Suffering Bride

Suffering Bride
Tersesat


__ADS_3

Kiana berjalan sendiri dan terdapat begitu banyak villa di tempat ini. Di setiap villa pasti ada taman kecil di depannya. Jalanan ini terlihat begitu sepi sekali membuat Kiana sedikit takut bagaimana jika tiba-tiba ada penculik yang berkeliaran seperti yang pernah Kiana tonton di film, membayangkan semua itu membuat Kiana tiba-tiba ketakutan sekali. Kiana mulai mengedarkan pandangannya ke sekitar dan ia bingung dengan semua jalan yang hampir sama, entah sudah berapa lama Kiana berjalan sehingga langit mulai terlihat gelap menandakan jika malam akan segera menguasai bumi. Lampu-lampu yang ada di depan Villa mulai menyala namun, tidak semuanya menyala sehingga jalanan ini terasa semakin mencekam. Kiana tidak melihat satu pun orang yang ada di jalanan seakan hanya dia sendiri manusia yang tersisa di bumi ini. Kiana tidak memiliki ponsel bahkan jam tangan juga dia tidak punya sehingga Kiana tidak mengetahui sekarang sudah pukul berapa.


“Bagaimana ini? Kenapa aku bisa berjalan sejauh ini dan aku tidak tahu arah kembali ke villa Tuan Lucas. Ingin bertanya pada orang lain juga tidak bisa karena jalanan ini terlalu sepi bahkan tempat ini mirip seperti tempat mati yang tidak ada manusianya sama sekali,” kata Kiana dengan tubuh yang bergetar ketakutan. “Aku tidak boleh berhenti dan harus terus berjalan siapa tahu nanti aku menemukan orang lewat dan bisa bertanya tempat Villa Tuan Lucas,” batin Kiana mencoba untuk membuang perasaan panik yang tadi sedang ia rasakan.


Di sisi lain.


Tuan Lucas baru saja sampai di villa kemudian langsung melangkah masuk kedalam ruangan kamarnya, lelaki itu mengedarkan pandangannya dan tidak mendapati Kiana dimanapun. Tuan Lucas menaruh laptopnya di atas meja kemudian kembali berjalan keluar dari ruangan kamarnya untuk mencari keberadaan Kiana. Tuan Lucas sungguh merasa gelisah sekarang dan berharap jika apa yang sekarang sedang berada didalam benaknya tidak benar-benar terjadi.


“Apakah kamu melihat dimana Kiana?” tanya Tuan Lucas pada kedua pengawal yang sekarang sedang berdiri di depan villa ini.


“Bukankah tadi sore Nona Kiana bersama dengan Tuan Lucas?” tanya pengawal itu balik dengan kepala yang tertunduk.


“Dasar bodoh! Kenapa kalian tidak mengikutinya tadi, sekarang cari dia sampai ketemu dan jika sampai dia tidak ketemu maka kalian berdua akan berakhir di bawah tanah!” ancam Tuan Lucas dengan suara yang lantang.


Villa yang tadinya terlihat tenang mulai gaduh bahkan Tuan Lucas membuang laptopnya begitu saja kearah para pengawalnya dengan tatapan murka! Bagaimana mungkin semua pengawalnya tidak ada yang mengikuti Kiana dan membiarkan gadis senaif itu berkeliaran sendiri di tempat yang asing ini. Ingin sekali Tuan Lucas langsung menghabisi semua pengawalnya sekarang juga namun, ia harus mencari keberadaan istri kecilnya itu. Kiana akan ketakutan karena tempat ini begitu sepi ketika malam hari seperti ini bahkan begitu banyak Villa kosong tanpa penghuni dan Kiana baru kaki datang ke tempat ini jelas wanita itu tidak akan tahu apapun tentang sekitarnya.

__ADS_1


Ada sekitar 10 pengawal langsung berlari keluar dari Villa itu untuk mencari keberadaan Kiana.


Tuan Lucas ikut mencari keberadaan Kiana bersama lima pengawal dengan berjalan kaki. Tuan Lucas meneriaki nama Kiana dengan begitu gelisah. Tuan Lucas meminta semua pengawal untuk berpencar namun dua pengawal tetap berada dibelakangnya untuk mencegah hal yang tidak diinginkan, tapi Lucas meminta kedua pengawal itu meninggalkannya sendiri supaya Kiana cepat di temukan. Tidak disangka petir mulai menyambar-nyambar di langit dan hujan turun semakin deras. Seorang pengawal kembali berlari mendekati Tuan Lucas kemudian memberikan majikannya itu payung.


“Kiana, dimana kamu sekarang? Kau pasti merasa ketakutan sekali,” kata Tuan Lucas dengan perasaan yang cemas.


Di sisi lain.


Kiana terus saja melangkahkan kakinya sampai ia mendengar suara petir saling bersahutan di langit malam dan selang beberapa waktu hujan mulai turun dengan sangat deras. Kiana berdiri di dekat lampu jalan dengan mendudukkan tubuhnya, kepala wanita itu tertunduk dengan kedua tangan menutupi kedua telinganya namun, suara petir itu cukup kencang hingga masih terdengar olehnya. Kiana menggigil antara kedinginan dan juga ketakutan bercampur menjadi satu di tubuhnya. Kiana tidak berani membuka mata dan dia terus saja berteriak ketakutan.


Hujan turun semakin deras membuat rasa takut Kiana semakin besar. Karena rasa takut yang begitu berlebihan membuat Kiana merasakan nyeri pada dadanya dan asam lambung wanita itu pun kambuh hingga membuat oksigen didalam lingkup paru-parunya seakan habis dan Kiana mulai kesulitan bernafas, ditambah lagi kepala Kiana mulai terasa pusing. Kiana kini mulai membuka matanya dan melihat seseorang lelaki berlari kearahnya, Kiana yang tidak bisa menahan rasa pusing yang semakin berdenyut nyeri di kepalanya dan beberapa detik kemudian tubuh Kiana jatuh ke aspal.


Melihat Kiana tergeletak di bawah derasnya air hujan, Tuan Lucas langsung menjatuhkan payung nya dan berlari semakin kencang. Setelah berada disamping Kiana lelaki itu langsung memeluk tubuh Kiana. “Kiana sadarlah aku sudah di sini dan kamu tidak perlu merasa takut lagi,” kata Tuan Lucas dengan menepuk pelan pipi Kiana agar wanita itu tidak kehilangan kesadarannya.


“Tu-tuan Lucas , kau datang mencari ku,” kata Kiana dengan mengangkat tangannya. Sebelum tangan itu berhasil mengusap pipi Tuan Lucas, Kiana sudah kehilangan kesadaran sepenuhnya.

__ADS_1


Tuan Lucas langsung mengendong Kiana dan membawa wanita itu menuju ke villa yang letaknya tidak seberapa jauh dari posisi mereka sekarang. Semua pelayan langsung menyambut kedatangan Tuan Lucas dan juga Kiana dengan panik. Salah satu pengawal yang masih berjaga di villa segera menghubungi rekannya yang lain dan meminta mereka untuk kembali ke villa segera sebab Tuan Lucas dan juga Nona Kiana sudah kembali.


Di dalam kamar Lucas.


“Kami akan membantu mengganti baju Nona Kiana,” kata seorang perempuan paruh baya yang bertugas mengatur semua pekerja yang ada didalam villa ini.


“Aku bisa melakukannya dan sebaiknya kalian semua keluar!” perintah Tuan Lucas dengan nada suara setengah tertahan di tenggorokannya.


“Baik, Tuan,” jawan semua orang dan satu-persatu mereka semua keluar dari ruangan ini.


Kini Kiana sudah berganti baju bersih dan begitu juga dengan Tuan Lucas. Tuan Lucas berbaring disamping Kiana dengan memeluk istrinya itu. Suhu badan Kiana tidak demam seperti beberapa waktu yang lalu namun, Kiana masih meracau hal yang sama seperti yang Tuan Lucas dengarkan waktu itu.


Kiana memiringkan tubuhnya lalu memeluk Tuan Lucas dengan sangat erat sekali dan tidak disangka Kiana berhenti mengigau. Tuan Lucas memperhatikan wajah Kiana dan guratan kecemasan yang tadi sempat terlihat di kening Kiana mulai menghilang.


“Apakah berada di sampingku seperti ini membuat kamu jauh lebih tenang,” kata Tuan Lucas.

__ADS_1


__ADS_2