawaban Sindy. “Bagus kalau begitu, kau akan pergi juga?”


“Hmm, kerja paruh waktu,” balas Sindy selagi di ujung lorong sana, Aldi berbelok menuruni tangga.


“Masih bekerja di restoran siap saji di persimpangan jalan itu?” tanya Rian lagi, mengundang Sindy untuk mulai membatin akan apa yang lelaki itu ketahui tentang pekerjaan yang dilakoninya.


“Satu bulan lalu aku berhenti bekerja di sana, makanya kehabisan uang.” Sindy ragu untuk melangkah, setelah akhirnya Rian berjalan lebih dulu sembari menanggapi,


“Begitu rupanya,” ia menoleh pada Sindy yang masih terdiam. “Tunggu apa lagi, kau bisa terlambat! Ayo cepat!”


Sungguh tak dapat dipercaya, ini pertama kalinya Sindy berjalan bersama di lorong sempit selebar satu setengah meter dengan tetangga lelakinya yang ia kenal setahun lalu. Sindy sama sekali tidak pernah membayangkannya. Terasa aneh namun lebih baik. Ia juga tersenyum simpul ketika mendapati sepasang kaki melangkah selaras dengannya.


“Kau juga pergi bekerja?” Kali ini Sindy yang bertanya.


Rian mengangguk. “Aku kerja di perpustakaan dan setelahnya menjaga minimarket, selama itu pula aku akan belajar.”


Susah payah Rian memohon agar tidak dipecat oleh pemilik minimarket. Begitulah mereka saling mengenal dan sedikit mengetahui keseharian satu sama lain. Sindy mengakui kerja keras lelaki yang lebih tua tiga tahun darinya itu.


“Lalu kapan kau tidur?” Sindy tak pernah mengira Rian memiliki dua pekerjaan lebih. Sebelumnya Sindy mengetahui bahwa Rian bekerja juga di sebuah restoran makanan China.


“Mungkin sekitar jam tiga pagi, aku baru bisa tidur,” jawab Rian mempersilahkan Sindy untuk menuruni tangga lebih dulu.


Kaki terkilir Sindy menginjak tepian tangga pertama, ia berusaha menyeimbangkan tubuh saat nyaris terpeleset. Seketika itu juga kedua tangan Rian menahannya agar tidak terjatuh. Sebuah pelukan erat dari belakang telah membuat hatinya berdesir, tidak hanya itu jantungnya pun berdetak cepat. Otomatis Sindy menahan napas.


“Kau tidak hanya akan melukai kakimu saja, tapi pinggang, lengan bahkan leher bisa saja terluka,” jelas Rian tak tahu ekspresi tercengang wanita yang secara tak terduga mendapat pelukan darinya.

__ADS_1


Sindy melihat tangan kekar melingkar di sekitar pinggangnya. Tercekat lalu memekik pelan ketika dengan cerobohnya menggerakkan salah satu kaki yang masih berdiri di tepian tangga. Dalam seperkian detik kemudian tubuhnya sudah berbalik cepat menghadap Rian.


Sindy menelan saliva saat harus bersitatap, kontan tangannya menekap mulut. Bayangan akan ciuman mendadak waktu itu kembali teringat. Rian mencibir pelan, kini ia mampu melihat raut wajah menegang Sindy dengan mata bulat yang terbuka lebar, berkedip konstan dan … Rian bergegas melepas pegangan tangannya setelah dirasa posisi Sindy aman.


“Berjalan saja kau tidak becus!”


Setelah berkata seperti itu, Rian cepat-cepat menuruni tangga. Tangannya meraih dada, mengembuskan napas yang sempat ditahannya beberapa saat lalu. “Wanita itu sangat berbahaya,” gumam Rian hampir lupa bernapas saat posisinya begitu dekat dengan Sindy.


♫♫♫


Untuk kesekian kalinya Anna melihat jam tangannya, ia sudah duduk di restoran selama satu jam, dan orang yang ditunggunya belum juga datang. Menunggu sudah menjadi hal yang Anna tekuni selama dua tahun terakhir ini. Ia dituntut untuk tidak pernah bosan atau marah pada kekasihnya yang selalu mengingkari janji untuk bertemu dengannya, walaupun terkadang ia merasa kesal dan jenuh.


Hanya sebuah pesan singkat yang akhirnya berhasil membuat ia beranjak pergi dari tempat janji bertemunya. Benar kata Sindy, yang menyuruhnya agar lebih bebas menjalani hidup tanpa memikirkan ikatan sebagai tunangan seseorang. Ia harus menikmati masa mudanya selagi belum menikah.


Sesampainya di Café Wind Flower. Dua orang yang Anna kenal menyapa sembari melambaikan tangan. Raut wajahnya berubah ceria, ia buru-buru menghampiri Yuri dan Rangga.


“Sudah lama kalian tidak berkunjung ke mari!” kata Anna.


“Anna semakin cantik saja,” komentar Rangga.


Yuri berdehem. Sedang Anna tersenyum manis, mengucapkan terima kasih akan pujiannya, ia menambahkan dengan nada bercanda, “Tapi kau salah … aku ini selalu cantik.”


“Dan temanku yang cantik ini akan segera menikah,” imbuh Yuri setidaknya mengusik pikiran Anna.


Rangga menangkap mimik wajah Anna yang kaku, begitu seterusnya sampai gadis itu berlalu menyiapkan macaroon dan secangkir kopi untuk memberi jamuan pada tamunya. Pertemanan Anna dan Yuri berlangsung semenjak sekolah menengah atas, mereka sekelas bahkan pernah menjadi teman sebangku.


Merasa rencana untuk menanyakan langsung perihal Dimas terlalu blak-blakkan. Pasangan yang sangat mempercayai takdir tersebut setuju agar melakukan panggilan video call saja. Sementara dengan setengah enggan Dimas menerimanya, berjalan gontai menyeberangi jalan bersama beberapa pejalan kaki lainnya.

__ADS_1


“Lakukan panggilan biasa saja bisa tidak?! Aku malas melihat kalian yang selalu pamer keharmonisan,” ketus Dimas tanpa menunjukkan minat.


“Hei, Hei lihatlah kemari. Kami sedang berada di sebuah kafé dessert,” kata Rangga.


“Mereka juga menjual kopi dan baristanya sangat cantik!” imbuh Yuri mempertahankan layar ponsel dengan tiga orang terekam di dalamnya.


Mata Dimas melirik malas, dengan tetap memperhatikan jalannya. Detik berikutnya ia memusatkan perhatian pada layar ponsel. Memastikan siapa wanita yang baru saja dilihatnya, tengah berada di balik konter kasir, tampak serius menyiapkan kopi. Lampu jalan berubah warna menjadi hijau untuk kendaraan. Dimas terlambat menuju seberang jalan karena terpaku dengan layar ponselnya.


“Bukankah dia!” Klakson mobil saling menyahut, Dimas tetap diam di tempat selagi mobil membelok melewatinya. “Kalian berada di mana?” tambah Dimas melanjutkan perjalanan, tak memperdulikan seruan pengemudi yang mengomelinya karena menyeberang sembarangan.


♫♫♫


Di kafénya, Anna yang tengah asyik mengobrol dengan Yuri dan Rangga diberitahu bahwa ponselnya berdering. Anna pun pamit untuk mengangkatnya, bergegas ke area kasir. Melihat nama ‘Agung’ tertera mendadak ia panik, biasanya lelaki gila kerja itu hanya meneleponnya jika akan membatalkan janji saja, dan beberapa waktu lalu dia baru mendapatkan pesan singkat pembatalan tersebut.


Dari arah pantry Sindy keluar mengenakan celemek pegawai bertuliskan logo kafé, berbisik pelan menanyakan siapa yang menelepon.


“Kakakmu,” jawab Anna sebelum menyapa si penelepon di seberang sana.


Sementara Sindy mengunci rapat mulut, sebisa mungkin tidak membuat suara, bahkan mengabaikan pelanggan yang hendak memesan. Hingga menyuruh pegawai lain untuk menggantikannya.


Tepat di luar sana Dimas memastikan bahwa bangunan di depannya ini benar bernama ‘Wind Flower’. Pandangannya mendapati Yuri dan Rangga yang juga tertuju padanya, tanpa pikir panjang ia masuk, mengedarkan penglihatan ke seluruh ruangan. Hanya butuh waktu lima detik untuknya mengulum senyum cerah, ketika akhirnya melihat Anna sedang mengobrol melalui ponsel genggam.


“Sindy?” Namun Dimas mendapati gadis lain yang dikenalnya. “Bukankah dia tetangganya Rian, Sindy?” ulangnya memastikan.


“Pantas saja sedari tadi aku berpikir wajahnya tidak asing!” sahut Rangga seperti baru menemukan jawaban matematika tersulit.


Yuri menangkupkan tangan. Yakin betul bahwa Anna yang dimaksud Dimas adalah temannya, sampai membayangkan kehadiran Rian di sisi Sindy, dan nanti mereka bisa melakukan kencan ganda. Pasti menyenangkan sekali, batin Yuri. Sebuah ide pun muncul begitu saja ….

__ADS_1


“Bagaimana kalau kita comblangkan Rian dengan Sindy,” usul Yuri semangat. Ia memang sangat ingin melakukan kencan ganda.


♫♫♫


__ADS_2