Suffering Bride

Suffering Bride
Kecemburuan Membutakan Mata


__ADS_3

Kiana membuka matanya semburat senja masuk ke dalam celah-celah jendela seakan mengintip apa yang sedang Kiana lakukan sekarang.


“Bukankah kemarin sebelum tidur aku membiarkan jendela itu terbuka, ataukah Tuan Lucas masuk ke dalam ruangan kamar ini ketika aku tertidur dan dia menutup jendela itu?” tanya Kiana pada dirinya sendiri sembari menggaruk kepalanya yang tidak terasa gatal.


Kiana menjauhkan selimut yang tadi sempat menutupi sekujur tubuhnya kemudian perempuan itu melangkah masuk ke dalam kamar mandi setelah membersihkan tubuhnya. Kini Kiana melangkah keluar dari ruangan kamar ini. Kiana merasa tidak nyaman ketika melihat Tuan Lucas tidak ada di dalam kamarnya, tapi sepertinya lelaki itu benar-benar marah padanya karena menyimpan kartu nama Afgan tanpa seizinnya.


Kiana sekarang sudah mulai berjalan di lorong Villa dan di beberapa sudut terdapat pengawal berdiri menjaga lorong villa ini. Kiana mengedarkan pandangannya ke sekitar berharap agar bisa melihat Tuan Lucas, tetapi hari masihlah sangat pagi sekali tidak mungkin lelaki itu bangun di pagi hari seperti ini. Tanpa Kiana ketahui jika sekarang Tuan Lucas sedang duduk di dalam ruangan kamarnya yang bersebelahan dengan ruangan kamar Kiana lelaki itu mengamati rekaman CCTV yang ada di hadapannya dan melihat Kiana sedang menoleh ke sana-kemari seakan sedang mencari seseorang.


Semalam setelah melihat Kiana tidur Tuan Lucas masuk kedalam ruangan kamar itu dan menutup jendela yang terbuka. Tanpa Kiana sadari jika kemarin Tuan Lucas menemaninya hingga sebelum datang senja lelaki itu keluar lagi dari ruangan kamar tersebut.


Kiana memilih untuk keluar dari villa ini namun ketika berada di depan gerbang dua orang pengawal melangkah mendekatinya.


“Nona mau pergi ke mana?” tanya pengawal itu.


“Saya ingin berjalan-jalan di sekitar villa ini sembari menghirup udara di pagi hari,” kata Kiana.


Kiana masih merasakan kedua kelopak matanya terasa berat karena kedua kelopak mata itu sembab sebab dia terlalu lama menangis semalam. Kedua lelaki bertubuh kekar yang ada di hadapannya menatap ke arah Kiana dengan sorot mata yang iba dan juga kasihan.


“Tuan Lucas tidak mengizinkan Anda untuk keluar dari villa ini,” kata salah satu pengawal.


“Saya hanya berjalan-jalan saja dan tidak akan kabur atau bagaimana jika sebaiknya kalian ikut dengan saya,” kapan Kiana.


“Baiklah kalau begitu silakan Nona Kiana berjalan lebih dulu,” kata pengawal tersebut setelah mendapatkan perintah dari Tuan Lucas  melalui alat bantu yang ada di telinganya.


“Terima kasih,” kata Kiana dengan mengulas senyuman manis.

__ADS_1


Kiana tidak tahu sampai kapan ia akan berada di villa ini jadi Kiana memilih untuk berjalan-jalan menikmati pemandangan sekitar. Perlahan tapi pasti sinar mentari mulai naik ke persinggahannya membuat Kiana semakin betah berjalan di sekitar villa ini. Terdapat sekawan burung yang berterbangan dengan bernyanyi andaikan saja Kiana menjadi burung dia akan bisa terbang ke sana kemari tanpa harus takut akan sesuatu hal.


“Sungguh enak sekali menjadi burung mereka hanya pergi untuk mencari makan tanpa harus memikirkan a b dan c,” kata Kiana dengan suara yang lirih.


Kedua pengawal Tuan Lucas dengan setia berjalan dibelakang Kiana dalam jarang kurang dari 2 meter. Kiana merasa nyaman melihat suasana yang sepi ditambah lagi dengan udara di perdesaan ini yang terasa sejuk dan juga jauh dari polusi.


Di sisi lain.


Tuan Lucas melangkah keluar dari kamarnya kemudian berdiri di halaman villa itu sembari berlari di pagi hari. Selang beberapa waktu terlihat Kiana melangkah masuk dari gerbang rumah tersebut dan Tuan Lucas berpura-pura tidak melihatnya. Kiana yang melihat Tuan Lucas sedang menghubunginya pun menghentikan langkahnya di belakang lelaki itu.


“Tuan Lucas selamat pagi,” kata Kiana.


Tuan Lucas hanya diam masih tetap fokus berlari pagi tanpa peduli dengan Kiana. Kiana yang melihat akan hal itu pun segera membungkukkan tubuhnya kemudian melangkah masuk ke dalam villa. Diam-diam Tuan Lucas melirik ke arah Kiana yang baru saja menghilang di balik dinding villa tersebut.


Kiana melangkah melewati ruang tamu yang ada di villa ini dan seorang wanita paruh baya melangkah mendekatinya.


“Ya, ada apa Anda memanggil saya?” tanya Kiana dengan sopan.


Kiana wanita yang memiliki jiwa sederhana jadi wanita itu tidak pernah membedakannya seseorang dari kasta hingga pada seorang pelayan pun Kiana anak bersikap ramah dan juga sopan contohnya seperti sekarang makanya tidak heran jika begitu banyak orang yang menyukai Kiana.


“Kemarin Tuan Lucas memberikan barang-barang yang Anda inginkan.” Wanita paruh baya itu menunjuk ke tumpukan paper bag yang kini ada di ruang tamu villa ini.


Kiana mengerutkan keningnya karena bingung dengan apa yang barusan wanita paruh baya itu katakan. “Saya tidak pernah menginginkan apapun, sepertinya Anda salah mengartikan ucapan Tuan Lucas,” kata Kiana setelah merasa yakin dengan apa yang ia katakan.


“Sebaiknya Anda melihat dulu isi di dalam paper bag itu kemudian baru berbicara lagi dan jika sampai saya salah mendengarkan perintah Tuan Lucas maka saya akan meminta maaf kemudian bertanya pada Tuan Lucas kembali,” kata wanita paruh baya itu dengan tersenyum tipis.

__ADS_1


“Baiklah kalau begitu,” kata Kiana.


Kiana mengambil paper bag berwarna keemasan kemudian membuka isi di dalamnya. Kiana mengeluarkan sepasang sepatu pantofel yang memiliki tinggi sekitar 5 cm hal itu membuat Liana kembali teringat akan sederet sepatu yang ada di mall kemarin.


“Bukankah kemarin aku menyentuh sepatu ini dan aku juga mencobanya, tetapi kenapa sekarang sepatu Ini ada di sini?” tanya Kiana sembari memasukkan kembali sepatu itu ke dalam paper bag dan menaruhnya.


Kini Kiana mengambil paper bag dengan warna peach dan membuka isi di dalamnya. Kiana kembali teringat dengan dress berwarna putih polos dengan desain sederhana yang kemarin sempat ia sentuh, dress ini mirip sekali dengan dress yang ada di patung kemarin hal itu membuat Kiana menggaruk kepalanya yang tidak gatal dan ia pun mulai mengambil paper bag yang lain.


“Isi dari paper bag-paper bag ini adalah barang-barang yang kemarin aku sentuh,” kata Kiana masih kebingungan.


Wanita paruh baya yang ada di belakang Kiana tersenyum tipis ketika melihat kepolosan majikannya tersebut. Karena merasa kasihan melihat majikannya yang masih kebingungan mengartikan semua barang-barang yang ada di hadapannya sekarang akhirnya wanita baru baya itu mulai membuka suara.


“Sepertinya Tuan Lucas memang membelikan semua barang-barang yang telah Anda sentuh dan juga Anda kenakan,” kata wanita paruh baya itu.


“Tapi kenapa dia melakukannya sedangkan aku tidak pernah meminta apapun padanya” tanya Kiana bingung.


“Sebaiknya Anda langsung bertanya pada Tuan Lucas saja,” kata wanita paruh baya tersebut.


Kiana masuk kedalam ruangan kamarnya wanita itu melihat Tuan Lucas baru saja keluar dari kamar mandi dengan rambut yang basah dan handuk berwarna putih melingkar di pinggang lelaki itu.


Melihat Tuan Lucas membuat Kiana kembali teringat dengan kata-kata yang lelaki itu ucapkan kemarin ‘kamu adalah bonekaku dan selamanya akan begitu’ ketika Kiana mengingat kembali apa yang Tuan Lucas katakan padanya kemarin hati wanita itu terasa nyeri sekali. Tapi Kiana memang harus menerima kenyataan karena sejak dari awal dia tahu kalau tuan Lucas bukanlah miliknya.


“Tuan Lucas bolehkah saya bertanya?” tanya Kiana dengan menggenggam kedua tangannya erat-erat.


“Aku membelikan semua barang-barang itu untukmu anggap saja sebagai hadiah karena kau telah menggantikan posisi Wessica.” Setelah bicara Tuan Lucas terdiam lelaki itu sungguh tidak ingin mengatakan kata-kata kejam tersebut. Tapi entah mengapa dirinya sulit sekali mengontrol emosinya ketika mengingat cara Kiana menatap Afgan kemarin.

__ADS_1


Kiana tersenyum kecut setelah mendengar penjelasan dari Tuan Lucas  kemudian wanita itu segera membungkukkan sedikit tubuhnya sembari berkata, “Terima kasih atas kebaikan Anda,” kata Kiana dengan suara bergetar di ujung lidahnya. “Boneka Anda ini pasti akan terlihat sangat cantik dengan barang-barang bermerek dan mahal tersebut,” kata Kiana dengan menarik nafas setelah bicara.


Kiana mungkin akan mulai terbiasa menerima semua rasa sakit yang telah Tuan Lucas katakan padanya. Biarkan waktu saja yang akan menjawab semuanya dan semoga rasa sakit dan juga penderitaan yang Kiana rasanya akan sembuh bersama dengan bergantinya waktu.


__ADS_2