
Saat ini Kiana dan juga Tuan Lucas baru saja sampai di villa. Setelah masuk ke dalam ruangan kamarnya Kiana mengeluarkan ponselnya dari dalam saku celana lalu menaruhnya di atas meja dan setelah itu Kiana masuk ke dalam kamar mandi. Sejak dari tadi Tuan Lucas memperhatikan gerakan Kiana dan lelaki itu melihat ke arah secarik kertas tergeletak di atas lantai, Tuan Lucas membungkukkan sedikit tubuhnya mengambil secarik kertas yang tadi jatuh dari saku celana istrinya.
Tuan Lucas membaca kartu nama yang terjatuh dari saku istrinya tadi dan itu adalah kartu nama milik Afgan. Rahang Tuan Lucas mulai mengeras sampai kedutan terlihat di rahang kokoh tersebut menandakan jika lelaki itu sedang marah sekarang, sorot mata yang teduh kini mulai berubah menjadi tajam seperti seekor elang yang sedang mencari mangsanya dari udara.
“Berani sekali dia menyimpan kartu nama lelaki itu! Apakah dia sedang mencoba untuk mencari lelaki lain di belakangku,” kata Tuan Lucas dengan suara penuh penekanan.
Selang beberapa waktu Kiana melangkah keluar dari kamar mandi dengan tatapan terus melihat ke arah lantai bahkan Kini Kiana juga mondar-mandir kesana-kemari seperti orang yang sedang mencari sesuatu.
“Apakah kamu sedang mencari sesuatu? Kenapa sejak dari tadi mondar-mandir ke sana kemari?” tanya Tuan Lucas mencoba untuk menekan emosinya.
Kiana yang sejak dari tadi sibuk melihat ke arah lantai pun langsung menatap ke arah suaminya. “Aku tidak sedang mencari sesuatu,” kata Kiana berdusta.
“Jangan pernah berbohong padaku!” kata Tuan Lucas lagi mencoba untuk membuat Kiana bicara tentang kebohongannya.
“Sa-saya tidak berbohong,” kata Kiana sembari mengepalkan kedua tangannya ketakutan ketika melihat sorot mata Tuan semakin menajam dan kini lelaki itu mulai beranjak berdiri dari posisi duduknya membuat Kiana semakin kesulitan untuk menghirup nafas.
Tuan Lucas mengeluarkan secarik kertas yang tadi jatuh dari saku istrinya dan menaruh itu di hadapan Liana. “Apa kau sedang mencari kartu nama ini?” tanya Tuan Lucas.
Rona merah di wajah Kiana langsung menghilang ketika seluruh pandangan perempuan itu mengarah ke kartu nama yang sedang Tuan Lucas pegang sekarang. Wajah Kiana mulai berubah menjadi pucat pasih mirip seperti mayat hidup.
“Da-dari mana Anda mendapatkan kartu itu?” tanya Kiana terbata-bata.
“Aku mengambilnya di lantai setelah kamu masuk ke dalam kamar mandi,” kata Tuan Lucas. “Apakah kau sedang mencoba untuk menjalin hubungan dengannya di belakangku?” pertanyaan yang baru saja Tuan Lucas lontarkan lebih mirip seperti suatu tuduhan bahkan sorot mata Lelaki itu juga tidak berkedip ketika berbicara.
__ADS_1
“Saya dan juga Afgan hanya berteman dan tidak lebih,” kata Kiana.
“Jawab yang jujur!” perintah Tuan Lucas dengan nada suara membentak.
Telinga Kiana hampir saja berdarah-darah karena lengkingan suara lelaki itu yang langsung menendang gendang telinganya dengan begitu kasar sekali, bahkan Kiana juga sempat terjingkat karena kaget.
“Saya berniat akan meminta bantuan Afgan jikalau Wessica sudah kembali,” kata Kiana dengan jujur.
Tuan Lucas semakin melangkah mendekat ke arah Kiana hal itu membuat Kiana melangkahkan kakinya mundur hingga tubuhnya terjerembab pada dinding dan kini perempuan itu hanya bisa menundukkan kepalanya ketakutan.
Tangan Tuan Lucas terangkat selalu mencekik leher Kiana dengan begitu keras hingga Kiana merasa kesulitan bernafas. Wajah Kiana semakin pucat hal itu tidak membuat Tuan Lucas melepaskan cekikannya pada leher wanita malang itu.
“Jangan pernah mencoba untuk berlari dariku! Tidak ada satu orang pun yang boleh pergi kecuali aku yang melepaskannya. Kau itu hanyalah bonekaku dan selamanya akan tetap begitu,” kata Tuan Lucas dengan melepaskan cekikannya pada leher Kiana.
“Tidak perlu merasa kasihan pada Saya. Karena saya sudah terbiasa menerima semua ini,” kata Kiana dengan menarik salah satu senyuman manis pada bibirnya.
tuan Lucas memperhatikan air mata Kiana yang menetes perlahan tapi senyuman wanita itu terlihat begitu manis seakan menunjukkan jika Kiana sudah mulai berdamai dengan takdir hidupnya dan kepahitan seperti ini sudah lama wanita itu rasakan hingga disaat tertekan dan juga menderita Kiana masih bisa menunjukkan senyuman manisnya.
“Kau tidak akan pernah bisa pergi dariku jika bukan aku sendiri yang melepaskan kamu.”
Kiana menganggukkan kepalanya dengan menatap kearah Tuan Lucas tanpa berkedip. Tuan Lucas melangkah keluar dari ruangan ini dan membanting pintunya dengan cukup keras membuat Kiana terjingkat kaget.
“Tuhan … kenapa kau selalu memberikan begitu banyak penderitaan padaku? Bisakah berikan aku kebahagiaan yang tidak bersifat cuman sementara. Aku sungguh mengira kalau Tuan Lucas menyukaiku namun, itu hanyalah pemikiran bodoh dan konyol saja, lelaki itu hanya menginginkan tubuhku saja dan tidak lebih,” kata Kiana dengan menangis sesenggukan.
__ADS_1
Anna dan juga Raka saat ini sedang melihat berita di televisi sembari menikmati camilan yang ada di atas meja makan itu dengan santai hingga berita utama yang sedang trending muncul di layar televisi itu.
“Tuan Lucas membeli salah satu Mall terbesar yang ada di perdesaan dan Tuan Lucas juga menganti nama Mall tersebut menjadi Kiana Plaza. Sebenarnya siapa Kiana ini? Karena kita semua pasti masih ingat dengan sangat jelas jika Tuan Lucas pemilik dari perusahaan Hoult Group menikah dengan Nona Wessica yang berasal dari keluarga Hitsyah. Tapi setelah pernikahan tidak ada orang yang bisa melihat keberadaan Nona Wessica ataukah mungkin hubungan mereka sudah kandas di tengah jalan?” begitulah isi berita yang ada di setiap stasiun televisi.
Raka dan juga Anna saling menatap satu sama lain dengan wajah yang pucat.
“Tuan Lucas membelikan Kiana Mall,” kata Anna dengan menaruh piring berisikan makanannya di atas meja.
“Sepertinya Tuan Lucas memang mulai jatuh cinta pada Kiana,” jawab Raka.
“Aku tidak bisa membiarkan hal ini,” kata Anna kemudian beranjak berdiri dari posisi duduknya.
“Hubungi Wessica sebelum semua media mengetahui jika dia kabur dari pernikahan!” teriak Raka dengan suara yang lantang.
Anna tidak menjawab namun terus melangkahkan kakinya menaiki anak tangga rumahnya.
“Aku tidak menyangka jika Kiana pintar juga merayu Tuan Lucas bahkan lelaki itu sampai membelikan Mall untuknya dan langsung menganti nama Mall itu menjadi namanya,” batin Raka merasa bangga dengan anak angkatnya itu. “Wessica benar-benar anak yang tidak berguna. Dia bahkan memilih bersama lelaki pengangguran yang bisanya menghabiskan uangnya saja, kenapa juga aku bisa memiliki anak sebodoh itu,” keluh Raka menyalahkan Wessica yang ceroboh itu.
Kiana menatap kearah jendela kamar yang terbuka dan terlihatlah bulan dan juga bintang yang sekarang sedang menemani malamnya. Sejak pertengkaran itu Tuan Lucas tidak masuk kedalam kamar ini lagi dan entah kemana perginya lelaki itu. Kiana meringkuk di atas ranjang lalu menyelimuti tubuhnya karena udara malam ini terasa sangat dingin sekali tanpa kehadiran Tuan Lucas disampingnya. Sepertinya Kiana mulai terbiasa dengan kehadiran lelaki itu, tapi mulai sekarang Kiana harus kembali terbiasa tanpa kehadiran Tuan Lucas. Kiana mulai merasakan kedua kelopak matanya terasa berat dan wanita itu masuk kedalam alam mimpi tanpa ia sadari.
Tuan Lucas kini sedang duduk di sofa yang ada didalam ruangan kamar sebelah kamar Kiana. Tatapan mata lelaki itu lurus melihat kearah benda pipi yang ada di atas meja dengan wajah datar. Ya, kini Tuan Lucas sedang melihat Kiana dari cctv yang tersambung pada laptopnya.
“Kenapa kau tidak bisa mengontrol diriku setelah mengetahuinya menyimpan nomor lelaki tersebut? Aku tidak pernah merasa seperti ini sebelumnya,” kata Tuan Lucas dengan beranjak berdiri dari posisi duduknya.
__ADS_1