
Setelah sampai di rumah Kiana langsung melangkah menemui Lena di dalam dapur. Kiana melihat kearah Lena yang kini sedang sibuk menaruh buah-buahan segar yang baru saja wanita itu bersihkan kedalam kulkas. Kiana melangkah mendekati Lena dengan tersenyum manis, sikap Lena yang begitu baik membuat Kiana merasa tidak sendiri tinggal didalam rumah terkutuk ini, ya rumah yang bagaikan sangkar emas di dunia nyata.
“Lena,” panggil Kiana.
Lena menaruh wadah berisikan buah itu kedalam kulkas kemudian memutar tubuhnya menghadap kearah Kiana. Dan seperti Tuan Lucas tadi kini Lena juga merasa terkejut sekali dengan penampilan Kiana yang terlihat begitu cantik dan juga memukau.
“Nona Kiana terlihat sangat cantik sekali mirip seperti putri didalam dunia dongeng,” puji Lena dengan tulus dan juga melangkah mendekati Kiana.
“Saya memang putri, tapi di dunia nyata dan saya sekarang tinggal bersama dengan serigala jahat,” kata Kiana terkekeh ketika dia membayangkan jika serigala itu adalah Tuan Lucas dan beruntung sekali karena lelaki yang kini sedang mereka bicarakan tidak ada di sini, jika sampai Tuan Lucas mendengarkan apa yang Kiana katakan pasti mereka berdua tidak akan baik-baik saja.
“Nona )iana jangan bicara seperti itu kalau Tuan Lucas dengar maka akan gawat urusannya,” kata Lena.
“Tenang saja Tuan Lucas sudah naik ke lantai atas, aku sudah melihatnya sendiri tadi,” jawab Kiana dengan mengedipkan satu matanya.
Kiana terlihat jauh lebih ceria atau paling tepatnya wanita itu lebih bisa menyembunyikan luka dibalik senyuman dusta. Kiana mencoba berdamai dengan keadaannya karena mungkin itu yang terbaik dari pada harus mengeluh tanpa henti.
“Apakah Tuan Lucas sekarang mulai bersikap baik pada Nona Kiana?” tanya Lena.
“Saya bingung dengan sikap Tuan Lucas yang sering kali berubah-rubah. Dia kadang baik sekali pada saya dan kadang juga bersikap sebaliknya,” kata Kiana.
__ADS_1
Lena mengusap perlahan lengan Kiana. “Nona Kiana harus sabar karena selama ini saya tahu jika Tuan Lucas begitu mencintai Nona Wessica dengan setulus hati dan pasti tidak mudah baginya untuk menerima pernikahan kalian, tapi saya percaya jika kelak Tuan Lucas akan mencintai Nona Kiana dengan sepenuh hati,” kata Lena.
Lena sudah lama bekerja di rumah ini dan ia tahu sikap Tuan Lucas yang baik hati. Tapi jika ada orang yang berani mengusik kebahagiaan Tuan Lucas maka lelaki itu tidak ada segan-segan untuk menghabiskan mereka semua tidak perduli dengan wanita ataupun lelaki. Justru Lena lebih merasa khawatir jika Nyonya besar mengetahui kalau bukan Nona Wessica yang menikah dengan Tuan Lucas melainkan anak angkat dari keluarga Hitsyah. Membayangkan akan semua hal itu membuat Lena menatap kearah Kiana dengan manik mata yang berkaca-kaca.
“Saya tidak bisa bersama dengan Tuan Lucas selamanya karena saya hanya sebatas pengganti saja dan ketika pemilik aslinya datang maka saya akan keluar dari rumah ini dengan senang hati, saya tidak pantas bersama dengan lelaki hebat seperti Tuan Lucas,” kata Kiana.
Kiana cukup tahu diri akan posisinya yang tidak memiliki status apapun di masyarakat.
“Nona Kiana jangan pernah berbicara seperti itu karena Nona Kiana itu begitu baik hati,” kata Lena. Lena mencoba untuk menumbuhkan kepercayaan diri Kiana dengan kebaikan hati dan juga ketulusan kasih yang majikannya itu miliki.
“Baik hari saja tidak bisa membuat saya bisa bersanding dengan Tuan Lucas. Kedua orangtua saya membuang saya ke panti asuhan dan tidak pernah muncul kembali, apakah anak tanpa identitas seperti saya ini bisa bersanding dengan lelaki hebat seperti itu,” kata Kiana. Tanpa Kiana sadari sendiri jika kini wanita itu sedang mengakui perasaannya pada Tuan Lucas.
Setelah selesai berbincang Kiana membantu Lena untuk menyiapkan makan malam. Kini semua hidangan sudah tersaji di atas meja makan dan selang beberapa waktu Tuan Lucas melangkah masuk kedalam ruangan dapur ini. Kiana dan juga Lena langsung membungkukkan sedikit tubuhnya kemudian berdiri dengan tegap kembali. Kiana menarik salah satu kursi untuk tetap Tuan Lucas duduki kemudian kembali berdiri di dekat Lena dengan kepala yang tertunduk.
“Makan bersamaku!” perintah Tuan Lucas.
“Baik,” jawab Kiana.
Malam ini Kiana duduk di teras rumah sembari membaca buku novel yang telah ia bawa dari dalam kamarnya tadi. Seorang pengawal melangkah mendekati Kiana dan mengatakan jika kemarin kedua orangtua angkatnya mencarinya dan setelah menyampaikan pesan itu pengawal tersebut kembali menjauh dari Kiana.
__ADS_1
“Kenapa Papa dan juga Mama mencari ku, andaikan aku memiliki nomor mereka maka aku akan menghubunginya,” kata Kiana pada dirinya sendiri. “Aku sudah lama tidak berkunjung ke rumah keluarga Hitsyah atau aku meminta ijin pada Tuan Lucas saja untuk menemui mereka,” tanya Kiana pada dirinya sendiri.
Saat ini Kiana sudah masuk kedalam ruangan kamarnya dan wanita itu melihat kearah Tuan Lucas yang sedang fokus melihat kearah layar laptop yang ada dihadapannya. Kiana ingin bertanya mengenai nomor ponsel kedua orangtua angkatnya namun ketika melihat Tuan Lucas sedang sibuk dengan pekerjaannya wanita itu tidak berani membuka suara. Kiana tidak menyadari jika sejak dari tadi Tuan Lucas memperhatikannya mondar-mandir kesana kemari dengan sudut matanya kemudian lelaki itu menyandarkan punggungnya di sofa sembari melipat kedua tangannya bersedekap di dada dengan salah satu kaki yang bertumpu pada lutut.
“Apakah ada yang ingin kamu bicarakan?” tanya Tuan Lucas.
Kiana langsung melangkah mendekati lelaki itu kemudian membungkukkan tubuhnya dihadapan Tuan Lucas. “Bolehkah saya meminta nomor kedua orangtua saya? Karena tadi pengawal mengatakan jika mereka kemarin datang untuk mencari saya,” jelas Kiana.
“Besok kau boleh meminta padanya sendiri,” jawab Tuan Lucas.
Kiana segera mengangkat pandangannya karena tidak paham dengan apa yang Tuan Lucas katakan padanya barusan. “Maksud Anda apa? Saya tidak mengerti,” kata Kiana dengan polos.
“Besok kau boleh berkunjung ke rumah itu.”
Rembulan mulai naik ke tahta tertinggi hingga mengusir cahaya mentari. Kiana membaringkan tubuhnya tepat disamping Tuan Lucas kemudian wanita itu membelakangi Tuan Lucas.
“Kenapa hatiku merasa sakit sekali ketika mengingat semua kata-katanya, Tuhan tolong buanglah rasa sakit itu pada hatiku supaya aku bisa menikmati indahnya alam mimpi,” kata Kiana didalam hatinya.
“Dia tidak berbicara padaku sama sekali sejak tadi pagi, pasti dia masih marah padaku ataukah aku harus meminta maaf padanya, tapi aku adalah Tuan Lucas orang yang paling berpengaruh dan juga di takuti di kota ini untuk apa aku meminta maaf padanya,” batin Tuan Lucas didalam hatinya.
__ADS_1
Dua keping hati yang saling berperang dengan perasaan masing-masing menambah suasana sunyi di dalam ruangan kamar ini.