
Taman Karlite. Menjadi tempat kencan terakhir bagi Rian dan Sindy yang sedang kasmaran di hari jadi mereka sebagai pasangan suami istri. Di mana mereka dapat melihat air mancur besar sambil berbagi cerita. Mereka terlihat lebih akrab dari biasanya, bahkan lengan Rian merangkul pundak Sindy. Sebelumnya ia tidak pernah sedekat ini dengan wanita, bahkan dengan ibunya sekali pun yang telah lama meninggal.
Ia adalah seorang yatim piatu, pernah tinggal di panti asuhan dan mendapat perlakuan tak senonoh dari pengasuhnya. Dari situlah ia mulai menjaga jarak, sebelum kehadiran Yuri yang merupakan kekasih dari Rangga. Menjadi teman wanita pertamanya yang menyenangkan, pikiran itu sempat terlupakan dan mulai menerima pertemanan. Tangan Rian beralih memegang erat kedua bahu Sindy, ada sedikit perasaan ingin memberontak dalam dirinya.
“Aku ingin menyembuhkan luka lama ini,” kata Rian sama sekali tak dimengerti oleh pendengarnya.
“Luka apa?” tanya Sindy agak malas karena selalu tak paham dengan maksud perkataan Rian.
Tak ada yang tahu bahwa Rian sebenarnya memiliki trauma terhadap sentuhan fisik. Alasan waktu ia mencium Sindy pertama kali secara mendadak, ialah demi menguji dirinya sendiri terhadap reaksi trauma tersebut. Seterusnya gadis itu selalu muncul dan terlibat kontak fisik dengan hampir saja terjatuh dari tangga, menggendong bahkan memeluk.
Rian mendorong lembut tubuh Sindy hingga bersandar di dahan pohon palem. Ia sempat terdiam, menatap lekat-lekat wajah Sindy yang tampak cantik meski di sekitar kurang pencahayaan. Sindy menebak apa yang akan dilakukan Rian, ia cukup peka mengingat usaha Rian di kereta gantung dalam mengawali skinship.
Kecupan ringan dilayangkan Sindy di bibir Rian yang agak terbuka. Kemudian dalam hitungan detik saja bibir keduanya kembali bertemu. Kedua tangan besar milik Rian bergerak otomatis menuju tengkuk, memberi kehangatan di hari yang semakin dingin. Mereka saling menyalurkan perasaan, memperdalam ciuman seiring dengan berpijarnya kembang api di pusat taman yang menambah suasana romatis.
♫♫♫
Rian menutup kembali pintu flat, dilihatnya Sindy yang leluasa menuju kamarnya.
“Aku rasa, aku sudah sembuh sekarang,” tutur Rian menyelipkan helaian rambut Sindy ke telinga.
“Memangnya kau sakit apa?” Pertanyaan Sindy tak dijawab. Ia malah dibuat bergidik ketika Rian meniup lehernya. “Ya! Hentikan, geli!” perintahnya diikuti tawa renyah.
“Tidak mau.”
“Tidak akan semudah itu!” kata Sindy seraya mendorong Rian, ia berlari berpikir akan mempermainkan lelaki itu dan melakukan balas dendamnya. “Sekarang aku yang akan membuat perasaanmu campur aduk.”
“Jangan seperti anak kecil, Sindy!” Meski begitu Rian tetap mengejar Sindy dengan berjalan cepat.
“Kau baru saja menyebutkan namaku, benar, namaku Sindy. Bukan hei, ya atau kau … Aku kira kau tidak ingat namaku. Syukurlah,” cerocos Sindy tak sadar bahwa ia sudah berada dekat dengan dinding. “Haha, kemarilah.” Ia tertawa kaku setelah bersandar, menunduk seraya menarik kedua sudut bibir kemudian tersenyum.
Dengan santainya Rian menghampiri sembari melepas sweater, melemparnya dan bergegas memeluk Sindy.
__ADS_1
“Sindy, Sindy! Kau di dalam!” Seketika itu juga Rian tersentak, suara itu kembali terdengar, “Jawab aku kalau kau ada di dalam! Sindy!”
Tanpa sadar Rian maupun Sindy berdesis nampak kecewa, mereka hendak mengabaikan teriakan dari wanita gila di luar sana. Namun pintu yang digedor, mengakibatkan penghuni lain berteriak marah.
“Anna,” desis Rian.
♫♫♫
“Kenapa kau keluar dari sana?!” tanya Anna keheranan.
“Aku bertukar tempat tinggal bersama Rian, setelah ketahuan oleh Kak Eko,” ujar Sindy cepat.
“Dia mengizinkannya?” tanya Anna lagi. Sindy mengiyakan. “Aneh sekali, kalau begitu ayo kita masuk! Ada banyak cerita yang akan aku ceritakan … mungkin kita harus bergadang untuk membicarakannya.”
“APA! Tunggu dulu, Anna!” sembur Sindy seolah memberi isyarat pada orang di dalam sana untuk secepatnya bersembunyi.
Rian buru-buru menyambar kemeja yang tergeletak di lantai dekat ranjang, terlihat panik dengan wajah kebingungan. Dia pun masuk ke dalam lemari, menggeser pintu lemari bertepatan dengan Anna yang telah masuk diikuti Sindy yang mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan.
“Oh, pasti milik Rian, inikan rumahnya,” pekik Sindy merebutnya segera menambahkan, “Sini biar aku yang taruh.”
Anna memang tidak bisa di tebak, siapa yang menduga kalau gadis itu ingin mengobrol semalaman dan berniat menginap. Secara alami namun terasa mengkhawatirkan bagi Sindy harus membiarkan Anna memasuki kamar.
“Auh! Berantakan sekali!” pekik Anna.
“Itu karena aku belum sempat membereskannya.” Kenapa juga Sindy harus segugup ini, toh ia tidak melakukan kesalahan apa pun kecuali belum sempat memberitahu bahwa sebenarnya ia telah menikah.
Bola mata Sindy bergerak takut-takut mencari kiranya di mana Rian bersembunyi selagi Anna menghempaskan pantat di sisi ranjang.
“Aku dengar kau dijodohkan dengan lelaki dari keluarga kaya?”
Pertanyaan itu semakin membuat Sindy tak enak perasaan, jangan sampai Rian mendengarnya. Posisi Sindy benar-benar tak menguntungkan, ia harus memilih antara memberitahu keberadaan Rian sekarang atau membiarkan lelaki yang baru menjadi suaminya mengetahui bahwa ia berasal dari keluarga kaya.
__ADS_1
Kacau, kacau… jerit Sindy dalam hati.
“Ada apa dengan ekspresimu itu?” Anna mengerutkan dahi.
“Sebaiknya kita bicara di luar saja,” bujuk Sindy menarik paksa Anna turun dari ranjangnya. “Anna … ayo cepat.”
“Kita bicara di sini saja.” Anna yang sudah diseret keluar dari kamar bersikukuh.
Setelah pintu dibukakan oleh Sindy, Anna tetap menolak keluar. “Kau dijodohkan dengan siapa? Lelaki tua yang memiliki banyak uang dan properti? Atau seorang duda kaya? Jawab aku!” desak Anna.
♫♫♫
Dimas berhenti mengetuk pintu. Ia tidak mendapati Rian yang ada hanya dua wanita yang dikenalnya dan mereka tengah mengungkit sebuah perjodohan yang melibatkannya.
“Rian?” singkat Dimas yang memang ingin bertemu dengan sahabatnya.
Senyum Anna merekah, penampilannya memang terlihat agak berbeda dari biasanya. Anna yang terlihat elegan dan rapih bahkan bisa berantakan. “Rian tinggal di sana,” jawab Anna menunjuk pintu di seberang. “Mereka bertukar tempat tinggal.” Ia meneruskan dengan memandangi Dimas penuh minat.
“Sepertinya dia mabuk,” komentar Dimas.
“Tidak, dia terlalu banyak meminum cola dan itu pasti gara-gara pertemuan tak mengenakannya bersama Kak Agung,” sanggah dan jelas Sindy dengan sangat pelan.
“Kenapa kau tahu, aku baru saja melihat Mas Agung bersama istrinya, Tiffany,” tukas Anna membuat Sindy dan Dimas saling tatap bingung. “Jadi dia juga mencoba menjodohkanmu, aku kasihan pada lelaki yang dijodohkan denganmu,” lanjut Anna diikuti sendawa.
“Berapa banyak cola yang kau minum,” kata Sindy menutup hidungnya.
“Katakan padaku, kau dijodohkan dengan siapa!? Aku tidak mabuk jadi jangan pegangi aku!” bentak Anna.
“Siapa yang dijodohkan?” Terdengar suara dari belakang, Dimas segera mengenali Rian yang berdiri dengan mengenakan kemeja putih sementara Sindy merutuki apa yang sedang terjadi.
Dalam kesadaran penuhnya, Anna berbalik mendapati keberadaan Rian di dalam rumah. “Kenapa dia ada di sini?” ia bertanya pada Sindy. “Bukankah tadi kau bilang, kalian bertukar rumah?”
__ADS_1
♫♫♫