
Kiana masuk ke dalam rumah dengan memeluk Tuan Lucas begitu erat sekali. Kiana seolah lupa kalau sekarang ia sedang berdekatan dengan lelaki yang tidak kalah kejam dengan kedua orang tua angkatnya. Tapi entah mengapa Kiana justru merasa nyaman ketika berada di dekat.
“Jangan takut tidak akan ada yang terjadi, sekarang masuklah ke dalam kamar mandi dan ganti bajumu,” kata Lucas dengan suara yang lembut.
Kiana melihat ke arah Lucas kemudian menganggukkan kepalanya setuju. Kiana melangkah perlahan masuk ke dalam kamar mandi, entah mengapa suara Lucas yang terdengar lembut seakan membuat hati Kiana merasa jauh lebih tenang bahkan perempuan itu juga merasa seperti dilindungi oleh lelaki yang selama ini ingin ia hindari tersebut.
Lucas mondar-mandir di luar kamar mandi dan sesekali tatapan lelaki itu melihat ke arah pintu kamar mandi yang masih tertutup rapat.
“Jika dalam 2 menit lagi perempuan itu tidak keluar dari kamar mandi maka aku akan merobohkan pintunya,” kata Lucas di dalam hatinya.
Waktu sudah menunjukkan 1 menit berjalan dan pintu itu masih tertutup Lucas mulai melangkah menuju pintu tersebut, Lucas berniat mendobrak pintunya, tetapi di saat yang bersamaan Kiana membuka pintu itu.
Kilatan petir beserta guntur menerobos masuk jendela hal itu membuat Kiana langsung berlari masuk ke dalam pelukan Tuan Lucas dengan mata yang terpejam dan tubuh menggigil ketakutan.
“Saya tidak akan nakal jangan suruh saya berdiri di halaman rumah ketika ada petir dan juga hujan,” kata Kiana lagi dengan mempererat pelukannya pada tubuh Tuan Lucas.
“Tidak akan ada yang menghukum kanu, kamu tidak perlu merasa ketakutan seperti ini,” apa Tuan Lucas dengan memeluk tubuh Kiana kemudian membimbing perempuan itu menuju ke atas ranjang tanpa melepaskan pelukannya.
__ADS_1
Kiana membaringkan tubuhnya dengan masih memeluk Tuan Lucas. “Sekarang tidurlah dan tidak perlu takut karena aku akan berada di sampingmu,”
Kiana menengadahkan wajahnya melihat ke arah Tuan Lucas dengan wajah yang kuyu. “Jangan pernah tinggalkan aku,” entah apa yang sedang Kiana pikirkan sekarang, tetapi dari sorot matanya yang memancarkan ketakutan membuat Lucas tidak tega menolak dan langsung menganggukkan kepala.
Selang beberapa waktu.
Lucas merasakan detak jantung Kiana mulai stabil dan pelukan perempuan itu pun mulai merenggang tidak seperti tadi. Lucas memperhatikan wajah Kiana yang sekarang sedang tertidur dengan lelap. Kening Kiana terlihat berkerut seakan menunjukkan meskipun perempuan itu sedang tertidur sekarang, tetapi dia tidak pernah bisa melepaskan beban yang ada di hatinya.
Tangan Lucas yang kekar mulai mengusap lembut wajah cantik Kiana yang polos tanpa sedikitpun make up. Wajah cantik itu terlihat pucat hal yang menunjukkan jika semua tidak sedang baik-baik saja. Lucas tiba-tiba merasa penasaran dengan apa yang terjadi sehingga membuat Kiana ketakutan seperti itu, ataukah mungkin Wessica yang membuatnya trauma atau kedua orang tua dari kekasihnya tercinta tersebut? Pertanyaan-pertanyaan itu terus saja berputar ulang di dalam pikiran Lucas sehingga membuat lelaki itu merasa tidak tenang sekali.
“Mama ... Papa. Tolong jangan suruh Kiana untuk berdiri di halaman rumah Kiana sangat takut sekali pada petir dan juga hujan yang begitu lebat,” racau Kiana di dalam mimpi dengan suara yang lirih. “Wessica tolong selamatkan aku, bantu aku untuk membujuk Papa dan juga Mama supaya membiarkan aku masuk ke dalam. Wessica kenapa kamu tersenyum seperti itu tolong bantu aku kali ini saja.”
Lucas beranjak berdiri dari atas ranjang kemudian keluar dari kamarnya. Lelaki itu melangkah cepat menuju lorong tempat Lena beristirahat dan setelah sampai di depan ruangan kamar pelayannya itu barulah Lucas mengetuk pintu ruangan tersebut dengan cukup keras sekali. 3 menit berikutnya Lena terlihat keluar dari ruangan tersebut dengan menguap namun setelah melihat Senor Lucas berdiri di hadapannya rasa kantuk lena tiba-tiba melebur begitu saja.
“Apa ada yang perlu saya bantu, Tuan Lucas?” tanya Lena.
Kiana mengerjap-mengerjakan matanya kemudian memegang kepalanya yang terasa pusing dan tiba-tiba perempuan itu sadar jika sekarang ada kain kecil yang menempel pada keningnya. Kiana menjauhkan kain tersebut dari keningnya dan perempuan itu baru menyadari jika kini Tuan Lucas tidur dengan posisi yang duduk.
__ADS_1
“Kenapa dia tidur dengan posisi duduk seperti itu,” batin Kiana.
Karena tidak ingin membangunkan Tuan Lucas. Kiana pun mulai beranjak berdiri dari atas ranjang dengan gerakan yang pelan. Kiana melangkah menuju kamar mandi dan setelah itu dia berjalan menuju ke dapur guna untuk membuat sarapan pagi seperti biasanya.
“Nona Kiana kenapa Anda turun ke lantai bawah? Apa yang sedang anda butuhkan?” tanya Lena panik setelah melihat wajah Kiana yang nampak pucat masih.
“Kiana tidak membutuhkan apapun, Kiana mau membuat sarapan pagi untuk Tuan Lucas seperti biasanya,” jawab Kiana sembari menggigit bibir bagian bawahnya guna untuk menekan rasa nyeri yang sedang berdenyut-denyut di puncak kepalanya sekarang.
“Sebaiknya Nona lekas kembali masuk ke dalam kamar sebelum Tuan Lucas marah,” kata Lena.
“Justru Tuan Lucas akan menghukumku kalau tahu aku bermalas-malasan dan tidak membuatkannya sarapan pagi,” kata Kiana.
“Tubuh Nona Kiana masih demam, saya antar naik ke lantai atas sebelum Tuan Lucas marah,” kata Lena untuk kali kedua.
Kiana menarik tangannya yang digenggam oleh Lena lalu berkata, “Sebenarnya apa yang sedang kamu katakan? Aku bingung sekali?” tanya Kiana dengan sorot mata meminta penjelasan secara detail.
Kiana menceritakan perihal Lucas yang malam-malam membangunkan tidurnya hanya untuk bertanya obat demam dan juga cara menurunkan demam di tubuh Kiana. Lena membawakan handuk kecil beserta air hangat menuju ke ruangan Tuan Lucas bahkan Lena juga berinisiatif untuk membantu Tuan Lucas mengompres kepala Kiana, tetapi tidak disangka justru Lucas meminta Lena untuk keluar dari ruangan kamar itu karena Tuan Lucas sendirilah yang akan merawat Kiana yang sedang demam tinggi.
__ADS_1
Kiana yang mendengarkan penjelasan dari Lena tentu tidak percaya sedikitpun apa yang perempuan paruh baya itu ceritakan padanya. Tapi Kiana terdiam sejenak mencoba mengingat apa yang terjadi semalam dan satu persatu penggalan kejadian semalam mulai kembali ke ingatan Kiana. Karena memejamkan kedua matanya cukup erat setelah ia mengingat kalau ternyata kemarin Kiana melakukan hal bodoh seperti itu tiba-tiba Kiana merasa tubuhnya tidak seimbang dan perempuan itu pun hampir saja terjatuh karena pusing kepalanya tiba-tiba semakin bertambah namun, di saat yang sama ada sepasang tangan yang memegang tubuhnya.
“Apakah kamu baik-baik saja?” pertanyaan Tuan Lucas terdengar begitu menakutkan di telinga Kiana sehingga membuat perempuan itu tidak berani menatap ke asal suara tersebut.