Suffering Bride

Suffering Bride
Tawa yang mengancam


__ADS_3

Kiana buru-buru menjauhkan Lucas darinya karena tak ingin orang lain melihat mereka begitu dekat. Kiana mengira mungkin ada paparazzi yang mencoba mencuri fotonya secara diam-diam dan menyebarkannya di media. Membayangkan semua itu Kiana merasa sangat takut, apalagi wanita yang melahirkan suaminya itu tidak tahu bahwa dialah yang dinikahi oleh Tuan Lucas dan bukan Wessica.


Tuan Lucas menatap Kiana dengan mata tajamnya. Pria itu jelas terlihat sangat terganggu ketika mengetahui Kiana buru-buru menjauhkan diri seolah-olah Lucas mengidap penyakit menular yang harus dia hindari.


"Apakah kamu tidak suka berada di dekatku?" Pertanyaan itu membuat bibir Lucas begitu kritis hingga membuat Kiana menghela napas pelan.


"Bu-bukan itu maksudku, hanya saja aku tidak ingin orang lain memperhatikan kita," kata Kiana, tidak ingin pria itu salah paham.


"Kalau begitu, ayo langsung ke restoran." Tanpa menunggu respon dari Kiana, pria itu langsung menggandeng tangan istrinya lalu menghampiri restoran yang ada di pinggir pantai itu.


"Saya tidak mau makan di restoran. Saya ingin makan di dekat pantai sambil menikmati angin sepoi-sepoi," kata Kiana.


Lucas menghentikan langkahnya dan menatap Kiana. Salah satu tangan pria itu terangkat lalu perlahan bergerak di atas kening istrinya, mencoba menyadarkan wanita yang kini bersemayam di sudut hatinya.


"Udara di dekat laut sangat kencang. Kok bisa dibilang sekarang angin laut bertiup pelan?" kata Lucas mengulang omong kosong Kiana.


Kiana hanya terkekeh sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


“Kalau mau menikmati pemandangan di luar pantai, pakai jaket dan bukan baju tipis gitu,” kata Tuan Lucas dengan gaya bahasa yang sangat angkuh.


"Aku tidak akan sakit dan jika aku sakit aku tidak akan mengganggumu sedikitpun," kata Kiana.

__ADS_1


Lucas segera melepas jaket yang dikenakannya dan membantu Kiana memakainya. Awalnya, Kiana tentu saja menolak untuk memakai jaket suaminya, tapi itu bukan nama Tuan Lucas jika dia tidak mengucapkan kata-kata ancaman yang membuat Kiana menyetujui permintaannya tanpa berpikir.


Keduanya sedang duduk di tepi pantai. Beberapa pramusaji terlihat mulai menghampiri mereka dengan membawa nampan berisi makanan yang telah dipesan kedua orang tadi.


Sejak saat itu, Kiana terus memperhatikan restoran ini dan tidak terlihat satupun pengunjung yang datang ke restoran ini. Restoran ini terlihat sangat sepi dan hanya ada mereka berdua bersama para pekerja restoran. Setelah para pramusaji restoran itu meninggalkan mereka berdua, Kiana mulai melirik Tuan Lucas.


"Tuan Lucas, apakah Anda pernah makan di tempat ini sebelumnya?" Kiana bertanya pada pria yang sedang berkonsentrasi pada ponselnya.


Tuan Lucas mulai mengangkat matanya lalu menatap Kiana dengan sedikit mengernyit. “Saya sudah beberapa kali ke sini, terus kenapa?” ​​tanya Tuan Lucas.


"Restoran ini terlihat sangat sepi dan kami satu-satunya pengunjung. Setahu saya, jika restoran terlihat sepi, biasanya makanannya tidak enak," kata Kiana pelan karena takut orang lain mendengarnya.


Tuan Lucas tertawa mendengar cerita Kiana. Wanita ini memang begitu naif, namun justru sikap inilah yang membuat Lucas betah berlama-lama dengan Kiana karena dari kehadiran wanita itu, hidup Lucas terasa sangat berwarna dan juga penuh kebahagiaan.


Sementara itu, Kiana justru gemetar ketakutan saat mendengar suaminya tertawa seperti setan yang baru saja menemukan mangsa yang sudah lama dicarinya.


"Maaf jika aku mengekspresikan diriku dengan buruk, tapi jangan tertawa seperti itu", kata Kiana jujur.


“Kenapa aku tidak boleh tertawa?” tanya Lucas sambil membenarkan baju yang dikenakannya.


"Setiap kali Anda tertawa, itu benar-benar membuat saya merasa sangat terancam. Saya harap ini tidak menyinggung perasaan Anda, Tuan Lucas."

__ADS_1


"Aku menyewa tempat ini jadi tidak ada yang mengganggu kita." Tuan Lucas menjawab dengan jujur.


Tuan Lucas ingin sekali memaki kata-kata Kiana, mengatakan bahwa tawanya terdengar seperti ancaman bagi wanita di hadapannya sekarang. Lucas sangat ingin membuang wanita itu ke air, tak jauh dari posisinya saat ini. Namun Lucas menahan amarahnya karena kini ia telah memutuskan akan menjaga Kiana dan juga menyayangi istrinya.


"Ayo, jangan banyak bicara nanti makanannya jadi dingin."


“Ya, benar Tuan Lucas, kita harus segera makan makanan ini.” Kiana yang sebelumnya terlihat sangat ketakutan, kini mulai terlihat bahagia seolah wanita itu baru saja memenangkan lotere.


Tuan Lucas mengambil beberapa makanan lalu memasukkannya ke dalam mulutnya.


“Tuan Lucas , saya bisa makan banyak makanan ini, itu makanan favorit saya, dan biasanya saya sulit mengontrol bibir saat mengunyah makanan enak ini,” kata Kiana jujur.


"Makan semuanya jika kamu masih pendek, maka aku akan meminta pelayan untuk membuatnya lagi." Lucas berbicara dengan sangat ringan.


"Tidak perlu, ini sudah cukup," kata Kiana.


Usai berbicara, Kiana langsung mengambil dua menu makanan dan mengubahnya menjadi piring dan Kiana pun mengambil dua potong ayam goreng berukuran jumbo. Semua makanan tidak cukup di piring.


Tuan Lucas yang melihat hal itu menelan ludahnya sendiri, lalu lelaki itu meletakkan sendok dan garpu yang tadi dipegangnya ke atas piring, lalu bersandar di kursi yang didudukinya.


Nafsu makan laki-laki itu menguap begitu saja saat melihat cara Kiana memakan piring di hadapannya sekarang mulai melihat cara Kiana memakan isian dalam piring yang ada di hadapannya.

__ADS_1


__ADS_2