
Setelah membuat sarapan pagi Kiana langsung mencuci semua peralatan memasak yang usai ia gunakan itu di wastafel. Suara langkah kaki yang mengetuk-ngetuk lantai membuat perhatian Kiana teralihkan dan gadis itu melihat kearah pintu dapur ini, Kiana sangat yakin sekali jika yang melangkah kemari bukan Lucas sebab irama langkah kaki itu terdengar lambat dan juga pelan. Dan benar saja itu adalah Lena yang baru saja masuk kedalam ruangan dapur ini, Kiana menarik garis lengkung pada bibirnya menyambut kedatangan wanita paruh baya itu.
Lena melangkah mendekati Kiana yang kini masih sibuk mencuci piring kotor. “Nona Kiana, biarkan saya saja yang membereskan sisahnya,” kata Lena dengan tidak enak hati. Ini semua karena dirinya berada di rumah sakit selama tiga hari hingga sampai Nona Kiana harus mengantikan posisinya didalam dapur ini.
“Biarkan saya saja,” tolak Kiana dengan nada suara terdengar lembut dan juga sopan. “Bagaimana dengan kondisi kamu Lena?” tanya Kiana dengan tangan yang masih sibuk mencuci piring.
“Sudah jauh lebih baikan, dan terima kasih karena Nona telah meminta Tuan Fkar untuk membawa saya ke rumah sakit,” kata Lena dengan senyuman manisnya.
“Saya hanya melakukan apa yang saya bisa,” kata Kiana dengan mengusap pelan pundak Lena. “Maaf saya tanpa sadar malah membuat baju kamu basah,” kata Kiana yang tidak sadar jika tadi tangannya yang basah memegang lengan Lena.
“Tidak masalah, Nona tidak perlu meminta maaf hanya karena hal simpel seperti ini,” kata Lena dengan terkekeh. Lena mengedarkan pandangannya ke atas meja makan dan melihat banyak sekali makanan tersaji disana. Lena yang semula tersenyum langsung memasang wajah camas sebab selama ini ia tahu jika Lucas tidak bisa memakan masakan sembarangan orang.
“Kamu tidak usah merasa khawatir karena dia begitu menyukai masakanku hanya gengsi saja sehingga tidak mau berkata jujur dan malah suka mengatakan hal yang sebaliknya,” kata Kiana pada Lena dengan menganggukkan kepalanya mantap. Kiana bisa membaca apa yang sedang Lena pikirkan hanya dengan melihat sorot matanya yang meragu itu ketika melihat banyaknya hidangan di atas meja makan.
“Benarkan apa yang Nona katakan?” tanya Lena.
“Kamu lihat saja sendiri nanti,” jawab Kiana pada Lena.
Kiana baru saja selesai membersihkan semua piring kotor yang ada didalam dapur ini dan mereka berdua berdiri di dekat meja makan menyambut kedatangan sang Tuan muda yang kejam dan juga tampan. Kiana dan juga Lena berdiri sejajar dengan kepala tertunduk. Suara langkah kaki mendekat kearah ruangan dapur ini membuat keduanya harus siap-siap jika tiba-tiba ada rudal yang meledak dari mulut Tuan mudanya itu.
Lucas masuk kedalam ruangan dapur ini dengan wajah yang datar. Manik matanya melihat kearah Kiana dan juga Lena secara bergantian kemudian melihat ke atas meja makan ini. “Siapa yang sedang memasak hidangan ini? Ataukan Lena,” kata Lucas dibalik wajah datarnya. “Semoga saja bukan,” jawab Lucas pada dirinya sendiri.
Lucas mulai merasa cocok sekali dengan makanan yang dibuat oleh Kiana bahkan rasa masakan gadis licik itu jauh lebih lezat dari masakan buatan Lena. Entah apa yang terjadi kenapa Lucas justru ketagihan masakan gadis itu padahal ia sangat membencinya. Setiap kali Septian melihat Kiana dia kembali mengingat jika gadis itu yang sudah mengacaukan pernikahannya dan membuat api kebencian itu tidak semakin mereda justru api emosi itu semakin berkobar di dalam dadanya dan merambat cepat ke manik matanya.
__ADS_1
Lena menarik satu kursi untuk Tuan Lucas duduki kemudian wanita itu mundur satu langkah kebelakang kembali ke posisinya semula ketika melihat majikannya sudah duduk di kursi tersebut.
“Siapa yang membuat hidangan ini?” tanya Septian dengan tatapan penuh selidik. Lucas menatap kearah Kiana dan juga Lena secara bergantian dengan mata elangnya yang selalu berhasil mengintimidasi lawan bicaranya.
“Setelah keluar dari rumah sakit saya langsung datang kemari dan Nona Kiana sudah membuat sarapan untuk Anda,” kata Lena jujur dengan jemari tangan saling menggengam satu sama lain mencoba untuk meluapkan rasa takutnya disana.
“Hem,” jawab Lucas dengan daheman. Lucas memang tidak suka banyak bicara dan inilah cara dia menjawab ucapan orang lain.
“Tuan Lucas maafkan saya jika harus libur bekerja selama beberapa hari karena sedang sakit dan Dokter juga melarang saya untuk keluar dari rumah sakit lebih awal sebab kondisi saya belum stabil,” lapor Lena dengan perasaan bersalah.
“Hem,” jawab Lucas lagi.
“Dia sungguh tidak punya sopan! Bicara sama orang tua malah menjawab bagaikan orang yang tidak bisa bicara saja,” ucap Kiana lirih dengan kepala yang tertunduk.
“Lidahku ini sungguh susah sekali dikendalikan jika sudah seperti ini,” umpat Kiana pada dirinya sendiri yang selalu susah mengendalikan Lidahnya. Karakter Kiana sering kali berubah-ubah tergantung kondisi dan juga tempatnya saja.
“Sepertinya kamu sudah berani banyak bicara sekarang! Apakah karena aku terlalu baik padamu akhir-akhir ini sehingga kamu berani mengutarakan pendapat kamu tanpa takut hukuman dariku,” kata Lucas dengan mencengkram erat lengan Kiana.
“Ma-maafkan saya Tuan Lucas , saya berjanji tidak akan mengulanginya lagi,” rengek Kiana dengan suara terbatah karena menahan nyeri yang teramat sangat dibagian lengannya.
“Maaf tidak berlaku untukku karena harus ada hukuman untuk mempertanggung jawabkan ucapan kamu.” Usai bicara Lucas langsung menarik paksa tangan Kiana keluar dari ruangan dapur ini.
Lena yang melihat akan hal itu sungguh tidak tega namun, ia hanya pelayan dan tidak memiliki kuasa didalam rumah besar ini. Lena hanya bisa diam membeku di posisinya dengan bibir tidak henti berdoa supaya Nona Kiana baik-baik saja. Lena memang baru mengenal Kiana, tapi wanita itu sudah bisa menebak jika Kiana tidak bersalah dalam prihal kaburnya Wessica sebab sikap Kiana sangat lembut dan juga menghormati orang lain tidak seperti Wessica yang sombong dan juga membedakan orang berdasarkan kastanya.
__ADS_1
“Tolong maafkan saya, Tuan Lucas ,” rengek Liana dengan derai air mata. Kiana sungguh menyesali ucapan yang keluar dari lidahnya barusan, tapi semua itu susah terlambat dan Kiana harus bertanggungjawab atas apa yang ia katakan, Kiana hanya bisa berdoa semoga saja lelaki kejam ini tidak memberikan hukuman yang mengerikan baginya.
Lucas menulikan pendengarannya kemudian lelaki itu menarik Kiana jauh lebih keras sehingga pergelangan tangan Kiana memerah dan juga terasa nyeri sekali. Lucas memasukkan Kiana kedalam gudang yang sudah ia persiapkan sebelumnya. Lucas sudah mencari informasi tentang Kiana dan ia sudah tahu apa kelemahan gadis ini sehingga Lucas pun langsung melakukan eksekusi untuk membuat Kiana buka suara tentang kejadian dimalam pengantin itu.
“Ini adalah kado pernikahan dariku untukmu,” kata Lucas dengan senyuman jahatnya lalu lelaki itu membuka pintu yang terletak di bagian ujung rumah ini kemudian mendorong tubuh Kiana masuk kedalam ruangan gelap itu.
Kiana yang malang jatuh tersungkur ke lantai dan hidungnya langsung mencium aroma menyengat sekali, aroma kotoran hewan yang begitu Kiana benci dan juga hindari. Namun Kiana mencoba menepis pikirannya itu dan dengan perlahan mulai beranjak berdiri Kiana mulai merasakannya jika ada suatu yang berterbangan disekitar tubuhnya.
“Tolong … lepaskan aku,” rengek Kiana sembari mengedok-ngedor pintu yang sudah tertutup ini. “Tolong maafkan saya Tuan Lucas, saya berjanji tidak akan mengulanginya lagi ... saya takut berada disini tolong saya,” rengek Kiana dengan tubuh yang bergetar hebat sekali bahkan suara isak tangisannya juga terdengar begitu memilukan sekali.
“Bersenang-senanglah dengan para serangga!” kata Lucas dengan tertawa terbahak-bahak.
Kiana yang sedang sibuk dengan rasa takutnya tidak mendengarkan ucapan Lucas barusan.
Kiana membulatkan kedua matanya ketika ia merasakan jika ada sesuatu yang kini sedang merayapi kakinya kemudian Kiana meloncat dan juga berteriak agar sesuatu itu pergi dari tubuhnya. Telinga Kiana mulai mendengarkan jika begitu banyak suara hewan berterbangan namun, Kiana tidak bisa melihat sebab ruangan ini begitu gelap. Kiana merebahkan tangannya ke dinding mencoba mencari tombol lampu dan ia mendapatkannya kini ruangan yang gelap mulai berubah menjadi terang dan terlihatlah ratusan serangga berterbangan dihadapannya bahkan puluhan serangga itu sudah menempel ditubuh Kiana.
“Tolong … keluarkan saya … saya takut pada serangga, jangan hukum saya seperti ini, apapun yang Anda inginkan akan saya lakukan, tapi tolong segera keluarkan saya dari ruangan ini,” teriak Kiana.
Kaki Kiana terasa lemas sekali hingga ia jatuh terduduk dengan tubuh yang gemetar hebat. Wajah cantiknya mulai kehilangan rona merah seakan ratusan serangga yang sedang berterbangan itu menghabiskan semua stok darah pada wajah cantiknya. Kiana menutupi wajahnya dengan kedua tangan bahkan kini semua serangga itu semakin hinggap di sekujur tubuhnya membuat Kiana takut sekali bergerak, bibir Kiana terus meminta ampunan pada lelaki kejam dan juga berhati dingin yang ada di luar ruangan ini.
Dari luar ruangan ini Lucas tertawa melihat penderitaan yang Kiana alami sekarang hatinya merasa cukup puas melihat teriakan frustasi dan juga putus asa dari dalam ruangan yang tertutup ini.
Lucas kamu akan menyesal jika suatu saat hatimu bisa melihat semua kebenaran itu.
__ADS_1