Suddenly A Couple

Suddenly A Couple
Episode 20 : Calon Suami


__ADS_3

Sebentar lagi traffic light memberitahukan bahwa tiba giliran pejalan kaki untuk menyeberang. Rian dan Sindy sama-sama tak sabar untuk bertemu, mereka terus mengumbar senyum sampai merasa tersipu malu. Rupanya beginilah orang yang sedang kasmaran.


Sebuah mobil hitam berhenti tepat di depan Sindy, menghalangi pandangannya dan pandangan Rian yang sedang tertuju pada wanita yang telah resmi menjadi kekasihnya.


Pintu penumpang mobil terbuka, dua sampai tiga orang keluar mendekati Sindy kemudian menariknya yang tak sempat mengelak akan serbuan mendadak. Sindy dipaksa masuk ke dalam mobil, plastik belanjaan terlepas dari tangan, isinya berhamburan keluar. Hanya butuh waktu seperkian detik saja, mobil kembali melaju.


“Kemana dia pergi,” kata Rian ketika tak melihat Sindy, penglihatannya mengikuti gerak mobil yang menjauh. “Apa mungkin Sindy diculik?” ia melanjutkan selagi manik matanya bergulir mendapati apel menggelinding di aspal.


“HEI! Hentikan mobilnya!” Rian berlari sepanjang trotoar mencoba mengejar mobil yang sayangnya sudah melesat, menghilang di antara kendaraan lain.


***


“Kak Eko, kau menyebalkan sekali!” sungut Sindy tak bisa menunjukkan kemarahannya dengan benar. “Kau telah merusak momen terindahku.”


Pikiran akan pertemuan di tengah jalan raya dengan kendaraan yang kembali diperbolehkan melaju, buyar seketika tergantikan dengan kisah dramatis ketika sang wanita menghilang.


“Aku kira seseorang menculikku,” ujar Sindy dengan mata mendelik ke arah Eko. “Untuk apa pula aku didandani seperti ini,” imbuhnya melihat pantulan penampilan elegannya di depan cermin.


“Cantik kok,” tukas Eko menopang dagu dengan satu tangan ditaruh di tangan lain. “Ayo cepat, kita hampir telat.” ia menambahkan sembari berlalu meninggalkan sebuah butik pakaian diikuti Sindy yang menggerutu.


“Lihat saja aku akan menghabisi Kak Agung, teganya dia menakuti adiknya sendiri. Memangnya aku akan menolak bertemu jika dia minta baik-baik.”


“Siapa yang bilang kau akan menemuinya?!” kata Eko.


“Kalau bukan dia, apa mungkin Ayah?”


“Ketua tidak lagi memperdulikanmu, dia hanya fokus pada kesehatannya dan terus menekan kakakmu.”


“Lalu siapa?”


“Calon suamimu,” balas Eko namun terasa menghantam kepala pendengarnya begitu keras. “Demi kelancaran pelebaran usaha dalam bidang teknologi, maka kau harus menikah dengan putra dari Amsung Group.”


Bahkan belum sampai satu jam Sindy menerima ajakkan berpacaran dan merasa begitu senang. Lalu apa-apaan ini? Ia malah memiliki calon suami. Pantas saja ia dijemput secara paksa … segera saja Sindy berpikir untuk melarikan diri. Namun usahanya harus gagal karena Aryo, Hendri, Dewo dan Zumi sudah mengepungnya.


Sesampainya di restoran mewah berbintang lima ditambah dua bintang dari gelar Michelin Star*), Sindy didorong oleh Eko masuk lebih dalam lagi. Gadis itu menghela, mau tak mau menuruti perintah pegawai sekaligus teman kakaknya. Rasanya bangunan yang dipijakinya menjadi tempat paling membosankan, tiap kali Sindy mengunjunginya bersama Agung beserta kolega.


Terlebih sekarang Sindy harus bertemu lelaki yang dijodohkan dengannya, bisakah ia menolak seperti sebelum-sebelumnya. Dari kursi yang baru saja didudukinya, Eko menggerak-gerakkan tangan menyuruh Sindy meneruskan langkah. Ia juga menunjuk seorang lelaki yang menatap ke luar jendela, terkesan biasa karena mengenakan pakaian kasual.

__ADS_1


“Permisi tuan, apa Anda menunggu lama?”


Ya, Sindy bertanya sekedar formalitas. Sindy lalu duduk, detik selanjutnya ia membulatkan mata, mengenali lelaki di hadapannya yang juga sama terkejutnya.


“DIMAS!”


“SINDY! Sedang apa kau di sini?!”


***


“Sudah aku bilang dia diculik, kenapa kalian tidak percaya!”


Rian mengatakannya dengan wajah cemas yang mampu menyita fokus perhatian sepasang kekasih yang katanya telah bertukar cincin. Terpaksa mereka harus menerima sambutan biasa saja atau sama sekali tak didengar, saat lelaki dengan wajah cemasnya itu menyingkirkan dua telapak tangan dibuka lebar demi menunjukkan cincin berlian di jari manis mereka.


“Sindy hanya tinggal di flat kecil dan tidak punya sesuatu yang berharga,” celetuk Rangga cukup malas.


Begitu pun dengan Yuri, ia menurunkan tangannya yang sedari tadi jari-jemari bergerak dengan harapan dapat menarik perhatian Rian. “Tunggu selama dua puluh empat jam sebelum melaporkannya sebagai orang hilang!”


“Kau bilang Sindy punya hutang pada rentenir, mungkin saja mereka mencoba menagihnya, menyuruh dia bekerja di bar atau semacamnya.” Kali ini Rangga menanggapi serius.


“Bagaimana kalau mereka menjualnya, semacam perdagangan manusia!” timpal Yuri segera menekap mulut.


Tiba-tiba Rian bangkit dari duduknya. Rangga dan Yuri saling tatap, penuh selidik, kiranya apa yang akan lelaki itu lakukan.


“Aku akan mencarinya,” kata Rian.


“Ke mana? Bar? Diskotik?”


“Pengepul budak, ah maksudku …,”


“YURI!” Rian menyela sebelum wanita itu berkata macam-macam lagi. “Aku pergi.” Ia menambahkan kemudian meninggalkan Rangga dan Yuri yang kembali saling tatap ditambah menghela napas kecewa.


“Semoga tidak terjadi sesuatu yang buruk pada Sindy,” ujar Yuri.


Rangga merangkul kekasihnya sambil berkata, “Pasti Rian akan menemukan Sindy.”


***

__ADS_1


Sementara itu di restoran. Eko tengah melaporkan pertemuan antara Sindy dan Dimas. Duduk bersilang kaki dengan wajah tertutup daftar menu, ia berbicara melalui ponselnya dan meyakinkan bahwa perjodohan kali ini pasti akan berhasil. Dilihat dari kedekatan secara natural pasangan yang sejak awal telah diawasinya.


“Baik Pak Agung.” Eko mengakhiri panggilan, segera sigap mengintip dari balik daftar menu. “Aku jadi ingin tahu apa yang sedang mereka bicarakan, setahuku Dimas tidak asyik diajak bicara.”


Memang tidak terlalu mengasyikkan, tapi Sindy menikmatinya karena lelaki di hadapannya itu tengah menceritakan kencan keduanya bersama Anna. Bukankah pembicaraan tersebut cukup menarik, hingga mampu melupakan perjodohan mereka.


“Sungguh Anna berbeda dari wanita lain yang pernah aku kencani,” kata Dimas mendadak diam ketika dilihatnya mata Sindy mendelik.


“Awas saja kalau kau berpikir untuk menyakitinya, habislah kau!”


“Bukankah nantinya aku yang akan tersakiti, dia akan segera menikah dan sekarang kita dijodohkan.” Dimas menghela napas berat.


“Kau tahu, aku baru saja menerima pernyataan cintanya,” kata Sindy.


“Siapa?” tanya Dimas segera menambahkan, “RIAN!” serunya mengalihkan pandangan pengunjung lain.


“Ya, kecilkan suaramu,” tegur Sindy agak merasa malu, memangnya itu hal yang luar biasa sampai harus berteriak.


“Hebat, seorang Rian menembakmu! Lalu apa saja yang sudah kalian lakukan. Kiss?” Sindy baru saja akan menegak minumnya, syukur ia tidak tersedak ketika harus mendengar pertanyaan Dimas. “Oh sebelum itu kalian sudah melakukannya,” lanjut Dimas yang kini membuat wajahnya tersembur air.


“Auh, jorok sekali,” keluh Dimas sembari meraih tisu.


“Dari mana kau tahu?”


“Apa, soal kau dan Rian berciuman. Anna yang mengatakannya.”


Sindy sudah tidak heran lagi pada Anna. Gadis itu memang tidak bisa menyimpan rahasia. Mungkin kecuali tempat tinggalnya setelah melarikan diri. Sindy merasa Anna dapat dipercaya selama kurang tiga bulan terakhir menghubunginya demi mendapatkan pinjaman uang.


“Soal itu aku tidak akan menyangkalnya.” Sindy menghela napas berat lalu meneruskan, “Bahkan setelah berbicara kalau aku menerimanya, kita tidak sempat bertemu. Aku menghilang tepat di hadapannya dan berakhir di sini bersamamu. Mungkin dia sedang mencariku, mengira seseorang menculikku. Pasti dia mengkhawatirkanku sekarang.”


“Kalau begitu kau harus menghubunginya,” tukas Dimas.


“Mengatakan bahwa aku dijodohkan denganmu, begitu? Dia pasti terkejut mengetahui identitas asliku. Apa pun yang terjadi kau jangan memberitahunya, biar nanti aku yang akan mengatakannya,” ucap Sindy sedikit tak yakin.


“Lebih baik begitu. Untuk sementara kita rahasiakan dulu perjodohan ini. Bagaimana?”


“Baiklah, senang bekerja sama denganmu.” Sindy mengulum senyum, begitupun Dimas seolah bermain peran.

__ADS_1


***


__ADS_2