Suddenly A Couple

Suddenly A Couple
Episode 35 : Pelampiasan


__ADS_3

“Penggabungan dua perusahaan akan dimulai dengan proyek pembuatan game virtual yang telah dijelaskan sebelumnya, kami telah melakukan reset pada beberapa remaja usia tujuh belas sampai tiga puluh dua tahun. Dan terus memperbaiki kekurangan dari gamefix …,” jelas Hafid menyorot kata gamefix yang terdapat di layar proyektor.


Sebuah cuplikan dari game adventure diputar. Decak kagum dari beberapa hadirin terdengar saling susul ketika pemain utama dalam game mengendarai mobil tempur di jalan berbatu. Rapat berakhir lancar. Proyek gamefix disetujui oleh banyak pemegang saham.


“Rian, ternyata benar kau.” Sumringah Dipo Aditya, ayah dari Dimas.


“Paman, aku baru saja akan menyapamu setelah mengetahui tentang Amsung Group akan bekerja sama dalam proyek ini,” balas Rian tak kalah sumringahnya, ia cukup mengenal keluarga Dimas.


“Rupanya kau bekerja di sini.” Rian mengangguk, Dipo meneruskan, “Waah hebat sekali, paman berharap Dimas juga rajin dan penuh semangat kerja sepertimu. Dia masih saja suka bermain-main. Mungkin setelah pertunangannya dia akan lebih dewasa.”


“Oh iya, aku sudah mendengar soal perjodohan Dimas. Kalau boleh tahu dia dijodohkan dengan siapa?”


Dipo sedikit mencondongkan tubuhnya pada Rian. “Putri bungsu dari pendiri perusahaan ini,” bisik Dipo.


“Jadi kalian dapat membuat proyek bersama, begitu,” tebak Rian yang dibalas anggukan mantap Dipo.


Dipo pamit pergi karena ada pertemuan lain dengan kliennya. Tak lama selagi Rian mengagumi betapa beruntungnya keluarga Dimas, Agung diikuti Hafid datang menyapanya. Mereka memberikan applause untuk hasil kerja tim perencanaan. Terutama Rian yang telah mencetuskan ide gamefix.


Hanya dalam hitungan tiga minggu saja, Rian telah menunjukkan kinerja baik.


“Pak Rian kau benar-benar diluar ekspetasiku, luar biasa.” Agung mengakhiri tepuk tangannya.


Hafid sang ketua tim memberitahu bahwa seluruh anggota tim perencanaan akan merayakan awal dari keberhasilan mereka.


“Kau harus datang, ini makan malam karyawan pertamamu, bukan!” seru Hafid bersemangat.


Tak jauh di belokkan koridor, Eko hendak memanggil Agung sebelum pandangannya mendapati keberadaan Rian. Ia langsung menyembunyikan dirinya. Menyalahkan Sindy yang tidak memberitahukan bahwa suaminya itu bekerja di Karlite.


“Kacau, kacau! Sekarang apalagi yang sedang terjadi!”


Tiba-tiba dering ponsel mengagetkan Eko. Ia mengumpat nyaris membanting ponsel, kenapa juga ia takut bertemu dengan Rian di kantornya sendiri. “Halo,” sapa Eko pelan melalui ponsel yang ditempelkan di telinganya.


“Aku akan ke sana sekarang.” Panggilan terputus dan Eko tak jadi menyapa bosnya.


♫♫♫

__ADS_1


Sore hari setelah selesai dengan pekerjaan paruh waktunya, Sindy membeli beberapa buah dan bahan makanan untuk piknik besok bersama Rian. Tidak bisa menyia-nyiakan libur kerja sang suami yang akan mulai sibuk dengan proyek yang katanya akan menghasilkan banyak uang. Melihat betapa bersemangatnya Rian dalam membuat proyek tersebut, hanya dalam waktu singkat dan bersorak senang ketika proyek itu akan ditampilkan dalam rapat para pemegang saham.


“Sayang, tebak berita baik apa yang akan aku beritahu padamu.”


Suara di seberang sana terdengar begitu bahagia, Sindy tahu bahwa suaminya itu sangat suka main game. Dan sekarang Rian bisa membuat game–nya sendiri. Memang cukup membanggakan … tapi kenapa harus di perusahaan Karlite.


“Apa ya, kau mendapat gaji pertamamu. Bukan, bukan!” Sindy menggelengkan kepala meski tak dapat dilihat lawan bicaranya. “Ahhh, aku tahu! Proyek gamefix-mu diterima!”


“Bagaimana kau bisa menebaknya,” kata Rian.


“Kau telah bekerja keras, Selamat.” Di sisi lain Sindy bersyukur Perusahaan Karlite telah membantu Rian mewujudkan impiannya.


“Malam ini aku akan pulang telat, tim kami mengadakan acara. Jadi kau tidur lebih dulu saja,” ujar Rian berbalik dari menatap ke bawah gedung menjadi bersandar pada pagar pembatas.


Sindy selesai dengan memilih buah apel. “Kau tidak lupa dengan rencana kita besok, kan?” tanya Sindy melangkah menuju kasir. “Benar ya, awas saja kalau sampai kau tidak bisa pergi karena terlalu lelah.” Ia memperingati agar Rian jangan terlalu banyak makan setelah pulang dari acara makan malam kantornya.


♫♫♫


Di lain tempat, tepatnya di Café Wind Flower. Eko bergegas memasuki tempat bernuansa kalem itu. Ia mendorong pintu … siap melontarkan pertanyaan atas apa yang dibicarakan lewat panggilan singkat peneleponnya.


“EKO! Tak kusangka bisa bertemu denganmu hari ini, sudah berapa lama sejak kita terakhir bertemu!”


Pada akhirnya Eko harus mendengar perkataan yang ingin dihindarinya terutama ketika Dimas bertanya, “Bagaimana kabarmu? Kau bekerja di mana sekarang?”


“A, aku baik,” singkat Eko ragu melanjutkan perkataannya.


Anna datang dengan nampan berisi lima gelas jus jeruk. “Dia bekerja di Karlite, cukup dekat dengan calon suamiku,” tukas Anna sungguh tak enak didengar oleh Dimas yang mencibir ‘calon suami apanya’.


“Sekretaris calon suamimu?” sahut Rangga.


“Bukan, dia itu pengawal. Diberi tugas untuk mengawasi Sindy juga … ya ampun!” Anna baru ingat sesuatu. “Kau datang karena disuruh menjemputku dan Sindy. Bukankah kami harus mencoba gaun, apa itu dilakukan hari ini.”


Lagi-lagi Dimas mencibir, ia menyambar gelas, menegak jus jeruk hingga tersisa setengahnya.


“Kak Eko itu yang menyuruhku mencaritahu identitas Aldi,” kata Yuri.

__ADS_1


“Kenapa tidak bilang kalau orang yang akan ke sini itu Kak Eko,” sahut Anna.


Dimas melirik ke arah Eko. “Kak?!” ucapnya merasa terganggu dengan panggilan tersebut.


“Sudah cepat katakan apalagi yang kau temukan tentangnya.” Eko sudah duduk di antara mereka dengan cepat mengontrol rasa malunya, apa yang salah dengan menjadi seorang pengawal.


“Kalian memberitahu Dimas dan Anna juga?” kata Eko melihat pada orang yang disebutkan namanya.


“Kita teman, jadi harus saling bertukar pikiran. Terlebih Rian dan Sindy teman kita juga,” ucap Rangga sok bijak.


Sementara Yuri memasang tampang misterius dan berkata, “Baiklah, aku akan mulai menceritakan sesuatu, harap jangan terkejut setelah mendengarnya.”


♫♫♫


Rian berjalan terhuyung, susah payah menaiki tangga. Dasi yang tak rapih menganyun seiring dengan gerak kaki tak beraturannya. Dia menjadikan tembok sebagai alat bantu untuk menopang tubuh sehingga dapat berjalan lurus.


Beberapa kali salah menekan sandi pintu. Sampai Sindy membukakannya dari dalam. Gadis itu nampak baru bangun dari tidurnya, rambut acak-acakkan dan kaos sebatas paha yang sebagian ujungnya terlipat. Seketika itu juga tubuh sempoyongan Rian menubruk Sindy.


“Sudah aku bilang jangan terlalu lelah dan sepertinya kau banyak makan,” protes Sindy mencoba menahan tubuh yang lebih berat dari tubuhnya itu untuk tetap berdiri, menuntunnya menuju kamar.


“Istriku terbangun dari tidurnya karena aku berisik, sttt … aku tidak boleh berisik,” cerocos Rian sudah berbaring di atas kasur.


“Ckck, kau ini benar-benar,” decak Sindy membungkukkan badan demi melepas dasi Rian. “Iya gara-gara kau aku tidak bisa tidur nyenyak. Ini sudah lewat tengah malam dan kau baru pulang,” ia menambahkan sambil menarik lepas dasi bersamaan dengan itu Rian mendekap tubuhnya.


“Lepaskan aku, kita harus segera tidur,” ucap Sindy pelan namun tubuhnya semakin menempel pada Rian. “Pokoknya rencana kita besok harus berjalan lebih baik dari pikniknya Anna dan Dimas. Aku kesal karena mereka selalu menyombongkan saat-saat menikmati waktu bersama.”


Rian mengerjapkan matanya selagi tubuh bergeser memberikan ruang untuk Sindy berbaring di sebelahnya. Menjadikan lengan sebagai bantal kemudian menaruh satu kaki di sekeliling tubuh Sindy, memeluknya seperti bantal. Tangan lainnya menyentuh setiap lekuk wajah Sindy.


Mata Rian kembali mengerjap namun kali ini ia menyeringai, semakin merengkuh tubuh gadis itu mendekat padanya. Bibir mereka pun bertemu. Sorot mata Rian meredup sedih. Ciuman itu tidak lagi lembut namun terasa begitu menuntut. Rian ******* kasar bibir Sindy hingga ringisan kecil terdengar.


Beginikah sikap Rian saat sedang kelelahan. Terka Sindy kewalahan dan hampir kehabisan napas. “Rian, Rian,” panggil Sindy mencoba mendorong kecil tubuh suaminya.


Dulu Rian tak berani melakukan skinship dengan seorang wanita semenjak pelecehan yang diterimanya di masa lalu. Kini ia malah seperti sedang melampiaskan kemarahannya. Tangan kekar itu menahan setiap gerakkan penolakkan Sindy, kakinya juga mengunci kuat tubuh bagian bawah gadisnya.


Bibir tebal Rian kembali memagut bibir mungil Sindy. Pertama kalinya Sindy tidak menyukai cumbuan tersebut, ia hanya diam membiarkan Rian menciumi lehernya dengan mengerucutkan mulut sebal sesekali berdesis, bahkan ia masih bisa mendesah.

__ADS_1


♫♫♫


__ADS_2