Suddenly A Couple

Suddenly A Couple
Episode 7 : Tidak Bisa Menolak


__ADS_3

“Kakimu terluka, jadi aku akan menggendongmu, cepat naik,” ulang Rian dengan suara setengah malas.


“Tidak mau!” tolak Sindy.


Mendengar penolakkan dari Sindy, Rian menoleh ke belakang. “Benar tidak mau?” tawarnya lagi hendak berdiri tapi Sindy meraih lengannya, terlihat terpaksa menerima bantuan. Tanpa gadis itu sadari peluh keringat mengalir di pelipisnya dan wajahnya berubah pucat.


Sepanjang perjalanan sesekali Sindy menyenderkan kepala di bahu Rian, membuat Rian merasakan hembusan napasnya. Mendadak Rian menahan napasnya, ia juga mencoba mengatur perasaannya, jarak yang begitu dekat dengan Sindy membuat jantungnya berdetak tak wajar.


“Bisakah kau angkat kepalamu!” kalimat pertama yang Rian katakan. Otomatis membuat Sindy mengerjap, tangannya yang melingkar di leher Rian kembali ia eratkan. “Apa kau ingin mencekikku!” protes Rian kontan Sindy segera melonggarkan kembali pegangannya dengan lemah.


“Pasti kau menyesal telah menawarkan bantuan padaku,” tukas Sindy pelan.


Untuk kesekian kalinya Rian membenarkan posisi Sindy yang masih ia gendong di punggungnya. “Benar mereka bukan rentenir?”


Mendengar pertanyaan Rian, Sindy kembali mendekatkan wajahnya pada lelaki yang selama ini telah banyak membantunya, walaupun tak banyak bicara dan terkadang abai.


“Izinkan aku bersandar padamu, aku benar-benar merasa pusing, hmm,” kata Sindy perlahan meletakkan kepalanya yang terasa berat di bahu lebar Rian.


Anehnya Rian hanya membiarkannya, ia tidak menjawab sama sekali dan kembali menahan napas, mengatur detak jantung yang menurutnya berdetak semakin kencang. Bola mata Rian berputar ke kanan, melirik wajah Sindy yang matanya terpejam. Betapa kagetnya ia ketika melihat warna pucat disertai keringat dingin menghiasai wajah polos gadis itu.


“Apa kau sakit?” tanya Rian tiba-tiba khawatir. Sindy hanya bergumam pelan, ia segera melanjutkan, “Apa kau ingin aku mengantarmu ke rumah sakit?”


Dengan sisa tenaga yang dimilikinya, Sindy menggeleng kecil. Langkah kaki Rian semakin lama semakin cepat, ia terburu-buru memasuki gedung flat sementara Sindy kehilangan kesadarannya.


♫♫♫


Musim dingin, Cheonju, Korea Selatan, 15 tahun lalu


Seorang wanita kecil berlari sepanjang terowongan, ia tidak memperdulikan cuaca buruk yang membuat tubuhnya nyaris membeku. Di belakangnya, tepatnya di ujung terowongan tampak gerombolan siluet mendekat, menyebabkan suara langkah bergema. Anak itu tidak mau tertangkap lagi, ia harus berlari lebih kencang bahkan tanpa alas kaki sekali pun.

__ADS_1


“Mamah, Papah, Kak Agung…,” ia terisak sembari mengingat anggota keluarganya yang mungkin tengah kebingungan mencarinya.


Berhasil keluar dari terowongan, Sindy yang masih berusia delapan tahun memandang luas hamparan salju sejenak mencari tujuan pelariannya. Kesulitan berjalan di atas salju lebat, ia terus berusaha saat orang-orang dewasa berseru di bibir terowongan, membuatnya berjengit ketakutan.


Tiga hari disekap dalam ruang gelap menakutkan, telah merubah penampilannya menjadi berantakkan, terkadang ia menolak diberi makan dan menangis meminta untuk dipertemukan dengan orang tuanya. Satu jam lalu Sindy mencoba mencari celah untuk kabur, ketika para penjaga terlelap akibat mabuk. Di sinilah ia sekarang di tempat yang tak diketahui namanya.


“Ada cahaya!” kata Sindy menyeret kaki ke bahu jalan, bibirnya membiru karena kedinginan.


Cahaya dari lampu sorot mobil di tengah malam makin mendekat, tanpa berpikir panjang Sindy meloncat tepat ke depan kendaraan beroda empat yang mengerem mendadak. Sepasang suami istri keluar dari dalam mobil, mereka terkejut melihat Sindy yang tanpa alas kaki.


“Yeobo (Sayang), sepertinya dia mengalami hipoternia … ayo cepat kita bantu dia.”


Sang suami segera mengangkat Sindy, membaringkannya di jok belakang, di pangkuan istrinya yang mencoba menghangatkan tubuh Sindy.


“YA! Cepat hentikan mobil itu!” seruan dari salah satu orang yang mengejar Sindy mengkoor, tak lama dua buah mobil menepi, menyuruh mereka agar masuk.


Sindy bersyukur bertemu dengan pasangan suami istri tersebut, ia merasa tertolong meski masih belum pulih dari rasa menggigil yang semakin menjadi.


Suara itu mengalihkan perhatian Sindy, ternyata ia masih belum terjauh dari para penculik. Sindy mencoba memberitahukan apa yang terjadi … wanita yang sepertinya seumuran dengan ibunya, menatap iba pada Sindy.


“Yeobo lebih cepat lagi,” katanya was-was karena satu mobil berhasil mensejajarkan laju kendaraan mereka, detik selanjutnya mobil tersebut menyenggol badan sisi mobil yang ditumpanginya, ia menjerit dan lelaki yang memegang kemudi kewalahan.


♫♫♫


“TIDAK!”


Rian terhenyak dari tidurnya. Sindy baru saja terbangun, mendadak duduk dari posisi berbaring. Napasnya naik turun tak beraturan ….


“Auh, mengagetkan saja,” kata Rian, meski begitu ia tetap peduli pada Sindy dengan mengambil handuk kecil yang terlempar dari dahi gadis itu. Sambil meletakkan punggung tangan ia berkata, “Masih panas.”

__ADS_1


Bola mata Sindy bergerak, menatap Rian dalam diam, memperhatikan gerak-geriknya. Memeras air dari handuk yang baru saja dicelupkan pada air hangat dalam baskom kecil. Untuk pertama kalinya Sindy merasa sangat beruntung akan kehadiran Rian. Kejadian beberapa jam lalu telah mengusik gangguan kecemasannya setelah penculikan yang ia alami di masa lalu.


“Apa yang kau lihat?” tanya Rian sembari melipat handuk. “Cepat berbaring,” titahnya sudah siap dengan handuk kecil yang akan diletakkannya kembali di dahi Sindy.


Seperkian detik kemudian tangan Rian bergerak gugup menutupi pandangan Sindy yang masih terarah padanya. “Berhenti melihatku dan tidurlah lagi.” Rian bahkan mendorong lembut tubuh Sindy agar berbaring, lalu menarik tangan dari kedua matanya.


“Terima kasih,” ujar Sindy membuka kelopak mata bertepatan dengan Rian yang selesai mengelap peluh di wajahnya. “Terima kasih karena telah peduli padaku.” Ia meneruskan selagi Rian meletakkan asal handuk di dahinya.


Sekarang ini Rian sedang menahan diri, berusaha untuk tidak terlihat salah tingkah dan meredam perasaan yang semakin membuncah, bergegas berdiri kikuk.


“Jangan berteriak lagi seperti tadi.” Rian tidak tahu harus berkata apalagi, ia hanya berbalik sambil merutuki dirinya sendiri. Menggumamkan tentang kegugupan yang melandanya. “Pulanglah jika kau sudah merasa baikkan!”


Sementara di tempat tidurnya Sindy mengulum senyum, melihat tingkah tetangganya yang tak biasa. Jujur saja ia merasa senang sekaligus nyaman dengan semua ini. Sudah sering sekali keluar masuk rumah Rian sehingga terasa tidak asing lagi berada di dalamnya.


“Itu berarti dia tidak menyuruhku untuk pulang sekarang, kan,” kata Sindy menatap punggung Rian menjauh, keluar dari kamar.


♫♫♫


Anna bergegas menuju ruangan direktur yang juga ruang kerja tunangannya. Lima pria berjas hitam rapih yang berada di dalamnya menoleh serempak, setelah mengetahui siapa yang datang mereka membungkuk memberi hormat.


“Nona!” seru Eko menatap ragu, kenapa juga calon istri bosnya ada di sini malam-malam begini. “Oh… Pak Angga baru saja pulang, kau tidak bertemu dengannya di depan?”


“Aku tahu, dia menyuruhku untuk pulang juga dan pergi dengan marah. Sekarang keonaran apa lagi yang kalian lakukan!” Anna bertingkah selayaknya atasan.


Eko tertawa, diikuti tawa meremehkan dari ke empat pria lain. “Kami mengaku salah karena tidak bisa menjaga Nona Sindy dengan baik, tapi itu keinginannya untuk tidak berkuliah di luar negeri.”


“Dan dengan bodohnya kau tidak tahu kalau Sindy turun dari pesawat, sudah satu tahun berlalu semenjak dia hilang,” potong Anna mendapat seringaian, yang sama sekali tak menakutkan dari anggota termuda para pengawal yang ditugaskan untuk mengawasi Sindy.


Dengan santainya Eko menyuruh anak buahnya diam. “Tolong pegangi Aryo,” titahnya segera saja dituruti namun tak meredakan kemarahan pria paling kecil di antara mereka yang mencoba memberontak. Aryo sangat tidak menyukai Anna yang kerap kali meremehkan atasannya, Eko.

__ADS_1


Seakan tak terusik dengan gerakkan mengancam, Anna melihat Eko penuh minat. “Bagaimana apa kau sudah menemukan keberadaannya?” kali ini suara Anna terdengar biasa, sejujurnya ia tidak bisa berlaga sok penting dan lagi memamerkan dirinya yang akan menjadi nyonya dari pemilik saham terbesar Perusahaan Karlite bukanlah gayanya.


♫♫♫


__ADS_2