Suffering Bride

Suffering Bride
Menyembunyikan Kebenaran


__ADS_3

Lucas menghempaskan tubuh Kiana dilantai dengan kasar hingga kepala gadis malang itu membentur lantai marmer ruangan ini. Kiana menangis terisak dengan memegangi kepalanya yang terasa nyeri dan dengan tubuh yang bergetar menahan rasa takut dan juga kesedihan yang mulai memenuhi dirinya, menghancurkan setiap semangat di hidupnya. Apakah tidak ada kebahagian didalam dunia ini untuknya? Apakah karena Kiana adalah anak yang dibesarkan dalam panti asuhan sehingga membuatnya berbeda dari perempuan lainnya.


Kiana hanya ingin mendapatkan satu keluarga yang utuh namun, kenapa nasibnya jadi begini ataukah mungkin apa yang Kiana minta pada pemilik alam semesta ini terlalu berlebihan sehingga hanya kesedihan dan juga cemooh dari orang sekitar saja yang selama ini Kiana dapatkan.


Lucas melihat wajah Kiana dengan perasaan muak dan juga benci bahkan tidak ada sedikitpun rasa kasihan di hati Lucas untuk Kiana. Lelaki itu menganggap Kiana adalah satu-satunya orang yang patut disalahkan dalam semua hal ini dan sebelum melihat Wessica kembali padanya Lucas akan terus menyiksa Kiana.


“Tidak bisakah kau percaya dengan apa yang aku katakan?” tanya Kiana dengan tatapan mengiba.


Lucas melangkah mendekati Kiana dan Kiana yang masih duduk di lantai memundurkan tubuhnya dengan derai air mata. Kiana sungguh ketakutan sekali ketika melihat tatapan mata tajam itu dan ingin rasanya hati berlari menjauh dari Lucas, tapi jangankan untuk berlari menjauh bahkan Kiana bergerak saja kesusahan sekali hingga membuatnya hanya bisa pasrah dengan apa yang terjadi.


“Aku tidak akan pernah percaya dengan anak tidak memiliki status seperti kamu.” Tegas Lucas dengan rahang yang mengeras.


“Tidak ada satu anakpun di dunia ini yang ingin dilahirkan tanpa dekapan hangat kedua orangtuanya dan apakah kamu kira aku suka dihina oleh banyak orang,” jelas Kiana mengutarakan isi hatinya tanpa sadar.


Lucas mulai mencengkram rahang Kiana dengan kasar seakan lelaki itu ingin meleburkan tulang rahang gadis malang tersebut. “Kau memang pantas mendapatkan semua itu! Siapa tahu kedua orangtua kamu adalah penjahat atau mungkin Ibu kamu adalah penghibur disalah satu dunia malam dan kelahiran kamu tidak dinginkan sehingga membuatmu berakhir miris didalam panti asuhan itu.”


Tubuh Kiana bergetar menahan emosi dan tanpa sadar perempuan itu langsung melayangkan jemari lentiknya membentuk suatu tamparan di wajah tampan Septian. “Kau berhak menghinaku Lucas, tapi kau tidak berhak menghina kedua orangtuaku, aku tahu, aku adalah anak dari panti asuhan namun, aku percaya jika kedua orangtuaku berasal dari keluarga yang baik-baik dan suatu saat aku akan membuktikannya pada kamu,” suara Kiana bergetar dengan air mata yang terus saja jatuh membasahi wajah pucat nya itu.


Septian mengepalkan kedua tangannya dan salah satu tangan lelaki itu sudah siap menyentuh wajah Kiana hingga membuat Kiana langsung menutup matanya reflex. Lucas melihat air muka ketakutan dan juga sedih terpancar jelas dari wajah Kiana hingga lelaki itu urung melakukan kekerasan tersebut dan Lucas memilih melepaskan Kiana kali ini, ya hanya untuk kali ini saja.


“Seharusnya aku langsung menamparnya sampai tidak sadarkan diri, tetapi kenapa aku malah pergi dan membiarkannya dengan berani berbicara kurang ajar seperti itu padaku,” batin Lucas dengan melangkah menjauhi Kiana.

__ADS_1


Malam ini Kiana tidur didalam gudang dengan ditemani bantal dan juga guling yang sudah usang dan memiliki bau tidak enak sekali. Kiana melihat kearah dinding gudang ini yang mulai terkelupas karena dimakan oleh usia. Kiana masih bisa merasa bahagia karena setidaknya ruangan gudang ini sudah jauh lebih baik kondisinya dari pada kemarin.


Kiana menikmati suara perutnya yang berbunyi menahan kelaparan sebab dari tadi pagi Kiana belum memasukkan sesuap nasi atau makanan dengan jenis apapun kedalam perutnya dan hanya air putih saja yang berhasil Kiana minum. Kiana merasa lemas sekali sehingga tanpa sadar gadis itu terlelap didalam tidurnya dengan kedua tangan memeluk perutnya yang kelaparan.


Kediaman Hitsyah.


Anna dan juga Raka masih duduk di teras rumahnya menikmati indahnya bintang dimalam hari ini. Kedua orang itu sudah merasa jauh lebih tenang ketika mengetahui kalau sedikitpun Lucas tidak pernah curiga dengan kepergian Wessica yang secara tiba-tiba. Kedua orang itu bahkan tidak tahu malu karena mereka mengorbankan putri angkatnya demi untuk melindungi putri kandungnya.


“Ma, apakah Wessica tidak menghubungi kamu sama sekali?” tanya Raka. Lelaki itu menatap kearah istrinya dengan penuh selidik.


“Tidak,” jawab Anna tanpa melihat suaminya.


“Papa tidak usah terlalu banyak berpikir. Karena Septian begitu mencintai putri kita sehingga lelaki itu tidak akan pernah membiarkan perusahaan kita jatuh begitu saja. Sekarang yang kita lakukan hanya perlu berdoa saja supaya anak nakal itu lekas pulang ke rumah,” kata Anna.


“Mama terlalu memanjakan Wessica sehingga dia kurang ajar seperti ini! Jika sampai Lucas meminta orangnya untuk menyelidiki semua tentang Wessica maka kita akan habis olehnya,” kata Raka.


“Papa jangan bicara seperti itu dan sebaiknya Papa juga harus berusaha untuk menghilangkan kecurigaan Lucas pada kita,” kata Anna sembari menggenggam tangan suaminya meminta bantuan agar putri kesayangannya tidak mendapatkan masalah.


“Papa tahu caranya.” Raka menggganggukkan kepalanya mantap dengan apa yang sekarang sedang terlintas dalam benaknya itu.


Raka membisikkan sesuatu di dekat telinga Anna dan wanita paruh baya itu menganggukkan kepalanya mengerti dengan bibir yang tersenyum manis. Entah apa yang sedang kedua orang itu rencanakan yang pasti itu akan membuat Kiana semakin tersiksa.

__ADS_1


Kiana terbangun di tengah malam ketika hidungnya mencium aroma masakan yang begitu lezat sekali. Kiana mulai mengucek kedua matanya dan samar-samar ia melihat ada sesuatu di atas piring yang berada dalam jangkauannya. Kiana melihat seorang perempuan paruh baya yang sedang tersenyum padanya.


“Ka-kamu siapa?” tanya Kiana dengan mendudukkan tubuhnya.


“Nama saya Lena, saya adalah pelayan di rumah ini,” kata wanita paruh baya itu memperkenalkan diri.


“Kenapa saya baru melihat Anda?” tanya Kiana yang mulai merasa tenang dan rasa takutnya juga mulai menguap sedikit.


“Saya sudah melihat Nona Kiana sejak dari awal, namun saya tidak menunjukkan diri, itu atas perintah Tuan Lucas,” kata Lena menjelaskan.


Kiana meneguk salivahnya sendiri ketika gadis itu melihat isian di atas piring yang tidak jauh dari posisinya sekarang. Lena tersenyum tipis kemudian memberikan piring itu untuk Kiana.


“Nona, lekaslah makan agar saya bisa keluar dari ruangan ini sebelum ada yang tahu,” kata Lena.


“Apakah Lucas tidak menghantui tentang hal ini?” tanya Kiana dan Lena langsung menggelengkan kepalanya. “Saya tidak bisa memakan ini, saya tidak mau kamu kena masalah,” tolak Kiana dengan meneguk salivahnya sendiri.


Perut Kiana berbunyi menandakan jika gadis itu sedang kelaparan, tapi Kiana tidak mau jika sampai Lena mendapatkan masalah karena dirinya. Tatapan mata Lena yang tulus membuat Kiana tidak tega kalau membiarkan perempuan itu di hukum okeh Lucas karena diam-diam menentang perintah lelaki kejam itu dengan memberikannya makan di tengah malam seperti ini.


“Didalam lorong ini tidak ada cctv jadi tidak akan ada yang tahu dan sebaiknya Nona segera memakannya,” pinta Lena dengan perasaan kasihan.


“Saya tidak akan mati karena kelaparan dan saya masih bisa menahan rasa lapar ini sampai keesokan hari, tapi saya tidak akan bisa tahan jika ada orang yang terkena masalah karena membantu saya.”

__ADS_1


__ADS_2