Suffering Bride

Suffering Bride
Kepolosan yang Memukau


__ADS_3

Saat ini Kiana dan juga Tuan Lucas sedang menikmati makanan didalam piring masing-masing sejak dari tadi Kiana mencoba untuk menghindari tatapan Tuan Lucas dan hal itu membuat Tuan Lucas merasa gemas sekali melihat perubahan sikap Kiana. Setelah selesai makan mereka berdua menuju ke lantai atas villa ini guna untuk menikmati udara yang sejuk setelah hujan lebat kemarin, cahaya mentari menjamah tubuh Kiana yang tidak tertutup oleh baju. Tuan Lucas memberikan paper bag pada Kiana dan hal itu membuat Kiana menatapnya.


“Apa ini?” tanya Kiana dengan melihat kearah leher Tuan Lucas yang dipenuhi dengan tanda cintanya.


Tuan Lucas mengetahui kemana arah pandang istri kecilnya itu pun lelaki tersebut langsung mengulas senyuman tipis saat melihat kedua pipi Kiana mulai merona merah mirip seperti kepiting yang baru saja dimasukkan kedalam air mendidih.


“Apakah kamu mengagumi bekas gigitan mu yang begitu ganas ini,” ledek Tuan Lucas sembari membuka kera bajunya dan memperlihatkan bekas kemerahan itu dengan begitu jelas.


Kiana langsung membuang wajahnya kearah lain dengan mengigit bibir bagian bawahnya kesal sendiri dengan tingkahnya yang begitu agresif tadi pagi. “Jangan di bahas lagi,” kata Kiana.


Tuan Lucas beranjak berdiri dari posisi duduknya kemudian mencondongkan tubuhnya dihadapan Kiana sembari menaruh kedua tangannya pada pegangan kursi seakan memerangkap istrinya itu disana. “Aku begitu menyukai sikapmu yang nakal itu, dan kamu harus menunggu balasanku nanti,” kata Tuan Lucas berbisik dengan menggoda di dekat telinga Kiana.


“Aku tidak akan mengulanginya lagi,” kata Kiana.


“Aku akan memintamu mengulanginya jika sampai tak melakukannya maka ….” Kiana langsung menyela kata-kata Tuan Lucas yang belum selesai itu.


“Jangan katakan ancaman lagi,” kata Kiana. “Memangnya ini apa?” tanya Kiana dengan mengambil paper bag itu.


Tuan Lucas berdiri dengan tegap dihadapan Kiana sembari melipat kedua tangannya angkuh di depan dadanya.


“Ponsel,” kata Tuan Lucas.


“Untuk apa ponsel ini?” tanya Kiana dengan polos sembari membuka isi didalam kardus itu.

__ADS_1


“Kamu harus menghubungi aku jika ada sesuatu yang penting seperti kemarin,” kata Tuan Lucas.


“Ini ponsel yang mahal dan jika jatuh saya tidak akan bisa menggantinya sedangkan sepeserpun uang saya tidak punya. Lebih baik saya menghilang seperti kemarin malam dari pada di suruh ganti ponsel ini jika rusak,” kata Kiana sembari menaruh ponsel itu di atas meja dengan sangat hati-hati.


“Aku bisa membeli ponsel itu sebanyak yang kamu mau. Kau tidak perlu menggantinya jika rusak ataupun hilang,” kata Tuan Lucas sembari memijat tengkuknya yang tiba-tiba terasa berat setelah mendengarkan ucapan yang Kiana katakan barusan.


“Saya takut mengunakan ponsel semahal ini dan lebih baik berikan saya ponsel yang biasa saja jangan pengeluaran terbaru seperti ini,” kata Kiana


“Kau itu benar-benar cerewet sekali! Apakah kamu tahu di laur sana begitu banyak sekali wanita yang menginginkan ponsel ini, tapi mereka tidak bisa memilikinya. Tapi kau justru menolak ponsel ini,” kata Tuan Lucas dengan memijat pelipisnya yang terasa pusing akibat sikap sederhana yang Kiana miliki.


“Saya bukan mereka.” Kiana bicara dengan kepala yang tertunduk.


“Jika kau mengunakan ponsel itu maka, aku akan menuruti apapun yang kamu inginkan,” kata Tuan Lucas.


“Saya ingin berjalan-jalan di mall dan membeli gula kapas tanpa ada pengawal yang mengikuti kita,” kata Kiana dengan wajah memelasnya yang sengaja ia buat mengemaskan untuk meluluhkan hati Lucas.


“Hanya itu?” tanya Tuan Lucas kaget dengan permintaan Kiana yang begitu sederhana sekali menurutnya.


Jikalau wanita lain yang ada di posisi Kiana pastilah mereka semua akan meminta liburan ke luar negri dan juga barang-barang pengeluaran terbaru, tapi wanita yang ada dihadapannya sekarang ini memang berbeda dengan yang lain. Tuan Lucas tertawa-terbahak mendengar permintaan Kiana.


“Apakah ada yang lucu dengan permintaan saya? Atau permintaan saya itu terlalu mustahil?” taya Kiana dengan wajah polosnya.


“Kau itu benar-benar mengemaskan sekali,” kata Tuan Lucas sembari mencubit kedua pipi Kiana tanpa menyakiti istri kecilnya itu.

__ADS_1


“Apakah Anda akan mengabulkan permintaan saya?”


“Ayo kita berangkat sekarang,” ajak Tuan Lucas.


Kiana melihat mulai dari ujung kaki sampai naik ke puncak kepala Tuan Lucas, kemudian berkata, “Apakah Anda akan pergi ke kantor?” tanya Kiana.


“Bukankah kita mau pergi ke mall?” tanya Lucas balik.


“Jika Anda menggunakan baju seperti ini maka semua orang akan melihat kearah kita dan akan menjadi pusat perhatian, tidak bisakah Anda memakai baju yang sederhana saja,” pinta Kiana.


“Kau itu cerewet sekali.” Setelah bicara Tuan Lucas kembali masuk kedalam kamarnya.


Seorang wanita paruh baya melangkah mendekati Kiana dengan berkata, “Ini untuk kali pertama Tuan Lucas menuruti permintaan orang lain selain Nyonya Smara,” kata pelayan tersebut.


Kiana langsung menarik pandangannya kearah pelayan itu dengan mengulas senyuman manisnya. “Tapi sebelum ini saya sudah pernah melihat Tuan Lucas bersikap baik sekali pada wanita lain bahkan selalu menuruti dan juga memanjakan wanita itu.” Kiana bicara dengan nada suara lembut namun, perempuan itu tidak bisa menjaga hatinya untuk tidak terluka ketika bayangan Wessica dan juga Tuan Lucas mulai menyelinap masuk kedalam ingatannya lagi.


“Tapi saya percaya jika hanya Anda saja yang Tuan Lucas cintai, karena selain Nyonya Smara beliau tidak pernah mengajak orang lain berkunjung kemari,” kata pelayan itu.


“Memangnya kenapa Tuan Lucas tidak pernah mengajak wanita lain kemari?” tanya Kiana.


“Tuan Lucas pernah berkata jika dia mengajak perempuan lain berkunjung ke villa ini pastilah perempuan itu membuat hati Tuan Lucas merasa nyaman,” jelas wanita paruh baya itu dengan senyuman mantap terukir di bibirnya.


Melihat handle pintu ruangan Tuan Lucas terbuka wanita paruh baya itu langsung memundurkan tubuhnya dua langkah kebelakang.

__ADS_1


__ADS_2