
Restoran yang tak cukup ramai, yang salah satu pengunjungnya adalah Rian dan teman kencannyaᅳVictoria Song. Gadis yang berprofesi sebagai model itu ternyata cukup populer, satu per satu orang-orang yang mengenalnya datang, dalam hitungan menit sudah menjadi kerumunan, terlebih setelah iklan yang dibintangi Victoria tampil di layar kaca beberapa hari lalu.
Menjadi sampul majalah saja sudah membuatnya menarik perhatian, apalagi muncul di berbagai stasiun televisi. Rian terlihat tidak nyaman dengan keadaan yang sedang dia alami. Di luar restoran tepatnya di dalam mobil yang terparkir di depan restoran. Rangga, Dimas dan Yuri tengah asyik mengobrol, tanpa tahu apa yang terjadi pada kencan teman mereka.
“Dimas apa kau tidak pernah berpikir wanita yang kencan denganmu adalah takdirmu?” tanya Rangga yang duduk di sebelah kemudi, itu berarti di sebelah Yuri, karena kekasihnya itulah yang mengendarai mengantarkan Victoria untuk bertemu dengan Rian.
Diberi pertanyaan seperti itu membuat Dimas bingung, selama ini ia hanya menganggap wanita yang bersamanya adalah teman tak lebih dari itu. Kekasih hanya sebuah status baginya, tak ada rasa spesial terhadap wanita-wanita yang pernah kencan dengannya.
“Pasti kau tahu bagaimana aku dan Rangga bertemu, dari situ kami sudah menganggap pertemuan kami adalah takdir, sampai bisa berhubungan selama ini,” ujar Yuri sambil mengingatnya.
Dimas selalu dibuat jengah dengan pasangan yang satu ini, karena mereka selalu menuntutnya untuk menemukan takdir cintanya, jangan malah mempermainkan banyak wanita.
“Aku tahu sampai aku bosan mendengarkan ceritanya dari Rangga, menurut kalian aku lebih menyukai siapa? Jessica atau Krysti?”
Kini pasangan yang selalu bangga akan takdirnya itu saling menatap heran akan pertanyaan Dimas. Kemudian dengan kompak berdecak. “Dasar gila, kau mengencani kakak adik itu,” tukas Yuri.
Kini Rangga dan Yuri berbalik melihat ke arah Dimas yang duduk di jok belakang. “Tanyakan saja pada hatimu,” kata mereka serempak lalu kembali memandang ke depan, membiarkan Dimas kebingungan sendiri akan pertanyaannya.
Ketika sedang bingung seperti itu seseorang malah mengagetkannya dengan tiba-tiba masuk dan duduk di sebelahnya. Sontak Dimas pun terlonjak, ia melihat Rian menekuk wajah tampak kesal.
“Aish, kau ini mengagetkanku saja!” sungut Dimas memegangi dada saking terkejutnya.
Mendengar Dimas berbicara seperti itu Rangga dan Yuri menoleh ke belakang, mereka sama terkejutnya ketika melihat Rian yang sudah berada di mobil. Rangga dan Yuri heran, kenapa wajah Rian selalu terlihat kesal.
“Apa kencannya sudah selesai? Secepat ini?” tanya Rangga sambil berpikir.
“Apa yang terjadi? Apa kau meninggalkan Victoria?” imbuh Yuri.
♫♫♫
Dua puluh menit lalu,
Rian merasa tidak nyaman berada di antara kerumunan penggemar Victoria. Bagaimana bisa Rangga dan Yuri mengusulkannya berkencan dengan seorang model terkenal, apa mereka ingin dirinya terlibat skandal. Namun tak disangka Victoria berkata kalau ia sedang bersama seorang teman dan segera pamit undur diri sambil menarik Rian pergi menuju salah satu ruangan yang lebih tertutup di restoran.
__ADS_1
Selesai mencatat pesanan, sang pelayan keluar dari ruangan setelah tersenyum ramah pada tamu VIP-nya. Victoria bilang ia sudah sering ke restoran ini, makanannya enak, terlebih memiliki ruang pribadi untuk menghabiskan makan romantis.
“Namamu Rian Efendi?” kata Victoria bergeser agar lebih dekat dengan Rian.
“Iya,” jawab Rian merasa canggung.
Victoria menyilangkan kaki, rok mini pendeknya terangkat lebih tinggi memperlihatkan paha putih mulusnya. Ia meraih tangan Rian, mengelusnya pelan sembari menempelkan sisi tubuhnya pada Rian.
“Kau tampan, tampak berkelas.” Victoria membawa tangan Rian ke pahanya.
Apa-apaan ini? Rian tercekat, tidak heran lagi dengan kelakuan wanita penggoda yang sering Dimas bicarakan.
“Kenapa kau tegang sekali, baru pertama berhadapan dengan wanita secantikku ya,” kata Victoria terkekeh kecil yang lalu menuntun tangan Rian menjadi meremas pahanya.
Rian buru-buru menarik tangannya. “Kau cantik, tetapi bukan tipeku.”
“Yang benar saja!” Victoria mencondongkan tubuhnya pada Rian, nyaris menindih laki-laki itu. “Kalau kau temannya Rangga dan Dimas berarti keluargamu memiliki perusahaan, bergerak di bidang apa?”
Jadi itu alasan Victoria mendekati Rian. Apa selama ini ia menjadi model dengan sokongan dari orang-orang kaya?
♫♫♫
“Dia yang mengabaikanku dengan penggemarnya itu! aku tidak bisa melanjutkannya, ayo kita pulang saja!” kata Rian terdengar agak kesal, memutuskan untuk tidak memberitahu apa yang terjadi sebenarnya.
Dimas menatapnya datar, ia menyesalkan kenapa harus datang membantu Rian.
“Aku sudah membantumu menata rambut agar terlihat keren, jika begitu usahaku sia-sia,” keluh Dimas.
“Kalau begitu wanita itu tidak menyukaiku apa adanya, lagipula aku tidak suka rambut seperti ini. Aku lebih suka menutupi dahi, seperti ini!” Rian segera merapihkan rambut yang sedikit dibuat rancung dengan kasar.
Rangga dan Yuri mengangguk-angguk mengerti, mereka baru menyadari restoran yang semakin ramai.
“Kau membuatku malu saja, kasihan Victoria, dia sudah meluangkan waktu untukmu. Apa yang harus aku katakan padanya? Teman kencannya menghilang di antara kerumunan fans.” Yuri terlihat memikirkan sesuatu tentang apa yang akan ia katakan pada Victoria nantinya. Ia yang tadinya antusias kini sedikit murung, dengan mengalihkan pandangannya ke depan mobil.
__ADS_1
Tangan Rangga membelai lembut rambut Yuri, ia juga sudah merubah posisi tubuhnya kembali lurus memandang jalan di depannya. “Tenang saja, aku akan membantumu menjelaskannya pada Victoria,” ucap Rangga yang disambut dercakkan dari kedua sahabatnya.
“Sebaiknya kalian berhenti mengumbar keharmonisan hubungan kalian dan cepat jalankan mobilnya!” perintah Dimas sedikit iri dengan pasangan yang berada di jok depan.
Lagi-lagi Rangga dan Yuri berbalik kompak, “Sebaiknya kalian yang keluar, karena kami ada jadwal kencan hari ini!” kata Rangga sebagai pengusiran. Yuri tersenyum mengiyakan.
“Keluar dari mobil sekarang!” Yuri memperjelas.
Rian dan Dimas menatap kepergian mobil yang sesaat lalu mereka tumpangi. Semakin jauh mobil itu, semakin mereka menghela napas. Tiba-tiba sebuah mobil berhenti tepat di tempat mereka berdiri. Jendela mobil terbuka, memperlihatkan siapa pengendara mobil tersebut.
“Tania!” seru Dimas seperti mendapatkan lotre yang tak terduga.
“Apa kau butuh tumpangan?” ucap ramah wanita yang Dimas kenal.
Wanita itu adalah anak dari teman ayahnya yang sempat dijodohkan dengannya. Karena Tania yang menginginkan hidup bebas tanpa kekangan orang tuanya, ia nekat melarikan diri dari rumah bersama kekasihnya, Juan. Sehingga perjodohan dibatalkan, tetapi kedua keluarga masih tetap akrab. Tania sendiri sudah menganggap Dimas seperti adiknya, walaupun usianya lebih muda.
Berkat kerja sama Dimas yang juga ikut andil dalam usaha menggagalkan perjodohan dengan bersikap kekanakkan, membuatnya diberi julukan adik baik oleh Tania dan mereka menjalin hubungan akrab sampai sekarang.
“Kakak wanitaku yang terbaik!” Dimas berujar manja setelah duduk di jok dekat pengemudi. “Apa hari ini kau tidak kencan dengan Kak Juan?” Dimas bertanya selagi Rian memandang kesal di sisi trotoar, merasa diabaikan, padahal ia sendiri sering mengabaikan orang lain.
“Nanti malam rencananya kita akan berkencan, apa temanmu itu tidak kau ajak?” Kini giliran Tania yang bertanya sambil melirik ke arah Rian yang tak bergeming dari tempatnya berdiri.
Dimas juga ikut melihat ke arah Rian. Meski tak terlalu memperlihatkan keinginannya, Rian tetap berharap Dimas mengajaknya juga. “Tidak usah, rumahnya dekat dari sini. Ayo kita cari tempat makan dulu, aku lapar,” kata Dimas mampu membuat wajah Rian mengeras menahan marah.
Tania mengerti, ia lalu menyunggingkan senyum pada Rian sebelum melajukan mobil sport kuningnya. Dimas juga tersenyum tanpa dosa sambil berpamitan pada sahabatnya itu, “Rian, aku duluan! Cepatlah cari kekasih yang bisa kau ajak mengobrol!” sindir Dimas membuat Rian semakin jengah.
“Dasar ikan menyebalkan!” desis Rian.
“Apa di sini tidak ada kendaran umum!” gerutunya mulai berjalan malas. “Apa gunanya memiliki kekasih?” ucap remeh Rian, di sekitarnya ada beberapa pasangan yang sedang berjalan bergandengan tangan.
Di wajah mereka terpancar kebahagiaan, membuat Rian menciut dan ingin mencoba untuk memiliki kekasih. Mendadak ia teringat permintaan Sindy untuk membantunya membereskan rumah, membasmi serangga yang gadis itu bilang menjijikkan.
“Baiklah karena acara kencan tidak berjalan lancar, aku bisa membantunya.”
__ADS_1
♫♫♫