
Pasalnya ini bukan pertama kalinya Sindy menyelinap ke rumah Rian. “Sedang apa kau di sini?” tanya Rian menatap tak suka.
Sindy malah mengedarkan pandangannya ke sekitar dapur, ia berpikir kalau sudah ketahuan seperti ini mau apalagi selain melanjutkan tujuannya masuk ke rumah tetangganya itu. Sekitar lima bulan lalu, Sindy tidak sengaja melihat sandi kunci pintu flat Rian, ia terpaksa menerobos masuk dan mengambil bahan makanan karena kehabisan uang.
“Aku tanya kau sedang apa di sini? Cepat keluar!” usir Rian agak meninggikan suaranya.
Sindy beralih melihat sang pemilik rumah. “Aku lapar, bisakah kau memberikanku sedikit makanan?” ujarnya dengan alasan yang sama setelah lima bulan berlalu, ia benar-benar tidak memiliki uang untuk membeli makan, meski sudah ditahan perutnya terus meronta minta diisi.
“Keluarlah, di sini tidak ada makanan.” Rian berniat untuk membukakan pintu. Tapi Sindy malah masuk ke kamar Rian, membuat laki-laki itu segera berlari mengejarnya.
Wanita yang telah Rian kenal selama satu tahun terakhir ini benar-benar tidak tahu malu.
“Apa benar tidak ada makanan?” tanya Sindy sambil membuka lemari pakaian, siapa tahu Rian menyembunyikan makanan instan di dalamnya.
“Jangan dibuka,” kata Rian mengikuti setiap pergerakkan Sindy.
Rambut panjang yang Sindy kuncir kuda mengayun hingga mengenai wajah Rian.
“Celana dalam!” pekik Sindy segera menutup kembali laci.
Rian menarik paksa Sindy agar keluar dari kamarnya. Sebisa mungkin menahan emosi ketika Sindy memberontak, melepaskan cengkraman tangannya dan melompat ke kasur.
“Aku akan tidur di sini, kalau kau tidak memberiku makan.”
“Baiklah, kita tidur bersama.”
“Apa?!”
Rian mendekat dan Sindy buru-buru menarik asal selimut yang terlipat di ujung ranjang. Harusnya bukan begini. Sindy hanya ingin makan, sekarang ini ia terlalu miskin hingga tidak bisa membeli sesuatu untuk menghilangkan rasa laparnya.
__ADS_1
“Jangan mendekat!” seru Sindy memperingati.
Tampang laki-laki yang kini sudah menekuk lutut di tepi kasur tampak seperti orang baik, makanya ia selalu merecoki dengan meminta bantuan, termasuk meminta sesuap nasi. Mungkin saja Rian sebenarnya merasa muak padanya dan memendam kebencian yang teramat dalam.
“Cepat bangun, kau menindih buku tugasku.” Tak disangka Rian mendorong Sindy ke samping, mengambil dokumen berisi angka-angka rumit dalam tabel.
“Maaf,” sesal Sindy kemudian beranjak turun dari kasur. “Aku kira kau akan melakukan sesuatu padaku.”
Rian menghela napas, ia selalu tak bisa lebih kasar pada wanita walau terkadang ingat akan sikap kasar ibu asuhnya sewaktu di panti asuhan dulu. Itulah salah satu yang menjadi alasannya untuk tidak terlalu dekat dengan wanita. Tapi kali ini berbeda, ia tak bisa sepenuhnya menjauhi wanita yang selalu mendekatinya dengan cara aneh.
Sekarang pun ia telah membawakan semangkuk mie untuk wanita itu. Ketika melihat makanan di tangan Rian, Sindy langsung mengambil alih, lalu segera memakannya. Entah mengapa Rian merasa senang jika melihat wanita di hadapannya ini makan dengan lahap, bahkan tanpa sadar sudut bibirnya terangkat, mengulas senyum tipis.
“Panas, panas,” ujar Sindy tidak jadi menyeruput mie, meniupnya sebentar lalu memakannya dengan bersuara khas, seperti sedang syuting iklan.
Ketika bersama Sindy, rasa takut Rian terhadap wanita menguap, meski begitu ia masih belum bisa memulai sebuah hubungan. Tanpa sadar menciptakan jarak yang menurutnya aman sebagai perlindungan diri. Namun tadi siang ia telah menerima tawaran kencan buta dari Rangga.
“Aku benar-benar tidak punya uang, makanya aku menyelinap ke rumahmu. Kau tenang saja, nanti aku akan membayarnya. Aku yakin kau merasa terganggu dengan kehadiranku,” kata Sindy setidaknya mengetahui situasi. “Tapi tahan sebentar lagi, kali ini aku menemukan pekerjaan yang cocok untukku.”
Sindy manggut-manggut tanda mengerti. “Kalau begitu kau pergi tidur saja, aku akan menghabiskannya di sini, di rumahku itu sangat menyeramkan selalu ada binatang-binatang menjijikkan,” jelas Sindy panjang lebar terkesan tak peduli akan tempat tinggalnya. “Akh, bisakah kau membantuku membasmi binatang-binatang itu?”
Pandangan tajam Rian berhasil membuat Sindy tersedak, ia kembali melanjutkan setelah meneguk air putih, “Tidak sekarang … Besok.”
“Tidak bisa, cepat pulanglah, akan sangat tidak baik jika seorang wanita berada di rumah pria selarut ini.” Lagi-lagi Rian menginginkan Sindy untuk cepat keluar dari rumahnya.
Sindy menyeruput kuah mie terakhirnya, lalu ia segera menaruh kembali mangkuk di atas meja. “Baiklah, baiklah, aku mengerti, jika kau tidak ingin membantuku aku akan meminta bantuan Aldi saja! Sepertinya kau mulai bosan membantuku.” Sindy berdiri dari duduknya. “Aku pergi, terima kasih untuk mienya!” seru Sindy sambil berlalu menuju pintu.
“Minta saja bantuannya, kenapa harus memberitahuku,” gumam Rian memandang punggung Sindy yang semakin menjauh, sampai menghilang di balik pintu. “Aish, sudah makan gratis tidak mencuci mangkuk lagi!”
♫♫♫
__ADS_1
Seperti biasa Dimas sedang jalan-jalan dengan seorang wanita, kali ini tanpa sepengetahuan Jessica yang merupakan pacarnya saat ini. Ia pergi berkencan dengan Krysti. Wanita imut yang lebih muda dari Jessica. Dengan santai ia merangkul Krysti di tengah kerumunan orang-orang banyak yang sedang berkencan di taman tak jauh dari kampus.
“Kak Dimas, ayo kita duduk di sana,” ajak Krysti menunjuk bangku kosong yang berada tepat di bawah pohon rindang.
Dengan cepat Dimas menuruti permintaan wanitanya itu. Ia tersenyum seraya menggenggam tangan Krysti, lalu mengayun-ayunkannya. Dengan manja Krysti menaruh kepalanya di bahu Dimas, sementara tangan Dimas membelai rambut Krysti lembut. Tanpa mereka sadari sejak tadi ada yang memperhatikan mereka, wanita itu tersenyum kecut melihat keduanya.
Ponsel Dimas berdering, menandakan ada panggilan masuk. Krysti mengangkat kepalanya dan Dimas tersenyum simpul sambil melihat nama yang tertera di layar ponsel, ia segera mengangkat panggilan dari Rangga.
“Ada apa kau meneleponku?” tanya Dimas sedikitnya merasa terganggu. “Masa seperti itu saja dia tidak bisa sih, akh seharusnya dia belajar dariku,” keluh Dimas menanggapi perkataan Rangga yang tidak dapat Krysti dengar.
“Baiklah, aku akan ke sana,” lanjutnya mengakhiri percakapan dan memutus panggilan.
Dimas beralih menatap Krysti, yang ditatap berekspresi manja. Krysti enggan berpisah dengan Dimas secepat ini.
“Aku harus pergi.” Sekali kerlingan mata dari Dimas membuat Krysti meleleh yang lalu mengangguk membiarkan kekasihnya itu pergi.
Sebelum pergi Dimas tak lupa memberikan kecupan di kening Krysti. Sedangkan wanita yang masih bersembunyi di balik pohon yang tengah mengawasi tampak mengepalkan tangan, menatap geram.
Beberapa menit setelah Dimas pergi. Krysti berniat pergi juga, tapi ada seorang wanita yang menghadangnya. Mereka saling tatap, sepertinya sudah mengenal satu sama lain. Krysti tersenyum ramah pada wanita yang ia ketahui sebagai kekasih Dimas selain dirinya.
“Halo, Kak Jessica,” sapa Krysti kikuk.
Jessica yang sejak tadi bersembunyi di balik pohon, kini memperlihatkan dirinya di hadapan Krysti, adiknya itu semakin menundukkan kepala takut. Jessica tersenyum meremehkan sekaligus merasa kesal.
“Apa kau memang seramah ini, bahkan setelah kau ketahuan berselingkuh dengen kekasih kakakmu sendiri,” sindir Jessica semakin mendekati sosok Krysti.
“Bukan aku yang berselingkuh, tapi dia yang berselingkuh darimu, jadi kau jangan menyalahkanku. Tanyakan saja pada Kak Dimas, dia lebih mencintai siapa di antara kita?” dengan bangganya Krysti yakin bahwa Dimas lebih memilihnya ketimbang sang kakak.
“Jadi kau menantangku? Baiklah, nanti malam aku tunggu kau di kafe dekat kampus,” putus Jessica, lalu berbalik meninggalkan Krysti yang menghela sambil menggerutu kenapa kakaknya itu harus memergokinya bersama Dimas.
__ADS_1
♫♫♫