Suddenly A Couple

Suddenly A Couple
Episode 14 : Bertindak


__ADS_3

Sesampainya di Café Wind Flower yang kemarin malam gagal dikunjungi Rianᅳkarena ia bertemu dengan Sindy. Sampai mendapat telepon bahwa ketiga temannya itu telah pergi dan menyuruhnya supaya langsung menuju tempat kerja saja. Walau saat itu Rian sangat kesal, ia tetap tidak bisa marah terlalu lama.


Dengan semangat Dimas memasuki kafé disambut oleh pekerja yang tengah membawa nampan berisi beberapa piring dan gelas bekas pengunjung.


“Uh, Sindy kau kerja bagian siang?”


Siapa yang peduli dengan pertanyaan Dimas, di saat pertemuan tak terhindarkan terjadi. Padahal tadi pagi Sindy berhasil menghindari Rian dengan berpura tak melihat laki-laki itu yang juga baru keluar dari rumah dengan sekantong sampah. Sindy melangkah cepat membuat jarak sekitar dua meter di depan Rian, hingga suara Aldi terdengar mengatakan akan membuang sampah juga.


“Hello!” Dimas mengibaskan tangan, merasa kehadirannya tidak dianggap.


“Silahkan pilih tempat duduk sesuka kalian.” Sindy menekankan setiap kata sembari pandangan kaku tertuju pada Rian dan tetap mengangkat kepala, semakin mengharuskan Sindy menelan semua rasa malu.


“Sesuatu telah terjadi pada kalian?” tanya Dimas setelah menangkap suasana canggung beberapa saat lalu, ia mengikuti ke mana langkah Rian. “Ceritakan padaku!” desaknya menghempaskan pantat sambil terus memandang penuh minat.


“Kenapa tidak bilang kalau dia bekerja di sini,” ucap Rian datar.


“Apa Rangga dan Yuri tidak bercerita padamu?” Dimas balik tanya, ia melihat Anna keluar dari arah pintu yang terhubung dengan dapur kafe. “Oh itu dia!”


Rian mengikuti arah pandang Dimas, tentu ia mengenali wanita itu, mereka pernah bertemu di rumah Sindy.


“Haruskah aku minta maaf padanya?” ucap Sindy pelan, setelah mendekati Anna yang segera saja mengedarkan pandangan mencari orang yang dimaksud di antara para pengunjung.


Anna malah melambaikan tangan untuk menyapa, “Eh, ada Rian!”


Mengundang perhatian Dimas yang salah menduga sapaan tersebut ditujukan padanya. “Kau mengenalnya? Kok bisa?” tanya Dimas dibalas anggukkan. “Kenalkan aku padanya, buat senatural mungkin.” Ia melanjutkan selagi Anna menghampiri mereka.


Di konter kasir, Sindy berpikir keras akan apa yang harus dikatakannya nanti pada Rian. Karena pastilah Anna telah menyiapkan waktu dan ruang agar dirinya bisa meluruskan kesalahpahaman. Tetapi sebenarnya di sini memang Sindy yang salah, menampar seseorang hanya karena pikiran kotornya.


“Hai!” Terdengar sebuah sapaan yang ditujukan pada Anna. Wanita itu sumringah mengalihkan pandangan pada sumber suara.


“Kenalkan dia..-“

__ADS_1


“Pria playboy, Dimas!” potong Anna.


“Kau masih ingat aku?” kata Dimas dengan mata berbinar. Keberadaan Rian seolah tak berarti. “Apa tidak ada julukan yang lebih bagus,” ucap Dimas agak malu dengan panggilan playboy, ia juga mendadak gugup.


Tanpa meminta izin, Anna sudah duduk di salah satu kursi, berhadapan dengan Dimas yang semakin dibuat berbunga. “Rian, Sindy menunggumu di sana,” ujar Anna menunjuk keluar ruangan, di mana ada deretan kursi beserta meja yang dinaungi payung besar.


“Cepat sana pergi, jangan membuatnya menunggu!” tambah Dimas lebih terdengar sebagai pengusiran bagi Rian.


♫♫♫


Mereka cepat sekali akrab dan Dimas tak jarang membuat Anna tertawa oleh leluconnya. Bukankah awal yang bagus bagi kelancaran rencana Dimas, iya … ia sudah membuat keputusan ulang dengan meyakinkan Rian bahwa kali ini Dimas tidak akan bermain-main lagi.


Hanya membuat kenangan bersama gadis bernama Anna Amelia, ucap Dimas berhasil membujuk Rian untuk ikut dengannya. Makanan di meja pun sudah habis, hanya tinggal minum yang masih setengahnya.


“Apa kau sudah memilih di antara kedua wanitamu?” Penasaran Anna dari cerita Dimas yang mengalami kesulitan setelah kejadian malam itu.


Dimas menggeleng. “Aku memutuskan mereka berdua, tapi salah satunya tidak ingin putus denganku. Menurutmu aku harus bagaimana?” Dimas bertanya seperti teman lama yang terbiasa meminta saran.


“Kau jalani saja dulu dengannya, memangnya kau sudah tidak mencintainya?” balas Anna ramah.


Anna mengacak-acak poni Dimas, merasa gemas melihat tingkah lelaki di depannya. “Ya ampun, kasihan sekali playboy yang satu ini,” ucapnya tersenyum. Membuat Dimas terpesona akan apa yang telah wanita itu lakukan, tanpa berkompromi jantungnya berdetak lebih cepat.


Dimas merasakan sesuatu yang belum pernah dirasakan sebelumnya, tak ada satu pun wanita kencannya yang bisa membuatnya salah tingkah dan merasa sangat diperhatikan, semuanya terasa palsu.


“Aku rasa, aku menyukai seseorang untuk pertama kalinya,” ucap Dimas polos.


Anna menjauhkan tangan dari rambut Dimas. “Kali ini siapa lagi, eoh? Kau harus bisa mengenal hatimu sendiri, jangan mudah jatuh cinta seperti itu.” Anna menyesap minumannya.


“Ini jatuh cinta yang sesungguhnya, aku pria yang sulit jatuh cinta. Menurutmu jika jantungku berdetak cepat, tubuhku bergetar jika disentuh olehnya, dan aku merasa senang ketika melihatnya, itu artinya apa?”


“Hmm, benar sepertinya kau sedang jatuh cinta! Katakan padaku, siapa wanita yang bisa membuat seorang playboy sepertimu berubah secepat ini?” tanya Anna antusias.

__ADS_1


Mendadak mulut Dimas seakan sulit mengeluarkan kata-kata, kalimatnya tertahan di benaknya. Sementara Anna masih menunggu jawaban atas pertanyaannya, “Siapa?” ulangnya sumringah.


“Kau, Anna Amelia,” balas Dimas.


♫♫♫


Sementara itu Rian dan Sindy saling diam selama tiga menit. Mengawali perkataan jelas sulit bagi mereka, apalagi tidak tahu harus berbicara apa. Sebelum meminta maaf, Sindy sudah mempersiapkan diri, menarik napas lalu mengembuskannya perlahan. Malu sebentar tidak masalah, kan ….


“Aku minta maaf karena telah menamparmu, seharusnya aku berterima kasih atas bantuanmu malam itu.”


“Kenapa kau melakukannya?” Rian langsung bertanya.


“Eumm…” Sindy nampak berpikir sembari menggerak-gerakkan kaki. “Aku mengaku salah!”


“Kau memang salah,” kata Rian mengeluarkan daun sepanjang jari kelingkingnya dari dalam saku kemeja. “Aku hanya mengambil daun yang tersangkut di rambutmu,” ia meletakkan selembar daun di atas meja.


Sindy tak habis pikir, lelaki itu menyimpan bahkan membawa sehelai daun untuk ditunjukkan padanya.


“Kau tidak berpikir bahwa aku akan menciummu, kan?”


Sial, pertanyaan itu sepenuhnya benar, Sindy segera mengalihkan pandangannya dari bibir Rian. Jika seperti ini bukankah ia yang telah menjadi seorang maniak.


“Sebelumnya kau pernah melakukan itu dan wajar saja kalau aku bersikap waspada,” bela Sindy seraya mendesah menyalahkan dirinya sendiri yang telah membenarkan dugaan Rian


Senyum nakal terpatri di wajah kalem Rian, ia mengingat perkataan Yuri mengenai sesuatu yang berkesan pasti akan selalu diingat. Itu artinya Sindy tidak bisa melupakan ciuman pertama mereka.


“Aku mengerti sekarang!” Rian menyimpulkan.


Entah harus menanggapi seperti apa, Sindy sendiri malah tidak mengerti, ia gelagapan. Berdiri salah tingkah sembari memberikan alasan. “Aku harus kembali bekerja.”


Sampai-sampai Sindy tak menyadari ada anak tangga, sehingga nyaris terjatuh. “Sebenarnya ada apa denganku,” rutuk Sindy menahan malu.

__ADS_1


“Lucu sekali,” komentar Rian melihat gelagat Sindy. “Aku harus segera mengungkapkan perasaanku, karena sepertinya dia juga menyukaiku,” lanjutnya tersenyum manis selagi wanita yang tengah ia perhatikan memasuki kafé.


♫♫♫


__ADS_2