
Saat ini Kiana sedang berada di dalam mobil bersama dengan Tuan Lucas mereka sedang dalam perjalanan menuju ke rumah keluarga Hitsyah. Tadinya Kiana mengira jika ia akan pergi sendiri ke rumah keluarga Hitsyah, tapi siapa sangka jika Tuan Lucas justru mengantarkannya terlebih dahulu sebelum berangkat ke kantor.
Di dalam mobil itu tidak ada satupun orang yang membuka suara sehingga kabin mobil itu terlihat sunyi dan hanya suara mesin mobil sajalah yang sayup-sayup terdengar. Tuan Fkar melihat ke arah keduanya secara bergantian melihat suasana horor yang tercipta di baris kedua mobil ini membuat Tuan Fkar diam tidak berucap satu kata pun.
“Tuan Lucas terima kasih karena sudah mengantarkan saya dan semoga pekerjaan Anda lancar hari ini,” kata Kiana Sebelum turun dari dalam mobil.
“Nanti sore aku akan menjemputmu.” Tuan Lucas bicara tanpa menjawab ucapan Kiana sebelumnya.
“Terima kasih, tapi jika Anda repot maka saya bisa pulang sendiri,” jawab Kiana dengan mengulas senyuman manis.
Setelah melihat mobil yang dikemudikan oleh Tuan Fkar menjauhi Kiana pun melangkah masuk ke dalam rumah keluarga Hitsyah. Rumah itu masih terlihat sama seperti beberapa bulan yang lalu saat Kiana masih tinggal di dalamnya, Kiana mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan itu dengan seksama seakan mencoba mengamati sesuatu hal dan benar saja yang ia duga sebelumnya semua benda-benda terletak pada tempatnya tidak ada yang berubah sama sekali.
“Nona Kiana selamat pagi,” saa pelayan rumah itu kepada Kiana. Wanita paruh baya yang sekarang sedang ada di hadapan Kiana adalah saudara Lena namun Kiana sendiri tidak mengetahui tentang kebenaran tersebut.
Kiana membalas sapaan wanita paruh baya itu dengan tersenyum manis. “Selamat pagi juga,” kata Kiana. “di mana Mama dan juga Papa?” tanya Kiana.
“Mereka sedang sarapan di dapur perlukah saya katakan jika Nona Kiana datang berkunjung?” tanya wanita paruh baya itu.
“Tidak perlu karena saya sendiri yang akan menghampiri mereka,” kata Kiana lalu wanita paruh baya itu menganggukkan kepalanya setuju.
Kiana melangkah menuju ke dapur dan tiba-tiba bayangan akan semua kesedihan dan juga penghinaan yang pernah ia dapatkan di dalam rumah ini mulai terlintas di dalam benaknya. Kiana mencoba untuk menggeleng-gelengkan kepalanya guna untuk menepi semua bayangan mengerikan tersebut dan ia pun berhasil menenangkan dirinya sendiri. Setelah tenang Kiana barulah masuk ke dalam dapur.
Wessica dan juga Raka yang melihat kehadiran Kiana di dalam rumahnya segera beranjak berdiri lalu menghampiri anak angkatnya tersebut. Seperti biasa Anna selalu memperhatikan mulai dari ujung kaki sampai ke puncak kepala Kiana dan wanita baru baya itu menarik salah satu senyuman sinis pada bibirnya setelah melihat Kiana menggunakan baju-baju pengeluaran terbaru di bulan ini dan baju itu adalah brand dari desainer ternama di kota tersebut bahkan Kiana juga menggunakan perhiasan dari mutiara asli sungguh membuat Anna terbakar emosi.
“Harusnya Wessica yang memakai semua itu dan bukan anak panti asuhan tersebut,” kata Anna di balik senyuman manisnya.
“Kiana kamu datang berkunjung dan tidak memberitahukannya kepada Papa dan juga Mama,” kata Raka setelah lelaki itu beranjak berdiri dari posisi duduknya.
__ADS_1
“Sebenarnya Kiana ingin menghubungi Mama dan juga Papa terlebih dahulu namun Tuan Lucas meminta Kiana untuk langsung datang ke rumah ini tanpa memberikan kabar,” jawab Kiana.
“Kiana bukankah kamu tidak memiliki ponsel? Tapi kamu tenang saja karena nanti Mama akan memberikan ponsel untukmu supaya kita bisa saling berhubungan melewati pesan singkat ataupun telepon setiap harinya,” kata Anna berpura-pura baik.
“Beberapa hari yang lalu Tuan Lucas membelikan ponsel untuk Kiana.” Setelah bicara wanita itu mengeluarkan ponsel dari dalam tas jinjingnya Anna dan juga Raka saling menatap satu sama lain melihat Tuan Lucas memberikan ponsel yang begitu mahal pada Kiana.
“Ponsel itu sangat bagus sekali apakah Tuan Lucas yang memberikannya padamu?” tanya Raka mencoba untuk mencari informasi.
“iya, Tuan Lucas memberikannya kepada Kiana. Sebenarnya Kiana merasa tidak pantas menggunakan ponsel mahal ini bahkan Kiana saja takut jika sampai ponsel itu terjatuh dan rusak namun, Tuan Lucas mengatakan jika sampai ponsel itu rusak atau pun jatuh dia akan membelikannya yang baru untuk Kiana tanpa Kiana harus mengganti harga ponsel yang rusak tersebut,” jelas Kiana kepada kedua orang tuanya.
Anna yang mendengarkan penjelasan anak angkatnya tersebut justru berfikir kalau Kiana kini sedang memamerkan kebaikan Tuan Lucas padanya. Anna sungguh ingin menarik rambut panjang Kiana yang tergerai begitu saja tapi tatapan tajam Raka menghentikan niat awal wanita baru baya tersebut.
Sekarang mereka bertiga sudah duduk di ruangan tengah rumah ini. Terdapat begitu banyak camilan yang Kiana sukai tergeletak di atas meja, Anna sengaja menyuruh pelayannya untuk membuatkan semua makanan kesukaan Kiana.
Anna melahap makanan yang begitu ia sukai tanpa malu-malu Raka dan juga Anna yang melihat gaya makan Kiana begitu rakus merasa mual sekali namun kedua orang itu harus menahan gejolak di dalam perutnya karena tidak ingin Kiana tersinggung. Jika sampai Kiana tersinggung maka itu tidak akan baik untuk mereka kedepannya karena nasib Wessica berada di tangan Kiana.
“Kiana Mama dengar dari pengawal jika beberapa hari yang lalu kamu pergi bersama Tuan Lucas ke Villa yang ada di perdesaan?” tanya Anna.
“Iya Tuan Lucas mengajak Kiana pergi ke villa yang ada di perdesaan dan Kiana begitu menyukai suasana asri di sekitar Villa tersebut,” kata Kiana jujur.
Setelah bicara Kiana seakan mengingat kembali kejadian yang ada di Villa tersebut mulai dari sikap Tuan Lucas yang begitu hangat padannya sampai ucapan yang begitu kejam karena Tuan Lucas katakan padanya bahkan bayangan tentang malam di mana Kiana terjebak diantara hujan petir pun ikut berputar ulang seperti kaset yang diputar dengan tempo lambat.
“Kamu pasti sangat senang sekali berada di villa itu karena selama ini kamu begitu menyukai suasana pedesaan,” tebak Raka dan Kiana langsung menganggukkan kepalanya.
“beberapa hari yang lalu Mama dan juga Papa melihat berita yang sedang trending di televisi dan juga di media sosial,” kata Anna mencoba untuk memancing Kiana berbicara mengenai mall yang Tuan Lucas beli di perdesaan tersebut.
Kiana mengurutkan keningnya lalu berkata, “memangnya berita apa itu?” tanya Kiana polos karena dirinya jarang sekali mendengarkan berita utama yang sedang terjadi sebab Kiana lebih suka membaca novel saja.
__ADS_1
“Kamu tidak tahu atau hanya berpura-pura tidak tahu?” tanya Anna dengan ucapan yang serius namun wanita itu mengimbanginya dengan seulas senyuman manis agar Kiana tetap merasa nyaman di sampingnya.
“Sungguh Kiana tidak mengetahui berita apa yang sedang mama dan juga Papa katakan,” jawab Kiana jujur.
“Tuan Lucas membeli mall terbesar yang ada di perdesaan tersebut kemudian mengganti nama mall yang baru saja Tuan Lucas beri menjadi nama Kiana plaza,” jelas Anna dengan tatapan menyelidiki ke arah anak angkatnya tersebut.
Kiana yang tadinya sedang menyandarkan punggungnya di sofa pun dengan kasar langsung menarik punggungnya itu lalu duduk menghadap ke arah Raka dan juga Anna dengan tatapan serius sekali.
“mana mungkin Tuan Lucas melakukan hal tersebut Mama dan juga Papa jangan berbohong pada Kiana,” jawab Kiana dengan polos yang masih belum percaya apa yang Raka dan juga Anna ucapkan barusan.
“kalau kamu tidak percaya dengan ucapan Papa dan juga Mama sebaiknya lihatlah berita yang sedang trending topik di media sosial,” pinta Anna.
Kiana langsung menyambar ponselnya yang ada di atas meja dan benar saja apa yang kedua orang tua mengganti nama mall itu menjadi Kiana plaza.
“Apakah kemarin kamu meminta mall itu pada Tuan Lucas?” tanya Anna.
Kiana menceritakan kejadian yang sesungguhnya di mana waktu itu Kiana hanya asal bicara saja setelah mendengarkan penuturan Kiana. Raka dan juga Anna mau tidak mau harus percaya kalau Tuan Lucas mulai menaruh hati pada anak angkatnya ini hal itu membuat status Wessica menjadi semakin terancam.
Mobil Tuan Fkar berhenti di halaman rumah keluarga Hitsyah dan selang beberapa waktu Kiana, Anna dan juga Raka berjalan keluar dari pintu utama rumah tersebut.
Kiana sedang berpamitan kepada kedua orang tua angkatnya hal itu tidak luput dari perhatian Tuan Lucas. Tuan Lucas merasakan hatinya pilu ketika melihat tatapan kebahagiaan yang begitu nyata bisa terlihat dari bibir istrinya. Tapi Tuan Lucas justru melihat tatapan penuh kebencian memenuhi seluruh pandangan Raka dan juga Anna saat ini.
“aku sangat kasihan dengan nasib Kiana,” kata Tuan Fkar mencoba memancing empati di hati majikannya tersebut.
“jika kasihan maka belikan dia barang-barang baru supaya bahagia,” kata Tuan Lucas asal bicara.
“maaf kawan aku tidak memiliki begitu banyak uang sepertimu jadi lebih baik merasa kasihan saja sudah cukup,” kata Fkar dengan menggaruk kepalanya yang tidak.
__ADS_1
Setelah berpamitan Kiana masuk ke dalam mobil dan perlahan tapi pasti mobil itu mulai menjauh dari kediaman Hitsyah. Wajah bahagia penuh dusta yang tadi sempat Anna tunjukkan di hadapan Kiana kini mulai melebur berganti dengan wajah penuh akan kobaran api emosi yang menyala-nyala hingga membuat wajah cantik itu memerah.