Suffering Bride

Suffering Bride
Merasa bersalah


__ADS_3

Pada saat Tuan Lucas telah sampai di rumahnya, pria itu bergegas menaiki tangga menuju kamarnya. Setelah masuk ke kamar Tuan Lucas, dia melihat Kiana sedang duduk di sofa dan lelaki itu melewati Kiana tanpa memandangnya. Namun hati Tuan Lucas penasaran kenapa Kiana tidak menegurnya, Lucas pun menghentikan langkahnya dan menoleh ke belakang.


"Dia tertidur di sofa, apakah dia menungguku hingga tertidur seperti ini?" tanya Tuan Lucas pada dirinya sendiri.


Tuan Lucas membalikkan badan lalu berjongkok di depan Kiana yang masih memejamkan matanya. Kiana mengernyitkan dahi saat aroma min bercampur maskulin masuk ke dalam inderanya, Kiana baru saja memejamkan matanya, tentu saja wanita itu tidak tertidur terlalu lelap, Pelan tapi pasti Kiana mulai membuka matanya. Sosok yang dia tunggu-tunggu kini menatapnya dengan wajah serius.


"Tuan Lucas. Anda ada di rumah," kata Kiana lalu dia berdiri dan membungkuk sedikit.


Tuan Lucas pun berdiri dan menatap Kiana. “Kenapa tidur di sofa?” tanya Tuan Lucas dengan wajah datar.


"Ak-aku ingin menunggumu, tapi maafkan aku, maafkan aku," kata Kiana berisi rasa kantuk yang terlihat jelas di matanya yang memerah.


"Lain kali tidurlah, tidak perlu menunggu saya datang," kata Tuan Lucas.


"Tidak mungkin aku bisa tertidur saat kamu sibuk bekerja." Perkataan Kiana berhasil menghentikan langkah Tuan Lucas sejenak, kemudian Tuan Lucas melanjutkan tanpa memperdulikan perkataan Kiana.


"Kenapa aku merasa sangat bersalah padanya padahal aku tidak menyukainya? Kupikir kedatangan Wessica tidak akan berpengaruh pada hatiku. Nyatanya aku tidak suka lagi melihat sikap Wessica yang sekarang," pikir Tuan Lucas. Dia pergi ke kamar mandi untuk memakai piyamanya.


"Kenapa aku mencium bau parfum yang familiar saat ini? Ini seperti parfum Wessica," kata Kiana dengan suara rendah. “Atau mungkin Wessica sudah sampai di rumah dan sudah bertemu dengan Tuan Lucas?” Kiana bertanya pada dirinya sendiri, namun wanita itu tidak menemukan jawabannya.

__ADS_1


Kiana menguap beberapa kali, lalu dia mulai naik ke tempat tidur dan mematikan lampu kamar. Melihat Tuan Lucas sudah pulang kerja membuat hati Kiana tenang dan tidak butuh waktu lama bagi wanita itu untuk masuk ke dalam alam mimpi yang begitu indah.


Selang beberapa saat, Tuan Lucas keluar dari kamar mandi dan lelaki itu melihat Kiana sedang tertidur lelap. Tuan Lucas sangat lapar karena pria itu belum makan tadi malam. Kiana mendengar ada yang membuka pintu, wanita itu kembali membuka matanya lalu mengucek matanya dengan tangannya berusaha menghilangkan rasa kantuk yang masih menggelayut di sekujur tubuhnya.


"Apakah Tuan Lucas yang membukakan pintu tadi? Sepertinya dia lapar," pikir Kiana sambil meletakkan kakinya di sandal di bawah tempat tidurnya.


Kiana kini melihat Tuan Lucas sibuk mengerjakan sesuatu di dapur. Kiana berjalan ke arah suaminya perlahan dan berkata.


"Mau makan apa? Biar aku yang siapkan," kata Kiana.


Tuan Lucas yang tidak mendengar suara langkah kaki Kiana langsung terlonjak kaget, salah satu tangan pria itu memegangi dadanya dengan mata bulat penuh. Kiana bisa melihat dengan sangat jelas rona merah di wajah pria itu mulai meleleh seolah tidak ada darah di wajah tampan itu.


Tak disangka, Kiana tertawa saat melihat wajah Tuan Lucas  yang terheran-heran dan wajah itu terlihat sangat lucu. Sampai saat ini Kiana hanya bisa melihat wajah Tuan Lucas yang datar dan penuh misteri, namun kali ini pria tersebut mengubah ekspresinya menjadi menggemaskan. Hal itu membuat Kiana tak bisa menahan tawa yang meledak di kesunyian dapur.


Kiana mulai menyadari bahwa kini Tuan Lucas sedang menatapnya dan wanita itu langsung berhenti tertawa lalu membungkukkan badannya sebagai permintaan maaf kepada Tuan Lucas.


"Maafkan aku yang kurang sopan," kata Kiana sambil menegakkan tubuhnya lagi.


“Kamu belum tidur dan kenapa kamu ada di sini sekarang?” tanya Tuan Lucas.

__ADS_1


"Kudengar kau membukakan pintu dan kupikir kau lapar. Aku berniat menyiapkan makan malam untukmu," kata Kiana dengan ketulusan yang bisa dirasakan Tuan Lucas.


"Dia sangat perhatian padaku, bahkan sebelum aku melihatnya tidur sangat nyenyak, matanya masih merah, menandakan bahwa wanita ini menahan tidurnya hanya untuk membuatkanku makan malam." Hati Tuan Lucas sungguh terharu melihat ketulusan yang ditunjukkan Kiana saat ini.


Tuan Lucas tidak menanggapi tatapan Kiana yang sedang menyelidiki sesuatu dan memang kelopak mata Kiana dipenuhi kristal transparan yang menandakan bahwa kini perempuan itu sedang menahan diri untuk tidak menguap di depan Tuan Lucas.


“Makanannya saya buat sendiri,” kata Tuan Lucas yang merasa kasihan pada Kiana.


"Menyiapkan makanan adalah tugasku. Aku tahu kamu tidak pernah mengakui aku sebagai istrimu, tapi biarkan aku melakukan pekerjaanku sebagai pelayan," kata Kiana.


"Terserah kamu." tuan Lucas melepas celemek yang dipakainya dan lelaki itu duduk di meja ruang makan sambil memainkan ponselnya.


Kiana menguap beberapa kali lalu wanita itu membasuh wajahnya di wastafel untuk mengusir rasa kantuknya yang semakin menjadi. Kiana mulai menyiapkan makanan untuk Tuan Lucas.


Tuan Lucas diam-diam memperhatikan Kiana yang sedang memotong sayuran dengan cekatan. Dan sangat jelas terlihat Tuan Lucas juga beberapa kali melihat Kiana menguap.


"Hati saya sakit ketika Kiana mengatakan dia adalah seorang pembantu dan mengapa saya tidak merasa rela dengan statusnya sebagai pembantu di rumah ini, atau mungkin hati saya lebih menerimanya sebagai seorang istri." Tuan Lucas kembali berjuang dengan hati dan juga dengan pikirannya yang tidak sinkron untuk kesekian kalinya.


Di samping itu.

__ADS_1


Wessica saat ini menari di lantai bawah dengan pacarnya. Setelah melihat Tuan Lucas pergi, kekasihnya langsung menghampiri wanita tersebut dan mereka minum bersama. Tanpa sepengetahuan keduanya, kini ada sepasang mata yang mengabadikan potret keduanya menari, menari, dan berciuman.


Menurut kalian siapa orang yang mengabadikan potret Wessica?


__ADS_2