Suffering Bride

Suffering Bride
Rasa Penasaran Lucas


__ADS_3

Sikap Lucas  selama satu minggu ini terhadap Kiana sudah jauh berbeda tidak seperti sebelumnya. Lucas dan juga Kiana tinggal satu kamar bersama layaknya sepasang suami-istri sungguhan, walaupun keduanya jarang sekali berkomunikasi atau paling tepatnya jika tidak ada hal yang penting maka keduanya akan sama-sama Tidak bertegur sapa satu sama lain dan begitu juga dengan kali ini.


Kiana dan juga Lucas sedang melakukan makan bersama di dapur tanpa adanya percakapan hingga membuat suara garpu dan juga sendok yang saling bersentuhan memecahkan kesunyian di dalam ruangan dapur ini. Terlihat sesekali Lucas melirik ke arah Kiana yang sedang sibuk menghabiskan makanan dalam piringnya.


“Kenapa dia menatapku seperti itu? Ataukah aku sudah membuat kesalahan kepadanya,” batin Kiana di dalam hatinya.


“Kenapa dia akhir-akhir ini diam saja dan tidak mau bicara apapun,” batin Lucas di dalam hatinya dengan menatap Kiana.


Saat ini Kiana sudah selesai makan, tapi perempuan itu belum beranjak dari posisi duduknya karena masih menunggu Tuan Lucas selesai makan terlebih dahulu. Entah apa yang terjadi pada Lucas sehingga lelaki itu meminta Kiana makan dengannya lagi.


Di sisi lain.


Saat ini Raka dan juga Anna sedang menikmati makan malam mereka berdua saja. Terlihat meja makan ini sangat sunyi sekali karena kedua orang tersebut tidak saling berbicara satu sama lain dan sibuk menghabiskan makanan dalam piringnya. Ponsel Anna yang ada di atas meja bergetar hal itu membuat Raka langsung melirik ke arah ponsel istrinya tersebut dengan kening yang berkerut.


“Apakah itu Wessica?” tanya Raka pada istrinya.


“Wessica menghubungiku,” jawab Anna jujur.


“Segera angkat telepon anak nakal itu kemudian loudspeaker!” perintah Raka dan Anna langsung menganggukkan kepalanya setuju.


Sebelum mengangkat telepon dari Wessica, Raka terlebih dahulu meneguk air minum lalu mengusap bibirnya dan setelah ritual itu selesai barulah Andi meraih ponselnya yang ada di atas meja kemudian mengarahkan jari lentiknya untuk menggeser tombol berwarna hijau.


“Mama kenapa tidak mengirimkan uang padaku? Bukankah Mama sudah tahu jika Papa memblokir semua ATM dan juga debit card milikku,” gerutu Wessica dalam panggilan teleponnya.


Raka menganggukkan kepalanya ke arah sang istri seakan dari sorot tatapan itu mengatakan kalau Anna harus menceritakan semuanya kepada Wessica.

__ADS_1


“Papa mengambil semua ATM Mama dan sekarang hanya memberikan Mama uang cash,” jawab Anna jujur dengan suara yang terputus-putus karena gugup melihat tatapan suaminya.


“Apakah maksud Mama Papa sudah tahu kalau aku sering meminta uang kepada Mama?” tanya Wessica.


Anna menganggukkan kepalanya padahal perempuan itu tahu kalau Wessica tidak akan bisa melihat apa yang ia lakukan. Melihat sikap diam Mamanya itu membuat Wessica bisa menebak apa yang sedang terjadi di antara kedua orang tuanya.


“Dari cara bicara Mama sekarang pastilah Papa sedang berada di situ,” kata Wessica. “Wessica akan mematikan sambungan telepon ini lalu akan menghubungi Mama nanti.”


“Lena, Apakah Tuan Lucas sudah naik ke lantai atas?” tanya Kiana.


“Beliau baru saja masuk ke dalam ruangan kamarnya, Nona Kiana,” jawab Lena sopan.


“Bisakah kamu lanjutkan mencuci piring karena aku ingin menghirup udara segar di malam hari,” minta Kiana dengan mengulas senyuman manis.


“Tentu saja saya akan melakukannya karena itu memang tugas saya,” jawab Lena dengan senang hati.


“Saya percaya suatu saat Tuan Lucas akan menaruh hati pada Anda setelah Tuan Lucas sadar apa yang telah dilakukan oleh Nona Wessica di masa lalu,” kata Lena dengan tulus.


“Biarlah waktu saja yang menjawabnya, tapi saya tidak membutuhkan cinta dari Tuan Lucas  melainkan saya hanya ingin kebebasan,” kata Kiana jujur.


“Sebaiknya Nona lekas pergi ke halaman rumah sebelum ada Tuan Lucas,” kata Lena.


Saat ini Kiana sedang duduk di gazebo yang ada tepat di tengah-tengah taman bunga yang cukup luas menurutnya. Sesekali Kiana menghirup nafas dalam lalu menghembuskannya dari mulut perlahan dan perempuan itu mengulangnya beberapa kali mencoba menenangkan pikiran dan juga hatinya yang gelisah. Kiana mengangkat wajahnya menatap ke arah langit, gumpalan awan mendung seakan menyembunyikan bulan dan juga bintang di malam ini.


“Melihat keadaan langit tanpa adanya bulan dan juga bintang bagaikan nasibku sekarang, gelap dan tanpa setitik pun pun cahaya,” kata Kiana sembari mengangkat tangannya ke arah langit.

__ADS_1


Setetes air hujan mulai jatuh ke telapak tangannya membuat Kiana tersenyum kecil. “Sepertinya semesta sedang merasa kasihan padaku karena kini dia mewakilkan aku untuk menitihkan air mata,” kata Kiana dengan mengangkat satu lagi tangannya guna untuk bisa menyentuh air hujan.


Tanpa Kiana sadari ternyata sekarang Lucas sedang menatapnya dari atas balkon kamar yang berada di lantai atas. Entah apa yang sedang Septian pikirkan sekarang karena lelaki itu melihat ke arah Kiana dengan wajah yang datar. Lucas mulai menengadahkan wajahnya ke arah langit dan hujan pun turun begitu deras sekali, Lucas kembali melihat ke arah Kiana yang sekarang sedang duduk di tengah-tengah gazebo itu mencoba untuk menghindari tetesan-tetesan hujan yang akan mengenai tubuhnya.


Kiana menutupi kedua telinganya menggunakan tangan setelah mengetahui hujan yang begitu menjebaknya di tengah-tengah gazebo ini andaikan saja Kiana tahu jikalau langit akan berubah drastis seperti ini maka sudah sejak dari tadi perempuan itu masuk ke dalam rumah.


“Aku sangat takut sekali ... seharusnya tadi aku masuk ke dalam rumah bukan malah bermain rintik hujan seperti ini,” batin Kiana dengan menutup matanya begitu erat.


Perempuan itu juga menyadari jika sekarang Lucas berdiri di hadapannya dengan membawa payung besar.


Suara petir beserta guntur saling sahut bersahutan di langit membuat Kiana berteriak cukup kencang karena ketakutan. Tubuh Kiana gemetar dengan air mata yang baru saja mengalir tiada henti membasahi pipinya, Lucas merasa bingung sekali ketika melihat sikap Kiana yang menurutnya cukup berlebihan sekali.


“Apakah kau akan tetap di sana atau masuk ke dalam rumah bersamaku!” kata Lucas.


Kiana yang tadinya sedang menutup matanya rapat dan juga kedua telinganya langsung mengangkat pandangannya melihat ke arah Lucas. Di saat yang bersamaan kilatan petir mulai terlihat dan dengan spontan Kiana langsung memeluk tubuh Lucas begitu erat.


Jantung Kiana berdetak dengan sangat kencang sekali dengan tubuh yang gemetar ketakutan. Kiana menahan hawa dingin sampai membuat tubuh perempuan itu semakin menggila. Lucas melepaskan jaket yang sedang ia kenakan lalu menutupi tubuh Kiana. Lucas merasa kasihan dan juga penasaran sekali kenapa sampai Kiana ketakutan seperti ini hanya karena petir dan juga hujan lebat bahkan rasa takut yang Kiana rasanya lebih pantas di sebut trauma.


“Bawa aku masuk ke dalam rumah ... aku mohon, aku sangat ketakutan sekali,” pintar Kiana di sela-sela Isak tangisnya.


Lucas langsung memeluk tubuh Kiana kemudian mengucap perlahan punggung perempuan itu dengan gerakan yang lembut. “Jangan takut ada aku di sini,” kata Lucas dengan suara yang lirih.


“Aku mohon biarkan aku masuk ke dalam rumah ... jangan hukum aku tetap berada di luar rumah ketika ada petir dan juga hujan lebat seperti ini, aku berjanji tidak akan nakal lagi.” Suara Kiana terdengar begitu memilukan dan terdapat nada trauma dari kata-katanya.


“Kenapa dia bicara seperti anak kecil begini? Ataukah mungkin ada sesuatu yang terjadi di masa lalu sehingga membuatnya takut pada petir dan juga hujan lebat,” batin Lucas di dalam hati terus saja menebak-nebak apa arti dari ucapan Kiana barusan.

__ADS_1


Satu tangan Lucas memegang payung dan satu tangannya yang lain memeluk pundak Kiana hingga tidak ada jarak diantara mereka berdua. Kiana memeluk tubuh Septian dengan begitu erat dan perasaan sedikit tenang mulai perempuan itu rasakan saat ini. Perasaan aneh, kenapa Kiana bisa merasa tenang berada disamping lelaki seperti Lucas?


__ADS_2