Suffering Bride

Suffering Bride
Menghindari Kiana


__ADS_3

"Tuan Lucas, kenapa kamu bilang begitu ke Wessica? Selama ini kamu nggak suka Wessica, tapi kenapa kamu buang dia begitu saat Wessica kembali?" ucap Kiana terdengar begitu tegar dan berani. Bahkan, tiba-tiba Kiana menarik tangannya dari genggaman Tuan Lucas seolah sang wanita tak mau bersentuhan dengan suaminya.


“Jangan pernah ikut campur urusanku, Kiana!”, suara laki-laki itu menggema seperti guntur yang memancar di langit yang sedang dibalut oleh gumpalan awan hitam.


"Aku tidak mengatakan dari awal bahwa itu salahku, tapi kenapa kamu masih tidak mau memaafkan Wessica?"


Kenyataannya, Kiana merasa sangat hancur ketika dia mencoba mendorong suaminya ke pelukan wanita lain, tapi apa yang bisa dia lakukan karena sejak awal Lucas hanya milik Wessica dan dia tidak lebih dari pengantin pengganti.


"Jangan mencoba berdebat denganku lagi." Setelah berbicara, pria itu segera menutup pintu kamarnya dengan paksa.


Kiana menjatuhkan tubuhnya ke tanah dengan air mata mengalir di wajahnya. Kiana seharusnya senang karena Tuan Lucas tidak langsung mengusirnya begitu melihat kehadiran Wessica di rumah ini. Namun rasa sedih justru semakin menguasai wanita tersebut, apalagi mengingat janjinya kepada orang tua angkatnya bahwa Kiana akan membantu Wessica kembali ke pelukan Tuan Lucas saat kembali.


Hati Kiana seakan mendapat pukulan keras saat mengingat bau Wessica yang sudah lama menempel di baju suaminya, mungkinkah mereka pernah bertemu sebelumnya sehingga Tuan Lucas tidak kaget dengan kehadiran Wessica di rumah ini? Ya, sepertinya karena malam itu Kiana curiga dengan parfum Wessica, tapi meski begitu, Kiana berusaha berpikir positif.


Kiana mengeringkan air mata yang membasahi pipinya kemudian wanita itu keluar kamar mencari Tuan Lucas. Kiana sudah berkeliling ke seluruh penjuru rumah, namun ia masih belum bisa menemukan keberadaan suaminya hingga suara Lena mulai menghentikan aktivitasnya.


"Apakah Nona Kiana sedang mencari Tuan Lucas sekarang?" Dia bertanya.


"Kau melihatnya?" tanya Kiana lagi.


"Beberapa waktu yang lalu, Tuan Lucas mengatakan bahwa dia akan pergi ke luar kota untuk urusan bisnis selama beberapa hari," kata Lena.

__ADS_1


"Terima kasih, aku akan kembali ke kamar nanti."


Saat ini Kiana sedang berjalan dari satu sisi ke sisi lain di kamarnya, wanita tersebut mengira bahwa Tuan Lucas sedang tidak ada urusan, namun pria tersebut berusaha untuk tidak menanyakan pertanyaannya. Kiana membuka pintu balkon kamarnya dan melihat sekitar 10 penjaga berdiri di depan pintu rumahnya. Tidak biasa rumah ini dijaga oleh begitu banyak pengawal. Akhirnya Kiana kembali menuruni tangga rumah lalu masuk ke teras rumahnya.


"Bisakah Anda membawa saya ke kediaman keluarga saya?" Kiana bertanya pada sopir yang membawanya keluar dari rumah ini.


“Maaf, tapi Tuan Lucas mengatakan bahwa Nona Kiana tidak bisa keluar rumah ini tanpa izin dari Tuan Lucas sendiri,” pria berjas serba hitam itu menolak dengan sopan.


"Tuan Lucas tidak ada di sini sekarang? Bisakah Anda membantu saya sekali ini saja?" Kata Kiana, berusaha mendapatkan simpati pria di hadapannya sekarang.


Dengan sangat hormat, pria itu membungkuk sedikit lalu memberi tahu Kiana. “saya akan menemani mbak liana kemanapun dia mau, tapi sebelumnya saya mohon ijin dulu Tuan Lucas,” kata pria itu lagi.


***


"Kita mau kemana Lucas sekarang?" tanya Fkar yang sudah sekitar satu jam berkeliaran di jalanan tanpa tujuan pasti.


"Pulanglah! Bukankah selama ini kau bilang rumahmu selalu sepi? Kalau aku ada di sana, rumahmu akan terasa sesak," kata Tuan Lucas sambil memijat pelipisnya yang terasa sangat pusing.


"Lebih baik ke rumahku yang kelihatannya tenang daripada ramai, tapi rusak karena sikapmu yang labil," kata Fkar terus terang.


"Berbicara sekali lagi, saya akan mengurangi gaji Anda untuk bulan depan." Hal ini selalu berhasil membungkam Fkar yang suka banyak bicara.

__ADS_1


"Dia selalu mengancam akan memotong gaji saya setiap saat. Dia pikir energi saya menggunakan energi matahari sehingga saya tidak perlu makan atau minum?" pikir Fkar dalam hati.


Setelah menempuh perjalanan beberapa lama, mobil Fkar akhirnya tiba di rumah pribadinya. Rumah ini memang tidak semewah rumah Tuan Lucas, namun terlihat begitu nyaman dan juga asri karena setiap hari ada pembantu yang membersihkan seluruh rumah. Fkar tinggal sendiri di rumah ini karena keluarganya tinggal di negara B.


Tanpa sepengetahuan pemilik rumah, Lucas mendobrak masuk ke dalam rumah sebelum pemiliknya. Fkar yang melihat hal itu hanya bisa malas memutar matanya karena beginilah ketika Lucas berkunjung ke rumahnya, pria itu akan menganggap rumah itu miliknya. Tak jarang Fkar mencemaskan tingkah Lucas yang selalu mengoceh karena peralatan di rumah Fkar tak selengkap di rumah pribadi sang pria. Namun, Lucas  selalu datang ke rumah Fkar saat sedang bingung dan juga membutuhkan tempat yang nyaman. Tempat.


“Buatkan aku secangkir kopi dan makanan!” perintah Tuan Lucas.


“Apa menurutmu rumahku adalah restoran sehingga kamu bisa memesan apapun yang kamu mau?” Fkar mengeluh sambil berjalan menuju dapur.


"Dia selalu marah, tapi dia melakukan apa yang saya suruh," kata Lucas sambil bersandar di sofa dan dengan angkuh melipat satu kaki di atas lututnya.


Selang beberapa saat, Fkar kembali menghampiri Lucas dengan nampan berisi makanan yang dipesan lelaki tadi. Meletakkan baki di atas meja, Lucas langsung melahap hidangan Fkar yang menurutnya sangat enak bahkan menghabiskan sepiring stik daging yang seharusnya dimakan sahabatnya.


"Nafsu makanmu selalu buruk, jadi saat kamu cemas," canda Fkar yang hanya bisa menelan ludahnya sendiri saat melihat bos dan sahabatnya melahap makanannya.


"Kamu bisa melakukannya lagi, jangan khawatir tentang hal-hal sepele seperti ini," kata Lucas dengan wajah polos.


"Lidahmu sangat ringan ketika berbicara, tapi sayangnya makanan yang kamu makan adalah yang terakhir di lemari esku karena aku banyak pekerjaan akhir-akhir ini. Apakah kamu tidak tahu bosku sibuk dengan dua wanita, jadi dia telah mendelegasikan begitu banyak pekerjaan selama beberapa hari terakhir ini?" Aku belum sempat berbelanja.” Fkar berbicara seolah-olah sedang membicarakan orang lain.


Lucas langsung melemparkan sendok ke kaki Fkar dengan kasar. Taki beruntung Fkar segera melebarkan kakinya, menyebabkan sendok tak berdosa itu jatuh ke lantai granit ruangan ini.

__ADS_1


__ADS_2