
Sekarang Wessica ada di kamarnya, wanita itu terus memukuli semua yang bisa dilihatnya secara membabi buta. Wessica marah besar saat tahu Lucas menolaknya. Mengapa pria ini harus memilih Kiana? Wessica tidak pernah benar-benar menduga Kiana begitu licik dan sejak awal memang berniat merebut Lucas darinya. Wessica melempar vas bunga itu dengan kasar ke tanah hingga, dalam hitungan detik, vas bunga mahal itu hancur berantakan seperti hubungannya dengan Lucas sekarang.
Sejak saat itu, Anna tak henti-hentinya mengetuk pintu kamar putrinya, berusaha membujuk Wessica agar tenang dari amarahnya. Namun Wessica tidak membukakan pintu, malah mendengar suara benda jatuh terus menerus dari dalam kamar hingga akhirnya Raka mulai kehilangan kesabaran dan menghampiri kamar putrinya, kemudian pria itu mengeluarkan kunci cadangan dari sakunya. .
"Wessica, hentikan semua omong kosongmu ini," kata Raka dengan suara yang cukup keras agar Wessica tidak ingin menjatuhkan laptop di tangannya.
“Sayang, jangan pukul-pukul lagi,” kata Anna sambil mengambil laptop di tangannya, berusaha mengamankannya dari tangan putrinya.
Setelah meletakkan laptop di nakas, Anna langsung memeluk Wessica dan dengan gerakan yang halus, tangan wanita itu membelai punggung putrinya dengan lembut.
"Kamu harus tenang. Lucas pasti akan kembali padamu karena sejak awal dia adalah milikmu," kata Anna berusaha menenangkan putrinya.
"Beraninya bajingan itu mengambil milikku, Ma?" Wessica berbicara dengan rahang terkatup, tetapi tidak ada satu titik pun dari kaca bening yang keluar dari kelopak matanya.
Tiba-tiba Raka merasa malu dengan sikap Wessica, lelaki itu mengusap kasar wajahnya, lalu menatap Wessica dan berkata, “Jangan selalu menyalahkan Kiana atas semua yang telah kau lakukan, kalau saja kau tidak kabur dengan lelaki brengsek itu dari awal. Maka Lucas akan menjadi milikmu seutuhnya.” Kata-kata yang keluar penuh dengan hinaan dan kritik pedas yang membuat amarah Wessica kembali berkobar.
"Papa, jangan bicara seperti itu pada Wessica," kata Anna masih membela putrinya.
__ADS_1
Kasih seorang ibu tidak terbatas, misalnya seperti sekarang ini. Anna terus membela Wessica meski sangat jelas bahwa putrinya sudah bersalah karena meninggalkan calon pacarnya untuk pria lain yang tidak jelas di luar sana.
“Ma, jangan selalu membela gadis nakal ini, jika saja dari awal Mama tidak terlalu menyakitinya, maka dia tidak akan melakukan hal yang hina dengan melarikan diri dari pernikahan demi ketidakjelasan orang itu." Kata Raka yang sudah tidak bisa mentolerir putrinya lagi.
“Sekarang Wessica ada di sini, jadi ayah tidak pernah mengungkit-ungkit itu lagi,” pinta Anna, masih tak tega melihat putrinya membuat suaminya kesal.
"Kenapa Papa membela anak sialan itu lebih dari anak kandungmu sendiri? Apa ayah sudah gila?" Kata-kata tidak sopan itu keluar begitu saja dari bibir Wessica hingga rahang Raka mulai bergetar karena emosi.
Raka dan juga Anna yang sedang mendengarkan cerita putrinya juga sangat marah karena dia tidak menyangka Wessica bisa berbicara begitu kasar kepada orang tuanya sehingga tangan Anna secara tidak sengaja mulai terangkat, dan kemudian dia menampar pipi putrinya dengan keras. bahwa wajah Wessica terpaksa memalingkan muka.
Tangan Anna gemetar, dia benar-benar tidak menyangka kehilangan kendali seperti ini, bahkan sekarang dia juga menyakiti putri kandungnya. Tangan Anna terulur membelai pipi Wessica yang sudah terlanjur ditampar, namun Wessica segera mundur sehingga tangan Anna meraih angin.
Wessica membelakangi orang tuanya. "Wessica memohon Papa dan Mama untuk keluar dari kamar ini sekarang, Wessica ingin menenangkan diri dulu sebelum akhirnya mencoba merebut tangan anak laki-laki itu dari Lucas."
"Cobalah untuk merenungkan semua kesalahan dan kebodohanmu di masa lalu karena hanya dengan begitu Papa akan memaafkanmu." Setelah mengatakan itu, Raka segera keluar dari kamar putrinya.
"Wessica, sayang. Maafkan aku Mama, aku tidak pernah berpikir untuk menyakitimu, hanya saja Mama kecewa karena kamu berbicara kurang ajar pada Papa kamu, Papa yang selalu membesarkan dan menuruti keinginanmu." Anna berusaha menasihati putrinya agar tidak melakukan hal yang nantinya akan disesali Wessica.
__ADS_1
"Wessica tahu kalau Wessica salah dan dia berjanji tidak akan mengulanginya lagi," kata Wessica tanpa menoleh.
"Sekarang bersihkan tubuhmu di kamar mandi dan biarkan pelayan membersihkan kamar ini."
***
Kiana terus berjalan dari satu sisi ke sisi lain seolah mencoba mengukur jalan yang dia lalui sekarang. Lena menghampiri Kiana lalu membungkuk sedikit untuk menyapa sebelum akhirnya wanita paruh baya itu angkat bicara.
“Sebaiknya kamu istirahat di kamar karena sudah lewat tengah malam dan Tuan Lucas belum pulang,” kata Lena dengan mata berkaca-kaca menandakan bahwa wanita paruh baya itu sangat lelah menjalankan rutinitasnya sehari-hari saya tidak bisa meninggalkan Kiana sendirian di tengah rumah.
Kiana mendengar suara Selena begitu jelas hingga serak, yang menandakan betapa lelahnya pembantu rumah itu menemaninya sejak dulu. "Lena, sebaiknya kamu istirahat saja karena aku masih mau menunggu Tuan Lucas sampai dia datang karena menurutku dia akan pulang malam ini. Tapi besoknya dia pasti sudah pergi lagi sebelum aku bangun." Entah dari mana harus mendapatkan kepercayaan diri agar Kiana benar-benar percaya dengan kata-kata yang baru saja diucapkannya.
"Saya tidak akan memasuki ruangan sebelum Nona Kiana melakukan hal yang sama." Lena berbicara dengan keyakinan.
Akhirnya Kiana mengalah dan pergi ke kamarnya. Kini Kiana menghempaskan tubuhnya di atas sofa hingga, tanpa disadari, wanita itu mulai memasuki negeri impiannya, menyandarkan kepalanya pada bantalan sofa lalu merentangkan kakinya yang terasa begitu lelah berjalan dari satu sisi ke sisi lain. Omong kosong lain di kamar rumah ini sebelumnya.
Apa menurutmu Lucas akan masuk kamar setelah Kiana tertidur? Atau itu hanya pemikiran Kiana!
__ADS_1