Suffering Bride

Suffering Bride
Binggung akan Perasaan Sendiri


__ADS_3

Setelah selesai sarapan pagi Kiana memilih untuk menyapu halaman rumah seperti biasanya kemudian wanita itu menyirami tanaman dan sesekali Kiana menyanyikan lagu galau, lagu itu sangat cocok sekali untuk isi hatinya sekarang yang sedang gundah memikirkan tetang sesuatu yang mulai mengganggu hati dan juga pikirannya. Kiana mengangkat wajahnya melihat kearah langit, sinar mentari membuat wanita itu memicingkan kedua matanya dan Kiana langsung mengarahkan tangannya untuk menghalau mentari pagi itu langsung mengenai kornea matanya.


“Apa yang sedang kamu lakukan?” tanya Lucas.


Kiana sempat terjingkat kaget sebelum membalikan tubuhnya menghadap Tuan Lucas. “Saya sedang menyirami tanaman, Tuan,” jawab Kiana dengan kepala tertunduk.


“Apakah kamu begitu menyukai sinar mentari?” tanya Lucas.


“Saya hanya mengingat suasana perdesaan yang begitu asri dan banyak pohon. Biasanya di tempat seperti itu sinar mentari akan bersinar jauh lebih terik dari saat ini,” kata Kiana jujur.


Kiana mengangkat pandangannya sesaat ketika Tuan Lucas sedang mengangkat pandangannya melihat ke langit. Wajah Tuan Lucas  yang terkena pancaran sinar mentari sungguh begitu sempurna dengan rahang kokoh dan juga bakal janggut yang hampir tubuh sungguh mempertegas kharisma yang lelaki itu miliki. Liana tanpa sadar memuja lelaki itu lagi dan lagi bahkan kini ia sampai tidak berkedip melihat kearah Tuan Lucas.


“Apakah kau sudah puas melihat wajahku!” perkataan Tuan Lucas sungguh membuat Kiana langsung kembali ke dunia nyata yang penuh akan kepedihan dan juga skandal yang tidak selesai.


“Maaf,” kata Kiana kembali menundukkan kepalanya.


Kiana tidak boleh menyukai bahkan mengagumi sosok lelaki tampan dan juga arogan yang ada dihadapannya saat ini karena Tuan Lucas hanyalah milik Wessica saja dan selamanya akan begitu, Kiana tidak boleh jatuh cinta pada Tuan Lucas dan ia juga tidak boleh sampai hamil! Mengingat kata ‘hamil’ membuat Kiana langsung meneguk ludah. Tiba-tiba tenggorokannya terasa kering bagaikan tidak ada cairan disana. Jantung Kiana tiba-tiba berdetak dengan sangat kencang sekali ketika ia mengingat jika tidak pernah menggunakan pil kontrasepsi selama berhubungan dengan Tuan Lucas.


“Ada apa?” tanya Lucas dengan kening yang berkerut.


“Bolehkan saya keluar dari rumah ini untuk membeli sesuatu dan saya janji tidak akan lama,” kata Kiana meminta ijin. “Tapi saya juga minta uang untuk membeli barang itu,” kata Kiana lagi dengan menggenggam erat kedua tangannya sampai mengeluarkan keringat.


“Kau mau kemana?” tanya Tuan Lucas semakin merasa penasaran.


“Ke apotik,” jawab Kiana.


Tuan Lucas langsung mengikis jarak dengan Kiana setelah mendengarkan apa yang perempuan itu katakan barusan. Tanpa disangka Tuan Lucas langsung mengarahkan punggung tangannya ke kening Kiana tetapi suhu tubuh wanita itu normal dan tidak demam seperti 1 minggu yang lalu.


Dengan perlahan Kiana menjauhkan tangan Tuan Lucas dari keningnya lalu berkata, “Saya tidak sedang demam,” kata Kiana.


Tuan Lucas memasukkan kedua tangannya kedalam saku celana sebelum bicara. “Jika tidak demam lalu kenapa kamu mau pergi ke apotik?” tanya Tuan Lucas dengan tatapan penuh selidik.

__ADS_1


“Saya ….” Perkataan Kiana seakan tersekat di tenggorokannya hingga membuat suara Kiana tidak bisa keluar lancar dari tenggorokannya.


“Katakan!” perintah Tuan Lucas dengan nada suara rendah.


“Saya akan membeli alat kontrasepsi,” kata Kiana.


Kedua pipi Kiana merona merah merasa malu dengan apa yang ia barusan katakan. Sungguh Kiana ingin saja langsung kabur dari hadapan Tuan Lucas, tetapi ia tidak mungkin melakukan hal itu dan hanya bisa pasrah menghadapi kenyataan yang memalukan ini. Kiana adalah gadis yang polos dan membicarakan hal sensitive seperti ini membuatnya malu sekali bahkan mungkin besarnya dunia lebih besar rasa malu yang Kiana rasa sekarang.


“Siapa yang menyuruh kamu membelinya,” kata Lucas. “Ada apa denganku? Kenapa aku melarangnya membeli alat pencegah kehamilan itu padahal aku tidak menyukainya,” batin Tuan Lucas merasa bingung dengan apa yang ia pikirkan sekarang.


“Bagaimana jika saya hamil, suatu saat Wessica akan pulang dan dia akan marah jika sampai mengetahui kalau kita pernah,” Kiana memilih untuk diam dan tidak melanjutkan kata-katanya sebab wanita itu tahu jika Tuan Lucas pasti bisa menebak ucapannya yang terpotong itu.


Tuan Lucas menarik pinggang Kiana mendekat padanya kemudian berbisik di dekat telinga Kiana. “Jangan pernah melakukan apapun yang tidak aku perintahkan! Jangan pernah memancing kesabaranku, Kiana.” Tubuh Kiana langsung membeku seketika setelah mendengarkan ucapan penuh penekanan yang barusan Tuan Lucas katakan.


“Ba-baik,” jawab Kiana.


Tuan Lucas melihat wajah Kiana yang pucat pasih bagaikan tidak ada darah di wajah cantik itu, perasaan sakit tiba-tiba menyelimuti hati Tuan Lucas tanpa alasan yang jelas.


“Hem,” jawab Lucas.


“Ayo kita pergi sekarang,” ajak Tuan Lucas pada Kiana.


“Kemana?” tanya Kiana dengan tatapan bingung.


“Jangan banyak bertanya dan ikut saja,” kata Tuan Lucas.


“Baik,” jawab Kiana.


Kiana melangkah masuk kedalam mobil dan perempuan itu membuka pintu baris pertama mobil itu membuat Tuan Lucas langsung menatapnya tajam. Pengawal yang mengerti arti dari sorot mata tajam itu langsung menegur Kiana.


“Nona, Anda duduk di baris ke dua dengan Tuan Lucas,” kata pengawal tersebut dengan sopan.

__ADS_1


“Tuan Lucas akan marah jika aku duduk disampingnya,” kata Kiana menolak dengan melirik kearah Tuan Lucas yang kini sedang melihatnya dari dalam mobil tersebut dengan tatapan membunuh.


“Jika Anda tidak duduk di baris kedua maka saya yang akan terkena masalah besar mohon Nona Kiana mengerti.” Setelah bicara pengawal itu membukakan pintu untuk Kiana dengan membungkukkan sedikit tubuhnya.


Kiana tidak tega melihat wajah ketakutan pengawal tersebut dan memilih masuk kedalam mobil. Tidak disangka Tuan Lucas hanya diam tak memberikan respon apapun padanya. Kiana terus saja memperhatikan ke luar jendela mobil ini. Sejak menikah dengan Tuan Lucas selama 4 bulan lamanya Kiana tidak pernah keluar dari rumah megah bak istana tersebut-ralat pernah satu kali Kiana keluar dari rumah besar itu tapi ketika dirinya bekerja di perusahaan Tuan Lucas dan itupun hanya satu hari saja sungguh memperihatinkan sekali.


Mobil ini mulai melewati jalanan perdesaan yang dipenuhi dengan bebatuan hal itu menunjukkan jika perdesaan ini masih sangat asri sekali karena jalannya tidak beraspal seperti jalanan di perkotaan. Kiana melihat banyak sekali pepohonan yang menjulang tinggi membuat hati Kiana begitu bahagia sekali sebab Kiana begitu menyukai suasana perdesaan seperti ini. Kiana ingin sekali menghirup aroma perdesaan yang jauh dari polusi namun dia takut jika sampai Tuan Lucas marah padanya.


Tuan Lucas melihat kearah pengawalnya lalu melihat kearah Kiana. Pengawal itu menganggukkan kepalanya mengerti dengan isyarat yang Tuan Lucas berikan barusan.


Kiana begitu terkejut sekali ketika mengetahui kalau kaca jendela yang ada di dekatnya terbuka. Kiana melihat kearah Tuan Lucas dengan mengulas senyuman manis.


“Terima kasih,” kata Kiana.


“Aku tidak melakukan apapun,” elak Tuan Lucas yang merasa gengsi jika menunjukkan perhatiannya pada Gadis cantik itu.


Kiana membalas ucapan Tuan Lucas dengan tersenyum manis kemudian kembali melihat kearah jalanan perdesaan yang kini sedang melewati perkebunan apel. Kiana menarik nafas dalam kemudian menghembuskan nafasnya perlahan dari mulut mencoba untuk menganti oksigen didalam paru-parunya dengan udara segar di perdesaan ini.


“Apel yang berwarna merah itu pasti enak sekali jika langsung di petik dari pohonnya,” kata Kiana dengan meneguk salivahnya sendiri.


Perhatian Lucas mulai teralihkan setelah mendengar ucapan Kiana. Selang beberapa waktu mobil itu berhenti di pinggir jalan dan Kiana langsung melihat kearah Tuan Lucas.


“Mobilnya berhenti?” tanya Kiana.


“Seperti yang kamu lihat,” jawab Tuan Lucas.


“Bolehkan aku memetik apel itu?” tanya Kiana.


“Biarkan dia yang melakukannya,” kata Tuan Lucas sembari melihat kearah pengawalnya yang kini sedang mengambil apel langsung dari pohonnya untuk Kiana.


“Aku ingin mengambilnya sendiri,” kata Kiana dengan wajah memohon.

__ADS_1


“Sial! Dia begitu manis sekali jika sudah seperti ini,” batin Tuan Lucas.


__ADS_2