Suffering Bride

Suffering Bride
Cinta tak berbalas


__ADS_3

Cinta yang terbalaskan, Kiana mengangkat pandangannya menatap Tuan Lucas yang kini menatapnya dengan wajah datar. Terlihat sekali pria itu mengerutkan keningnya, membuat Kiana tidak nyaman, lalu menyelesaikan aktivitas makannya. "Maaf, kamu pasti merasa sangat tidak nyaman saat melihat caraku melahap makanan di atas meja ini." Kiana berbicara dengan kepala miringnya. “Aku suka sikapmu apa adanya, baru kali ini aku melihat perempuan melihat sederhana sekali saat makan di depanku,” ujar Tuan Lucas  jujur. Kiana harus tertawa atau sekadar merasa terhina dengan kata-kata jujur ​​pria di depannya sekarang. Namun yang pasti Kiana merasa sangat lega karena pria itu tidak marah padanya. "Habiskan saja makanannya," kata Tuan Lucas. “Mungkin sisa makanan dibungkus karena saya ingin memakannya lagi malam ini,” tanya Kiana yang tiba-tiba merasa kenyang setelah mendengar ucapan Tuan Lucas. Tuan septian melambaikan jari telunjuk ke arah pelayan yang kini berdiri di restoran. “Bersihkan semua makanan ini dan buat yang baru, tapi bungkus saja!” kata Tuan Lucas sambil menatap pelayan restoran dengan ekor matanya. "Bagus, Tuan Lucas." Setelah meja di depan mereka dibersihkan dari sisa makanan dan juga piringnya, Kiana mulai buka suara kenapa Lucas justru memesan makanan baru. "Aku hanya ingin kamu merasa bahagia," kata Tuan Lucas dengan tulus. Tuan septian mulai bangkit dari posisi duduknya, lalu lelaki itu menghentikan langkahnya tepat di belakang Kiana yang duduk. Kiana hendak berdiri, namun tangan Tuan Lucas meremas bahu istrinya dengan gerakan lembut. Kiana hanya bisa pasrah, masih terduduk di posisinya kini dengan hati yang terenyuh, apa yang dilakukan pria di belakangnya. Tak disangka, tangan Tuan Lucas mendekat ke depan Kiana lalu, dengan gerakan halus, lelaki itu memasangkan kalung di leher Kiana. Kiana sangat terkejut saat melihat kalung yang bertuliskan namanya, kini terpasang begitu indah di leher panjangnya. Kiana mendongak menatap suaminya dengan pancaran sinar. "Apakah kamu tidak suka kalung ini?"


"Aku sangat menyukainya dan ini pertama kalinya aku memakai kalung seindah ini," kata Kiana dengan dua tetes kristal bening jatuh dari sudut matanya.


"Kalau suka kenapa nangis?" kata Tuan Lucas dengan ibu jarinya mengusap kristal bening yang jatuh dari sudut mata istrinya.


"Ini bukan air mata kesedihan, tapi air mata bahagia." Kata Kiana dengan jujur.


Tuan Lucas mengajak Kiana jalan-jalan menyusuri pantai, lelaki itu tak henti-hentinya membalikkan tangan istrinya, seolah takut wanita yang dicintainya akan meninggalkannya. Di pantai ini, Lucas menghentikan langkahnya lalu dengan gerakan lembut bagian tangan laki-laki, sulur-sulur, rambut istri yang bermain-main ditiup angin pantai.

__ADS_1


Jantung Kiana berdegup sangat kencang hingga ia sangat mencintai pria di depannya sekarang. Kiana pun bingung ketika mengingat awal pernikahannya, entah sampai kapan keduanya bisa bersama atau dalam hitungan menit atau hitungan jam pernikahan ini akan berakhir.


Membayangkannya saja sudah benar-benar membuat Liana serasa ingin menceburkan diri ke tengah ombak lalu menghilang dari dunia ini.


Apakah cinta Kiana kepada suaminya akan sebesar itu, ataukah karena Kiana takut menghadapi kenyataan bahwa ia akan kembali ditelantarkan di jalanan tanpa keluarga?


"Dengarkan apa yang akan saya katakan sekarang," kata Tuan Lucas, menghentikan kalimatnya sejenak. "Aku sangat mencintaimu Kiana, kamu akan menjadi istriku sepenuhnya dan kita akan memulai dari awal lagi dan bisakah kamu memaafkan kesalahan dan kebodohanku di awal pernikahan kita?"


Mata Kiana bergerak mencoba melihat apakah Septian mengatakan yang sebenarnya atau sekarang pria itu mencoba mempermainkan hatinya. Sorot mata yang ramah dan memohon itu membuat Kiana percaya bahwa sekarang Tuan Lucas mengatakan yang sebenarnya dari hatinya.

__ADS_1


"Cintaku sudah cukup untuk tinggal bersamamu, maksudku, aku tidak punya apa-apa untuk dibanggakan, aku tidak punya keluarga dan aku juga tidak tahu di mana orang tuaku. Bukankah kamu tahu semua itu dari awal?" Wanita itu berbicara lama karena wanita itu tidak ingin merasakan sakit untuk kesekian kalinya.


Tangan Tuan Lucas menggenggam jemari Kiana. Tuan Lucas mencium kening Kiana dengan gerakan lembut dan mesra hingga kini rasa hangat mulai menyelimuti hati Kiana.


"Aku tidak peduli dengan semuanya, aku mengatakan waktu itu dan sekarang, mari kita mulai kehidupan keluarga ini dari awal tanpa Wessica dan juga keluarga Hitsyah. Aku akan melindungimu dari siapapun dan tidak akan pernah membiarkanmu meneteskan air mata kesedihan seperti beberapa orang." Dulu, aku tidak akan pernah membiarkan siapa pun menyakitimu, karena semua orang akan menghadapiku jika mereka berani menyentuh istriku tercinta."


"Aku juga sangat mencintaimu, Tuan Lucas. Awalnya kupikir cinta ini tidak akan pernah terbalas, tapi Tuhan punya rencana lain." Kiana memeluk tubuh Tuan Lucas sangat erat dan air mata meleleh di wajah wanita itu, sedemikian rupa sehingga air mata kebahagiaan membasahi pakaian yang sekarang dikenakan suaminya.


"Aku sangat mencintaimu sayang." Lucas memeluk Kiana dengan sangat kuat seolah-olah sedang berusaha menghilangkan rasa sakit hati dan juga rasa sakit yang ditimbulkannya di awal pernikahan mereka.

__ADS_1


Mari berharap tidak ada yang menghancurkan kebahagiaanmu.


__ADS_2