Suddenly A Couple

Suddenly A Couple
Episode 30 : Hubungan yang Rumit


__ADS_3

Kepala Sindy menyembul dari sela pintu. Ia melihat sekitar dan tak lama Rian juga muncul dari balik pintu rumahnya. Mereka tersenyum hampir bersamaan, berhubungan diam-diam seperti ini cukup menyenangkan juga. Rasanya sudah saling merindukan walau baru satu jam berpisah.


Mereka memastikan Aldi tidak akan mengganggu. Di sinilah mereka, bertemu di tengah lorong di depan pintu rumah masing-masing. Tiba-tiba saja Sindy mengecup bibir Rian lama, setelahnya gadis itu tersenyum manis. Langsung saja tangan Sindy ditarik oleh Rian yang membawanya untuk memasuki tempat tinggal Rian yang nantinya akan mereka tinggali bersama.


Tak jauh di ujung lorong Aldi memperhatikan mereka, tangannya meremas plastik sampah. “Tidak mungkin, itu tidak boleh terjadi.” Marahnya menentang keras hubungan Rian dan Sindy.


Sedangkan pasangan yang baru menikah tidak tahu menahu soal pandangan tak suka Aldi. Mereka malah asyik menikmati camilan sambil menonton televisi, di mana Rian tiduran di sofa di pangkuan Sindy yang mengelus rambutnya lembut.


“Ada apa, kau terlihat jauh lebih bahagia setelah pulang ke rumah,” tanya Sindy.


Rian mendadak duduk tegak. “Barusan aku mendapat panggilan kerja! Sindy aku diterima!” senangnya dengan tatapan berkilat-kilat. “Tenang saja hutangmu akan segera aku lunasi, gajiku cukup besar untuk membayarnya kembali beserta bunga.”


“Benarkah! Selamat!” seru Sindy ikut bersemangat juga. “Memangnya kau diterima kerja di mana?”


“Selama ini aku selalu gagal mendapat pekerjaan, aku malu pada Dimas dan Rangga sehingga melamar tanpa sepengetahuan mereka. Tak disangka aku lulus interview … terlebih di sebuah perusahaan besar,” jelas Rian makin membuat Sindy penasaran.


“Perusahaan besar?!”


“Besok aku mulai bekerja di Karlite.”


Senyum mengembang Sindy perlahan turun. Ia segera mencoba mengontrol ekspresinya, bertepuk tangan merayakan keberhasilan Rian. Ia senang karena Rian mendapat pekerjaan, tetapi kenapa harus di perusahaan keluarganya.


“Bukankah aku hebat!” kata Rian memeluk Sindy yang segera saja mengubah raut wajahnya dengan tatapan sedih sekaligus nampak khawatir.


Sindy takut apabila nanti identitasnya diketahui. Rahasianya memang tidak akan disembunyikan terus, tetapi ia butuh waktu untuk mengatakan kebenarannya. Sindy membelai belakang kepala Rian ketika laki-laki itu kembali berkata,


“Katakan kalau aku hebat!”


Rian tak bisa berhenti tersenyum. Sikap lain dari seorang Rian yang baru diketahui Sindy ialah penuh semangat, begitu antusias dan sedikit narsistik.


“Kerja bagus sayang, kau memang hebat,” balas Sindy.


♫♫♫

__ADS_1


Satu per-satu pelanggan beranjak pergi, musik yang dijadikan backsound dalam kafé mengalun indah. Namun sama sekali tidak mampu menghibur perasaan gundah seorang Sindy Karlita yang terus menghela. Pertanyaan rekan kerjanya pun tak sengaja diabaikannya.


Anna datang dengan wajah cerianya mengatakan bahwa dia dan Dimas baru saja memasuki rumah hantu dan itu sangat menyenangkan. Barulah Sindy mengalihkan perhatiannya pada Anna walau tak sepenuhnya.


“Ditaruh di mana belanjaannya!” kata Dimas yang baru muncul.


“Di sana saja,” sahut Anna menunjuk salah satu meja. Ia meneruskan setelah menangkap ekspresi Sindy. “Ada apa kau terlihat kelelahan dan tak bersemangat seperti itu.”


Sebenarnya Anna tengah menggoda Sindy, tapi sayangnya itu tak berhasil. “Kau kenapa?” tanya Anna selagi kekasih sementaranya itu selesai dengan barang bawaannya.


Dimas berdehem. “Yang baru berbulan madu, bagaimana kabarnya?”


Suasana semakin hening. Anna menyenggol lengan Dimas, mereka saling pandang tak mengerti.


Tak lama Sindy membuka mulutnya. “Bagaimana ini, haruskah aku segera mengatakan yang sebenarnya pada Rian.”


“Apa maksudmu?” greget Anna.


“Hari ini dia mulai bekerja di Karlite,” tukas Sindy.


Selanjutnya mereka sudah duduk dengan masing-masing memiliki segelas minuman. Satu pekerja memandang iri sehabis menaruh nampan, menggerutu soal Sindy yang dekat dengan pemilik kafé sehingga bisa bersantai sekarang.


“Kacau sekali!” komentar Anna mendengar penuturan Sindy, ia tidak jadi marah akan perjodohan antara Dimas dan Sindy yang baru diketahuinya kemarin. “Karena sudah rumit seperti ini, maka aku memilih untuk memaafkan kalian.”


Sebelum ada pertanyaan mengenai perkataannya, Anna segera menambahkan, “Aku sudah mengetahui tentang perjodohan kalian dan benar-benar berhasil membuat kesal.”


Anna melirik Sindy dan Dimas bergantian. Keduanya menyesali apa yang telah Anna ketahui. Benar-benar rumit, pikir Sindy.


“Rupanya kau sudah mengetahuinya … baiklah, aku mengaku salah, tidak memberitahumu. Maafkan aku Anna,” sesal Sindy merasa beruntung memiliki teman seperti Anna yang mengerti dirinya.


“Sungguh aku tidak mengira kau akan menikah dengan Rian demi menghindari perjodohan,” ujar Dimas.


“Benar, kau tidak harus melakukannya,” imbuh Anna.

__ADS_1


“Soal pernikahanku dengan Rian, itu serius. Aku menyukainya, ahh tidak… aku mencintainya, entah sejak kapan perasaan sayang dan nyaman saat bersamanya itu muncul. Hanya butuh dia dalam hidupku, maka aku akan baik-baik saja,” tutur Sindy tersenyum kecil membayangkan keluarga kecilnya. “Aku tidak perlu kembali ke keluargaku yang memandang rendah sebuah status, mengabaikan arti penting dari ikatan darah.”


“Sindy, aku yakin kau akan baik-baik saja.” Anna memeluk Sindy, membelai surai panjang hitam sahabatnya.


“Lalu apa rencanamu sekarang?” kata Dimas.


Sindy mengela napas meminta saran dari Anna dan Dimas. “Baiknya aku harus bagaimana?”


♫♫♫


Selesai dengan pekerjaannya, Rian menjemput Sindy memberitahukan bahwa hari pertamanya bekerja berjalan lancar dan ia sangat menyukai tempat kerjanya. Hingga decak kagum keluar, membuat tiga pendengar terkejut. Anna menggeleng kecil tidak setuju akan kata-kata pujian yang ditujukan untuk calon suaminya.


Begitupun dengan Dimas yang menggerutu, mengingat ia pernah dipukuli. Sementara Sindy mengigiti kuku merasa gugup mengetahui keakraban yang terjalin antara suami dan kakaknya.


“Selamat, kau memang cukup cerdas untuk diandalkan sebuah perusahaan,” ucap Dimas kikuk.


“Aku rasa Mas Agung begitu menyukaimu,” celetuk Anna. “Bukankah itu pertanda bagus,” pikirnya menerawang jauh.


Cerdas, pintar berbicara dan penuh ide kreatif membuat Rian dilirik oleh Agung yang memang sedang membutuhkan keterampilan seseorang dalam memajukan perusahaannya.


Dimas dan Anna kembali memasuki kafé setelah mengantarkan pasangan pengantin baru itu keluar. Di seberang jalan terlihat Eko yang sedang mengawasi, ia menemukan sosok yang dicarinya kemudian bergegas untuk menghampiri.


“Nona!” panggil Eko.


Sontak Sindy terhenyak, tanpa berpikir lagi, ia berlari meninggalkan Rian yang masih asyik menceritakan rekan kerjanya hingga tidak mengetahui kedatangan orang lain di sekitarnya. Belum sampai satu menit Sindy sudah terjatuh, alhasil kakinya terkilir.


“Nona!” Dari kejauhan Eko melihat Sindy yang terburu menghindarinya, ia mengangguk maklum. “Sudah pasti dia akan berlari karena selama ini aku selalu mengejarnya. Padahal aku hanya ingin memperingatinya agar berhati-hati pada lelaki bernama Aldi.”


Rian melangkah cepat demi membantu Sindy untuk berdiri sambil mengomel. “Kenapa juga kau tiba-tiba berlari, jadi jatuhkan!”


“Kakiku sakit,” ringis Sindy tak mendapati Eko di mana pun.


“Merepotkan saja!” sungut Rian memunggungi Sindy, lalu gadis itu tersenyum sembari meletakkan lengan di sekitar leher suaminya. “Jika kau ceroboh lagi, maka aku tidak akan menggendongmu lagi.” Mendengarnya Sindy hanya mencebikkan bibir.

__ADS_1


♫♫♫


__ADS_2